Untuk Semua Wanita di Dunia

Saya terlahir di awal tahun delapanpuluhan. Ibu saya sebelum menikah pernah bekerja di sebuah pabrik. Ketika ayah melamarnya, ibu memutuskan berhenti bekerja. Saya terlahir dan besar dalam dekap sayang ibunda. Setelah saya lahir, dua tahun kemudian adik saya terlahir. Berikutnya terlahir adik-adik yang lain, hingga genap delapan orang. Selama berpuluh tahun, profesi ibu saya adalah ibu rumah tangga.
Zaman sudah berubah. Kebutuhan hidup makin bertambah. Perempuan sudah tidak mau kalah. Bekerja menjadi idaman semua golongan, baik laki-laki atau perempuan. Adik perempuan saya pun demikian. Ketika usia anaknya sudah mencapai satu tahun, dia mulai mengajar. Anaknya dititipkan ke rumah ibu. Lengkap sudah karier ibu saya, dari mengurus anak sampai mengurus cucu.
Bekerja setelah menikah sudah menjadi barang lumrah bagi wanita abad ini. Menjadi ibu rumah tangga saja dianggap kurang prestasius. Bergelut dengan dapur sumur dan kasur merupakan mimpi buruk. Berdaster sepanjang hari apalagi. Wanita sekarang merasa kurang sempurna kalau hanya mengandalkan hasil usaha suaminya. Mereka ingin ikut berpartisipasi membangun perekonomian keluarga.
Di perkotaan hampir susah menemukan seorang ibu yang diam di rumah mengurusi anaknya. Gejala perkotaan ternyata sudah merembet ke desa. Di kampung pun perempuan mulai digiring ke pabrik sejak dini. Setelah tamat SMP atau SMA banyak pabrik garmen yang siap menampung tenaga kerja wanita. Bukan hanya puluhan bahkan ratusan dan ada yang mencapai ribuan.
Garmen menjamur di pinggir kota bahkan ada yang sudah masuk ke desa. Di sepanjang jalan Leuwiliang-Bogor saja sudah tidak terhitung jari jumlah pabrik garmen. Setiap kali waktu bubar karyawan, jalan dibuat macet. Ratusan perempuan keluar dari pintu gerbang seperti laron habis hujan. Hampir semuanya perempuan dalam rentang usia antara 15 s/d 40 tahun. Yang muda sepertinya masih belum berkeluarga, tapi yang 20 tahun ke atas rata-rata sudah bersuami dan memiliki anak.
Karyawati garmen berangkat pagi setelah sarapan. Sepanjang hari mereka bergelut dengan benang dan jarum. Menjelang magrib baru pulang. Jam berapa mereka sampai di rumah? Kemungkinan setelah selesai shalat jama’ah magrib di masjid, para wanita pekerja itu baru mengetuk pintu rumah. Bahkan bagi sebagian pekerja yang rumahnya agak jauh, mereka tiba selepas isya.
Bagi karyawati yang memiliki anak, kedatangannya disambut dengan suara dengkur anaknya. Si anak sudah terlalu lelah menanti kedatangan ibunya. Dari pagi dia mencari sosok ibu. Saat menangis satu nama yang dipanggil ‘ibu’. Saat ingin sesuatu nama itu juga yang disebut. Saat pengasuhnya asik dengan obrolan depan rumah tetangga, anak melihat jalan setapak. Berharap langkah kaki membawa ibunya kembali. Seharian menanti dalam harap dan cemas. Rasa putus asa berkaloborasi dengan lelah menghasilkan kantuk. Anak pun pulas berharap menemukan ibunya dalam mimpi.
Sebagian ibu mungkin sempat mengecup sayang kening anaknya. Sebagian lain tidak sempat. Kelelahan yang dibawa dari tempat kerja membuat dia lupa. Hanya satu yang diingat meletakkan tas kerja lalu terbaring sama seperti anaknya. Saat tengah malam anaknya terbangun, dia hanya menemukan ibunya terbujur lelah. Mimpi itu benar, ibunya sudah datang. Tapi ada satu yang kurang, dia tidak tersenyum dan mengajaknya bermain. Ternyata mimpi tidak seindah kenyataan. Si anak pun kembali lelap, berharap mendapat mimpi yang lebih indah.
Esok pagi saat anak terbangun, ibu sudah siap dengan seragam pabrik. Segala kesibukan di pagi buta tidak melibatkan anaknya. “Salim, ibu berangkat kerja dulu.” Tangan ibunya diulur agar diraih dan dicium anaknya. Si anak mencium aroma sayang yang mulai pudar. Mimpi itu ternyata kembali berdusta.
Setiap hari kejadian tersebut berulang. Sampai pada hari minggu. Ibu ada di rumah. Anak meminta perhatian. Ingin disuapi makan. Ingin digendong sayang. Ingin diantar ke kamar mandi, ditunggu dan diceboki. Masih juga merengek ingin ini, ingin itu. Ibu yang baru saja menebar sayang, sudah kehabisan kesabaran. Kemarahan mulai menguasai ubun-ubunnya. Dia hardik anaknya. Anak menangis. Dia cubit anaknya. Anak menjerit. Dia menjerit anaknya jadi takut. Hari minggu berakhir sudah.
“Nek, ibu kemana?” pelan si anak bertanya. “Ibu lagi kerja, cari duit buat kamu.” Si anak menatap neneknya. Dalam hati dia bergumam, “Saya tidak pernah minta duit, kenapa ibu susah payah mencari yang tidak saya pinta.”
Mengurus anak itu sulit. Ibu saya yang seratus persen ibu rumah tangga terkadang hilang kesabaran dalam menangani kebandelan anak. Saya pernah dimarahi, dicubit bahkan dipukul. Saya menangis waktu itu, tapi saya tidak dendam. Karena saya tahu ibu lah satu-satunya orang yang selalu ada ketika saya butuh. Ketika saya mau mandi, ibu sudah menimbakan air. Sebelum saya lapar, makanan yang dimasak ibu sudah tersedia di dapur. Saya tidak perlu repot mencari baju di lemari, karena selepas mandi baju dan celana sudah menanti. Kamar tempat tidur selalu siap menyambut kedatangan saya. Semuanya ibu yang menyiapkan.
Bagaimana dengan ibu yang membagi waktunya di tempat lain. Ibu yang sibuk dengan urusan pekerjaan di luar rumah. Saya yakin mengurus anak bagi mereka menjadi lebih sulit. Meski waktu bertemu dengan anak tidak sebanyak ibu rumah tangga, tapi stress yang dia dapat dari prilaku anaknya lebih besar. Ibu yang mendua, pasti dituntut lebih oleh anaknya. Tuntutan yang terakumulasi dari keputusasaan si anak menanti belaian dan dekapan sayang sang ibu. Ketika tuntutan tersebut disampaikan dalam waktu yang singkat maka yang terjadi adalah kekacauan. Ibu yang merasa sudah lelah bekerja tidak terima dengan perilaku anaknya. Kemarahan menjadi sajian utama dalam kebersamaan anak dan ibu yang sibuk bekerja di luar rumah. Anak pun menjauh.
Selama bertahun-tahun perasaan kecewa dipendam anak. Kekecewaan itu terkadang dia lampiaskan diluar rumah. Di lingkungan permainan, anak suka berbuat usil terhadap temannya. Di sekolah anak suka melawan kepada guru. Di rumah anak tidak terkendali. Neneknya atau pengasuhnya tidak dapat berbuat banyak. Mereka tidak memiliki sesuatu yang diminta si anak. Itu terjadi kepada anak yang memiliki tipe ekstrovert, terbuka dan suka meledak-ledak.
Bagi anak yang bertipe introvert, atau tertutup kasusnya lain lagi. Anak cenderung menutup diri dari pergaulan. Dia senang menyendiri. Terkadang dia menciptakan tokoh imajiner. Dia berkhayal memiliki seorang ibu peri yang selalu hadir di sisi. Ketika dia sedih, ibu peri dipanggil. Dia berdialog sendiri dengan bayang-banyang. Dia mengeluh di hadapan tembok. Di sekolah anak tersebut sangat minder. Duduk di pojok atau di belakang. Ketika diajak bicara tidak berani menatap mata. Temannya terbatas, hanya yang mau peduli dan mengerti. Dan biasanya dia akan berteman dengan anak yang senasib. Maka pertemanan mereka merupakan sekutu dalam kenestapaan. Tapi jangan coba-coba anak tersebut disakiti. Dia akan lebih ganas dari pada tipe ekstrovert. Anak laki-laki tipe ini yang tidak mendapat kasih sayang dari ibu, kemudian memendam dendam bisa menjadi seorang psikopat. Dia nampak diam seperti danau, tapi di bawah terdapat pusaran air yang mematikan.
Mari kita tengok budaya ibu-ibu di negara maju. Jepang merupakan salah satu raksasa dunia. Kemajuan ilmu dan teknologi di Jepang membuat bangsa ini sejajar dengan Amerika Serikat dan Eropa Barat. Bangsa kita pernah dijajah Jepang dan sampai sekarang sepertinya masih berlangsung. Di setiap sudut jalan, mata kita tidak pernah bisa berhenti melihat produk jepang yang berseliweran. Mobil dengan merek dan berbagai tipe didatangkan dari Jepang, Motor dengan berbagai varian pun mayoritas made in japan. Demikian juga perangkat elektronik di rumah, hampir seluruhnya bermerek Jepang.
Munif Chatib dalam buku Orangtuanya Manusia menulis pengalaman sahabatnya yang lama tinggal di Jepang. Suatu hari sahabatnya mengikuti upacara perpisahan di kantor. Bukan pelepasan pejabat kantor yang digelar. Tapi pelepasan seorang karyawan wanita yang tengah hamil. Di Jepang, seorang karyawan yang hamil akan menulis surat pengunduran diri. Lalu pemimpin perusahaan mengadakan upacara perpisahan secara sederhana. Semua karyawan diundang dan hadir. Di tengan acara, si ibu hamil berpidato, “Maaf teman-teman, hari ini adalah hari yang paling penting bagi hidupku. Aku tengah mengandung anak pertamaku. Janin di perutku ini sekarang adalah proyek terbesarku. Jadi, izinkan aku sementara waktu meninggalkan kalian, berhenti sebentar untuk berkonsentrasi pada perkembangan janinku.”
Kebanyak ibu hamil akan mengikuti kursus dan pendidikan ibu hamil pada lembaga yang disebut prenatal school. Biasanya wanita di Jepang akan bekerja dan berkarier kembali ketika anaknya sudah berusia 8 tahun atau setelah melewati usia golden age. Munif menambahkan sebuah fakta yang luar biasa. Sekitar 99 % wanita hamil di Jepang memilih berhenti bekerja untuk berkonsentrasi pada janin dalam kandungan.
Budaya wanita Jepang bisa menjadi rujukan bagi ibu yang bekerja di luar rumah. Ketika ada dua hal yang penting, maka memilih yang terpenting adalah pilihan cerdas. Ibu bijak tentu memilih mengurus anak dari mulai dalam kandungan sampai selesai masa emasnya.
Ada sebuah cerita dari teman kuliah saya, seorang ibu setengah baya. Si ibu adalah mantan aktifis di organisasi kewanitaan sebuah ormas terbesar di Yogyakarta. Beliau sarjana tekhnik lulusan Universitas Gajah Mada. Suatu saat ada seorang laki-laki yang melamar. Dia anak dosen di universitas ternama di Jawa tengah. Si ibu tertarik dan menerima lamaran. Setelah pernikahan, suaminya membuat sebuah kebijakan. Istri tidak boleh bekerja di luar rumah, urusan mencari nafkah menjadi kewajiban suami.
Bisa dibayangkan bagaimana perasaan seorang mantan aktifis organisasi yang juga sarjana tekhnik ketika diminta tinggal di rumah hanya mengurus anak. Dengan gelar Insinyur, sebenarnya dia bisa bekerja di proyek pembangunan atau menjadi pegawai di dinas tata kota. Dengan segudang pengalaman semasa aktif di organisasi, dia memiliki banyak peluang kerja. Si ibu menyadari posisinya sebagai seorang istri. Dia harus patuh terhadap suami. Karena surga istri ada dalam keridhaan suami.
Dia menerima keputusan suami. Si ibu menjadi seorang ibu rumah tangga bertitel sarjana. Anak-anak lahir dari rahimnya. Dia yang mengurusi dan mendidik anaknya. Tiga orang anak semuanya perempuan. Wanita lulusan tekhnik sipil UGM tersebut mengabdikan waktu, tenaga dan pikiran untuk ke tiga anaknya. Dia tidak sekedar menjadi ibu yang memasak di dapur, menimba air sumur dan menggelar kasur, dia mendidik anaknya dengan segala pengetahuan yang dimiliki. Berbagai buku parenting dibaca, salah satunya adalah buku parenting termasyhur di zamannya Tarbiyatul Aulad karya Nashih Ulwan.
Di sela kesibukan mengurus anak, mantan aktifis tersebut mulai mengembangkan bisnis. Dia tidak kemana-mana, tetap di rumah. Menjalankan bisnis dengan mengandalkan jaringannya yang luas dan kecanggihan teknologi. Ketika anaknya mulai tumbuh, si ibu izin kepada suaminya untuk meneruskan kuliah. Dia sudah memiliki beberapa bidang usaha. Program pasca sarjana jurusan menajemen menjadi pilihan.
Hidup terus berjalan. Anak-anaknya sudah menjadi gadis yang cantik dan pintar. Anak pertama sekarang sedang meneruskan pendidikan S2 di Prancis. Meski tinggal di Negara sekuler, putrinya tetap berpegang teguh pada agama. Prinsip hidup yang ditanamkan ibunda telah mengakar kuat. Dia tetap berjilbab di kampus yang moyoritas orang atheis. Anak kedua masih di Indonesia, menyelesaikan program S1 kedokteran di Universitas Indonesia. Di tahun 2013 putri tengahnya tersebut terpilih menjadi perwakilan mahasiswi Indonesia di konferensi internasional kesehatan di Guangzhou China. Dia satu-satunya wanita muda berjilbab yang berbicara di forum tersebut. Terakhir, putri bungusnya masih duduk di bangku SMA. Dia adalah aktifis rohis yang sempat mencalonkan diri menjadi ketua OSIS. Darah organisasi mengalir deras di tubuh putri bungsunya.
Saat putri-putrinya berlomba mengukir prestasi, si Ibu tidak mau tertinggal. Dia menjadi satu-satunya wanita di kelas saya, Program Doctor Pendidikan Islam di Universtas Ibnu Khaldun Bogor. Bukan hanya satu-satunya wanita, beliau juga mahasiswa paling senior dalam segi usia. Di usianya yang hampir setengah abad, si ibu masih memberikan pendidikan terbaik bagi putri-putrinya.
Berkarir bagi wanita tidak haram hukumnya. Tapi ketika karir mengorbankan anak maka karirnya menjadi sebuah kedzoliman nyata. Islam tidak menutup pintu bagi wanita untuk berkarya. Islam memperbolehkan wanita bekerja dengan syarat harus mendapat restu suaminya. Dan dia atas itu semua dia tidak menelantarkan kewajiban utama. Anak adalah amanah terbesar yang diberikan Allah kepada seorang Ibu. Di perutnya Allah titipkan selama sembilan bulan. Melalui jalannya, Allah keluarkan dengan selamat. Dan dari kedua dadanya Allah alirkan air susu yang menyehatkan. Di dalam dekapan ibu anak mendapatkan ketenangan.

Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: