Memanusiakan Anak Cara Nabi Ibrahim

Ibrahim as adalah salah satu nabi yg mendapat kedudukan istimewa di sisi Allah. Beliau disebut khalilallah, atau yg terkasih. Juga termasuk ke dalam sedikit Rasul yg menerima predikat ulul azmi, golongan manusia terbaik berkat kesabarannya.
Masih panjang rentetan predikat yg dimiliki ayahanda Ismail as ini.

Hari raya Idul Adha, merupakan salah satu monumen hidup yg terus lestari untuk mengingat sepak terjang Nabi Ibrahim. Lebih dari satu milyar penduduk bumi yg memeluk Islam merayakan hari besar ini. Memotong hewan kurban menjadi bagian yg tidak terpisahkan dari perayaan Idul Adha.

Di samping sejarah kurban yg melekat dgn Nabi Ibrahim, ada banyak hal yg bisa kita timba dari Ayah para nabi tersebut. Salah satunya adalah model pendidikan keluarga. Ibrahim as tidak terbantahkan sebagai seorang ayah sukses. Keturunannya menjadi nabi yg meneruskan dakwah sampai di penghujung masa.

Mari kita lihat bagaimana nabi Ibrahim mendidik putranya. Saat beliau mendapat mimpi untuk menyembelih putra kesayangannya, suami dari Siti Sarah tersebut mendatangi putranya. Ismail yg sedang tumbuh remaja diajak berdialog. “wahai putra tersayang, aku diperintah Allah melalui mimpi untuk menyembelihmu.” Nabi Ibrahim menceritakan perihal mimpinya. Bahwa dia bermimpi benar adanya. Bahwa mimpinya itu terulang tiga kali, sebaga penguat keyakinannya. Bahwa mimpi ini bukan sekedar bunga tidur. Allah telah berfirman di dalam mimpi tersebut. Firman Allah adalah sebuah kemestian. Itu adalah perintah meski hanya lewat kilatan gambar.

Setelah memberitakan mimpinya, Nabi Ibrahim berujar, “bagaimana menurutmu anakku?”

Meskipun mimpi tersebut datangnya dari Sang Maha Kuasa. Meskipun sebagai seorang Nabi dia tidak boleh menolak perintah. Meskipun dia adalah seorang ayah yg memiliki hak atas anaknya. Nabi Ibrahim tetap menanyakan pendapat putranya. Meski putranya belum bisa dikatakan dewasa. Ismail saat itu adalah anak yg beranjak remaja.

Nabi Ibrahim bisa saja menyampaikan dogma, “putraku besok kami harus siap, ayah mendapat perintah Allah untuk menyembelihmu.” sebagai seorang ayah sekaligus rasul beliau berhak memerintah langsung. Tapi itu tidak dilakukan. Ibrahim as sangat mengerti bahwa putranya bukan boneka. Dia manusia yg diberi akal. Dan sebagai manusia berakal, Ismail meski seorang anak yg beranjak remaja berhak mengungkapkan pendapat. Apalagi pendapat tersebut terkait dengan kehidupannya.

Demikian Nabi Ibrahim as mengajari kita tentang pentingnya menjalin komunikasi dengan anak. Seorang ayah yg baik tidak akan berlaku sewenang wenang kepada anaknya. Ayah yg baik akan mendengarkan pendapat anaknya. Baginya anak adalah patner diskusi.

Apa yg telah dicontohkan nabi ibrahim menjelaskan bahwa komunikasi yg terjalin dgn baik antara orangtua dan anak akan memudahkan proses pendidikan di lingkungan keluarga. Allahu a’lam bi shawab

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: