Ramadhan, Bulan Kemenangan Paripurna

Di penghujung abad 15 masehi, sebuah tonggak sejarah terpancang di bumi nusantara. Islam yang sudah datang ke nusantara semenjak masa kekuasaan khalifah Utsman bin Affan (644-656 M) menancapkan sumpremasi di tanah Jawa dengan berdirinya kesultanan Demak. Raden Fatah, putra maha raja Majapahit dari seorang istri yang berasal dari negri Champa adalah pendiri kerajaan Islam pertama di tanah Jawa tersebut. Hegemoni Majapahit yang berasaskan Hindu perlahan memudar. Setalah kematian maha patih Gajah Mada, kekuatan Majapahit mengalami kemunduran. Raja Hayam Wuruk yang banyak bergantung kepada snag patih dibuat frustasi. Tidak lama kemudia, sang Raja mengikuti jejak patihnya. Dua orang tokoh sejarah yang mengharumkan nama Majapahit kembali ke haribaan Ilahi.
Raden Fatah mendapat momen emas. Murid dari seorang waliyullah bernama Sunan Ampel tersebut tidak menyia-nyiakan kesempatan. Di bawah bimbingan sang guru, Raden Fatah mengembangkan kekuasaan Demak. Pusaran kekuasaan Jawa yang sebelumnya bertumpu di Timur, ditarik ke Tengah. Mojokerto sebagai pusat pemerintahan Majapahit kalah pamor dengan Demak di pantai utara Jawa Tengah. Sebuah kadipaten berubah menjadi ibu kota kerajaan. Demak berdiri sebagai kekuatan super di tanah Jawa.
Visi Sunan Ampel yang diterjemahkan oleh muridnya Raden Fatah melalui pendirian kerajaan Islam terus hidup di kalangan istana. Setalah wafat Raden Fatah, putra pertamanya Pati Unus diangkat menjadi raja. Bagi raja Islam, menyebarkan ajaran tauhid merupakan tugas utama di samping mensejahterakan rakyatnya. Ketika muncul kekuatan asing yang mengganggu proses islamisasi, maka sang raja akan berdiri tegak. Dengan kukuatan dan ketetapan hati dia menjadi tameng agama. Islam adalah sebuah jalan hidup. Seorang pemimpin kerajaan Islam akan berjuang membela agama dengan jiwa dan raganya.
Pati Unus tahu bahwa Malaka, pusat kekuasaan Islam pertama di Nusantara telah dikuasai Portugis. Kekuatan asing dari Barat tersebut membawa tiga missi; gold, glory and gospel. Mereka datang atas perintah Paus Alexander VI, pemimpin tertinggi Katolik Roma. Semua kerajaan Barat dibawah payung Katolik Roma harus menjalankan mission sacre, misi suci menghabisi umat Islam untuk kejayaan vatikan. Kerajaan Portugis yang baru saja mengalahkan kekuatan Islam di Andalusia, mengemban tugas suci kristus. Pati Unus sebagai seorang pemimpin Islam terpanggil. Dengan 100 kapal dan ribuan prajurit dari Demak dan Palembang, Sang Sultan berangkat menelusuri selat Sunda menuju Malaka.
Dua kali Pati Unus berusaha mengusir Portugis dari Nusantara. Takdir belum berpihak kepada Sang Penguasa tanah Jawa. Kekuatan armada laut Demak belum mampu menembus benteng Malaka. Meski belum berhasil, usaha sang raja tidak dipandang sebelah mata. Sejarah mencatat. Kita pun diingatkan bahwa ada seorang Raja Jawa yang berlayar ke Malaka untuk mengusir penjajah. Pati Unus mendapat gelar Pangeran Sabrang Lor. Seorang pangeran yang dengan gagah berani menyeberang selat menuju utara demi menjaga hegemoni bangsa dan agama.
Portugis semakin meraja lela. Merasa kuat dan hebat, kukuatan asing tersebut mulai memasuki Jawa. Tahun 1522 M, Portugis menguasai Sunda Kelapa. Daerah utara priangan yang menjadi salah satu pelabuhan strategis kerajaan Sunda Pajajaran tersebut direbut Portugis. Mereka mendirikan benteng yang kuat. Jelas sudah niatnya, menjarah Jawa. Pelabuhan utama di pulau Sumatra telah dikuasai. Kini Pelabuhan utama di Jawa Barat juga dikuasai. Mengapa Jawa Barat? Karena wilayah Tengah dan Timur dikuasai sebuah kerajaan besar, Demak Bintaro.
Penguasaan Sunda Kelapa oleh Portugis menjadi duri dalam daging bagi penguasa Demak. Raja Demak yang menyerang ke Malaka telah tiada. Setahun sebelum Portugis datang ke tanah Sunda. Kini Sang adik yang berkuasa. Sultan Trenggono, putra kedua Raden Patah tidak tinggal diam. Di Masjid Agung Demak yang menjadi tempat musyawarah antara raja dan penasehat dari kalangan ulama tersurat sebuah keputusan. Demak harus menyerang Sunda Kelapa. Portugis harus diusir dari tanah Sunda.
Wali Songo dan penguasa Demak sepakat menunjuk Syarif Hidayatullah sebagai penanggung jawab tugas mulia. Penunjukan Syarif Hidayatullah berdasarkan alasan keimanan, kecakapan dan juga keturunan. Keimanan Syarif Hidayatullah sudah tidak perlu diperdebatkan. Beliau adalah satu dari sembilan wali yang menjadi penasehat raja Demak. Untuk urusan perang pun, tidak diragukan. Selain seorang ulama beliau juga prajurit di medan laga. Syarif Hidayatullah berhasil menjadikan Cirebon sebagai sebuah kerajaan semi independen. Sebagai sebuah kekuatan Islam di Jawa Barat, kesultanan Cirebon memiliki pasukan yang cukup untuk membantu Demak. Alasan keturunan adalah alasan yang paling emosional. Syarif Hidayatullah adalah putra dari Nyai Lara Santang, putri sang penguasa tanah Pasundan. Di dalam tubuhnya mengalir darah biru Prabu Siliwangi, raja Pajajaran. Sunda Kelapa merupakan bagian dari wilayah Pajajaran. Mengusir Portugis dari Sunda Kelapa bagi cucu Prabu Siliwangi adalah tugas agama dan juga tugas bangsa. Sebagai pewaris tahta Pajajaran, penunjukan Syarif Hidayatullah sebagai pemimpin misi adalah sebuah keputusan yang sangat cerdas.
Syarif Hidayatullah bersiap merebut Sunda Kelapa dari tangan Portugis. Fathillah, menantunya yang berasal dari Pasai dilibatkan. Pengalaman Fathillah sebagai seorang prajurit perang sangat dibutuhkan. Ribuan prajurit disiapkan. Meraka harus belajar dari pengalaman. Kegagalan menyerang Portugis di Malaka jangan sampai terulang. Kekurangan pengalaman dalam pelayaran yang menjadi penyebab kegagalan menaklukan Malaka pada tahun 1512 harus dijadikan pelajaran.
Sebagai pemimpin pasukan sekaligus pemimpin spiritual, Syarif Hidayatullah menanamkan ruh jihad ke dalam sanubari para prajurit. Dalam Islam prajurit bukan pion yang ditakdirkan untuk membentengi raja, bergerak melindungi nyawa pemimpin dan rela mati demi rajanya. Islam mengajarkan bahwa, prajurit adalah mujahid fi sabilillah. Dia berada dalam medan pertempuran bukan semata untuk membela kepentingan raja. Dia bertarung melawan musuh tidak hanya untuk mengharumkan nama bangsa. Seorang mujahid berperang karena tugas agama. Dia berjuang untuk mendirikan kalimat tauhid. Tetesan keringatnya menjadi dzikir, tebasan pedangnya menjadi ibadah, dan matinya adalah syahid. Bagi seorang mujahid tidak ada kata kalah. Mati dalam pertempuran berarti syahid di jalan Allah. Bertahan hidup dengan menumpas musuh berarti meninggikan asma Allah.
Berbekal niat mulia, pasukan Demak beranjak dari Jawa Tengah melalui jalur laut. Pelabuhan Sunda Kelapa adalah destinasi akhir. Di sana mereka ditunggu pasukan kafir Portugis yang mengemban missi penjajahan atas pribumi. Bagi prajurit Demak yang dibantu oleh pasukan Cirebon, tidak ada pilihan pulang dengan kekalahan. Mereka harus berjuang sampai titik darah penghabisan, hidup mulia atau mati syahid. Kembali ke Demak dengan kekalahan hanya akan mendatangkan cela.
Perang berkobar. Senjata modern pasukan Portugis dilawan kilatan pedang pasukan Demak. Darah tumpah dari ke dua belah pihak. Mayat bergelimpangan. Ada yang mati syahid, ada yang mati konyol. Berbahagialah para prajurit Demak yang berjuang untuk menegakkan agama. Matinya dirindukan surga.
22 Ramadhan 933 H, Sunda Kelapa berhasil dikuasai pasukan Demak. Prajurit Portugis mengalami kekalahan. Sebagian besar lari menyelamatkan diri. Tanah Pasundan menjadi milik penguasa Muslim. Syarif Hidayatullah dan menantunya Fatahillah bersimpuh penuh syukur ke hadapan Sang Penguasa langit dan bumi. Atas pertolongan dan izin Allah Sunda Kelapa berhasil direbut dari tangan Penjajah Khatolik Portugis.
Sebagai rasa syukur, Syarif Hidayatullah mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta. Penamaan ini bukan sembarang. Sunan Gunung Jati teringat peristiwa ratusan tahun silam. Saat pasukan Madinah yang dipimpin Rasulullah berhasil memasuki kota Mekkah. Takbir bergemuruh. Berhala berjatuhan. Kemenangan besar yang telah dijanjikan terbukti. Allah Maha Besar. Al-Qur’an mengabadikan peristiwa bersejarah tersebut dalam surat Al-Fath ayat pertama, “Sesunggunya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang besar”. Peristiwa fathul Makkah terjadi pada bulan Ramadhan tahun ke 8 Hijriah. Tanggal 10 Ramadhan Rasul bersama pasukannya meninggalkan Madinah. Tanggal 19 Ramadhan pasukan Madinah memasuki kota Mekkah. Tanggal 20 Ramadhan terjadi pengampunan umum bagi penduduk Makkah.
Sejarah seolah terulang. Peristiwa Fathul Makkah yang terjadi di bulan Ramadhan tahun 8 Hijriah, diikuti oleh peristiwa pembebasan Sunda Kelapa dari tangan Portugis bulan Ramadhan tahun 933 Hijriah. Sunda Kelapa dirubah menjadi Jayakarta yang berarti kemenangan paripurna.

Tulisan Kedua

Menurut Prof. Wan kelemahan umat salah satunya disebabkan oleh politik penjajahan yang dilakukan bangsa Eropa. Ini dimulai sejak Portugis dan Spanyol melakukan proyek pelayaran menjelajah dunia. Abad ke 15 tercatat sebagai momen kebangkitan Barat dengan keberhasilan Raja Ferdinand dan Ratu Issabella mengalahkan dinasti Umayyah di Andalusia. Keberhasilan tersebut menghasilkan kepercayaan diri bagi Barat untuk menguasai dunia.
Abad ke 17, separuh dunia dikuasai Eropa. Mereka datang ke Asia, Amerika dan Afrika untuk menaklukan pribumi dan mengambil sumber daya alam bagi kepentingan mereka. Imperialisme merajalela diiringi dengan kolonisasi. Di Amerika, Asia dan Afrika Bangsa Eropa membentuk komunitas imigran di wilayah jajahan. Mereka membuat standar khusus yang tentunya sesuai dengan budaya Eropa. Sehingga terjadi Eropasentris di wilayah jajahan. Segala yang berbau pribumi dianggap kolot, norak dan ketinggalan zaman. Nilai-nilai yang dibawa dari Eropa menjadi nilai utama yang identik dengan modernitas serta kemajuan.

“Globalisasi saat ini, terutama jika dikaitkan pada kerangka pengetahuan, telah melampaui proses-proses sosio-geografis, budaya, dan ekonomi. Neokolonialisme – melalui hegemoni proyek modernitasnya – memperdalam mitos keunggulan Barat dalam semua dimensi, aturan budaya, ilmiah, dan social politik ekonomi. Hegemoni ini bahkan memasuki wilayah interpretasi agama masyarakat non-Barat, dimana sifat atau batas toleransi beragama, moderasi, pluralism, dan Hak Asasi Manusia ditentukan secara signifikan dari perspektif Barat dan Sekuler; diartikulasikan dan ditanamkan terutama di lembaga-lembaga Pendidikan Tinggi.

Akibat yang ditimbulkan oleh politik penjajahan serta kolonisasi sangat terasa di negara bekas jajahan. Meskipun penjajahan sudah terhapus, bangsa non-Eropa masih saja dikungkung nilai-nilai Eropa. Mereka tidak bisa berdiri tegap membanggakan budaya lokal. Mereka tidak bisa menjadikan pandangan hidup bangsanya sebagai nilai universal. Hal ini terjadi karena Eropa telah mematenkan budaya mereka sebagai budaya global. Segala yang bertentangan dengan budaya global berarti partikular.
Setia bangsa yang ingin dianggap maju dan berkembang harus mengikuti konsep Barat. Tidak ada jalan lain. Barat telah berhasil menguasai dunia. Jalan ynag telah dibentangkan Barat adalah satu-satunya jalan resmi menuju bangsa yang beradab. Maka demokrasi menjadi kata kunci di setiap negara. Hanya negara yang menerapkan sistem demokrasi yang dianggap hebat. Hak asasi manusia juga dijadikan corong keberadaban suatu bangsa. Demikian juga sistem ekonomi kapitalis yang berasal dari paham liberalisme Barat menjadi satu-satunya sistem yang diterima oleh dunia.

“Konsep linier dan evolusi dari sejarah dan kemajuan manusia dari pusat Barat ini tidak mentolelir adanya perbedaan pemikiran atau gagasan dari pihak lain yang bertentangan dengannya. Gagasan-gagasan yang berbeda ini akan dianggap sebagai reaksioner, anti-modern, anakronistik, tradisional, tidak wajar, radikal, anti kemanusiaan; atau akan dikemas ke dalam idiom dan kategori yang dapat diterima oleh pandangan yang dominan dan kepentingan pusat (Barat). Pandangan non-Barat tentang kebenaran dan realitas, dan bentuk serta perspektif pengetahuan dan pembangunan mereka tentang manusia dianggap sebagai bersifat local dan particular, dan karenanya tidak bersifat universal. Maka, kemanusiaan dianggap tidak akan memiliki masa depan kecuali apa yang telah dipahami dalam kerangka ilmiah dan worldview demokrasi dan liberal Eropa.”

Dengan itu, bahasa, masyarakat, kebudayaan, ekonomi, dan teknologi China dan Timur Jauh, India dan Benua Asia, Negara-negara Melayu dan Pasifik, Amerika Latin, Timur Tengah, dan Afrika telah berubah secara signifikan, yang bahkan dalam beberapa kasus tidak dapat dikembalikan lagi. Untuk menjadi modern dan beradab dan agar diterima sejajar dengan Barat, pada dasarnya suatu negara akan menjadi ke-barat-baratan, sebuah persyaratan yang sebenarnya diragukan, namun banyak negara non-Barat dan negara muslim yang nampaknya menerima pandangan itu.
Prof. Wan menyeru kepada bangsa-bangsa yang pernah dijajah dan sampai sekarang masih terjajah secara ideologis agar secepatnya sadar. Untuk bangkit manusia perlu disadarkan. Barat tidak sepenuhnya benar. Nilai-nilai yang mereka sebarkan dan dipaksakan menjadi nilai universal tidak harus diterima begitu saja. Setiap bangsa memiliki kearipan lokal. Dengan modal kearipan lokal, setiap bangsa harus mengkritisi universalitas nilai Eropa.
Pemahaman akan pentingnya budaya pribumi, bisa menjadi modal kebangkitan bagi bangsa yang pernah dijajah. Kebanggaan terhadap nilai lokal setidaknya dapat membendung kegandrungan terhadap budaya Eropa. Sehingga akan muncul nilai pembanding. Eropa dengan budayanya tidak bisa semena-mena mengangkangi dunia.

Islamisasi Ilmu Kontemporer
Menurut Prof. Wan, salah satu bentuk usaha dewesternisasi dan dekolonisasi yang telah dilakukan oleh umat Islam adalah proyek intelektual islamisasi pengetahuan kontemporer. Syed Muhammad Naquib Al-Attas sebagai pionir proyek ini telah meletakan dasar perbedaan antara pengetahuan Barat dan Islam. Barat yang maju mengadopsi sistem ilmu tanpa nilai, sehingga ilmu menjadi senjata pamungkas untuk menentukan segala hal dalam kehidupan. Science sentris kemudian melahirkan manusia arogan yang anti Tuhan. Slogan Descartes, Cogito Ergo Sum, aku berpikir maka aku ada, menjadi landasan logis Barat. Mereka mengedepankan logika dan fakta emprik. Sehingga Tuhan yang tidak terlihat secara kasat mata dianggap tiada.
Konseptualisasi intelektual formal dalam proses Islamisasi, dimana umat Islam dapat melakukan kritik secara tepat dan memperoleh manfaat dari budaya dan peradaban lain, belum pernah dilakukan sampai abad ini. Tampaknya, kesadaran bahwa sains Barat modern adalah ateis secara alami dan oleh karena itu perlu diislamkan, pertama kali terdengar di awal tahun 1930-an, melalui Dr. Sir Muhammad Iqbal yang tidak menjelaskan atau mendefinisikan gagasannya. Syed Hosen Nasr, pada tahun 1960 secara implisit menunjukkan metode Islamisasi Sains modern dengan menyarankan bahwa yang terakhir harus ditafsirkan dan diterapkan dalam konsepsi Islam tentang kosmos.
Islamisasi pengetahuan kontemporer dalam kaca mata Prof. Wan dilandasi oleh keyakinan tentang adanya Tuhan zat metafisik yang mengatur alam. Agama harus dijadikan landasan ilmu pengetahuan.

“Jadi, dewesternisasi dan Islamisasi pengetahuan masa kini mengacu pada proses ganda dengan mengisolasi dan menghapus hal-hal yang tidak islami, hampir sebagian unsur-unsur dan konsep Barat, dan sekaligus menanamkan unsur-unsur dan konsep-konsep Islam ke dalam unsur-unsur dan konsep-konsep baru atau asing. Sebagian unsur-unsur dan konsep-konsep Islam ada yang berkaitan dengan agama (din), manusia (insan), pengetahuan (‘ilm dan ma’rifah), kebijaksanaan (hikmah), keadilan (‘adl), dan tindakan yang tepat (‘amal sebagai adab), di mana pada gilirannya didasarkan pada, dan berhubungan erat dengan konsep Tuhan, Dzat dan sifat-Nya (tauhid), makna dan pesan Al-Qur’an, Sunnah, serta Syariah.”

Konsep Universitas dalam Islam
Sebagai tindak lanjut dari konsep Islamisasi pengetahuan kontemporer, Prof. Wan menawarkan konsep universitas dalam Islam. Bagi Prof. Wan, sebuah lembaga pendidikan tinggi harus mencerminkan sosok manusia paripurna yang matang dalam bidang akedemik, sosial dan tentunya spiritual. Ada dua hal yang perlu disiapkan untuk membentuk universitas model ini;
Pertama, harus dipimpin oleh seorang pemimpin akademik yang memiliki kemampuan dan pengetahuan yang disyaratkan dari, dan berkomitmen untuk, pendidikan berdimensi religious-filosofis dan sosial-budaya, selain memiliki integritas etika dan pengalaman kepemimpinan. Keberhasilan kepemimpinannya harus ditentukan oleh etos lembaga, pengajaran, dan penelitian dan publikasinya dalam ilmu-ilmu fardhu ain dan fardhu kifayah, yang memberikan sumbangan pada pengembangan holistic siswa, bangsa mereka dan masyarakat dunia.
Kedua, program akademik harus dibuat berdasarkan skema hirarki namun pada saat yang sama juga menekankan kesatuan ilmu (knowledge). Pendidikan Islam juga tidak mengakui gagasan dualistic kontemporer yang membedakan penelitian dengan pengajaran, seolah penelitian dianggap lebih berharga dan lebih bergengsi daripada pengajaran. Pendekatan intelektual dalam Islam harus mengintegrasikan keharmonian antara tradisionalitas atau tekstualitas (naqli), rasionalitas (aqli), dan empiritas (tajribi) yang sesuai dengan kebutuhan objek pengkajian.

Sebagai penutup dari gagasan besar Prof. Wan adalah output yang berupa man of adab. Seorang manusia yang berpendidikan merupakan seseorang yang baik/shaleh . Kata ‘baik’ di sini menunjukkan bahwa pria tersebut memiliki adab dalam pengertian sepenuhnya inklusif. Seorang manusia yang beradab adalah orang yang secara ikhlas memiliki tanggung jawab terhadap Allah, yang memahami dan memenuhi kewajiban untuk dirinya dan orang lain di dalam masyarakat melalui keadilan, serta terus berusaha memperbaiki setiap aspek dari dirinya agar mencapai kesempurnaan sebagai seseorang yang beradab (insan adabi). Pendidikan adalah ta’dib yang menanamkan adab dalam diri manusia.
Menurut ulama generasi awal, isi (maudhu) dari ta’dib adalah akhlak (etika dan moralitas). Sejak zaman permulaan Islam, adab secara konseptual telah menyatu dengan ilmu yang benar (ilm) dan tindakan yang tepat serta tulus (‘amal) serta signifikan terlibat dalam peniruan intelektual (intelligent emulation) dalam Sunnah Rasulullah saw.

Islamisasi Pengetahuan Menurut Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud (tulisan pertama)

Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud merupakan cendikiawan muslim melayu yang lahir di Tanah Merah, Kelantan Malaysia. Beliau mencurahkan hidupnya bagi perkembangan sumber daya umat Islam terutama civitas akademia di perguruan-perguruan tinggi Islam. Prof. Wan memulai karirnya sebagai dosen di Fakultas Pengajian Islam Universiti Kebangsaan Malaysia tahun 1979-1987.
Selepas dari UKM, Prof. Wan membantu Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib Al-Attas mendirikan ISTAC, International Institut of Islamic Thought and Civilization. Beliau diangkat menjadi wakil direktur ISTAC. Selain itu putra Kelantan ini terlibat aktif dalam kegiatan penerbitan serta perpustakaan.
Islamisasi Ilmu-Ilmu Kontemporer dan Pearn Universitas Islam dalam Konteks Dewesternisasi dan Dekolonisasi merupakan naskah pidato Prof. Wan saat pengukuhan gelar guru besar di Universiti Teknologi Malaysia, 29 Juni 2013. Prosesi ini dihadiri oleh lebih dari 550 akademisi dari berbagai universitas di dunia. Pidato ini dianggap sebagai manifestasi dari gerakan islamisasi ilmu kontemporer yang sudah didengungkan sejak tahun 70-an oleh Syed Naquib Al-Attas.
Dalam pandangan Prof. Wan, westernisasi dan kolonisasi dalam berbagai bentuknya masih berpengaruh dalam konteks globalisasi saat ini. Berbagai upaya yang dilakukan oleh sejumlah ilmuwan Muslim untuk melakukan Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer, dan keterkaitannya dengan diskursus tentang pendidikan dan universitas Islam, bukan hanya usaha yang sah untuk mempertahankan identitas agama dan budaya, tetapi juga menawarkan alternatif yang lebih baik dari modernitas Barat.
De-westernisasi dan Islamisasi ilmu kontemporer adalah salah satu usaha dari usaha-usaha ini. Dibandingkan dengan gerakan sejenis, Islamisasi ilmu kontemporer, lebih bersifat spiritual, komprehensif, universal dan lebih kuat pengaruhnya. Dengan islamiasi ilmu, pengaruh buruk budaya serta pemikiran Barat yang tersimpan dalam muatan science dapat dianulir.
Arkiteknotik dan Kepentingan Strategis Pendidikan Tinggi
Prof. Wan sebagai seorang akademisi yang terlahir dari kampus menyatakan bahwa pendidikan memiliki peran teramat vital dalam rangka mendapat supremasi di dunia internasional. Beliau menekankan betapa pentingnya pendidikan bagi umat.

“Pendidikan merupakan wahana terpenting bagi individu dan masyarakat untuk meraih kesejahteraan dan kemajuan. Tujuan pendidikan, sebagaimana sebagian besar aktivitas manusia yang fundamental, adalah satu refleksi dari pandangan alam (worldview) tertentu yang pada gilirannya akan dimasukkan ke dalam materi, metodologi ddan evaluasi pendidikan. Suatu worldview pada umumnya terbentuk oleh agama dan atau orientasi filsafat ditambah dengan lingkungan sosio-historisnya dalam berbagai derajat interaksi yang sangat kompleks.”

Umat sudah mulai memahami arti pendidikan bagi kehidupan. Hal ini tercermin dari tingginya perhatian mereka terhadap pedidikan dasar. Bahkan pemerintah di negara yang mayoritas penduduknya muslim sudah lama mencanangkan wajib belajar. Anak-anak digiring masuk ke lembaga pendidikan dengan berbagai kemudahan. Pemerintah menyiapkan dana khusus untuk menggratiskan sekolah.
Menurut Prof. Wan kecenderungan ini sangat positif. Tapi tidak boleh berhenti pada level pendidikan dasar. Umat harus terus didorong untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Universitas merupakan lembaga pendidikan formal tertinggi yang bisa membentuk karakteristik umat yang madani.

“Arkiteknotik dan kepentingan strategis dari institusi Pendidikan Tinggi belum lama mendapatkan pengakuan dan posisinya semakin menguat seiring dengan proses globalisasi dan ekonomi berbasis pengetahuan. Beberapa ilmuwan dengan tepat telah mengakui bahwa institusi Pendidikan Tinggi telah memainkan sebuah peran dalam perjuangan meraih supremasi internasional. Sejumlah akademisi terkemuka, lebih dari setengah abad lalu telah menekankan bahwa bangsa-bangsa yang bercita-cita mendapat pengaruh internasional seyogyanya mendirikan pusat-pusat studi yang unggul (excellent)pada level tertinggi.”

Ketika seorang akademisi sekelas Prof. Wan dihadapkan pada dua pilihan; pendidikan dasar atau perguruan tinggi, beliau menganggap keduanya sangat penting. Pendidikan dasar merupakan asas utama dari pembentukan manusia. Tapi pendidikan tinggi memiliki peran yang lebih penting lagi. Anak adalah hasil didikan orang tua. Kualitas pendidikan yang diberikan orang tua kepada anak terkait dengan kualitas pendidikan yang dimiliki oleh orang tua. Pada kasus orang tua yang kurang berpendidikan, anak hanya mendapatkan sedikit dibanding orang tua yang berpendidikan tinggi.

“Hal yang tidak ditekankan dalam tradisi yang sering diturunkan ini adalah bahwa orang dewasanya, terutama orang tua dan guru, adalah yang paling berperan dalam proses ini. Nabi diutus di semua tingkatan masyarakat, namun langsung pada pemikiran orang dewasa yang matang (bulugh) yang bisa bertanggungjawab. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan efektif terjadi di tingkat dewasa. Lebih jauh lagi, kesuksesan tingkat dasar dan menengah tergantung sekali pada kesuksesan terdahulu dan keefektivan dari institusi Pendidikan Tinggi, di mana, pembuat kebijakan, perancang kurikulum, guru-guru, administrator senior, dan bahkan orang tua sendiri, dididik dan dilatih. Lalu, sejumlah besar orang-orang di bidang pendidikan non-formal seperti media massa elektronik, institusi kegamaan dan politik adalah produk-produk dari institusi Pendidikan Tinggi. Semua individu ini, secara langsung maupun tidak, mempengaruhi isi dan metode dari pendidikan formal dan non-formal pada tingkat yang lebih rendah.”

Menimbang urgensi Pendidikan Tinggi secara arkiteknotik dan strategis, negara-negara yang mayoritas penduduknya muslim harus mendirikan universitas berkelas internasional. Pendidikan terbaik yang dikelola secara profesional tentu akan menghasilkan sumber daya manusia yang paripurna.