The Prince dan Fenomena Suksesi Kepemimpinan Nasional

Niccolo Machiavelli (1469-1527) adalah sejarawan, negarawan dan filsuf politik Italia di zaman renaissance, yang karya-karyanya dianggap mendasari pemikiran sebuah bentuk negara politik sekuler masa kini. Karyanya yang paling terkenal adalah The Prince. Naskah The Prince sendiri diselesaikannya di pedesaan Florentine dan baru diterbitkan pada tahun 1532. Buku tersebut menjelaskan berbagai metode yang dilakukan seorang penguasa untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaannya serta bagaimana cara ia memerintah dalam kerangka relasi dengan rakyatnya
Machiavelli mengalami tiga periode sejarah penting Florence. Dia melewati masa mudanya dalam kejayaan Florence yang menjelma sebagai pusat kekuasaan Italia dibawah komando Lorenzo de’ Medici atau Il Magnifico. Ketika mulai bekerja di pemerintahan, Machiavelli mengalami sejarah runtuhnya kekuasaan Medici pada tahun 1494. Pada akhir masa hidup Machiavelli yang dicurahkan untuk sastra, dia menyaksikan kembalinya Madici tahun 1512, kemudian kejatuhan dan pengusiran Medici kedua kalinya pada tahun 1527.

Status Kepangeranan, Cara Memperoleh dan Mempertahankannya
Machiavelli membagi status kepangeranan berdasarkan cara memperolehnya ke dalam dua bentuk; diperoleh secara turun-temurun, dimana keluarga kerajaan telah hadir dalam periode waktu yang cukup lama, atau diperoleh dengan jalan usaha tanpa ada kaitan keturunan.
Pangeran baru yang berkuasa bukan berdasarkan keturunan harus berjuang mendapatkan kekuasaan. Ada dua cara familiar yang biasa dilakukan seorang pangeran baru untuk mendapatkan kekuasaan; jalan militer dan jalan simpati.
Jalan militer sering dilakukan oleh seorang panglima untuk mengkudeta. Sejarah telah mencatat banyak kasus kudeta yang dilakukan oleh petinggi militer untuk meraih kekuasaan. Machevialli mencontohkan seorang Agathocles, si orang Sicilia, menjadi Raja Syracusa dengan cara kudeta. Dia berhasil menjadi raja berkat kecermerlangannya di militer dan juga kecerdikannya memanfaatkan peluang. Dengan modal keberanian serta kekejaman, Agathocles berhasil menguasi Syracusa.
Cara kedua adalah kebalikan dari yang pertama. Seorang pangeran baru bisa mendapatkan kekuasaan dengan jalan mendapat simpati dari rakyat. Machiavelli menjelaskan cara kedua ini didapat oleh seorang warga teladan. Dia berkuasa bukan karena keculasan, kelicikan atau kekerasan, tapi karena simpati dari rakyat. Simpati dia dapat berkat kebaikan hati dan kecerdasan pikiran. Model kekuasaan seperti ini disebut negara kepangeranan sipil.
Dalam kekuasaan model sipil yang pemimpinnya diangkat atas dasar simpati rakyat, kukuasaan tertinggi ada pada rakyat. Machiavelli menganggap pemimpin yang mendapat simpati rakyat, mampu menggalang pasukan yang memadai untuk melawan siapapun yang datang menyerang. Simpati didapat seorang pangeran dengan cara memberi pekerjaan kepada masyarakatnya. Rakyat hidup dengan layak dan cenderung sejahtera. Pemimpin juga harus memperhatikan militer dan memiliki undang-undang serta hukum yang jelas.

Suksesi Kepemimpinan Nasional
Risalah politik yang ditulis oleh Machiavelli mengandung banyak pelajaran. Dia menggambarkan secara gamblang proses suksesi kekuasaan di sebuah negara atau kota. Meskipun ditulis di akhir abad ke limabelas, risalah ini masih revelan dengan keadaan sekarang. Terutama di bagian model kepangeranan yang diraih dari simpati rakyat.
Geliat politik di Indonesia yang hanya memunculkan dua orang calon presiden menjadi bukti betapa simpati rakyat sangat sakti. Meskipun sebelum pemilihan legislatif banyak tokoh nasional yang digadang-gadang bakan menjadi calon presiden, pada akhirnya mereka gugur sebelum pertarungan. Rakyat telah menentukan kriteria. Siapapun yang tidak memenuhi kriteria tersebut tersingkir dengan sendirinya.
Kriteria yang ditetapkan rakyat sangat sederhana. Mereka menginginkan pemimpin yang akan datang lebih baik dari yang sekarang. Oleh karena itu kekurangan yang dimiliki pemimpin sekarang harus ditutupi oleh kelebihan bakal calon pemimpin. Maka hanya dua orang yang memenuhi kriteria. Rakyat menentukan melalui mekanisme survey. Dua orang tersebut memiliki elektabilitas tertinggi jauh meninggalkan tokoh lain.
Simpati yang diberikan rakyat secara sukarela kepada tokoh pertama karena faktor kesederhanaan dan kedekatan. Tokoh yang masih menjabat sebagai Gubernur di ibu kota tersebut mencerminkan seorang pemimpin yang mau bekerja dan siap meladeni rakyatnya. Sebuah model kepemimpinan yang tidak dimiliki oleh pemimpin saat ini. Terkait dengan kerja, bukan berarti pemimpin sekarang tidak bekerja, tapi rakyat memiliki harapan agar pemimpinnya terlihat bekerja seperti layaknya mereka bekerja. Pemimpin sekarang dengan model kerjanya mencerminkan sisi kerakyatan. Blusukan telah menjadi brand mark tokoh ini.
Tokoh kedua mendapat simpati rakyat lagi-lagi karena faktor kekurangan yang dimiliki oleh pemimpin saat ini. Rakyat sudah membuat sebuah kesimpulan bahwa pemimpin mereka cenderung lambat dan tidak tegas. Rakyat mengharapkan seorang pemimpin yang berani mengambil resiko. Sosok yang tegap secara fisik dan juga kuat secara mental. Dia berani mengambil keputusan dengan cepat. Dia berani menentukan sebuah kebijakan dengan jelas. Rakyat berharap memiliki pemimpin yang memiliki karisma bukan hanya di dalam negeri tapi juga menular ke luar negri. Dengan karismanya pemimpin tersebut bisa menjadikan bangsa ini berdiri sama tinggi dengan bangsa lain. Kebetulan kriteria yang diminta rakyat dimiliki oleh mantan Danjen Kopasus orde baru. Jenderal bintang tiga yang sempat tinggal di Timur Tengah pasca reformasi tersebut dengan sendirinya mendapat simpati masyarakat.
Maka hari-hari ini dan ke depan sebelum tanggal 9 Juli 2014 bangsa Indonesia terbelah dua. Satu kutub mendukung Gubernur Jakarta dan kutub lain mendukung mantan Danjen Kopasus. Dua orang ini mau tidak mau, suka tidak suka telah mendapat restu rakyat untuk bertarung di pemilihan presiden. Sudah dapat dipastikan bahwa salah satu dari keduanya akan menjadi pemimpin Indonesia lima tahun ke depan.
Siapapun yang terpilih dia adalah presiden seluruh rakyat. Keduanya mentas di panggung pilpres karena simpati rakyat. Sebagai pemimpin yang terlahir dari simpati rakyat, presiden terpilih harus memperhatikan beberapa hal yang diungkap oleh Machiavelli.

1. Menomorsatukan Rakyat
Machiavelli menyebut model kekuasaan yang berasal dari simpati rakyat sebagai model kepangeranan sipil. Pendapat dia tentang kekuasaan tertinggi yang berada di tangan rakyat sangat tepat. Dalam kekuasaan sipil, seorang pemimpin tidak bisa berbuat semaunya. Dia dipilih oleh rakyat, mendapat kekuasaan berkat simpati mereka, maka dia harus menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi dan golongan.
Kebijakan yang diambil harus selalu pro rakyat. Pemimpin yang terpilih harus segera merealisasikan tiga pilar kemakmuran; pendidikan bermutu yang bisa diakses oleh semua kalangan, pelayanan kesehatan terbaik bagi rakyat, dan model ekonomi yang menunjang kesejahteraan rakyat. Dengan melaksanakan tiga pilar kemakmuran, pemimpin akan terus mendapat simpati rakyat. Dia telah menjadikan rakyat sebagai prioritas, maka rakyat pun akan mencintainya dengan tulus.
Apabila pemimpin yang terpilih tidak bisa menjadikan rakyat sebagai prioritas. Dia terganggu dengan agenda politik partainya atau partai pendukungnya, bisa dipastikan rakyat kecewa. Kekecewaan rakyat mampu menggoyang kekuasaan. Pemimpin yang gagal menjaga simpati rakyat karena tidak mampu menjadikan rakyat sebagai prioritas, tidak mungkin bisa mempertahankan kekuasaannya.

2. Memperkuat Supremasi Hukum
Pondasi sebuah negara sipil adalah hukum. Penegakan hukum harus menjadi agenda utama dari pemimpin terpilih. Rakyat butuh kepastian hukum. Mereka tidak mungkin bisa hidup tenang tanpa ditopang oleh peraturan formal yang mengikat dalam segala hal. Ibarat jalanan, hukum adalah rambu-rambu lalu lintas. Ketika jalan tidak dilengkapi dengan rambu, maka kesemrautan dan juga kecelakaan berpeluang terjadi. Bahkan peluangnya sangat tinggi.
Penegakan hukum harus dibarengi dengan keadilan. Semua warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama di mata hukum. Siapapun yang melakukan pelanggaran harus mendapat hukuman yang sesuai. Hukum tidak boleh pandang bulu. Hukum juga tidak boleh seperti pisau yang tajam hanya di satu sisi. Penegakan hukum harus menyentuh semua komponen bangsa baik itu pejabat, konglomerat atau rakyat.

3. Pertahanan Nasional
Ketika berbicara tentang pertahanan nasional maka mengkecurut pada satu hal, militer. Sebagai mana Machiavelli berkhotbah dalam bukunya tentang pentingnya kedudukan militer di sebuah negara, maka pemimpin Indonesia yang kelak terpilih harus memperhatikan faktor ini. Militer adalah tembok raksasa yang menjadi benteng negara. Penegakan Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak mungkin bisa dilakukan tanpa ditopang oleh militer yang kuat.
Pertahanan Nasional selalu terkait dengan keamanan. Menciptakan negara yang aman tentu tidak gratis. Prajurit Indonesia tidak kalah hebat dengan prajurit bangsa lain. Mereka hanya butuh didukung dengan anggaran yang cukup sehingga selalu bisa meng-upgrade kekuatan.

4. Menjaga Integritas
Sebagai penutup tulisan ini, saya akan menukil pendapat Machiavelli tentang pentingnya menjadi integritas bagi seorang pemimpin.
”Setiap orang pasti setuju betapa terpujinya bagi seseorang pangeran yang mengakui untuk mempertahankan keimanannya. Dan untuk hidup dalam integritas dan bukannya pada percakapan belaka.”
Di titik ini kita bisa menyimpulkan bahwa di balik kekejaman yang sering didengungkan tentang The Prince sebagai provokator dari munculnya para diktator dunia, terselip sebuah nilai agung. Pemimpin harus selalu mempertahankan keimanannya. Dia harus menjunjung tinggi nilai-nilai keimanan bukan sebagai mantra yang hanya dibaca tapi menjadi prilaku yang terlihat nyata.

Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: