Dari Buenos Aires sampai Pasar Singosari

Udara Singosari selalu spesial. Duduk di teras depan rumah, menjadi pilihan menarik saat matahari mulai beranjak naik. Meski gendang telinga terus menerus diteror suara bising knalpot, hati tetap adem. Sebising apapun polusi suara tertutupi oleh semilir angin yang menyenggol dedaunan. Sejuk. Setiap kali hidung menghirup, dada terasa dipenuhi kekuatan magis yang menenangkan.
Lembar berganti lembar. Mata masih setia mengikuti setiap baris kata. Tiga hari lalu, aku pergi ke toko buku. Satu hal yang tak pernah terlewatkan. Mengisi kekosongan sambil menunggu hari-hari di kota apel. Buku menjadi pelarian favoritku. Lima buah buku berhasil aku bawa pulang. Salah satunya, The Secret Letters of the Monk Who sold His Ferrari. Buku fiksi dari penulis yang sudah ku kenal sejak lama. Robin Sharma, orang Amerika keturunan India yang berhasil menyita perhatianku lewat buku terlarisnya, The Monk Who Sold His Ferrari. Kebetulan buku yang ada di tangan sekarang, sekuel dari buku laris tersebut.
Aku dibawa mengudara oleh Robin Sharma. Dari kegilaan seorang eksekutif muda di belantara kesibukan Eropa, menelusuri kota tua yang dindingnya dihiasi coretan di pinggiran Buenos Aires. Belum lama terperdaya oleh alunan musik Amerika Latin dan tarian Tango nan eksotik, aku dibawa terbang lagi. Kali ini ke sebuah apartemen mewah berlantai tiga. Dari balkon lantai tiga, terlihat dua sisi dunia. Eropa dan Asia. Istanbul selalu membuat aku merinding. Kisah yang pernah ku baca tentang perjuangan Sultan Muhammad Al-Fatih menaklukkan ibukota Romawi Timur tidak pernah bisa hilang dari kepala. Keelokan Hagia Sophia, Selat Tanduk Emas, Selat Bosphorus dan Hippodrome membuat anganku melayang.
“Permisi!” Sosok berbalut kaos hitam menyita pendengaranku. Wajah aku palingkan ke arah suara. Samar terlihat seorang laki-laki membawa dua dus air mineral. Bagian atas kepalanya tertutup topi hitam. Aku sering melihat topi itu di cuplikan film cowboy. Matanya tersembunyi di balik kaca mata hitam. Sempurna, topi cowboy dan kaca mata hitam saat matahari mulai naik ke tengah langit.
“Di taruh di sini?” aku mengangguk sambil menghampiri. Laki-laki itu berlalu. Tidak berapa lama, dia kembali dengan kardus yang lain. Kuat. Saat, siang menjelang, perut mulai lapar dan tenaga berkurang, laki-laki itu seolah tanpa beban memindahkan dus demi dus dari kendaraannya ke pelataran rumah.
“Becak, tunggu!” baru saja selesai membantu mengangkat dus-dus yang berserakan di depan rumah, dari dalam terdengar suara ibu berteriak. Instingku bergerak cepat. Buku yang baru saja aku pegang, setelah berjibaku dengan dus kembali diletakkan. Langkah kaki segera ku bawa ke luar. Si abang becak hampir saja berlalu.
“Tunggu, mas, eh pak”
Aku baru sadar ternyata laki-laki pembawa dus itu tidak semuda dugaanku. Garis-garis keriput di wajah bercerita banyak. Apalagi saat dia membuka mulut. Senyumnya dihiasi dua buah gigi yang sama-sama berada di gusi bawah. Gusi atasnya merah. Tidak tersisa satu pun gigi.
Laki-laki tua masih memakai topi cowboy dan kaca mata hitam. Becak yang sudah siap ditancap, dia parkir kembali. Aku bimbing dia masuk.
“Silahkan duduk”
“Ada yang tertinggal, mas?”
“Tunggu sebentar, ibu masih ada perlu”.
Waktu menunggu aku manfaatkan. Sosok yang duduk tepat di hadapanku tentu menyembunyikan cerita menarik. Sayang kesempatan seperti ini berlalu begitu saja.
“Sudah lama mas, dari tahun tujuh puluh satu”. Bapak tua menjawab pertanyaanku. Ternyata becak adalah bagian terbesar dari sejarah hidupnya. Kedua kakinya sudah akrab dengan pedal becak, semenjak muda. Dari hasil becak dia bisa melamar seorang gadis yang memberikannya empat orang anak. Dari becak dia bisa menyekolahkan anak-anaknya. Dari hasil sekolah anak-anaknya bisa kerja. Tiga orang anaknya laki-laki, satu perempuan. Anak-anak yang besar dari hasil kayuhan becak tersebut sudah berkeluarga. Tujuh orang cucu lahir ke dunia.
“Dulu saya mangkal di Pasar Besar”. Empat puluh tiga tahun yang lalu, si abang becak memulai karirnya. Pasar Besar adalah destinasi yang paling menggiurkan bagi para pembecak. Pasar yang terletak di jantung kota Malang selalu ramai pengunjung. Becak menjadi kendaraan favorit. Terlebih saat itu serangan roda dua dan empat dari Jepang belum dimulai. Menjadi tukang becak pada saat itu selevel dengan sopir taksi.
Seiring waktu, lahan pembecak mulai digerus tukang ojek dan sopir angkot. Pasar Besar meski masih memberi ruang kepada para pembecak, sudah tidak sekondusif dulu. Terlebih pertambahan usia juga menjadi faktor yang memperlemah persaingan.
“Tahun delapan puluh tiga, saya pindah ke Singosari”.
Dari tahun 83 sampai sekarang si bapak masih setia menunggu pelangan di depan pasar Singosari. Lebih empat puluh tahun tenaganya dikuras untuk mengayuh becak. Entah berapa generasi yang sudah menikmati tarikan becaknya. Entah berapa ribu kilo perjalan yang ditempuh selama itu. Entah sudah berapa ribu liter keringat yang mengucur di sepanjang perjalanan. Entah sampai kapan si bapak masih kuat mengayuh.
“Saya mangkal di bawah tangga penyeberangan jalan, sebelah kiri. Tanya saja pak …. (dia menyebutkan nama, tapi saya lupa) semua orang tau”.

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: