Modus di Tanah Haram

Ribuan kaki menderu. Dari pintu-pintu besar mereka berasal. Ada yg berlari. Entah mengejar apa. Ada yg berjalan santai sambil memandangi sekitar. Ada juga yg berhenti merogoh kantong. Ponsel pun ke luar. Beberapa kali mata kamera diarahkan ke berbagai sudut. Puas mendapat banyak gambar. Terakhir. Photo selfie.
Langkah kaki saya pun berbaur dengan ribuan lainnya. Pelataran maha luas menjadi padang manusia. Bergegas menuju pintu-pintu keluar. Gate 16, tujuan saya.
Sekitar seratus langkah sebelum gerbang, suara langkah di belakang menjajari saya. “Speaking english?” Seorang pria bertudung kain tipis menghapiri. Saya anggukkan kepala.
Langsung dia berbicara dgn nada memelas. “I lost my wallet, my wife … my children … sick. I need money to buy medicine…”
Pria itu mengaku dari Pakistan. Saya percaya, wajah dan penampilannya sdh mencirikan. Tanpa bilang pun semua yg melihat langsung bisa mengira dia pakistani.
Dia terus saja menjajari langkah. Saya berhenti, pun dia berhenti. Masih mengulang perkataan dan memelas. Insting saya mengarahkan mata ke matanya. Mata tidak bisa berdusta.
“Please my wife my children sick…”
Saya rogoh kantong celana. Dia nampak berbahagia. Selembar 50 real saudi muncul.
“I need fifty real”
Lembar itu saya masukan lagi. Lima puluh real untuk seorang pengangguran terlalu besar. Andai dia dapat sepuluh orang, sudah 500 real didapat. Satu real saudi senilai 3700 rupiah.
Sebenarnya naluri saya mengatakan, “tidak”.
Sedekah ada tempatnya. Itupun dengan jalan kerelaan. Ini sudah pemaksaan alias penodongan.
Tapi logika saya berkata, “biarlah”. Memberi tidak akan rugi selama pas di hati.
Maka satu lembar 10 real saudi saya keluarkan.
Laki-laki bertudung menerima. Dia tetap memaksa, 50 real. Saya semakin yakin. Ini sebuah modus. Tanpa melihat lagi saya berjalan cepat.
Di kamar saya ceritakan kepada istri. Tanggapannya luar biasa. “Tadi juga ada yg kayak gitu” ternyata rombongan istri saya pun dihampiri. Namun dengan orang berbeda. Istri dan teman-tamannya memberi masing-masing lima real.

Ternyata modus tidak hanya terjadi di terminal, pasar atau statsiun. Di tempat suci yang seharusnya dimaksimalkan untuk beribadah ada juga. Itulah manusia tidak semuanya sama. Terkadang ada saja yang senang menari kesempatan dalam segala keadaan. Di mana ada keramaian di situ dia mencari penghasilan.

Semoga oknum-oknum tersebut secepatnya mendapat hidayah. Sehingga tidak berlama-lama mengotori kesucian tanah haram.

Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: