Pengaruh Nafkah Haram Terhadap Anak

Di pesantren tempat saya mengajar, ada seorang santri perempuan yang sangat nakal. Seluruh pengurus dibuat pusing. Guru juga kewalahan menanganinya. Dia selalu melanggar disiplin yang diberlakukan pesantren. Sering tidak masuk kelas dengan alasan yang tidak jelas. Jarang melaksanakan shalat wajib. Suka keluar komplek pesantren tanpa izin.
Berhubung semua guru termasuk wali kelasnya tidak sanggup mengurusi, anak tersebut dibawa ke pimpinan pesantren. Pimpinan meminta agar orang tua si anak datang menghadap. Hal ini dilakukan agar orang tua terlibat langsung dalam penanganan anak. Sehingga terjadi kerjasama antara pihak lembaga dan juga orang tua.
Ketika menghadap pimpinan pesantren, si ibu bercerita tentang kehidupannya. Ternyata dia seorang single parent, suaminya pergi entah kemana. Sebagai seorang wanita yang tidak memiliki banyak pilihan perkerjaan, dia terpaksa melakukan sebuah pekerjaan yang tidak biasa. Si ibu yang masih muda tersebut bekerja di bar. Setiap malam dia menemani laki-laki hidung belang. Meskipun terjun di dunia malam, dia sebatas menemani tamu minum.
Anaknya dimasukan pesantren agar tidak terkontaminasi dengan kehidupannya. Dia berharap memiliki anak baik yang kelak akan menolongnya. Baginya kerja di tempat tersebut hanya sementara. Dia tidak ingin anaknya tahu. Sampai detik itu pekerjaanya masih rahasia. Anaknya hanya tahu, sang ibu bekerja. Uang hasil kerja dikirimkan untuk biaya sekolah dan asrama.
Ini sebuah fakta yang terjadi di tengah masyarakat. Anak nakal ternyata bisa juga diakibatkan dari kualitas nafkah yang diberikan orang tua kepadanya. Uang yang dihasilkan dari pekerjaan yang tidak diridhai Allah tentu akan meracuni anak yang menggunakannya. Anak sebagaimana contoh di atas menjadi liar dan sulit dikendalikan. Mungkin darah dari hasil makanan haram yang mengalir di tubuhnya membuat dia gelisah. Kegelisahan tersebut berujung dengan pelampiasan yang merusak.
Bisa dibayangkan sebuah kolam jernih dialiri belerang. Maka yang terjadi adalah keracunan. Airnya menjadi keruh dan penghuninya mati semua. Seorang anak manusia yang diberi makan dari hasil haram, dialiri nutrisi haram. Nutrisi tersebut diserap oleh tubuh, sebagian menjadi daging dan sebagian menjadi darah. Seiring dengan waktu darah dan daging tersebut tersebut bercampur dengan daging dan darah yang baik. Pencemaran terhadap tubuh berlangsung dalam waktu lama. Hasil akhir sudah tidak bisa dibedakan lagi mana yang halal dan mana yang haram.
Terkait makan makanan yang diperoleh dengan jalan haram, Rasulullah saw bersabda, “Tidak akan masuk surga badan yang diberi makan haram.” (HR: Al-Baihaki). Badan yang diberi makan haram tidak bisa masuk surga. Apabila badannya sudah dinyatakan tidak bisa masuk surga, maka setiap kebaikan yang akan mendekatkan dia ke surga secara otomatis akan tertolak. Badan tersebut tidak bisa menerima nasehat. Badan tersebut tidak bisa diajak beramal shaleh. Kecenderungannya mengajak kepada keburukan. Karena keburukan adalah jalan lapang menuju neraka.
Sayyidina Abu Bakar terkenal sebagai seorang yang sangat hati-hati dalam mengisi perutnya. Beliau tidak ingin tubuhnya tercemar oleh barang yang mendekati kaharaman. Suatu hari khalifah pertama tersebut mendapat sebuah jamuan makan dari seorang beriman. Beliau dalam keadaan lapar. Makanan yang dihidangkan langsung disantap. Ketika sudah menyuap, sayyidina Abu Bakar teringat sesuatu. Beliau bertanya asal makanan tersebut kepada orang yang menghidangkan. Jawaban yang didapatkan ternyata meragukan. Tanpa berpikir panjang, Ayahnada siti Aisyah tersebut langsung memasukkan jari tangan ke mulutnya hingga muntah.
Saat beliau memuntahkan dan membersihkan mulutnya, orang yg melihat bertanya, “Apakah tuan lakukan ini semua karena hanya satu suapan saja?” Beliau menjawab, “Demi Allah, jika makanan tadi tidak mau keluar melainkan dengan nafasku, niscaya akan keluar juga. Aku telah mendengar Rosulullah saw bersabda;

“Setiap daging yang tumbuh dari sumber yang haram, api neraka lebih berhak baginya” (HR. Ahmad)

Guru saya H. Helmy Abdul Mubin, Lc menceritakan sebuah kisah dari kitab Al-Fauzu wa An-Najah karangan Sayyid at-Tijani. Dikisahkan bahwa Abu Yazid Al-Bustomi seorang ulama sufi merasakan kegelisahan. Beliau merasa belum mendapatkan kenikmatan dalam ibadah. Segala upaya sudah dilakukan, tapi kenikmatan tersebut tidak kunjung hadir. Abu Yazid pun bergegas pulang ke rumah ibunya. Beliau mengadu tentang keadaan yang dialaminya.
Mendapat curahan hati putra yang sangat disayang tersebut, si ibu mengingat-ingat sesuatu. Terlintas sebuah peristiwa di masa lampau. Ibu yang sedang mengandung Abu Yazid melihat keju yang dijemur tetangganya. Keinginan untuk menyicipi keju tersebut membuatnya lupa. Tanpa seizing yang punya, beliau menyuil keju. “Mungkin itu yang menghalangimu dari kenikmatan beribadah.” Suara sang ibu. Beliau pun langsung mendatangi tetangga pemilik keju untuk meminta maaf. Setelah peristiwa itu, Abu Yazid Al-Bustomi mulai merasakan nikmatnya beribadah kepada Allah.
Satu cuil keju yang dimakan seorang ibu saat hamil mempengaruhi kualitas ibadah anaknya. Padahal itu terjadi setelah puluhan tahun. Padahal selama puluhan tahun Abu Yazid menjaga diri dari makanan haram. Apabila satu cuil keju saja sudah memiliki dampak yang sedemikian bagaimana dengan satu piring nasi haram?
Orang tua harus benar-benar menjamin bahwa makanan yang dia berikan kepada anaknya 100 % halal. Sedikit saja tercampur dengan yang haram maka anak akan merasakan akibat buruknya. Darahnya terkontaminasi haram, dagingnya tersusun dari zat haram maka hatinya akan tertutup dari rahmat Allah. Doanya tidak akan didengar oleh Allah swt.
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda;
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Sesungguhnya Allah memerintahkan kaum mukminin dengan perintah yang juga Dia tujukan kepada para rasul, “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” dan Dia juga berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, makanlah diantara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” Kemudian beliau menyebutkan seseorang yang letih dalam perjalanannya, rambutnya berantakan, dan kakinya berpasir, seraya dia menengadahkan kedua tanganya ke langit dan berkata, “Wahai Rabbku, wahai Rabbku.” Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dia diberi makan dari yang haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan.” (HR. Muslim)

Previous Post
Leave a comment

1 Comment

  1. Reblogged this on The Life of Decci and commented:
    “Tidak akan masuk surga badan yang diberi makan haram.” (HR: Al-Baihaki). Badan yang diberi makan haram tidak bisa masuk surga. Apabila badannya sudah dinyatakan tidak bisa masuk surga, maka setiap kebaikan yang akan mendekatkan dia ke surga secara otomatis akan tertolak. Badan tersebut tidak bisa menerima nasehat. Badan tersebut tidak bisa diajak beramal shaleh. Kecenderungannya mengajak kepada keburukan. Karena keburukan adalah jalan lapang menuju neraka.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: