Tulisan Kedua

Menurut Prof. Wan kelemahan umat salah satunya disebabkan oleh politik penjajahan yang dilakukan bangsa Eropa. Ini dimulai sejak Portugis dan Spanyol melakukan proyek pelayaran menjelajah dunia. Abad ke 15 tercatat sebagai momen kebangkitan Barat dengan keberhasilan Raja Ferdinand dan Ratu Issabella mengalahkan dinasti Umayyah di Andalusia. Keberhasilan tersebut menghasilkan kepercayaan diri bagi Barat untuk menguasai dunia.
Abad ke 17, separuh dunia dikuasai Eropa. Mereka datang ke Asia, Amerika dan Afrika untuk menaklukan pribumi dan mengambil sumber daya alam bagi kepentingan mereka. Imperialisme merajalela diiringi dengan kolonisasi. Di Amerika, Asia dan Afrika Bangsa Eropa membentuk komunitas imigran di wilayah jajahan. Mereka membuat standar khusus yang tentunya sesuai dengan budaya Eropa. Sehingga terjadi Eropasentris di wilayah jajahan. Segala yang berbau pribumi dianggap kolot, norak dan ketinggalan zaman. Nilai-nilai yang dibawa dari Eropa menjadi nilai utama yang identik dengan modernitas serta kemajuan.

“Globalisasi saat ini, terutama jika dikaitkan pada kerangka pengetahuan, telah melampaui proses-proses sosio-geografis, budaya, dan ekonomi. Neokolonialisme – melalui hegemoni proyek modernitasnya – memperdalam mitos keunggulan Barat dalam semua dimensi, aturan budaya, ilmiah, dan social politik ekonomi. Hegemoni ini bahkan memasuki wilayah interpretasi agama masyarakat non-Barat, dimana sifat atau batas toleransi beragama, moderasi, pluralism, dan Hak Asasi Manusia ditentukan secara signifikan dari perspektif Barat dan Sekuler; diartikulasikan dan ditanamkan terutama di lembaga-lembaga Pendidikan Tinggi.

Akibat yang ditimbulkan oleh politik penjajahan serta kolonisasi sangat terasa di negara bekas jajahan. Meskipun penjajahan sudah terhapus, bangsa non-Eropa masih saja dikungkung nilai-nilai Eropa. Mereka tidak bisa berdiri tegap membanggakan budaya lokal. Mereka tidak bisa menjadikan pandangan hidup bangsanya sebagai nilai universal. Hal ini terjadi karena Eropa telah mematenkan budaya mereka sebagai budaya global. Segala yang bertentangan dengan budaya global berarti partikular.
Setia bangsa yang ingin dianggap maju dan berkembang harus mengikuti konsep Barat. Tidak ada jalan lain. Barat telah berhasil menguasai dunia. Jalan ynag telah dibentangkan Barat adalah satu-satunya jalan resmi menuju bangsa yang beradab. Maka demokrasi menjadi kata kunci di setiap negara. Hanya negara yang menerapkan sistem demokrasi yang dianggap hebat. Hak asasi manusia juga dijadikan corong keberadaban suatu bangsa. Demikian juga sistem ekonomi kapitalis yang berasal dari paham liberalisme Barat menjadi satu-satunya sistem yang diterima oleh dunia.

“Konsep linier dan evolusi dari sejarah dan kemajuan manusia dari pusat Barat ini tidak mentolelir adanya perbedaan pemikiran atau gagasan dari pihak lain yang bertentangan dengannya. Gagasan-gagasan yang berbeda ini akan dianggap sebagai reaksioner, anti-modern, anakronistik, tradisional, tidak wajar, radikal, anti kemanusiaan; atau akan dikemas ke dalam idiom dan kategori yang dapat diterima oleh pandangan yang dominan dan kepentingan pusat (Barat). Pandangan non-Barat tentang kebenaran dan realitas, dan bentuk serta perspektif pengetahuan dan pembangunan mereka tentang manusia dianggap sebagai bersifat local dan particular, dan karenanya tidak bersifat universal. Maka, kemanusiaan dianggap tidak akan memiliki masa depan kecuali apa yang telah dipahami dalam kerangka ilmiah dan worldview demokrasi dan liberal Eropa.”

Dengan itu, bahasa, masyarakat, kebudayaan, ekonomi, dan teknologi China dan Timur Jauh, India dan Benua Asia, Negara-negara Melayu dan Pasifik, Amerika Latin, Timur Tengah, dan Afrika telah berubah secara signifikan, yang bahkan dalam beberapa kasus tidak dapat dikembalikan lagi. Untuk menjadi modern dan beradab dan agar diterima sejajar dengan Barat, pada dasarnya suatu negara akan menjadi ke-barat-baratan, sebuah persyaratan yang sebenarnya diragukan, namun banyak negara non-Barat dan negara muslim yang nampaknya menerima pandangan itu.
Prof. Wan menyeru kepada bangsa-bangsa yang pernah dijajah dan sampai sekarang masih terjajah secara ideologis agar secepatnya sadar. Untuk bangkit manusia perlu disadarkan. Barat tidak sepenuhnya benar. Nilai-nilai yang mereka sebarkan dan dipaksakan menjadi nilai universal tidak harus diterima begitu saja. Setiap bangsa memiliki kearipan lokal. Dengan modal kearipan lokal, setiap bangsa harus mengkritisi universalitas nilai Eropa.
Pemahaman akan pentingnya budaya pribumi, bisa menjadi modal kebangkitan bagi bangsa yang pernah dijajah. Kebanggaan terhadap nilai lokal setidaknya dapat membendung kegandrungan terhadap budaya Eropa. Sehingga akan muncul nilai pembanding. Eropa dengan budayanya tidak bisa semena-mena mengangkangi dunia.

Islamisasi Ilmu Kontemporer
Menurut Prof. Wan, salah satu bentuk usaha dewesternisasi dan dekolonisasi yang telah dilakukan oleh umat Islam adalah proyek intelektual islamisasi pengetahuan kontemporer. Syed Muhammad Naquib Al-Attas sebagai pionir proyek ini telah meletakan dasar perbedaan antara pengetahuan Barat dan Islam. Barat yang maju mengadopsi sistem ilmu tanpa nilai, sehingga ilmu menjadi senjata pamungkas untuk menentukan segala hal dalam kehidupan. Science sentris kemudian melahirkan manusia arogan yang anti Tuhan. Slogan Descartes, Cogito Ergo Sum, aku berpikir maka aku ada, menjadi landasan logis Barat. Mereka mengedepankan logika dan fakta emprik. Sehingga Tuhan yang tidak terlihat secara kasat mata dianggap tiada.
Konseptualisasi intelektual formal dalam proses Islamisasi, dimana umat Islam dapat melakukan kritik secara tepat dan memperoleh manfaat dari budaya dan peradaban lain, belum pernah dilakukan sampai abad ini. Tampaknya, kesadaran bahwa sains Barat modern adalah ateis secara alami dan oleh karena itu perlu diislamkan, pertama kali terdengar di awal tahun 1930-an, melalui Dr. Sir Muhammad Iqbal yang tidak menjelaskan atau mendefinisikan gagasannya. Syed Hosen Nasr, pada tahun 1960 secara implisit menunjukkan metode Islamisasi Sains modern dengan menyarankan bahwa yang terakhir harus ditafsirkan dan diterapkan dalam konsepsi Islam tentang kosmos.
Islamisasi pengetahuan kontemporer dalam kaca mata Prof. Wan dilandasi oleh keyakinan tentang adanya Tuhan zat metafisik yang mengatur alam. Agama harus dijadikan landasan ilmu pengetahuan.

“Jadi, dewesternisasi dan Islamisasi pengetahuan masa kini mengacu pada proses ganda dengan mengisolasi dan menghapus hal-hal yang tidak islami, hampir sebagian unsur-unsur dan konsep Barat, dan sekaligus menanamkan unsur-unsur dan konsep-konsep Islam ke dalam unsur-unsur dan konsep-konsep baru atau asing. Sebagian unsur-unsur dan konsep-konsep Islam ada yang berkaitan dengan agama (din), manusia (insan), pengetahuan (‘ilm dan ma’rifah), kebijaksanaan (hikmah), keadilan (‘adl), dan tindakan yang tepat (‘amal sebagai adab), di mana pada gilirannya didasarkan pada, dan berhubungan erat dengan konsep Tuhan, Dzat dan sifat-Nya (tauhid), makna dan pesan Al-Qur’an, Sunnah, serta Syariah.”

Konsep Universitas dalam Islam
Sebagai tindak lanjut dari konsep Islamisasi pengetahuan kontemporer, Prof. Wan menawarkan konsep universitas dalam Islam. Bagi Prof. Wan, sebuah lembaga pendidikan tinggi harus mencerminkan sosok manusia paripurna yang matang dalam bidang akedemik, sosial dan tentunya spiritual. Ada dua hal yang perlu disiapkan untuk membentuk universitas model ini;
Pertama, harus dipimpin oleh seorang pemimpin akademik yang memiliki kemampuan dan pengetahuan yang disyaratkan dari, dan berkomitmen untuk, pendidikan berdimensi religious-filosofis dan sosial-budaya, selain memiliki integritas etika dan pengalaman kepemimpinan. Keberhasilan kepemimpinannya harus ditentukan oleh etos lembaga, pengajaran, dan penelitian dan publikasinya dalam ilmu-ilmu fardhu ain dan fardhu kifayah, yang memberikan sumbangan pada pengembangan holistic siswa, bangsa mereka dan masyarakat dunia.
Kedua, program akademik harus dibuat berdasarkan skema hirarki namun pada saat yang sama juga menekankan kesatuan ilmu (knowledge). Pendidikan Islam juga tidak mengakui gagasan dualistic kontemporer yang membedakan penelitian dengan pengajaran, seolah penelitian dianggap lebih berharga dan lebih bergengsi daripada pengajaran. Pendekatan intelektual dalam Islam harus mengintegrasikan keharmonian antara tradisionalitas atau tekstualitas (naqli), rasionalitas (aqli), dan empiritas (tajribi) yang sesuai dengan kebutuhan objek pengkajian.

Sebagai penutup dari gagasan besar Prof. Wan adalah output yang berupa man of adab. Seorang manusia yang berpendidikan merupakan seseorang yang baik/shaleh . Kata ‘baik’ di sini menunjukkan bahwa pria tersebut memiliki adab dalam pengertian sepenuhnya inklusif. Seorang manusia yang beradab adalah orang yang secara ikhlas memiliki tanggung jawab terhadap Allah, yang memahami dan memenuhi kewajiban untuk dirinya dan orang lain di dalam masyarakat melalui keadilan, serta terus berusaha memperbaiki setiap aspek dari dirinya agar mencapai kesempurnaan sebagai seseorang yang beradab (insan adabi). Pendidikan adalah ta’dib yang menanamkan adab dalam diri manusia.
Menurut ulama generasi awal, isi (maudhu) dari ta’dib adalah akhlak (etika dan moralitas). Sejak zaman permulaan Islam, adab secara konseptual telah menyatu dengan ilmu yang benar (ilm) dan tindakan yang tepat serta tulus (‘amal) serta signifikan terlibat dalam peniruan intelektual (intelligent emulation) dalam Sunnah Rasulullah saw.

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: