Ramadhan, Bulan Kemenangan Paripurna

Di penghujung abad 15 masehi, sebuah tonggak sejarah terpancang di bumi nusantara. Islam yang sudah datang ke nusantara semenjak masa kekuasaan khalifah Utsman bin Affan (644-656 M) menancapkan sumpremasi di tanah Jawa dengan berdirinya kesultanan Demak. Raden Fatah, putra maha raja Majapahit dari seorang istri yang berasal dari negri Champa adalah pendiri kerajaan Islam pertama di tanah Jawa tersebut. Hegemoni Majapahit yang berasaskan Hindu perlahan memudar. Setalah kematian maha patih Gajah Mada, kekuatan Majapahit mengalami kemunduran. Raja Hayam Wuruk yang banyak bergantung kepada snag patih dibuat frustasi. Tidak lama kemudia, sang Raja mengikuti jejak patihnya. Dua orang tokoh sejarah yang mengharumkan nama Majapahit kembali ke haribaan Ilahi.
Raden Fatah mendapat momen emas. Murid dari seorang waliyullah bernama Sunan Ampel tersebut tidak menyia-nyiakan kesempatan. Di bawah bimbingan sang guru, Raden Fatah mengembangkan kekuasaan Demak. Pusaran kekuasaan Jawa yang sebelumnya bertumpu di Timur, ditarik ke Tengah. Mojokerto sebagai pusat pemerintahan Majapahit kalah pamor dengan Demak di pantai utara Jawa Tengah. Sebuah kadipaten berubah menjadi ibu kota kerajaan. Demak berdiri sebagai kekuatan super di tanah Jawa.
Visi Sunan Ampel yang diterjemahkan oleh muridnya Raden Fatah melalui pendirian kerajaan Islam terus hidup di kalangan istana. Setalah wafat Raden Fatah, putra pertamanya Pati Unus diangkat menjadi raja. Bagi raja Islam, menyebarkan ajaran tauhid merupakan tugas utama di samping mensejahterakan rakyatnya. Ketika muncul kekuatan asing yang mengganggu proses islamisasi, maka sang raja akan berdiri tegak. Dengan kukuatan dan ketetapan hati dia menjadi tameng agama. Islam adalah sebuah jalan hidup. Seorang pemimpin kerajaan Islam akan berjuang membela agama dengan jiwa dan raganya.
Pati Unus tahu bahwa Malaka, pusat kekuasaan Islam pertama di Nusantara telah dikuasai Portugis. Kekuatan asing dari Barat tersebut membawa tiga missi; gold, glory and gospel. Mereka datang atas perintah Paus Alexander VI, pemimpin tertinggi Katolik Roma. Semua kerajaan Barat dibawah payung Katolik Roma harus menjalankan mission sacre, misi suci menghabisi umat Islam untuk kejayaan vatikan. Kerajaan Portugis yang baru saja mengalahkan kekuatan Islam di Andalusia, mengemban tugas suci kristus. Pati Unus sebagai seorang pemimpin Islam terpanggil. Dengan 100 kapal dan ribuan prajurit dari Demak dan Palembang, Sang Sultan berangkat menelusuri selat Sunda menuju Malaka.
Dua kali Pati Unus berusaha mengusir Portugis dari Nusantara. Takdir belum berpihak kepada Sang Penguasa tanah Jawa. Kekuatan armada laut Demak belum mampu menembus benteng Malaka. Meski belum berhasil, usaha sang raja tidak dipandang sebelah mata. Sejarah mencatat. Kita pun diingatkan bahwa ada seorang Raja Jawa yang berlayar ke Malaka untuk mengusir penjajah. Pati Unus mendapat gelar Pangeran Sabrang Lor. Seorang pangeran yang dengan gagah berani menyeberang selat menuju utara demi menjaga hegemoni bangsa dan agama.
Portugis semakin meraja lela. Merasa kuat dan hebat, kukuatan asing tersebut mulai memasuki Jawa. Tahun 1522 M, Portugis menguasai Sunda Kelapa. Daerah utara priangan yang menjadi salah satu pelabuhan strategis kerajaan Sunda Pajajaran tersebut direbut Portugis. Mereka mendirikan benteng yang kuat. Jelas sudah niatnya, menjarah Jawa. Pelabuhan utama di pulau Sumatra telah dikuasai. Kini Pelabuhan utama di Jawa Barat juga dikuasai. Mengapa Jawa Barat? Karena wilayah Tengah dan Timur dikuasai sebuah kerajaan besar, Demak Bintaro.
Penguasaan Sunda Kelapa oleh Portugis menjadi duri dalam daging bagi penguasa Demak. Raja Demak yang menyerang ke Malaka telah tiada. Setahun sebelum Portugis datang ke tanah Sunda. Kini Sang adik yang berkuasa. Sultan Trenggono, putra kedua Raden Patah tidak tinggal diam. Di Masjid Agung Demak yang menjadi tempat musyawarah antara raja dan penasehat dari kalangan ulama tersurat sebuah keputusan. Demak harus menyerang Sunda Kelapa. Portugis harus diusir dari tanah Sunda.
Wali Songo dan penguasa Demak sepakat menunjuk Syarif Hidayatullah sebagai penanggung jawab tugas mulia. Penunjukan Syarif Hidayatullah berdasarkan alasan keimanan, kecakapan dan juga keturunan. Keimanan Syarif Hidayatullah sudah tidak perlu diperdebatkan. Beliau adalah satu dari sembilan wali yang menjadi penasehat raja Demak. Untuk urusan perang pun, tidak diragukan. Selain seorang ulama beliau juga prajurit di medan laga. Syarif Hidayatullah berhasil menjadikan Cirebon sebagai sebuah kerajaan semi independen. Sebagai sebuah kekuatan Islam di Jawa Barat, kesultanan Cirebon memiliki pasukan yang cukup untuk membantu Demak. Alasan keturunan adalah alasan yang paling emosional. Syarif Hidayatullah adalah putra dari Nyai Lara Santang, putri sang penguasa tanah Pasundan. Di dalam tubuhnya mengalir darah biru Prabu Siliwangi, raja Pajajaran. Sunda Kelapa merupakan bagian dari wilayah Pajajaran. Mengusir Portugis dari Sunda Kelapa bagi cucu Prabu Siliwangi adalah tugas agama dan juga tugas bangsa. Sebagai pewaris tahta Pajajaran, penunjukan Syarif Hidayatullah sebagai pemimpin misi adalah sebuah keputusan yang sangat cerdas.
Syarif Hidayatullah bersiap merebut Sunda Kelapa dari tangan Portugis. Fathillah, menantunya yang berasal dari Pasai dilibatkan. Pengalaman Fathillah sebagai seorang prajurit perang sangat dibutuhkan. Ribuan prajurit disiapkan. Meraka harus belajar dari pengalaman. Kegagalan menyerang Portugis di Malaka jangan sampai terulang. Kekurangan pengalaman dalam pelayaran yang menjadi penyebab kegagalan menaklukan Malaka pada tahun 1512 harus dijadikan pelajaran.
Sebagai pemimpin pasukan sekaligus pemimpin spiritual, Syarif Hidayatullah menanamkan ruh jihad ke dalam sanubari para prajurit. Dalam Islam prajurit bukan pion yang ditakdirkan untuk membentengi raja, bergerak melindungi nyawa pemimpin dan rela mati demi rajanya. Islam mengajarkan bahwa, prajurit adalah mujahid fi sabilillah. Dia berada dalam medan pertempuran bukan semata untuk membela kepentingan raja. Dia bertarung melawan musuh tidak hanya untuk mengharumkan nama bangsa. Seorang mujahid berperang karena tugas agama. Dia berjuang untuk mendirikan kalimat tauhid. Tetesan keringatnya menjadi dzikir, tebasan pedangnya menjadi ibadah, dan matinya adalah syahid. Bagi seorang mujahid tidak ada kata kalah. Mati dalam pertempuran berarti syahid di jalan Allah. Bertahan hidup dengan menumpas musuh berarti meninggikan asma Allah.
Berbekal niat mulia, pasukan Demak beranjak dari Jawa Tengah melalui jalur laut. Pelabuhan Sunda Kelapa adalah destinasi akhir. Di sana mereka ditunggu pasukan kafir Portugis yang mengemban missi penjajahan atas pribumi. Bagi prajurit Demak yang dibantu oleh pasukan Cirebon, tidak ada pilihan pulang dengan kekalahan. Mereka harus berjuang sampai titik darah penghabisan, hidup mulia atau mati syahid. Kembali ke Demak dengan kekalahan hanya akan mendatangkan cela.
Perang berkobar. Senjata modern pasukan Portugis dilawan kilatan pedang pasukan Demak. Darah tumpah dari ke dua belah pihak. Mayat bergelimpangan. Ada yang mati syahid, ada yang mati konyol. Berbahagialah para prajurit Demak yang berjuang untuk menegakkan agama. Matinya dirindukan surga.
22 Ramadhan 933 H, Sunda Kelapa berhasil dikuasai pasukan Demak. Prajurit Portugis mengalami kekalahan. Sebagian besar lari menyelamatkan diri. Tanah Pasundan menjadi milik penguasa Muslim. Syarif Hidayatullah dan menantunya Fatahillah bersimpuh penuh syukur ke hadapan Sang Penguasa langit dan bumi. Atas pertolongan dan izin Allah Sunda Kelapa berhasil direbut dari tangan Penjajah Khatolik Portugis.
Sebagai rasa syukur, Syarif Hidayatullah mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta. Penamaan ini bukan sembarang. Sunan Gunung Jati teringat peristiwa ratusan tahun silam. Saat pasukan Madinah yang dipimpin Rasulullah berhasil memasuki kota Mekkah. Takbir bergemuruh. Berhala berjatuhan. Kemenangan besar yang telah dijanjikan terbukti. Allah Maha Besar. Al-Qur’an mengabadikan peristiwa bersejarah tersebut dalam surat Al-Fath ayat pertama, “Sesunggunya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang besar”. Peristiwa fathul Makkah terjadi pada bulan Ramadhan tahun ke 8 Hijriah. Tanggal 10 Ramadhan Rasul bersama pasukannya meninggalkan Madinah. Tanggal 19 Ramadhan pasukan Madinah memasuki kota Mekkah. Tanggal 20 Ramadhan terjadi pengampunan umum bagi penduduk Makkah.
Sejarah seolah terulang. Peristiwa Fathul Makkah yang terjadi di bulan Ramadhan tahun 8 Hijriah, diikuti oleh peristiwa pembebasan Sunda Kelapa dari tangan Portugis bulan Ramadhan tahun 933 Hijriah. Sunda Kelapa dirubah menjadi Jayakarta yang berarti kemenangan paripurna.

Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: