Pemimpin Muda

Peristiwa pembebasan kota Mekkah telah berlalu. Euforia atas keberhasilan tersebut tidak membuat Rasul terlena. Pembebasan kota Mekah merupakan satu dari berbagai tugas yang harus dilakukan. Setelah tugas-tugas tersebut selesai, masih ada tugas lain di muka. Pembebasan tanah Syam.
Mengingat Syam, ada satu kota yang sangat memberi kesan kepada Rasul. Palestina, Rasul terkenang perjalanan rohani yang sungguh membahagiakan. Saat dua orang tercinta, istri dan pamannya dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, sebagai seorang manusia Muhammad bin Abdullah berduka. Kenangan bersama paman dan juga istrinya menambah luka dalam dada. Saat itu, Allah menganugerahkan hadiah terindah. Rasul di-is’ra dan di-mi’raj-kan oleh Allah. Perjalan darat dari Masjid al-Haram ke masjid al-Aqsa, berlanjut ke perjalanan udara ke sidratul muntaha. Palestina adalah wilayah di mana masjil al-Aqsa berdiri. Tempat itu menjadi titik penghubung antara perjalanan darat isra dan perjalanan udara mi’raj.
Palestina tidak mungkin terlupa. Wilayah yang terletak di utara Madinah itu seolah memangil. Islam harus datang ke sana. Tanah suci tempat kelahiran Ismail bin Ibrahim harus dipenuhi manusia yang bersujud kepada Zat Pencipta Semesta. Udaranya dihiasi kumandang azan setiap hari lima kali. Rasul pun bertekad memulai pembebasan Syam.
Misi ini dimulai dengan mempersiapkan pasukan. Pembebasan Syam bukan perkara mudah. Daerah yang sangat luas di utara Madinah tersebut dikuasai imperium besar. Berpuluh tahun Romawi bercokol di tanah itu. Prajurit mereka yang terkenal gagah berani melindungi setiap jengkal tanah Syam. Benteng-benteng penjaga berdiri kokoh mengamankan wilayah. Oleh karena itu pasukan muslim harus kuat. Mereka yang berpengalaman berjuang di segala medan laga harus diterjunkan. Para sahabat terdekat yang kuat iman pun harus bergabung demi memperkokoh keteguhan niat berjuang.
Pasukan besar sudah dipersipakan. Satu hal yang penting adalah siapa yang memimpin pasukan ini? Setelah mepertimbangkan banyak hal, pilihan Rasul jatuh kepada Usamah bin Zaid. Dia seorang anak muda yang belum sampai usia dua puluh tahun. Si anak muda memikul beban yang sangat berat. Memimpin pasukan yang terdiri dari para veteran perang Badar, Sahabat utama seperti Abu Bakr, Umar dan Abu Ubaidah juga para petinggi Anshar. Dan misi yang diemban sungguh luar biasa. Dia harus masuk ke wilayah kekuasaan imperium terbesar di dunia saat itu.
Penunjukan Usamah bin Zaid sebagai panglima perang sempat mengundang Tanya. Sahabat merasa ada keanehan. Untuk sebuah misi yang berat mengapa dipilih seorang pemimpin yang masih muda dan kurang pengalaman. Padahal diantara pasukan yang dipersiapkan banyak para senior yang telah makan asam garam pertempuran. Para senior yang telah berhasil merebuk kota Mekah, memenangi perang Ahzab, dan yang paling utama meninggikan panji Islam di perang Badar. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Badar adalah perang pertama yang menjadi tonggak keberhasilan umat Islam dalam politik mempertahankan kedaulatan dan ekspansi wilayah.
Keputusan Rasul sudah bulat. Usamah bin Zaid dipilih bukan serabutan. Rasul sangat mengenal anak muda yang satu ini. Ayahnya adalah Zaid bin Haritsah, seorang hamba sahaya yang diangkat anak oleh Rasul. Kecintaan beliau kepada Zaid sudah menjadi berita umum. Bahkan Rasul pernah menisbatkan nama Zaid kepada namanya, Zaid bin Muhammad, sebelum dikoreksi oleh Allah melalui surat Al-Ahzab 4-5.
“Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar). Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

Ibunda Usamah adalah Ummu Aiman. Rasul sangat menghormati wanita ini. Dia adalah pembantu ibuda Rasul, Sayyidah Aminah. Semasa kecil Rasul diasuh olehnya. Saat Ummu Aiman melahirkan Usamah, muslimin yang masih tingal di Mekkah bergembira. Kegembiraan mereka dilandasi oleh kebahagiaan Rasul. Bagi muslimin apa yang menjadikan junjungan bahagia, menjadi kebahagiaan mereka juga. Usamah bin Zaid pun dipanggil oleh muslimin, Al-Hibb wa ibnil Hibb (kesayangan anak kesayangan). Oleh karena itu kedudukan Usamah bin Zaid di hadapan Rasul sungguh sangat istimewa. Rasul mengenal dengan baik pribadi Usamah karena beliau berkontribusi dalam pembentukannya.
Terkait dengan kepemimpinan di medan perang, meski masih muda Usamah memiliki pengalaman yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Ketika muslimin sibuk bersiap diri menghadapi perang Uhud, Usamah yang masih belasan tahun bergegas menghadap Rasul. Dia beserta rombongan anak-anak sebayanya mendaftar sebagai mujahid. Mengingat usianya yang sangat muda, Rasul tidak mengizinkan Usamah ikut berjuang. Mendapati keputusan Rasul Usamah menangis. Tapi dia tidak patah semangat. Sebelum pasukan berangkat menyongsong kafir Quraish pada perang Khandaq, Usamah kembali mendatangi Rasul. Kali ini dia berdiri dengan tegap. Membusungkan dada sambil mengangkat leher. Tujuannya, biar terlihat tinggi sehingga diizinkan Rasul ikut berjuang. Melihat kesungguhan Usamah, Rasul pun mengizinkan dia ikut berjuang.
Perang Khandaq menjadi pengalaman perdana Usamah di medan perang. Selanjutnya anak muda ini berturut-turut ikut mengibarkan panji Islam. Peristiwa perang Hunain dapat menggambarkan keberanian dan keteguhan hati putra Zaid tersebut. Ketika pasukan muslim kocar kacir diserang musuh, Usamah tetap bertahan bersama beberapa orang sahabat termasuk diantaranya Abbas bin Abdul Muthalib. Keteguhan hati kelompok kecil muslimin berhasil menginspirasi pasukan. Kemenangan pun menjadi milik Rasul dan pengikutnya.
Perang Mu’tah tidak akan pernah dilupakan Usamah. Perang perdana menghadapi pasukan Romawi membawa luka yang sangat dalam. Ayahanda tercinta Zaid bin Haritsah yang ditunjuk sebagai panglima perang, syahid di tangan musuh. Usamah menyaksikan kematian ayahanda. Berturut-turut tiga orang panglima yang ditunjuk Rasul menempuh jalan syahid. Berkat pertolongan Allah melalui seorang Khalid bin Walid pasukan Islam berhasil pulang tanpa membawa kekalahan.
Peristiwa kematian ayahanda membekas sangat dalam di dada Usamah. Mungkin karena itu pula Rasul menunjuknya sebagai panglima perang melawan Romawi. Sebagai seorang anak, Usamah tentu ingin menuntaskan misi ayahnya. Sang ayah syahid sebelum memperoleh kemenangan. Menjadi tugas Usamah, mengalahkan Romawi.
Usamah dipilih bukan soal kedekatan hubungan kekerabatan, dia dipilih karena kompleksitas. Waktu, keadaan dan juga lawan sangat menunjang keterpilihan Usamah. Dalam aspek waktu, persiapan melawan Romawi tidak berlangsung lama. Kedua masa antara perang Mu’tah dan ekspedisi Usamah juga tidak lama. Dalam aspek keadaan, umat Islam masih bersedih atas kegagalan pasukan di Mu’tah. Syahidnya tiga orang panglima yang ditunjuk langsung oleh Rasul masih menyisakan luka. Euforia kemenangan di Fathul Makkah pun belum berlangsung lama. Sedangkan di sisi lawan yang dihadapi, tentara Romawi dalam segi teknik berperang dan perlengkapan peralatan lebih unggul dari muslimin.
Rasul saw sebagai seorang pemimpin visioner meramu ketiga aspek di atas dan memutuskan Usamah bin Zaid sebagai komandan perang. Usia muda Usamah yang dianggap sebagai kelemahan oleh sebagian sahabat karena kurangnya pengalaman, justru menjadi kekuatan. Seorang muda biasanya lebih berani mengambil resiko. Keberanian menanggung segala kemungkinan yang datang dari keputusan yang diambil adalah kebutuhan utama dalam perang melawan musuh yang lebih kuat. Kekurangan pengalaman di medan perang bisa ditutupi oleh anggota pasukan yang didominasi veteran Badar.
Faktor motivasi tambahan untuk menuntaskan perjuangan ayahnya, juga tidak kecil pengaruhnya bagi kesuksesan misi Usamah. Seorang anak yang berbakti kepada orang tua tentu sangat menginginkan membuat bangga sekaligus bahagia orang tua. Bagi Usamah satu tugas suci sebagai seorang anak adalah mengalahkan Romawi. Menyelesaikan misi ayahnya. Dia akan berjuang sampai titik darah penghabisan. Ini kekuatan dahsyat di samping keyakinannya terhadap Allah dan Rasul. Bukankah dalam Islam berbakti kepada orang tua mendapat tempat yang istimewa. Bahkan keridhaan orang tua menjadi sebab datangnya keridhaan dari Sang Pencipta.
Keputusan Rasul saw memunculkan pemimpin muda dalam diri Usamah pada waktu itu sungguh sangat bijak. Oleh karena itu, saat Abu Bakr sebagai khalifah pertama setelah wafatnya Rasul diminta mengevaluasi pemilihan Usamah langsung menolak. Meski yang datang menghadap seorang sahabat ternama, Umar bin Khattab. Alasannya sangat kuat, “Usamah dipilih oleh Muhammad bin Abdullah yang diberi wahyu oleh Allah, tidak ada hak bagi seorang Abu Bakr yang tidak mendapat wahyu menganulirnya.”
Hasilnya sudah dapat diterka. Pasukan Usamah berhasil memukul kalah musuh. Pasukan Romawi dibuat kalang kabut. Panji Islam berkibar di tangan putra Zaid yang terkasih. Usamah beserta pasukannya kembali ke Madinah dengan membawa harta rampasan perang yang berlimpah. Ini merupakan awal dari jilid baru sejarah Islam. Kemenangan pasukan Usamah di perbatasan Syam atas pasukan Romawi menginspirasi khalifah melanjutkan politik ekspansi ke wilayah kekuasaan imperium terhebat di dunia saat itu.

Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: