Pahlawan di sebelah Rumah

Usia tidak bisa ditutupi. Setiap hari yang berlalu dalam hidup selalu mengambil apa yang ada dalam tubuh. Kecantikan yang dibanggakan saat muda perlahan akan sirna. Ketampanan yang mampu menggoda banyak perempuan pun tereduksi dengan sendiri. Kekuatan hilang. Kecekatan berkurang. Pandangan mata ikut kabur. Demikian dengan pendengaran sudah tidak tajam. Usia menggerogoti setiap jengkal lekuk tubuh. Pada akhirnya usia akan melebur tubuh dengan tanah.

Tidak ada yang tersisa. Raga manusia pasti binasa. Semua yang terbaik dari bentuk fisik hanya bisa dipandangi lewat gambar. Itu pun tidak akan lama. Gambar semakin hari semakin pudar. Hanya kenangan yang tersisa. Itu pun sangat sulit dideskripsikan secara utuh. Sosok fisik manusia mudah terlupa.

Setiap kali pulang ke rumah orang tua, saya melewatinya. Sebuah bangunan yang sederhana dengan halaman di samping kanan yang dibiarkan lenggang. Sekeliling bangunan dipagari pipa yang diisi adukan pasir dan semen. Nampak beberapa pipa sudah tiada, meningalkan rongga dalam deretan pagar. Persis seperti gigi orang tua, bolong di mana-mana. Seingatku bangunan itu tetap sama seperti dua puluh tahun lalu bahkan lebih. Di depan ada serambi yang lumayan luas untuk menampung lebih dua puluh orang dewasa atau tiga puluh orang anak.

Serambi itu tidak akan pernah aku lupakan. Di sana aku pernah ada. Setiap malam menjelang, diawali kumandang azan magrib ibu selalu mengulang satu kata, ‘ngaji’. Sebuah kata yang terkadang sangat menyakitkan telinga. Aku enggan. Mencari berbagai alasan agar bisa lepas dari satu kewajiban itu. Namun ibu bukan polisi yang mudah kompromi. Ibu adalah hakim yang kalau sudah mengetuk palu maka putusan harus berlaku. Aku pun berangkat dengan enggan.

Jarak rumah dengan tempat mengaji hanya dibatasi sebuah dinding pembatas. Terkadang aku yang nekat hanya meloncat dan sampai di tempat ngaji. Meski jaraknya dekat, kemalasan tidak pernah bisa ditolak. Alasan ada saja dan mudah dibuat. Terkadang aku pura-pura ketiduran. Di saat lain aku pegang perut, merintih sakit. Jalan kebaikan memang terjal dan berliku.

Di serambi itu aku mengenal huruf hijaiyah. Di serambi itu aku tahu bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi umat. Di serambi itu aku diajari cara bersuci. Ternyata sholat itu ada syaratnya. Tidak boleh buang gas saat sholat. Bahkan aku mengenal ada sepuluh malaikat di serambi itu.

Usiaku masih delapan tahun. Aku belajar membaca Al-Qur’an. Terkadang muncul kejemuan. Aku nolak ngaji. Minta pindah ke tempat lain. Ibuku mengiyakan asal aku tetap ngaji. Beberapa orang guru di tempat yang berbeda aku datangi. Pada akhirnya aku kembali ke serambi itu.

Nini (nenek) demikian aku memanggil si empunya rumah. Beliau bukan orang lain bagiku. Nini adalah adik bungsu kakekku. Setiap magrib aku mengaji di rumah nini. Beliau mengajariku sampai bisa. Betapa bahagianya aku saat bacaan ngaji sampai di surat ‘amma yatasaalun’. Sebentar lagi aku masuk ke Al-Qur’an. Dulu belum ada metode khusus belajar Al-Qur’an seperti Iqra atau Qiroati. Setiap anak yang belum bisa membaca Al-Qur’an memulai pelajaran dari surat Al-Fatihah. Guru ngaji mengajari car abaca, anak mengikuti. Terus demikian sampai bisa melafalkan. Setelah diangap mampu, berikutnya surat an-naas. Terus berurutan sampai ‘amma yatasaalun’.

Anak yang sudah menyelesaikan juzamma pada umumnya sudah mengenal huruf hijaiyah dan mampu membaca Al-Qur’an. Maka menyelesaikan juzamma merupakan sebuah kebanggaan. Bukan hanya bagi si anak tapi juga orang tuanya. Temanku bahkan mengadakan acara syukuran tamat juzamma dengan memasak nasi kuning dan bakakak ayam kampung. Maka saat itu bagiku adalah saat teristimewa. Menyelesaikan juzamma berarti aku hebat. Sementara temanku masih membaca tuturutan (buku bacaan surat-surat dalam juzamma, disebut tuturutan karena cara pengajarannya murid mengikuti guru dalam Bahasa sunda disebut nurutan), aku sudah masuk ke Al-Qur’an.

Setiap kali membuka Al-Qur’an dan membacanya atau mendengar orang membaca Al-Qur’an memoriku mengulang peristiwa itu. Aku tamat juzamma dan mulai membaca Al-Qur’an. Dalam keberhasilanku yang dikelilingi kebanggaan serta kebahagiaan tersebut terdapat satu sosok yang luar biasa. Nini adalah pahlawanku. Tanpanya mungkin aku belum bisa membaca Al-Qur’an dalam usia remaja. Tanpanya mungkin aku belum mengerti bahwa wudhu itu wajib karena menjadi syarat untuk melaksanakan sholat. Tanpanya mungkin aku belum tahu bahwa ada 10 orang malaikat yang bertugas mengurusi hajat manusia di dunia.

Sosok nini yang sekarang sudah jauh berubah. Dulu masih sehat, sekarang sudah sering diserang sakit. Punggungnya yang lurus, sekarang sudah membungkuk. Gigi satu demi satu meninggalkan gusi. Kedua kakinya terkadang tidak mampu menopang untuk berjalan jauh. Rambutnya bukan hanya memutih tapi sudah mulai berguguran. Fisik nini tergerus seiring dengan waktu.

Meski keadaan fisik sudah berkurang drastis dibandingkan seperempat abad lalu, namun semangatnya masih tetap berkobar. Sampai detik ini nini masih setia mengajari anak-anak mengaji. Serambi tempat aku mengikuti bacaan tuturutan masih tetap terisi. Bedanya sekarang yang mengaji tidak sebanyak dulu. Aku sangat maklum. Kondisi fisik nini tidak memungkinkan mengajar puluhan anak seperti waktu aku mengaji.

Cerita nini mengajar ngaji tidak hanya bermula di masa aku kecil. Jauh sebelumnya nini sudah menjadi guru ngaji. Lebih lima puluh tahun beliau mendedikasikan diri untuk menerangi umat. Banyak anak yang bisa mengaji di tangannya. Muridnya tidak hanya orang terdekat atau tetangga, banyak juga yang berasal dari kampung lain.

Nini sudah mengajari ngaji tiga generasi. Selama itu tidak pernah sekalipun muridnya dimintai bayaran. Mengajar ngaji bagi nini adalah pangilan jiwa. Siapapun yang datang pasti diajari. Terkadang ada anak yang datang tanpa ditemani orang tua. Mungkin orang tuanya tidak tahu si anak mengaji di rumah nini, atau tidak mau tahu. Meski demikian nini tetap menerima. Kalau dia tidak membawa tuturutan, di rumah nini tersedia cukup.

Sosok nini secara fisik sudah berubah. Mungkin anak-anak generasi ketiga yang masih diajari ngaji menjadi generasi terakhir. Namun semangat mengajarnya tidak pernah sirna. Meski tanpa embel-embel penghasilan harian atau mingguan atau bulanan, nini tetap mengajar ngaji. Demikian besarnya semangat itu mengakar sehingga sosok nini sangat identik dengan guru ngaji.

Fisik manusia akan terus tergerus oleh waktu. Membayangkan sosok seorang manusia waktu dulu dengan melihatnya saat ini seperti menerawang awan dalam kabut. Memori manusia terbatas untuk mengingat bentuk fisik. Tapi memori tersebut sangat cepat merespon jasa yang pernah diterima. Seperti sumbu obor terkena percikan api, memori dengan mudah mengingat kebaikan yang pernah diberikan seseorang kepada dirinya. Seperti itu pula aku mengingat sosok nini. Aku sudah lupa atau setengah lupa bagaimana bentuk fisik nini saat dulu mengajariku. Apakah nini sudah setua sekarang. Apakah kulitnya sudah keriput. Apakah suaranya berbeda. Aku tidak ingat pasti. Tapi tentang cara nini mengajariku mengaji, menceritakan tentang para malaikat, mempraktekan wudhu yang benar aku masih ingat.

Bagiku nini adalah pahlawan. Beliau memberi tanpa menuntut diberi. Laksana matahari yang terus bersinar tanpa menghitung hari. Di tangannya ratusan orang bisa mengaji. Dari ratusan orang ada beberapa yang menjadi guru ngaji. Dari ratusan itu juga banyak yang mengajari anaknya mengaji. Jasa nini tidak berhenti. Seperti bola salju di musim dingin, semakin ke bawah semakin membesar.

Menjadi pahlawan tidak selalu membawa senapan. Pahlawan bukan hanya seseorang yang gagah berani maju ke medan tempur. Membunuh atau dibunuh demi bakti kepada ibu pertiwi bukan satu-satunya ciri pahlawan. Mengajar ngaji seperti nini juga bentuk kepahlawanan.

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: