The Power of Sahur

Sudah tiga hari kita berada di bulan Ramadhan. Bulan spesial bagi umat Islam. Spesial karena Ramadhan adalah bulan Ibadah. Bulan yang diciptakan Allah di sepertiga akhir tahun tersebut menyediakan banyak pahala. Di bulan Ramadhan umat islam diwajibakan berpuasa dari subuh sampai magrib. Malamnya disunahkan melaksanakan shalat tarawih disertai witir. Membaca Al-Qur’an menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari Ramadhan. Bagi umat Islam, khatam Al-Qur’an selama Ramadhan menjadi sebuah kemustian. Di bulan ini pula, ada sebuah malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Malam lailatul qadar, sebuah malam yang penuh berkah. Malam itu para malaikat turun ke langit dunia. Mereka memberkati siapa saja yang meyembah Allah dengan khusuk. Maka lailatul qadar menjadi obsesi umat Islam. Setiap Ramadhan menjelang, umat sudah bersiap diri mendapatkan berkah malam terindah itu.

Ramadhan bagi umat Islam selaksa oase di tengah padang pasir yang gersang. Bulan mulia itu menyiapkan air jernih nan segar bagi siapa saja yang menghendakinya. Meneguk air dari oase Ramadhan bukan hanya melegakan tenggorokan, tapi juga menyehatkan tubuh, menajamkan pikiran serta menjernihkan hati. Ramadhan adalah impian bagi semua manusia yang beriman. Mereka menunggu kedatangannya. Mereka berbahagia menyambutnya. Mereka beribadah di dalamnya. Maka tidak heran apabila Rasul bersabda, “Barangsiapa yang berbahagia dengan kedatangan Ramadhan, maka dia akan terbebas dari siksa neraka.”

Selain bulan ibadah, banyak hikmah tersebar di dalam Ramadhan. Sebagai umat yang dibekali pikiran dan juga nurani, kita bisa mencari hikmah-hikmah yang tersembuyi di balik Ramadhan. Hikmah tersebut apabila ditemukan akan menjadi obat mujarab bagi kita. Hikmah tersebut apabila ditemukan akan menjadi suplemen penambah keimanan. Dalam tulisan ini, saya mencoba membuka tabir hikmah dari ritual sahur.

Selama Ramadhan ada satu hal yang selalu dilakukan umat Islam di sepertiga akhir malam. Menjelang subuh, ketika fajar belum beranjak dari persembunyian jutaan muslim bangkit dari tidur. Membersihkan diri, melaksanakan ibadah sunah kemudian menyantap sahur. Bagi ibu-ibu, ada tambahan aktifitas, memasak dan menyajikan makanan bagi seluruh penghuni rumah. Maka alangkah besarnya pahala yang akan Allah berikan kepada ibu-ibu yang tulus menyediakan sahur bagi keluarganya. Sahur adalah bagian yang tidak terpisahkan dari ritual puasa. Siapapun yang akan berpuasa esok hari, pasti bangun sebelum subuh menjelang dan menyantap sahur.

Dalam kehidupan sehari-hari, kita bisa belajar dari ritual sahur. Puasa adalah sebuah aktifitas mulia. Setiap aktifitas pasti ada awalnya. Dan awal puasa adalah sahur. Sahur merupakan garis start bagi siapa saja yang hendak berpuasa. Sahur sangat berpengaruh terhadap kualitas puasa. Orang yang sahur tentu berbeda dengan yang tidak sahur. Dengan sahur tubuh menjadi lebih siap menghadapi belasan jam tanpa makan dan minum. Dengan sahur umat Islam menyimpan energi. Dengan sahur umat Islam menabung semangat. Bagaimana dengan yang tidak sahur? Seringkali orang yang tidak sahur karena bangun kesiangan mengalami masalah sepanjang hari puasa. Tubuhnya lemas, sulit beraktifitas. Kerongkongannya kering, tidak siap menghadapi terik matahari. Maka tidak aneh, orang yang tidak sahur lebih banyak menghabiskan waktu di atas kasur.

Sahur berpengaruh kepada nilai puasa. Oleh karena itu Rasul menganjurkan umat untuk makan sahur. Bahkan sahur yang terbaik adalah yang dilakukan menjelang subuh. Itu karena semakin dekat dengan pagi, maka energi yang didapat dari santap sahur tidak hilang sebelum perang menjelang. Tubuh bisa menyerap energi dan menggunakannya selama berpuasa. Dengan sahur, tubuh menjadi lebih siap. Ketika tubuh siap maka ibadah pun akan giat.

Ingat sahur, ingat start. Ada ungkapan ‘permulaan yang baik adalah setengah dari pekerjaan’. Nilai besar yang bisa kita peroleh dari ritual sahur adalah selalu memulai dengan baik. Setiap manusia tentu memiliki cita-cita atau target hidup. Dia membungkus target tersebut dengan berbagai macam kegiatan. Satu kegiatan terangkai dengan kegiatan lain. Semuanya dilakukan untuk memuluskan jalan mencapai cita-cita. Saat memulai suatu kegiatan maka ingat start harus bagus. Bagaimana mungkin bisa melakukan pekerjaan apabila permulaanya saja tidak terencana.

Sahur mengajari kita tentang pentingnya memulai dengan baik. Memulai dengan baik itu mempersiapkan segala hal yang diperlukan sebelum bekerja. Bagi seorang siswa yang memiliki cita-cita menjadi seseorang yang bernilai di masa depan, maka dia harus memulai dari sekarang. Belajar adalah start. Mempersiapkan kegiatan belajar tentu menjadi bagian yang sangat penting. Bagaimana mungkin bisa melakukan kegiatan belajar dengan baik apabila buku tidak ada, pulpen sudah habis isinya, seragam masih dicuci. Persiapan itu selalu dilakukan sebelum memulai aktifitas.

Ketika semua yang dibutuhkan sudah terpenuhi, pagi hari menjadi momen yang dinanti. Seragam dikenakan, tas sudah terisi dengan perlengkapan belajar, sepatu beserta kaos kaki siap dipakai, dan pekerjaan rumah sudah terselesaikan. Dengan persiapan semangat akan tumbuh. Siswa siap menjalankan aktifitas. Semua ilmu yang diberi oleh guru dicerna. Ibarat akan berperang, siswa yang mempersiapkan diri sebelum sekolah sudah siap menembak atau bertahan. Berbeda halnya dengan siswa yang tidak siap. Dia seperti prajurit tanpa senjata yang berdiri di tengah medan perang, melihat moncong senjata musuh terarah kepadanya. Dia bingung, baju besi belum dikenakan. Maka hanya satu yang dia bisa, pasrah pada nasib.

Tentu kita tidak mau menjadi orang yang bingung di tengah perjuangan hidup. Kita tidak mau menjadi prajurit tanpa senjata dan baju besi. Kita menginginkan kepastian, ketetapan hati dan keprcayaan diri. Semua itu dapat diperoleh dengan persiapan. Siapapun yang mempersiapkan diri tentu akan melangkah pasti. Dia tahu apa yang akan dilakukan. Dia sudah memprediksi apa yang akan terjadi. Bahkan dia sudah bisa mengira sebesar apa rintangan yang akan dihadapi. Persiapan adalah kunci dari setiap kegiatan. Setiap kegiatan yang dipersiapkan dengan baik tentu akan berjalan baik dan berakhir baik pula. Sebaliknya setiap kegiatan yang dilakukan tanpa persiapan, tentu akan menghasilkan kegagalan. Dari setiap kegagalan akan muncul penyesalan. Padahal penyesalan di akhir cerita tidak berguna. Maka sebelum menyesal, persiapkan segala kegiatan dengan maksimal.

Sebagai penutup tulisan ini, saya teringat sebuah pepatah “Siapa pun yang naik panggung tanpa persiapan akan turun tanpa kehormatan.”

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: