Dari Buenos Aires sampai Pasar Singosari

Udara Singosari selalu spesial. Duduk di teras depan rumah, menjadi pilihan menarik saat matahari mulai beranjak naik. Meski gendang telinga terus menerus diteror suara bising knalpot, hati tetap adem. Sebising apapun polusi suara tertutupi oleh semilir angin yang menyenggol dedaunan. Sejuk. Setiap kali hidung menghirup, dada terasa dipenuhi kekuatan magis yang menenangkan.
Lembar berganti lembar. Mata masih setia mengikuti setiap baris kata. Tiga hari lalu, aku pergi ke toko buku. Satu hal yang tak pernah terlewatkan. Mengisi kekosongan sambil menunggu hari-hari di kota apel. Buku menjadi pelarian favoritku. Lima buah buku berhasil aku bawa pulang. Salah satunya, The Secret Letters of the Monk Who sold His Ferrari. Buku fiksi dari penulis yang sudah ku kenal sejak lama. Robin Sharma, orang Amerika keturunan India yang berhasil menyita perhatianku lewat buku terlarisnya, The Monk Who Sold His Ferrari. Kebetulan buku yang ada di tangan sekarang, sekuel dari buku laris tersebut.
Aku dibawa mengudara oleh Robin Sharma. Dari kegilaan seorang eksekutif muda di belantara kesibukan Eropa, menelusuri kota tua yang dindingnya dihiasi coretan di pinggiran Buenos Aires. Belum lama terperdaya oleh alunan musik Amerika Latin dan tarian Tango nan eksotik, aku dibawa terbang lagi. Kali ini ke sebuah apartemen mewah berlantai tiga. Dari balkon lantai tiga, terlihat dua sisi dunia. Eropa dan Asia. Istanbul selalu membuat aku merinding. Kisah yang pernah ku baca tentang perjuangan Sultan Muhammad Al-Fatih menaklukkan ibukota Romawi Timur tidak pernah bisa hilang dari kepala. Keelokan Hagia Sophia, Selat Tanduk Emas, Selat Bosphorus dan Hippodrome membuat anganku melayang.
“Permisi!” Sosok berbalut kaos hitam menyita pendengaranku. Wajah aku palingkan ke arah suara. Samar terlihat seorang laki-laki membawa dua dus air mineral. Bagian atas kepalanya tertutup topi hitam. Aku sering melihat topi itu di cuplikan film cowboy. Matanya tersembunyi di balik kaca mata hitam. Sempurna, topi cowboy dan kaca mata hitam saat matahari mulai naik ke tengah langit.
“Di taruh di sini?” aku mengangguk sambil menghampiri. Laki-laki itu berlalu. Tidak berapa lama, dia kembali dengan kardus yang lain. Kuat. Saat, siang menjelang, perut mulai lapar dan tenaga berkurang, laki-laki itu seolah tanpa beban memindahkan dus demi dus dari kendaraannya ke pelataran rumah.
“Becak, tunggu!” baru saja selesai membantu mengangkat dus-dus yang berserakan di depan rumah, dari dalam terdengar suara ibu berteriak. Instingku bergerak cepat. Buku yang baru saja aku pegang, setelah berjibaku dengan dus kembali diletakkan. Langkah kaki segera ku bawa ke luar. Si abang becak hampir saja berlalu.
“Tunggu, mas, eh pak”
Aku baru sadar ternyata laki-laki pembawa dus itu tidak semuda dugaanku. Garis-garis keriput di wajah bercerita banyak. Apalagi saat dia membuka mulut. Senyumnya dihiasi dua buah gigi yang sama-sama berada di gusi bawah. Gusi atasnya merah. Tidak tersisa satu pun gigi.
Laki-laki tua masih memakai topi cowboy dan kaca mata hitam. Becak yang sudah siap ditancap, dia parkir kembali. Aku bimbing dia masuk.
“Silahkan duduk”
“Ada yang tertinggal, mas?”
“Tunggu sebentar, ibu masih ada perlu”.
Waktu menunggu aku manfaatkan. Sosok yang duduk tepat di hadapanku tentu menyembunyikan cerita menarik. Sayang kesempatan seperti ini berlalu begitu saja.
“Sudah lama mas, dari tahun tujuh puluh satu”. Bapak tua menjawab pertanyaanku. Ternyata becak adalah bagian terbesar dari sejarah hidupnya. Kedua kakinya sudah akrab dengan pedal becak, semenjak muda. Dari hasil becak dia bisa melamar seorang gadis yang memberikannya empat orang anak. Dari becak dia bisa menyekolahkan anak-anaknya. Dari hasil sekolah anak-anaknya bisa kerja. Tiga orang anaknya laki-laki, satu perempuan. Anak-anak yang besar dari hasil kayuhan becak tersebut sudah berkeluarga. Tujuh orang cucu lahir ke dunia.
“Dulu saya mangkal di Pasar Besar”. Empat puluh tiga tahun yang lalu, si abang becak memulai karirnya. Pasar Besar adalah destinasi yang paling menggiurkan bagi para pembecak. Pasar yang terletak di jantung kota Malang selalu ramai pengunjung. Becak menjadi kendaraan favorit. Terlebih saat itu serangan roda dua dan empat dari Jepang belum dimulai. Menjadi tukang becak pada saat itu selevel dengan sopir taksi.
Seiring waktu, lahan pembecak mulai digerus tukang ojek dan sopir angkot. Pasar Besar meski masih memberi ruang kepada para pembecak, sudah tidak sekondusif dulu. Terlebih pertambahan usia juga menjadi faktor yang memperlemah persaingan.
“Tahun delapan puluh tiga, saya pindah ke Singosari”.
Dari tahun 83 sampai sekarang si bapak masih setia menunggu pelangan di depan pasar Singosari. Lebih empat puluh tahun tenaganya dikuras untuk mengayuh becak. Entah berapa generasi yang sudah menikmati tarikan becaknya. Entah berapa ribu kilo perjalan yang ditempuh selama itu. Entah sudah berapa ribu liter keringat yang mengucur di sepanjang perjalanan. Entah sampai kapan si bapak masih kuat mengayuh.
“Saya mangkal di bawah tangga penyeberangan jalan, sebelah kiri. Tanya saja pak …. (dia menyebutkan nama, tapi saya lupa) semua orang tau”.

Advertisements

The Prince dan Fenomena Suksesi Kepemimpinan Nasional

Niccolo Machiavelli (1469-1527) adalah sejarawan, negarawan dan filsuf politik Italia di zaman renaissance, yang karya-karyanya dianggap mendasari pemikiran sebuah bentuk negara politik sekuler masa kini. Karyanya yang paling terkenal adalah The Prince. Naskah The Prince sendiri diselesaikannya di pedesaan Florentine dan baru diterbitkan pada tahun 1532. Buku tersebut menjelaskan berbagai metode yang dilakukan seorang penguasa untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaannya serta bagaimana cara ia memerintah dalam kerangka relasi dengan rakyatnya
Machiavelli mengalami tiga periode sejarah penting Florence. Dia melewati masa mudanya dalam kejayaan Florence yang menjelma sebagai pusat kekuasaan Italia dibawah komando Lorenzo de’ Medici atau Il Magnifico. Ketika mulai bekerja di pemerintahan, Machiavelli mengalami sejarah runtuhnya kekuasaan Medici pada tahun 1494. Pada akhir masa hidup Machiavelli yang dicurahkan untuk sastra, dia menyaksikan kembalinya Madici tahun 1512, kemudian kejatuhan dan pengusiran Medici kedua kalinya pada tahun 1527.

Status Kepangeranan, Cara Memperoleh dan Mempertahankannya
Machiavelli membagi status kepangeranan berdasarkan cara memperolehnya ke dalam dua bentuk; diperoleh secara turun-temurun, dimana keluarga kerajaan telah hadir dalam periode waktu yang cukup lama, atau diperoleh dengan jalan usaha tanpa ada kaitan keturunan.
Pangeran baru yang berkuasa bukan berdasarkan keturunan harus berjuang mendapatkan kekuasaan. Ada dua cara familiar yang biasa dilakukan seorang pangeran baru untuk mendapatkan kekuasaan; jalan militer dan jalan simpati.
Jalan militer sering dilakukan oleh seorang panglima untuk mengkudeta. Sejarah telah mencatat banyak kasus kudeta yang dilakukan oleh petinggi militer untuk meraih kekuasaan. Machevialli mencontohkan seorang Agathocles, si orang Sicilia, menjadi Raja Syracusa dengan cara kudeta. Dia berhasil menjadi raja berkat kecermerlangannya di militer dan juga kecerdikannya memanfaatkan peluang. Dengan modal keberanian serta kekejaman, Agathocles berhasil menguasi Syracusa.
Cara kedua adalah kebalikan dari yang pertama. Seorang pangeran baru bisa mendapatkan kekuasaan dengan jalan mendapat simpati dari rakyat. Machiavelli menjelaskan cara kedua ini didapat oleh seorang warga teladan. Dia berkuasa bukan karena keculasan, kelicikan atau kekerasan, tapi karena simpati dari rakyat. Simpati dia dapat berkat kebaikan hati dan kecerdasan pikiran. Model kekuasaan seperti ini disebut negara kepangeranan sipil.
Dalam kekuasaan model sipil yang pemimpinnya diangkat atas dasar simpati rakyat, kukuasaan tertinggi ada pada rakyat. Machiavelli menganggap pemimpin yang mendapat simpati rakyat, mampu menggalang pasukan yang memadai untuk melawan siapapun yang datang menyerang. Simpati didapat seorang pangeran dengan cara memberi pekerjaan kepada masyarakatnya. Rakyat hidup dengan layak dan cenderung sejahtera. Pemimpin juga harus memperhatikan militer dan memiliki undang-undang serta hukum yang jelas.

Suksesi Kepemimpinan Nasional
Risalah politik yang ditulis oleh Machiavelli mengandung banyak pelajaran. Dia menggambarkan secara gamblang proses suksesi kekuasaan di sebuah negara atau kota. Meskipun ditulis di akhir abad ke limabelas, risalah ini masih revelan dengan keadaan sekarang. Terutama di bagian model kepangeranan yang diraih dari simpati rakyat.
Geliat politik di Indonesia yang hanya memunculkan dua orang calon presiden menjadi bukti betapa simpati rakyat sangat sakti. Meskipun sebelum pemilihan legislatif banyak tokoh nasional yang digadang-gadang bakan menjadi calon presiden, pada akhirnya mereka gugur sebelum pertarungan. Rakyat telah menentukan kriteria. Siapapun yang tidak memenuhi kriteria tersebut tersingkir dengan sendirinya.
Kriteria yang ditetapkan rakyat sangat sederhana. Mereka menginginkan pemimpin yang akan datang lebih baik dari yang sekarang. Oleh karena itu kekurangan yang dimiliki pemimpin sekarang harus ditutupi oleh kelebihan bakal calon pemimpin. Maka hanya dua orang yang memenuhi kriteria. Rakyat menentukan melalui mekanisme survey. Dua orang tersebut memiliki elektabilitas tertinggi jauh meninggalkan tokoh lain.
Simpati yang diberikan rakyat secara sukarela kepada tokoh pertama karena faktor kesederhanaan dan kedekatan. Tokoh yang masih menjabat sebagai Gubernur di ibu kota tersebut mencerminkan seorang pemimpin yang mau bekerja dan siap meladeni rakyatnya. Sebuah model kepemimpinan yang tidak dimiliki oleh pemimpin saat ini. Terkait dengan kerja, bukan berarti pemimpin sekarang tidak bekerja, tapi rakyat memiliki harapan agar pemimpinnya terlihat bekerja seperti layaknya mereka bekerja. Pemimpin sekarang dengan model kerjanya mencerminkan sisi kerakyatan. Blusukan telah menjadi brand mark tokoh ini.
Tokoh kedua mendapat simpati rakyat lagi-lagi karena faktor kekurangan yang dimiliki oleh pemimpin saat ini. Rakyat sudah membuat sebuah kesimpulan bahwa pemimpin mereka cenderung lambat dan tidak tegas. Rakyat mengharapkan seorang pemimpin yang berani mengambil resiko. Sosok yang tegap secara fisik dan juga kuat secara mental. Dia berani mengambil keputusan dengan cepat. Dia berani menentukan sebuah kebijakan dengan jelas. Rakyat berharap memiliki pemimpin yang memiliki karisma bukan hanya di dalam negeri tapi juga menular ke luar negri. Dengan karismanya pemimpin tersebut bisa menjadikan bangsa ini berdiri sama tinggi dengan bangsa lain. Kebetulan kriteria yang diminta rakyat dimiliki oleh mantan Danjen Kopasus orde baru. Jenderal bintang tiga yang sempat tinggal di Timur Tengah pasca reformasi tersebut dengan sendirinya mendapat simpati masyarakat.
Maka hari-hari ini dan ke depan sebelum tanggal 9 Juli 2014 bangsa Indonesia terbelah dua. Satu kutub mendukung Gubernur Jakarta dan kutub lain mendukung mantan Danjen Kopasus. Dua orang ini mau tidak mau, suka tidak suka telah mendapat restu rakyat untuk bertarung di pemilihan presiden. Sudah dapat dipastikan bahwa salah satu dari keduanya akan menjadi pemimpin Indonesia lima tahun ke depan.
Siapapun yang terpilih dia adalah presiden seluruh rakyat. Keduanya mentas di panggung pilpres karena simpati rakyat. Sebagai pemimpin yang terlahir dari simpati rakyat, presiden terpilih harus memperhatikan beberapa hal yang diungkap oleh Machiavelli.

1. Menomorsatukan Rakyat
Machiavelli menyebut model kekuasaan yang berasal dari simpati rakyat sebagai model kepangeranan sipil. Pendapat dia tentang kekuasaan tertinggi yang berada di tangan rakyat sangat tepat. Dalam kekuasaan sipil, seorang pemimpin tidak bisa berbuat semaunya. Dia dipilih oleh rakyat, mendapat kekuasaan berkat simpati mereka, maka dia harus menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi dan golongan.
Kebijakan yang diambil harus selalu pro rakyat. Pemimpin yang terpilih harus segera merealisasikan tiga pilar kemakmuran; pendidikan bermutu yang bisa diakses oleh semua kalangan, pelayanan kesehatan terbaik bagi rakyat, dan model ekonomi yang menunjang kesejahteraan rakyat. Dengan melaksanakan tiga pilar kemakmuran, pemimpin akan terus mendapat simpati rakyat. Dia telah menjadikan rakyat sebagai prioritas, maka rakyat pun akan mencintainya dengan tulus.
Apabila pemimpin yang terpilih tidak bisa menjadikan rakyat sebagai prioritas. Dia terganggu dengan agenda politik partainya atau partai pendukungnya, bisa dipastikan rakyat kecewa. Kekecewaan rakyat mampu menggoyang kekuasaan. Pemimpin yang gagal menjaga simpati rakyat karena tidak mampu menjadikan rakyat sebagai prioritas, tidak mungkin bisa mempertahankan kekuasaannya.

2. Memperkuat Supremasi Hukum
Pondasi sebuah negara sipil adalah hukum. Penegakan hukum harus menjadi agenda utama dari pemimpin terpilih. Rakyat butuh kepastian hukum. Mereka tidak mungkin bisa hidup tenang tanpa ditopang oleh peraturan formal yang mengikat dalam segala hal. Ibarat jalanan, hukum adalah rambu-rambu lalu lintas. Ketika jalan tidak dilengkapi dengan rambu, maka kesemrautan dan juga kecelakaan berpeluang terjadi. Bahkan peluangnya sangat tinggi.
Penegakan hukum harus dibarengi dengan keadilan. Semua warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama di mata hukum. Siapapun yang melakukan pelanggaran harus mendapat hukuman yang sesuai. Hukum tidak boleh pandang bulu. Hukum juga tidak boleh seperti pisau yang tajam hanya di satu sisi. Penegakan hukum harus menyentuh semua komponen bangsa baik itu pejabat, konglomerat atau rakyat.

3. Pertahanan Nasional
Ketika berbicara tentang pertahanan nasional maka mengkecurut pada satu hal, militer. Sebagai mana Machiavelli berkhotbah dalam bukunya tentang pentingnya kedudukan militer di sebuah negara, maka pemimpin Indonesia yang kelak terpilih harus memperhatikan faktor ini. Militer adalah tembok raksasa yang menjadi benteng negara. Penegakan Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak mungkin bisa dilakukan tanpa ditopang oleh militer yang kuat.
Pertahanan Nasional selalu terkait dengan keamanan. Menciptakan negara yang aman tentu tidak gratis. Prajurit Indonesia tidak kalah hebat dengan prajurit bangsa lain. Mereka hanya butuh didukung dengan anggaran yang cukup sehingga selalu bisa meng-upgrade kekuatan.

4. Menjaga Integritas
Sebagai penutup tulisan ini, saya akan menukil pendapat Machiavelli tentang pentingnya menjadi integritas bagi seorang pemimpin.
”Setiap orang pasti setuju betapa terpujinya bagi seseorang pangeran yang mengakui untuk mempertahankan keimanannya. Dan untuk hidup dalam integritas dan bukannya pada percakapan belaka.”
Di titik ini kita bisa menyimpulkan bahwa di balik kekejaman yang sering didengungkan tentang The Prince sebagai provokator dari munculnya para diktator dunia, terselip sebuah nilai agung. Pemimpin harus selalu mempertahankan keimanannya. Dia harus menjunjung tinggi nilai-nilai keimanan bukan sebagai mantra yang hanya dibaca tapi menjadi prilaku yang terlihat nyata.

The Power of Sahur

Sudah tiga hari kita berada di bulan Ramadhan. Bulan spesial bagi umat Islam. Spesial karena Ramadhan adalah bulan Ibadah. Bulan yang diciptakan Allah di sepertiga akhir tahun tersebut menyediakan banyak pahala. Di bulan Ramadhan umat islam diwajibakan berpuasa dari subuh sampai magrib. Malamnya disunahkan melaksanakan shalat tarawih disertai witir. Membaca Al-Qur’an menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Ramadhan. Bagi umat Islam, khatam Al-Qur’an selama Ramadhan menjadi sebuah kemustian. Di bulan ini pula, ada sebuah malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Malam lailatul qadar, sebuah malam yang penuh berkah. Malam itu para malaikat turun ke langit dunia. Mereka memberkati siapa saja yang meyembah Allah dengan khusuk. Maka lailatul qadar menjadi obsesi umat Islam. Setiap Ramadhan menjelang, umat sudah bersiap diri mendapatkan berkah malam terindah itu.

Ramadhan bagi umat Islam selaksa oase di tengah padang pasir yang gersang. Bulan mulia itu menyiapkan air jernih nan segar bagi siapa saja yang menghendakinya. Meneguk air dari oase Ramadhan bukan hanya melegakan tenggorokan, tapi juga menyehatkan tubuh, menajamkan pikiran serta menjernihkan hati. Ramadhan adalah impian bagi semua manusia yang beriman. Mereka menunggu kedatangannya. Mereka berbahagia menyambutnya. Mereka beribadah di dalamnya. Maka tidak heran apabila Rasul bersabda, “Barangsiapa yang berbahagia dengan kedatangan Ramadhan, maka dia akan terbebas dari siksa neraka.”

Selain bulan ibadah, banyak hikmah tersebar di dalam Ramadhan. Sebagai umat yang dibekali pikiran dan juga nurani, kita bisa mencari hikmah-hikmah yang tersembuyi di balik Ramadhan. Hikmah tersebut apabila ditemukan akan menjadi obat mujarab bagi kita. Hikmah tersebut apabila ditemukan akan menjadi suplemen penambah keimanan. Dalam tulisan ini, saya mencoba membuka tabir hikmah dari ritual sahur.

Selama Ramadhan ada satu hal yang selalu dilakukan umat Islam di sepertiga akhir malam. Menjelang subuh, ketika fajar belum beranjak dari persembunyian jutaan muslim bangkit dari tidur. Membersihkan diri, melaksanakan ibadah sunah kemudian menyantap sahur. Bagi ibu-ibu, ada tambahan aktifitas, memasak dan menyajikan makanan bagi seluruh penghuni rumah. Maka alangkah besarnya pahala yang akan Allah berikan kepada ibu-ibu yang tulus menyediakan sahur bagi keluarganya. Sahur adalah bagian yang tidak terpisahkan dari ritual puasa. Siapapun yang akan berpuasa esok hari, pasti bangun sebelum subuh menjelang dan menyantap sahur.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa belajar dari ritual sahur. Puasa adalah sebuah aktifitas mulia. Setiap aktifitas pasti ada awalnya. Dan awal puasa adalah sahur. Sahur merupakan garis start bagi siapa saja yang hendak berpuasa. Sahur sangat berpengaruh terhadap kualitas puasa. Orang yang sahur tentu berbeda dengan yang tidak sahur. Dengan sahur tubuh menjadi lebih siap menghadapi belasan jam tanpa makan dan minum. Dengan sahur umat Islam menyimpan energi. Dengan sahur umat Islam menabung semangat. Bagaimana dengan yang tidak sahur? Seringkali orang yang tidak sahur karena bangun kesiangan mengalami masalah sepanjang hari puasa. Tubuhnya lemas, sulit beraktifitas. Kerongkongannya kering, tidak siap menghadapi terik matahari. Maka tidak aneh, orang yang tidak sahur lebih banyak menghabiskan waktu di atas kasur.

Sahur berpengaruh kepada nilai puasa. Oleh karena itu Rasul menganjurkan umat untuk makan sahur. Bahkan sahur yang terbaik adalah yang dilakukan menjelang subuh. Itu karena semakin dekat dengan pagi, maka energi yang didapat dari santap sahur tidak hilang sebelum perang menjelang. Tubuh bisa menyerap energi dan menggunakannya selama berpuasa. Dengan sahur, tubuh menjadi lebih siap. Ketika tubuh siap maka ibadah pun akan giat.

Ingat sahur, ingat start. Ada ungkapan ‘permulaan yang baik adalah setengah dari pekerjaan’. Nilai besar yang bisa kita peroleh dari ritual sahur adalah selalu memulai dengan baik. Setiap manusia tentu memiliki cita-cita atau target hidup. Dia membungkus target tersebut dengan berbagai macam kegiatan. Satu kegiatan terangkai dengan kegiatan lain. Semuanya dilakukan untuk memuluskan jalan mencapai cita-cita. Saat memulai suatu kegiatan maka ingat start harus bagus. Bagaimana mungkin bisa melakukan pekerjaan apabila permulaanya saja tidak terencana.

Sahur mengajari kita tentang pentingnya memulai dengan baik. Memulai dengan baik itu mempersiapkan segala hal yang diperlukan sebelum bekerja. Bagi seorang siswa yang memiliki cita-cita menjadi seseorang yang bernilai di masa depan, maka dia harus memulai dari sekarang. Belajar adalah start. Mempersiapkan kegiatan belajar tentu menjadi bagian yang sangat penting. Bagaimana mungkin bisa melakukan kegiatan belajar dengan baik apabila buku tidak ada, pulpen sudah habis isinya, seragam masih dicuci. Persiapan itu selalu dilakukan sebelum memulai aktifitas.

Ketika semua yang dibutuhkan sudah terpenuhi, pagi hari menjadi momen yang dinanti. Seragam dikenakan, tas sudah terisi dengan perlengkapan belajar, sepatu beserta kaos kaki siap dipakai, dan pekerjaan rumah sudah terselesaikan. Dengan persiapan semangat akan tumbuh. Siswa siap menjalankan aktifitas. Semua ilmu yang diberi oleh guru dicerna. Ibarat akan berperang, siswa yang mempersiapkan diri sebelum sekolah sudah siap menembak atau bertahan. Berbeda halnya dengan siswa yang tidak siap. Dia seperti prajurit tanpa senjata yang berdiri di tengah medan perang, melihat moncong senjata musuh terarah kepadanya. Dia bingung, baju besi belum dikenakan. Maka hanya satu yang dia bisa, pasrah pada nasib.

Tentu kita tidak mau menjadi orang yang bingung di tengah perjuangan hidup. Kita tidak mau menjadi prajurit tanpa senjata dan baju besi. Kita menginginkan kepastian, ketetapan hati dan keprcayaan diri. Semua itu dapat diperoleh dengan persiapan. Siapapun yang mempersiapkan diri tentu akan melangkah pasti. Dia tahu apa yang akan dilakukan. Dia sudah memprediksi apa yang akan terjadi. Bahkan dia sudah bisa mengira sebesar apa rintangan yang akan dihadapi. Persiapan adalah kunci dari setiap kegiatan. Setiap kegiatan yang dipersiapkan dengan baik tentu akan berjalan baik dan berakhir baik pula. Sebaliknya setiap kegiatan yang dilakukan tanpa persiapan, tentu akan menghasilkan kegagalan. Dari setiap kegagalan akan muncul penyesalan. Padahal penyesalan di akhir cerita tidak berguna. Maka sebelum menyesal, persiapkan segala kegiatan dengan maksimal.

Sebagai penutup tulisan ini, saya teringat sebuah pepatah “Siapa pun yang naik panggung tanpa persiapan akan turun tanpa kehormatan.”