Tragedi Ranking

Beberapa hari lalu keluarga kami mendapat undangan dari sekolah. Undangan yang ditujukan secara khusus kepada orang tua siswa tersebut menuliskan tanggal 19 Desember 2014 sebagai hari pembagian rapor. Maka sabtu pagi, istri saya bersiap dandan serapih mungkin untuk menyambut hari besar bagi anak kami. Nada sudah selesai melewati ujian akhir semester ganjil. Anak sulung kami yang duduk di kelas dua sekolah dasar tersebut bersiap menerima hasil ujian.
Ketika bundanya sibuk merapihkan diri, Nada masih belum mau beranjak dari atas kasur. Dia tidak tidur memang. Jam lima pagi sudah bangun. Seperti biasa menunuaikan sholat subuh meski dengan segala kesulitannya. Nada terlihat kurang semangat. Bundanya bertanya, “Nada enggak ikut ke sekolah?”
Anak yang belum genap enam tahun tersebut mengangguk. Bundanya menghubungi sekolah. Ternyata di hari pembagian rapor siswa tidak diwajibkan hadir. Hari itu kehadiran siswa bersipat opsional; kalau mau hadir bagus, tidak juga enggak apa-apa. Nada pun senang.
Melihat gelagat Nada, saya teringan puluhan tahun lalu. Saat itu saya duduk di kelas tiga Sekolah Dasar. Selama enam kali ujian, tiga kali caturwulan di kelas satu dan tiga kali di kelas dua, saya selalu berada di empat besar. Kalau tidak ranking empat, pasti ranking dua. Tidak pernah rangking satu atau tiga. Saya selalu kebagian yang genap. Bagi rapor menjadi momen yang sangat mendebarkan. Kira-kira nomor berapa yang terparti di ujung rangkaian angka-angka di atas kertas.
Hari itu saya tidak ditemani orang tua. Berbalik dengan kasus Nada, orang tua harus hadir anak boleh tidak. Bagi rapor waktu itu boleh diambil langsung oleh siswa. Memang ada beberapa orang tua yang memaksakan diri hadir, tapi umumnya siswa sendiri yang mengambil rapor. Kelas pun menjadi tidak imbang. Beberapa orang ibu dikerumuni puluhan siswa.
Ruang kelas sudah penuh, wali kelas datang dengan langkah pasti. Setelah menguluk salam, menyapa wali murid dan juga murid-murid, bapak wali kelas mulai membuka pertemuan. “Ada beberapa anak yang prestasinya naik. Saya sangat bangga atasnya. Ada juga beberapa yang turun drastis”.
“dek” saya mulai merasakan pirasat buruk.
Entah mengapa di kelas tiga saya kekurangan minat belajar. Bukan karena pelajarannya yang susah, atau teman yang kurang bersahabat, atau ruang kelas yang tidak menunjang. Bukan. Pelajaran dari mulai bahasa Indonesia, IPA, IPS, juga Matematika semuanya favorit bagi saya. Teman-teman juga tambah akrab. Setelah dua tahun bersama, tahun ketiga menjadi lebih saling mengenal dan saling memahami. Meski ruang kelas kami tidak layak disebut ruang belajar, tapi itu tidak masalah. Dari awal masuk semuanya diberitahu bahwa sekolah kami adalah sekolah impres untuk daerah perkampungan. Atapnya bocor di sana-sini, sehingga banyak asbes yang jebol. Untungnya setiap pagi kami kebagian sinar ultraviolet dalam jumlah yang lebih dari cukup. Lantainya plesteran dengan lubang di mana-mana. Bagi kami itu bukan masalah. Belajar tidak banyak terkait dengan ruang. Belajar lebih mnegarah kepada interaksi dua arah antara murid dan guru, guru dan murid. Ketika interaksi itu berjalan dengan baik, maka belajar pun menjadi menarik.
Sayangnya interaksi itu yang tidak saya dapatkan. Di kelas tiga saya merasa hampa. Bapak wali kelas kurang menyenangkan. Terlebih bila dibandingkan dengan wali kelas satu atau dua. Di kelas satu saya dianugerahi wali kelas terbaik. Beliau adalah ibu kepala sekolah yang merangkap menjadi wali kelas. Sifat keibuannya membuat kami nyaman. Beliau bukan sekedar menggantikan orang tua, tapi benar-benar menjadi orang tua. Demikian juga wali kelas dua. Masih ibu-ibu, dengan kasih sayang dan perhatian yang besar. Meski belum bisa menyamai kebaikan wali kelas satu, ibu wali kelas dua tetap kami puja.
Saya merasa bapak wali kelas terlalu pilih kasih. Setiap ada kesempatan untuk menjawab soal, anak perempuan yang didahulukan. Menerangkan pelajaran juga lebih memperhatikan anak perempuan. Di jam istirahat pun waktunya berkumpul dengan anak perempuan. Saya hilang semangat.
Ketika nama saya dipanggil untuk menerima rapor, saya pasrah. Biasanya saya dipanggil di awal, tapi ini sudah masuk ke pertengahan. Tanpa harus membuka lembaran rapor, sudah bisa ditebak. Saya ke luar dari empat besar, bahkan sepuluh besar pun tidak. Prestasi saya terjun bebas. Di kelas dua caturwulan ketiga, ada angka dua di ujung rapor. Sekarang bukan dua singgel, tapi dua digit.
Bayangan kemarahan berkelebat dalam pikiran. Ibu pasti menunggu laporan. Saya tahu pasti bagaimana respon beliau. Tapi saya tidak bisa menyembunyikan hasil rapor. Saya harus pulang. Siap menerima resiko.
Rapor bersampul plastik merah tersebut di tangan ibu. Setelah beberapa lama menelusuri angka-angka, bentakan pun terdengar. Tidak usah lah saya tuliskan apa yang ibu utarakan. Satu sketsa yang sampai sekarang masih tergambar jelas di memori. Tangan ibu meremas buku rapor, seperti meremas kertas bungkus cabai. Benda tak berdosa itu berubah wujud seperti bola. Tepatnya bola bergelombang tidak beraturan. Belum selesai sampai di sana. Segera ibu buka jendela kamar. Rapor yang sudah menjadi bola di lempar ke luar.
Hancur. Perasaan saya sama persis seperti buku lapor. Remuk namun tidak berdaya. Dalam tangis saya berlari ke luar rumah. Kedua tangan tidak sempat mengusap air mata. Tangan kecil saya sibuk meraih buku rapor. Hasil belajar saya selama dua tahun empat bulan itu sudah tidak beraturan. Melihatnya air mata bertambah deras membasahi pipi. Rasa takut bertambah besar. “Apa yang akan saya katakan kepada bapak guru saat mengembalikan buku rapor ini?”
Peristiwa itu sudah berlalu lebih seperempat abad. Tidak ada benci di hati. Sakit memang, tapi hanya waktu itu. Setelahnya saya bisa memahami. Ibu ingin saya terus berprestasi. Sebagai anak pertama saya harus menjadi contoh adik-adik. Kalau si kakak tidak berprestasi bagaimana dengan adik-adiknya.
Bunda Nada pulang membawa secari kertas, Rapor zaman sekarang sudah jauh berbeda. Hanya dengan secarik kertas orang tua sudah bisa melihat hasil belajar anaknya. Tidak ada angka tujuh. Rata-rata nilai sembilan puluh tertulis di atas kertas tersebut. Ada tiga mata pelajaran yang nilainya delapan puluh; Bahasa sunda, keterampilan dan qiroati. Selebihnya di atas sembilan puluh.
Ada satu hal yang menarik perhatian saya. Di rapor zaman sekarang tidak ada tertulis kata “RANKING”. Padahal dulu, kata itu yang dicari pertama kali tiap menerima rapor. Dari kata itu seorang anak bisa mendapat pujian bahkan hadiah. Dari kata itu pula seorang anak bisa mendapat trauma. Ego menuntut agar di rapor anak saya tertulis ranking. Tentu dengan nilai yang demikian bagus, anak saya berada di jajaran teratas. Saya memimpikan satu angka yang tidak pernah saya dapatkan semasa di sekolah dasar dulu. Tapi setelah berpikir dan melihat sekeliling saya sadar, itu kurang bijak.
Menuliskan angka sebagai rangking kelas bagi anak-anak seusia Nada tidaklah urgen. Bahkan kalau itu dilakukan, tragedi akan terjadi. Anak-anak yang mendapat angka 30 dari tiga puluh siswa tentu tertekan jiwanya. Mereka merasa sebagai warga kelas bawah. Mereka anak sisa. Bisa jadi orang tuanya pun beranggapan demikian. Ketika anaknya berprasangka buruk ditunjang dengan prasangka buruk orang tua, bagaimana dengan masa depan.
Tidak menuliskan rangking adalah sebuah kebijakan yang sangat bijak. Anak tidak bisa dinilai hanya dari satu aspek. Kognitif saja tidak menjamin kebahagiaan di masa depan.

Pahlawan di sebelah Rumah

Usia tidak bisa ditutupi. Setiap hari yang berlalu dalam hidup selalu mengambil apa yang ada dalam tubuh. Kecantikan yang dibanggakan saat muda perlahan akan sirna. Ketampanan yang mampu menggoda banyak perempuan pun tereduksi dengan sendiri. Kekuatan hilang. Kecekatan berkurang. Pandangan mata ikut kabur. Demikian dengan pendengaran sudah tidak tajam. Usia menggerogoti setiap jengkal lekuk tubuh. Pada akhirnya usia akan melebur tubuh dengan tanah.

Tidak ada yang tersisa. Raga manusia pasti binasa. Semua yang terbaik dari bentuk fisik hanya bisa dipandangi lewat gambar. Itu pun tidak akan lama. Gambar semakin hari semakin pudar. Hanya kenangan yang tersisa. Itu pun sangat sulit dideskripsikan secara utuh. Sosok fisik manusia mudah terlupa.

Setiap kali pulang ke rumah orang tua, saya melewatinya. Sebuah bangunan yang sederhana dengan halaman di samping kanan yang dibiarkan lenggang. Sekeliling bangunan dipagari pipa yang diisi adukan pasir dan semen. Nampak beberapa pipa sudah tiada, meningalkan rongga dalam deretan pagar. Persis seperti gigi orang tua, bolong di mana-mana. Seingatku bangunan itu tetap sama seperti dua puluh tahun lalu bahkan lebih. Di depan ada serambi yang lumayan luas untuk menampung lebih dua puluh orang dewasa atau tiga puluh orang anak.

Serambi itu tidak akan pernah aku lupakan. Di sana aku pernah ada. Setiap malam menjelang, diawali kumandang azan magrib ibu selalu mengulang satu kata, ‘ngaji’. Sebuah kata yang terkadang sangat menyakitkan telinga. Aku enggan. Mencari berbagai alasan agar bisa lepas dari satu kewajiban itu. Namun ibu bukan polisi yang mudah kompromi. Ibu adalah hakim yang kalau sudah mengetuk palu maka putusan harus berlaku. Aku pun berangkat dengan enggan.

Jarak rumah dengan tempat mengaji hanya dibatasi sebuah dinding pembatas. Terkadang aku yang nekat hanya meloncat dan sampai di tempat ngaji. Meski jaraknya dekat, kemalasan tidak pernah bisa ditolak. Alasan ada saja dan mudah dibuat. Terkadang aku pura-pura ketiduran. Di saat lain aku pegang perut, merintih sakit. Jalan kebaikan memang terjal dan berliku.

Di serambi itu aku mengenal huruf hijaiyah. Di serambi itu aku tahu bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi umat. Di serambi itu aku diajari cara bersuci. Ternyata sholat itu ada syaratnya. Tidak boleh buang gas saat sholat. Bahkan aku mengenal ada sepuluh malaikat di serambi itu.

Usiaku masih delapan tahun. Aku belajar membaca Al-Qur’an. Terkadang muncul kejemuan. Aku nolak ngaji. Minta pindah ke tempat lain. Ibuku mengiyakan asal aku tetap ngaji. Beberapa orang guru di tempat yang berbeda aku datangi. Pada akhirnya aku kembali ke serambi itu.

Nini (nenek) demikian aku memanggil si empunya rumah. Beliau bukan orang lain bagiku. Nini adalah adik bungsu kakekku. Setiap magrib aku mengaji di rumah nini. Beliau mengajariku sampai bisa. Betapa bahagianya aku saat bacaan ngaji sampai di surat ‘amma yatasaalun’. Sebentar lagi aku masuk ke Al-Qur’an. Dulu belum ada metode khusus belajar Al-Qur’an seperti Iqra atau Qiroati. Setiap anak yang belum bisa membaca Al-Qur’an memulai pelajaran dari surat Al-Fatihah. Guru ngaji mengajari car abaca, anak mengikuti. Terus demikian sampai bisa melafalkan. Setelah diangap mampu, berikutnya surat an-naas. Terus berurutan sampai ‘amma yatasaalun’.

Anak yang sudah menyelesaikan juzamma pada umumnya sudah mengenal huruf hijaiyah dan mampu membaca Al-Qur’an. Maka menyelesaikan juzamma merupakan sebuah kebanggaan. Bukan hanya bagi si anak tapi juga orang tuanya. Temanku bahkan mengadakan acara syukuran tamat juzamma dengan memasak nasi kuning dan bakakak ayam kampung. Maka saat itu bagiku adalah saat teristimewa. Menyelesaikan juzamma berarti aku hebat. Sementara temanku masih membaca tuturutan (buku bacaan surat-surat dalam juzamma, disebut tuturutan karena cara pengajarannya murid mengikuti guru dalam Bahasa sunda disebut nurutan), aku sudah masuk ke Al-Qur’an.

Setiap kali membuka Al-Qur’an dan membacanya atau mendengar orang membaca Al-Qur’an memoriku mengulang peristiwa itu. Aku tamat juzamma dan mulai membaca Al-Qur’an. Dalam keberhasilanku yang dikelilingi kebanggaan serta kebahagiaan tersebut terdapat satu sosok yang luar biasa. Nini adalah pahlawanku. Tanpanya mungkin aku belum bisa membaca Al-Qur’an dalam usia remaja. Tanpanya mungkin aku belum mengerti bahwa wudhu itu wajib karena menjadi syarat untuk melaksanakan sholat. Tanpanya mungkin aku belum tahu bahwa ada 10 orang malaikat yang bertugas mengurusi hajat manusia di dunia.

Sosok nini yang sekarang sudah jauh berubah. Dulu masih sehat, sekarang sudah sering diserang sakit. Punggungnya yang lurus, sekarang sudah membungkuk. Gigi satu demi satu meninggalkan gusi. Kedua kakinya terkadang tidak mampu menopang untuk berjalan jauh. Rambutnya bukan hanya memutih tapi sudah mulai berguguran. Fisik nini tergerus seiring dengan waktu.

Meski keadaan fisik sudah berkurang drastis dibandingkan seperempat abad lalu, namun semangatnya masih tetap berkobar. Sampai detik ini nini masih setia mengajari anak-anak mengaji. Serambi tempat aku mengikuti bacaan tuturutan masih tetap terisi. Bedanya sekarang yang mengaji tidak sebanyak dulu. Aku sangat maklum. Kondisi fisik nini tidak memungkinkan mengajar puluhan anak seperti waktu aku mengaji.

Cerita nini mengajar ngaji tidak hanya bermula di masa aku kecil. Jauh sebelumnya nini sudah menjadi guru ngaji. Lebih lima puluh tahun beliau mendedikasikan diri untuk menerangi umat. Banyak anak yang bisa mengaji di tangannya. Muridnya tidak hanya orang terdekat atau tetangga, banyak juga yang berasal dari kampung lain.

Nini sudah mengajari ngaji tiga generasi. Selama itu tidak pernah sekalipun muridnya dimintai bayaran. Mengajar ngaji bagi nini adalah pangilan jiwa. Siapapun yang datang pasti diajari. Terkadang ada anak yang datang tanpa ditemani orang tua. Mungkin orang tuanya tidak tahu si anak mengaji di rumah nini, atau tidak mau tahu. Meski demikian nini tetap menerima. Kalau dia tidak membawa tuturutan, di rumah nini tersedia cukup.

Sosok nini secara fisik sudah berubah. Mungkin anak-anak generasi ketiga yang masih diajari ngaji menjadi generasi terakhir. Namun semangat mengajarnya tidak pernah sirna. Meski tanpa embel-embel penghasilan harian atau mingguan atau bulanan, nini tetap mengajar ngaji. Demikian besarnya semangat itu mengakar sehingga sosok nini sangat identik dengan guru ngaji.

Fisik manusia akan terus tergerus oleh waktu. Membayangkan sosok seorang manusia waktu dulu dengan melihatnya saat ini seperti menerawang awan dalam kabut. Memori manusia terbatas untuk mengingat bentuk fisik. Tapi memori tersebut sangat cepat merespon jasa yang pernah diterima. Seperti sumbu obor terkena percikan api, memori dengan mudah mengingat kebaikan yang pernah diberikan seseorang kepada dirinya. Seperti itu pula aku mengingat sosok nini. Aku sudah lupa atau setengah lupa bagaimana bentuk fisik nini saat dulu mengajariku. Apakah nini sudah setua sekarang. Apakah kulitnya sudah keriput. Apakah suaranya berbeda. Aku tidak ingat pasti. Tapi tentang cara nini mengajariku mengaji, menceritakan tentang para malaikat, mempraktekan wudhu yang benar aku masih ingat.

Bagiku nini adalah pahlawan. Beliau memberi tanpa menuntut diberi. Laksana matahari yang terus bersinar tanpa menghitung hari. Di tangannya ratusan orang bisa mengaji. Dari ratusan orang ada beberapa yang menjadi guru ngaji. Dari ratusan itu juga banyak yang mengajari anaknya mengaji. Jasa nini tidak berhenti. Seperti bola salju di musim dingin, semakin ke bawah semakin membesar.

Menjadi pahlawan tidak selalu membawa senapan. Pahlawan bukan hanya seseorang yang gagah berani maju ke medan tempur. Membunuh atau dibunuh demi bakti kepada ibu pertiwi bukan satu-satunya ciri pahlawan. Mengajar ngaji seperti nini juga bentuk kepahlawanan.