Firasat Seorang Sahabat

1423 tahun yang lalu. Di sebuah padang tandus. Ribuan orang berkerumun. Terik matahari menyengat. Kulit tubuh yang tidak terbungkus melelehkan peluh. Meski buliran2 asin itu membasahi tubuh, manusia ribuan itu tetap bertahan. Teguh.
Seorang pria yang dimuliakan berdiri. Semua orang diam. Menanti setiap kata yang hendak keluar dari lisannya yang bersih.
“Hari ini Allah telah menyempurnakan bagi kalian agama kalian. Dan telah dicukupkan atas kalian nikmatNya. Dan Allah ridha bagi kalian Islam sebagai agama”
Gemuruh takbir berseru2. Ribuan wajah sumringah. Terik siang tiada terasa. Sesuatu yg ditunggu tiba saatnya. Ini adalah surat kuasa ilahi. Sebuah piagam langit. Dicap oleh Sang Maha Kuasa. Tersampaikan melalui lisan kekasihnya.
Satu kalimat merefleksikan segala. Sempurna.
Tangan saling berjabatan. Pundak berangkulan. Semua terbawa dalam suka. Puji pun terus menerus diucapkan.
Seorang lelaki manarik diri. Dia terdiam. Wajahnya temaram. Bagai pagi di musim penghujan. Sisi2 matanya mulai meneteskan air.
Di tengah bahagia, ada satu yang berduka. Seseorang melihat. Dihampiri lelaki berjanggut tebal itu. ‘Sahabat mengapa ada air mata di hari bahagia?’
Masih dalam isak dia menjawab.
‘Setiap kali sempurna akan datang kekurangan setelahnya.’
Beberapa bulan setelah peristiwa itu, hadir kabar duka. Laki2 mulia yang menyampaikan keterangan Tuhan melepas nyawa. Dia pergi untuk selamanya.
Semua orang terguncang. Baru saja mengecap bahagia sudah harus menelan duka. Seorang pria besar berteriak lantang. ‘Dia tidak mati. Seperti Musa, dia memenuhi panggilan Tuhan. Dia akan kembali. Dia pasti kembali.’
Ratusan orang mengerumuninya. Membagi rasa. Seolah ingin percaya bahwa laki2 besar itu benar.
Di tengah keriuhan. Dalam harap yang entah sudah sampai di ujung mana. Dalam duka yang belum juga diresapi sepenuh dada. Laki2 berjanggut tebal menyibak kerumunan.
‘Tenang… tenang … semuanya tenang’
Penuh sungguh dia lantunkan sebait ayat.
‘Muhammad adalah seorang utusan, sebagaimana utusan2 lain yg telah lalu. Apakah bila dia meninggal atau terbunuh, kalian akan berpaling dan kembali kufur.’
Seketika tangis pecah. Lelaki besar tersadar. Dia merasa bersalah. Ribuan orang menuai kepastiaan. Dia yang mulia telah tiada. Dia kembali kepada Sang Pencipta.
Lelaki berjanggut tebal itu ikut terisak. Dia mengenang masa bersama. Berdua dalam gua. Berjalan ratusan kilo dalam ancaman pedang. Dia selalu disamping sahabat tercintanya. Ketika orang ramai menuding sahabatnya pembual. Dia berani membela ‘kalau engkau berkata, maka benar lah itu.’
Teringat kembali peristiwa arafah. Di padang pasir dia mendapat firasat. Saat perpisahan telah dekat. Dan ini adalah harinya. Sahabat sekaligus guru, pembimbing juga menantu pergi untuk selamanya.

Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: