Menyoal Negara Islam

Belakangan ini dunia dihebohkan dengan ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria). Pemberitaan media internasional tentang sepak terjang ISIS menembus sampai ke obrolan warung kopi. Warga Indonesia yang mayoritas Muslim terpanggil untuk ikut berwacana seputar Negara Islam. Terjadi pro dan kontra dalam obrolan warga, ada yang merasa ini merupakan babak baru dari sejarah Islam dunia. Sedangkan yang lain memilih untuk antipati. ISIS bagi mereka dianggap sebagai terror internasional yang membahayakan hajat makhluk di muka bumi.
Bagi kelompok yang pro, ISIS dianggap angin segar. Umat Islam yang berakar kuat di Timur Tengah, sepuluh tahun terakhir ini pasca kejadian 11 September menjadi pesakitan. Negara Islam yang dipimpin oleh presiden kuat dianggap sebagai rezim otoriter. Barat yang memberi putusan langsung mengambil tindakan. Hasilnya Iraq dibumi hanguskan, hanya untuk meruntuhkan kekuatan Sadam Husain. Tidak lama kemudian, Libia diluluh lantakkan. Anwar Khadafi dianggap penjahat HAM dan patut dihukum mati. Setelah penyerangan tersebut keadaan Iraq dan Libia tidak pernah kembali tenang.
Belum lagi ditambah dengan kejadian yang oleh ornag Barat disebut The Arab Spring. Banyak pemerintahan Arab yang tumbang di tangan rakyat. Atas nama demokrasi, pemimpin Tunisia dan Mesir tumbang. Sedangkan Syiria sampai sekarang masih dalam konplik. Kekacauan yang terjadi selalu saja melibatkan Barat, dalam hal ini Amerika dan Eropa. Rakyat yang berberak melawan pemerintah didukung baik moril maupul materil. Bahkan tidak canggung kelompok yang mengatasnamakan HAM dunia, mengirim senjata.
Hasilnya, dunia Islam diobok-obok. Setiap ada Negara Islam yang kuat dianggap sebagai ancaman bagi Amerika dan sekutunya. Iran dalam hal ini juga sempat akan diserang. Beruntung mereka memiliki pertahanan yang kuat dan juga dukungan dari sahabat sejatinya di utara. Amerika tidak berani menyerang Iran. Hanya dengan tangan PBB mereka melakukan boikot.
Keberadaan ISIS adalah jawaban dari kegelisahan para mujahid di medan laga Timur Tengah. Islam yang selalu menjadi objek kebijakan pilih kasih Amerika dan sekutunya, harus tegak. Sekat-sekat Negara yang merupakan imbas dari perang dunia harus dihapuskan. Selama masih ada batas antar Negara terutama di Timur Tenang sebagai basis, Islam tidak akan pernah menang. Islam lemah karena masing-masing pemimpin Negara Islam berorienatsi pada kesejahteraan pribadi dan golongan. Islam sebagai landasan hidup sudah tidak dihiraukan. Segala sesuatu yang menguntungkan diri dan kroni akan diperjuangkan meski harus mengorbankan Islam sebagai asas hidup.
Dalam hal ini Khilafah adalah jawaban tunggal. Daulah Islamiyah harus kembali ditegakkan. Kekuatan Islam yang terkotak-kotak dalam sekat Negara harus segera dihapus. Islam harus bersatu, setidkanya di Timur Tengah. Dengan persatuan di bawah bendera Islamic State yang dipimpin oleh seorang Khalifah, wibawa Islam akan kembali hadir. Islam tidak akan mudah dipermainkan. Islam tidak akan tunduk pada panji matrealisme Barat.
ISIS berdiri tegak untuk menutupi segala kekurangan umat. Dengan ditunjuknya Abu Bakar Al-Bhagdadi sebagai khalifah, ISIS berkata kepada dunia, ‘Islam belum akan mati’. Negara Islam akan kembali berkibar. Dimulai dari Iraq dan Syiria, ISIS menyeru kepada seluruh umat Islam di dunia untuk berjihad melawan imperialisme materilaisme.
Mengapa harus Iraq dan Syiria? Keadaan sekarang melahirkan kekacauan di dua Negara. Iraq pasca keruntuhan rezim Sadam Husain belum mampu bangkit. Syiria sebagai korban terakhir the Arab Spring masih terus saja bergejolak. ISIS melihat ini sebagai peluang. Para pejuangnya berjihad untuk merebut kekuasaan di dua bagian Negara yang sedang terlibat konplik horizontal. Ini dilihat dari kacamata factual. Dari sejarah dapat digambarkan sesuatu yang lebih besar. Dunia sempat menyaksikan kehebatan para pemimpin Muslim di masa dua dynasti besar Umayyah dan Abasiyah. Umayyah sebagai dinasti pasca Khulafa al-Rasyidin berhasil menguasai Timur Tengah, Afrika bahkan menyeberang ke Andalusia. Kehebatan dynasti yang dibangun oleh Muawwiyah tersebut memiliki dapur utama di Damaskus, Syiria. Lepas dari Umayyah, dynasti kedua muncul dengan tidak kalah hebat. Abasiyah menjelma kekuatan utama dunia di abad pertengahan ketika Eropa masih dalam kegelapan dan Amerika belum ditemukan. Ilmu pengetahuan berkembnag pesat seiirng dengan kekuatan maritime yang dahsyat. Dapur dari Negara adi kuasa di abad pertengahan ini terletak di Baghdad, Iraq.
Laksana de javu, ISIS berdiri ditempat yang sangat bersejarah. Negara Islam yang melegenda berpusat di dua wilayah yang sekarang dikuasai. Maka kelompok pertama menyambut dengan suka cita keberadaan ISIS.
Berbeda dengan kelompok kedua, ISIS dianggap musuh bersama. Pandangan ini muncul karena memilhat pergerakan ISIS yang mengerikan. Mereka melihat ISIS dari kacamata terror. Peninggalan bersejarah di Iraq dan Syam dimusnahkan oleh tangan-tangan prajurit ISIS. Belum lama ini terdapat sebuah video di dunia maya yang memperlihatkan kekejaman. Seorang berdiri dengan senjata di samping orang yang ditutupi kepalanya. Menurut berita si pesakitan adalah wartawan Inggris yang akan dieksekusi. Eksekutor yang dengan gagah berani memegang senjata dalah seornag pejuang ISIS.
Bagi kelompok kedua, ISIS hanya memperburuk citra Islam. Tayangan terror yang selalu menyertai langkah ISIS merupakan sebuah batu besar yang menghantam kepala umat. Islam yang dibawa oleh Rasul sebagai jalan keselamatan, berubah di tangan ISIS. Citra Islam menjadi pekat dan berlumuran darah. Belum lama masyarakat dunia dihebohkan dengan gerakan Boko Haram di Afrika. Kelompok prajurit yang mengatas namakan Islam tersebut banyak melakukan pembunuhan di tanah Afrika. Islam dibuah malu. Dengan keberadaan ISIS di Timur Tengah, maka sempurna citra buruk yang disematkan kepada agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.
Oleh karena itu ISIS harus ditentang. Tidak ada sejengkal harapan pun bagi ISIS untuk eksis di Indonesia. Negri ini adalah negri damai. Rakyatnya terkenal sopan dan santun terhadap sesama. Asaa Negara adalah Pancasila. Negara Islam tidak boleh dikembangkan di Nusantara. Cukup sudah pemberotakan yang dilakukan oleh Karto Suwiryo. Darul Islam harus menjadi sejarah masa lalu di sini.
Kelompok mana yang benar atau setidaknya lebih baik pendapatnya?
Mari kita ulas sejarah. Kembali meninjau masa lalu untuk membuka tabir misteri yang bisa jadi merupakan bagian dari solusi. Istilah Daulah Islamiyah atau Negara Islam secara spesifik tidak pernah ada dalam Al-Qur’an atau sunnah. Untuk merujuk kepada kepemimpinan di dunia, Al-Qur’an menggunakan istilah khalifah. Manusia diciptakan untuk menjadi pengelola bumi (QS. Al-Baqarah: 30). Meskipun mendapat penolakan dari malaikat yang notabene pelayan Allah yang paling setia, manusia tetap diciptakan. Allah memiliki sebuah rahasia yang hanya diketahui olehNya.
Sebagai seorang khalifah di muka bumi manusia diberi ilmu. Fungsi ilmu untuk menjadi alat mengenal Tuhan Yang Menciptakan dan juga memanfaatkan segala ciptaan untuk kemaslahatan sesuai dengan petunjuk Tuhan. Manusia yang berilmu akan mengakui bahwa tiada Tuhan yang patut disembah melainkan Allah (QS. Ali Imran: 18). Manusia yang berilmu akan diangkat derajatnya (QS. Al-Mujaadilah: 11)
Sebagai makhluk yang diberi wewenang oleh Sang Pencipta untuk menjadi khalifah di muka bumi, manusia dikarunia sebuah pedoman. Allah mengutus para Rasul sebagai pembawa risalah ilahiyah. Dari lisan Rasul-Rasul tersebut keluar berbagai hikmah. Dan hikmah yang menjadi hukum pijakan bagi umat manusia adalah wahyu yang kemudian disebut sebagai kitab. Kitabullah adalah guideline kehidupan manusia. Sebagai makhluk yang diciptakan manusia tidak banyak mengetahui rahasia dirinya, lingkungannya dan juga penciptanya. Untuk itu manusia harus mengikuti petunjuk yang diberikan oleh Tuhannya.
Kemaslahatan hidup bagi manusia akan terjadi ketika mereka mengikuti petunjuk. Ketika manusia mengingkari petunjuk maka kerusakan yang akan terjadi. Bahkan mengambil sebagian hukum dan mengingkari sebagian hanya akan mendatangkan kenistaan dalam kehidupan dunia dan siksa di akhirat (QS. Al-Baqarah: 85). Oleh karena itu, manusia diharuskan mengikuti hukum yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta. Manusia tidak boleh menentukan hukum atas kehendak sendiri (QS. Al-Maaidah: 49).
Apabila manusia mengingkari hukum Allah yang telah termaktub dalam kitabNya dan disampaikan melalui lisan nabiNya, manusia dicap sebagai pembangkang atau kafir dalam bahasa agama.
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
“Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” [QS. Al-Maaidah: 44].
Di ayat lain Allah memberi cap yang lebih ringan bagi yang tidak mengikuti hukum Allah sebagai orang dhalim.
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang dhalim” [QS. Al-Maaidah: 45].
Setelah predikat dhalim bagi yang inkar terhadap hukum Allah, ada predikat fasik.
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik” [QS. Al-Maaidah: 47].

Al-Qur’an tidak pernah menetapakan bahwa umat Islam harus membangun sebuah Negara yang spesifik dengan sebuatan Daulah Islamiyah. Al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat hanya memberi peringatan bahwa hukum Allah harus diikuti. Segala usaha yang dilakukan untuk membuat hukum sendiri hanya akan berbuah kerusakan dan kehancuran bagi umat manusia.
Sebagai sebuah gambaran menarik tentang sebuah keadaan yang sempurna bagi umat manusia, diterangkan Al-Qur’an. Negri Saba merupakan perumpamaan sebuah masyarakat yang gemah ripah repeh rapih. Saba memiliki sumber daya alam berupa dua kebuh yang memenuhi segala keperluan hidup. Negri yang sejahtera berkat rezeki dari Allah. Negri yang aman dan damai berkat perlindungan Allah. Negri yang tertib dan tenang berkat rahmat Allah.
“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun” (QS. Saba: 15)
Istilah Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur menjadi brandmark sebuah negri impian. Rasulullah saw sebagai nabi terakhir telah dicatat oleh sejarah sebagai salah satu pemimpin yang mampu menciptakan keadaan masyakarat yang ideal. Beliau datang ke Madinah sebagai seorang tamu yang diundang. Menjadi pemimpin karena kehendak masyarakat. Memulai misi kenegaraan dengan jalan perdamaian. Piagam Madinah menjadi bukti otentik sikap negarawan Rasul. Setelah terjalin persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar.
Rasulullah saw wafat meninggalkan wilayah kekuasaan yang cukup luas. Umat Islam bukan hanya di Madinah dan Mekkah, tapi sudah menjalar ke Yaman dan sekitarnya. Wilayah kekuasaan yang luas tersebut tidak menjadikan beliau risau. Rasul saw hanya menyebut “Umatku, umatku, umatku”. Beliau tidak menunjuk seorang pemimpin untuk menggantikan kedudukannya. Permasalahan kepemimpinan di serahkan sepenuhnya kepada umat.
Kembali sejarah mencatat sebuah proses pemilihan pemimpin yang belum pernah terjadi. Abu Bakr ra dipilih menjadi pengganti Rasul oleh majlis yang terdiri dari sebagian kaum Anshar dan tiga orang utusan Muhajirin. Ahlul Bait yang sedang dirundung pilu atas wafatnya junjungan ra, meski merasa dilangkahi tetap mengikuti kehendak umat. Fatimah ra beserta suaminya Ali ra mengakui Abu Bakr ra sebagai pemimpin.
Selepas kepemimpinan Abu Bakr ra, Umar bin Khattab tegak berdiri sebagai Amirul mukminin. Tidak ada pemilihan secara bersama, sang khalifah Abu Bakr ra hanya berkonsultasi kepada beberapa orang sahabat inti untuk memilih pengganti. Setelah berdiskusi, menjelang azalnya Abu Bakr ra memilih Umar bin Khattab ra sebagai pemimpin umat.
Sepuluh tahun masa kepemimpinan Umar penuh dengan kemenangan. Wilayah kekuasaan Islam sudah terbentang dari Madinah sampai ke Syam. Kekuasaan Imperium Persia dan Romawi dapat digerus. Amirul Mukminin meninggalkan enam orang sahabat untuk bermusyawarah mengenai suksesi kepemimpinan. Mereka adalah Utsman bin Affan ra., Ali bin Abi Thalib ra., Thalhah bin ‘Ubaidillah ra, Az-Zubair bin Awwam ra, Sa’ad bin Abi Waqqash ra. Dan Abdur Rahman bin ‘Auf ra. Sebagai tambahan karena usulan dari para sahabat, nama Abdullah bin Umar di masukkan. Meski demikian Khalifah kedua yang terkenal tegas tersebut menyatakan bahwa putranya berada dalam majlis hanya sebagai conselor. Abdullah bin Umar ra tidak memiliki hak suara dan tidak berhak untuk menjadi kandidat pemimpin umat.
Proses pemilihan terjadi sangat ketat, dua calon mencuat menggunggil lainnya; Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Setelah bermusyawarah dengan internal majlis syura, bahkan sampai mewawancarai masyarakat Abdur Rahman bin Auf sebagai ketua tim memilih Utsman bin Affan sebagai khalifah ketiga.
Keunikan terjadi pada pemilihan khalifah keempat. Ali bin Abi Thalib ra dipilih setelah terjadi kekacauan. Khalifah ketiga Utsman bin Affan terbunuh dalam sebuah peristiwa makar. Khalifah yang sudha tua tersebut belum sempat menentukan penggantinya. Kekacauan sempat mendatangkan ketidak pastian. Dalam suasana yang penuh dengan curiga tersebut perwakilan dari kufah mendatangi menantu Rasul untuk membaiat. Ali bin Abi Thalib yang dikenal sebagai seorang alim menolak. Tapi desakan yang dating bertubi-tubi dan pertimbangan akan stabilitas umat meluluhkan hati beliau. Ali bin Abi Thalib dibaiat menjadi khalifah keempat.
Masa kepemimpinan Ali bin Abi Thalib penuh dengan fitnah. Perang saudara terjadi dua kali. Pertama perang Jamal yang melibatkan Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakr. Selesai mengatasi perselisihan dengan Aisyah, Khalifah keempat harus langsung head to head dengan pasukan Muawiyah bin Abu Sofyan. Perang Shiffin merupakan peperangan yang paling banyak menguras tenaga umat Islam. Dampak perang Shiffin sangat besar. Darinya umat terpecah belah baik secara politis maupun aqidah. Secara politis ada dua kutub yang sama kuat, kelompok Kuffah dan kelompok Damaskus. Secara aqidah muncul sekte baru bernama Khawarij yang disusul dengan kemunculan kaum Syiah.
Wafatnya Ali bin Abi Thalib menandai berakhirnya masa khufala al-rasyidin. Setelah itu umat Islam berada dibawah komando dynasty Ummayyah yang dibentuk oleh Muawiyah bin Abi Sofyan. Sistem kepemimpinan tidak lagi berada di bawah wewenang majlis syuro atau umat islam. Kepemimpinan diturunkan dari orang tua ke anak atau dari saudara yang lebih tua kepada saudara yang muda. Sostem tersebut masih berlanjut ketika kekuasaan umat berada di tangan dynasty Abbasiyah. Kedua dynasty yang menyebut sebagai daulah islamiyah tersebut memberlakukan sistim waris kekuasaan.
Melihat fakta sejarah umat dari masa Rasul sampai ke zaman dynasty, terdapat banyak versi pola kepemimpinan. Rasul saw tidak mewariskan tahta dan jabatan. Padahal beliau memiliki seorang menantu yang pantas untuk menjadi penerus. Beliau memasrahkan sepenuhnya urusan kepemimpinan kepada umat. Para khalifah yang empat telah melakukan ijtihad terkait urusan kepemimpinan. Abu Bakr ra memilih langsung pengganti setelah bermusyawarah dengan beberapa orang sahabat. Umar bin Khattab ra menyerahkan urusan suksesi kepada majlis syuro yang berisikan enam orang sahabat utama. Utsman bin Affan tidak sempat memutuskan penggantinya. Keterpilihan Ali bin Abu Thalib karena permintaan dari sebagian umat yang kemudian diikuti oleh mayoritas. Sedangkan Muawwiyah bin Abu Sofyan menjadi pelopor system kerajaan dalam Islam. Dia mewariskan tahta kepada anaknya Yazid bin Muawiyah selayaknya raja Romawi atau Persia menyerahkan tahta kepada keturunannya.
Tidak ada system baku dalam urusan kepemimpinan. Daulah Islamiyah bukan merupakan tuntutan Al-Qur’an. Rasul saw belum pernah mewajibakan umat untuk membentuk system pemerintahan semacam itu. Adapun keberadaan Daulah Islamiyah di tengah umat merupakan produk sejarah.
Satu hal yang patut di garis bawahi dari permasalahan ini adalah esensi dari keberadaan sebuah daulah. Untuk apa dibentuk sebuah daulah? Apabila daulah dibentuk untuk menciptakan umat yang sejahtera di bawah bendera agama, maka harus dicari jalan yang aman untuk mewujudkannya. Tidaklah elok apabila sebuah harapan mensejahterakan umat, mengangkat harkat dan martabat agama, meninggikan asma Allah apabila dilakukan dengan cara yang kurang beradab. Pertumpahan darah, apalagi darah kawan seiman tentu tidak bisa ditolelir meski dengan dalih untuk kemaslahatan.
Kembali menyoal esensi, Al-Qur’an telah memberi petunjuk. Bahwa umat islam adalah umat terbaik adalah betul. Bahwa balasan bagi umat terbaik adalah keridhaan Sang Pencipta. Dan saat Sang Pencipta ridha maka yang terjadi adalah limpahan berkah baik berupa rezeki lahir maupun batin sehingga akan tercipta sebuah cita-cita luruh yang bernama Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur.
Bagaimana petunjuk Al-Qur’an tentang umat terbaik itu?

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…” (QS. Ali Imran: 110)

Hanya ada tiga syarat untuk merealisasikan janji Al-Qur’an agar umat islam menjadi umat terbaik dari berbagai segi; Pertama, menyeru kepada kebaikan. Hal ini bukan berarti hanya pintar memerintah orang untuk berbuat baik sedangkan dia lupa diri. Menyeru merupakan tingkatan kedua dari sebuah pencapaian kebaikan. Orang yang dianggap sebagai penyeru oleh Al-Qur’an adalah orang yang selalu berbuat baik dan berupaya memperbaiki diri kemudian mengajak orang lain untuk berbuat baik bersama-sama. Orang jenis ini disebut sebagai orang yang beruntung (QS: Al-Asr: 1-3) Kedua, mencegah dari yang munkar. Sama halnya dengan menyeru kebaikan, mencegah dari yang munkar dimulai dari diri sendiri. Setelah menjadi sebuah kebiasaan maka ditularkan kepada orang lain sehingga terjadi penyebaran alarm bagi perbuatan buruk. Dan ketiga, beriman kepada Allah. Dewasa ini banyak yang membuat propaganda kesalehan sosial lebih utama dari pada kesalehan ritual. Keimanan dianggap kurang perlu. Lebih hebat orang yang baik kepada tetangga dari pada yang berimanan kepada Tuhan. Propaganda ini sangat menyesatkan. Iman adalah factor utama yang menjadikan manusia baik atau buruk. Iman yang mengajarkan manusia untuk gemar berbuat baik dan selalu berusaha menjauhi keburukan.
Apabila ketiga syarat ini dipenuhi umat Islam, tidak lah perlu kita bersibuk diri mencari khalifah. Tidak usah bersimbah darah untuk mendirikan daulah islamiyah. Dengan menjadi umat yang gemar melakukan kebaikan, suka menyebar kebaikan, menularkan kebaikan kepada lingkungan sambil selalu berhati-hati agar tidak tergelincir pada lembah keburukan dan berusaha menjaga orang lain dari kerburukan, maka harapan menciptakan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur dengan sendirinya akan tercapai. Allahu a’lam

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: