Baris Yuk

Masih ingat peristiwa di Sekolah Dasar dulu? Setiap pagi ibu guru berdiri di depan pintu. Anak-anak berseragam merah putih yang sedang bergerombol dipisah. Laki-laki berbaris di sebelah kanan. Perempuan di sebelah kiri. Tidak ada yang boleh masuk sebelum barisan dibuat rapih. Satu per satu anak maju memperlihatkan kesepuluh jari. Ibu guru memeriksa. Setiap kuku yang tumbuh melewati batas ruas jari harus dipotong.

Barisan itu dibuat setiap hari. Tidak pernah bosan ibu guru merapihkan. Anak-anak pun kadang menurut. Ada waktunya seorang anak berontak. Dengan sabar ibu menenangkan. Baris adalah ritual wajib yang harus dilakukan di sekolah dasar.

Dulu kita tidak pernah tau. Barisan yang dibuat setiap pagi itu untuk apa. Bahkan kita tidak sempat bertanya. Kita terlalu sibuk dengan kuku di ujung jari. Takut kalau sebuah kuku tumbuh kepanjangan.

Ternyata baris itu bukan pelajaran sembarangan. Setelah kita tumbuh dewasa, menjalani hidup yang lebih berwarna, ternyata baris masih ada. Di setiap kesempatan kita dihadapkan dengan momen berbaris. Membeli tiket kereta, kita harus berbaris. Menunggu pintu kereta terbuka, kita pun berbaris. Membeli tiket pertandingan sepak bola, juga berbaris. Mengantri bantuan tunai, pakai baris. Dikalungi medali saat wisuda pun berbaris. Sampai menyalami pengantin di sebuah acara pernikahan harus berbaris.

Sayang pelajaran berbaris dulu baru sekedar ikut perintah guru. Kita berbaris karena takut dimarahi ibu. Kita berbaris agar cepat bisa masuk kelas. Saat ibu guru berpaling, kita serobot posisi teman di depan. Melihat ibu kurang perhatian, kita nyelonong melewati barisan. Kebiasaan itu pun dibawa sampai besar.

Keributan sering terjadi dalam sebuah antrian. Selalu ada biang kerok pembuat kerusuhan. Lihat saja keadaan lalu lintas di setiap jalan. Saat terjadi kemacetan, kebanyakan mobil diam mengantri di belakang, tiba-tiba satu buah mobil nyelonong mencari jalan di pinggiran. Akibatnya pengendara lain ikutan. Yang di depan menjadi tidak sabar. Barisan yang harusnya satu, menjadi dua bahkan tiga. Kemacetan pun bertambah lama.

Cerita kematian dalam barisan sering juga terdengar. Antri menunggu pembagian zakat berujung maut. Saling serobot, seruduk, berujung saling sikut, tendang, dan yang lemah terjatuh. Sudah terjatuh, diabaikan pula. Sudah diabaikan masih juga diinjak-injak. Saat itu empati hilang. Rasa kasihan meluap. Kepedulian hilang. Satu terbayang, mendapatkan bungkusan secepatnya. Hanya tujuan yang tidak seberapa memenuhi kepala, selebihnya dianggap tidak ada.

Padahal kita pernah belajar berbaris. Ibu guru setiap pagi menuntun kita untuk berdiri rapih.

Pelajaran berbaris tidak hanya monopoli sekolah. Di masjid dan mushola pun kita diajari berbaris. Setiap kali sholat akan dilaksanakan, Imam menghadap ke belakang. Dia minta semua jama’ah mengatur barisan. “shafnya dirapatkan, diluruskan, karena itu menjadi bagian dari kesempurnaan sholat berjamaah” demikian imam berujar.

Pelajaran di sekolah sudah didapat. Pelajaran di mushola dan masjid pun diterima. Mengapa masih juga kita kurang rapih dalam hal berbaris?

Sejenak kita tinggalkan fakta menyedihkan tentang kebiasaan berbaris di negara ini. Mari menengok ke tetangga seberang pulau. Tiga hari saya berada di Singapura. Selama itu tidak henti-hentinya saya merasa takjub. Untuk urusan berbaris warga Singapura memiliki nilai A.

Setiap pagi warga Singapura berangkat kerja. Sama seperti kita. Bedanya, mayoritas kita menaiki kendaraan pribadi baik motor atau mobil. Mereka berjalan menelusuri trotoar. Tujuannya adalah halte bus dan statsiun kereta. Di depan pintu mereka berbaris. Tidak ada gerombolan penutup jalan. Saat pintu bus atau kereta terbuka calon penumpang tetap tenang. Dalam barisan menyerupai hurup A yang ujungnya terbuka, mereka mempersilahkan penumpang yang turun. Setelah penumpang turun, satu persatu masuk dengan tenang.

Berkali-kali saya naik taksi. Sopir taksi seperti biasanya adalah para pengejar setoran. Dari enam orang sopir yang pernah mengantarkan saya ke tujuan, tidak satu pun yang kebut-kebutan. Saat lampu merah hendak menyala, sopir perlahan menginjak rem. Suatu yang tidak biasa. Karena pengalaman saya naik taksi di Jakarta, saat melihat lampu kuning, insting pembalap yang keluar. Bukan rem yang diinjak, tapi gas yang ditekan. Menaiki taksi di Singapura tidak beda dengan naik mobil pribadi. Ketenangan, kenyamanan dan keamanan ada di dalamnya.

Di Singapura sulit mendapat masjid. Suara azan tidak pernah saya dengar. Bahkan mencari makanan halal pun harus dengan perjuangan. Mayoritas mereka etnis China. Muslim adalah umat minoritas. Itu berarti kebanyakan warga Singapura tidak pernah diajari membuat barisan sebelum shalat. Mereka tidak pernah tahu bahwa barisan terdepan saat sholat memberi kelebihan bagi orang yang menempatinya. Bagaikan antrian masuk sorga, orang yang berada di shaf pertama memiliki jatah masuk terlebih dahulu. Mereka tidak tahu itu.

Mereka hanya tahu bahwa mengantri adalah kewajiban warga sesuai aturan hukum negara. Mereka tahu bahwa sebagai warga negara yang baik harus mengikuti peraturan. Oleh karena itu mereka melaksanakan peraturan.

Satu lagi catatan menarik. Selama bepergian di Singapura, tidak satu polisi pun yang saya lihat. Apakah saya yang kurang perhatian. Apakah polisinya yang tidak mau kelihatan. Saya tidak tahu persis. Di perempatan jalan, di sepanjang lampu merah, di belokan-belokan tidak nampak seorang polisi pun.

Sebagai penutup catatan ini, saya copy paste kan tulisan yang dishare di group WhatsApp keluarga besar istri.

Guru di Indonesia panik ketika muridnya tidak pandai Matematika, tapi tenang saja saat muridnya tidak bisa antri (saya kira bukan hanya guru, kebanyakan orang tua pun demikian). Sebaliknya seorang guru di negara tetangga pernah berkata, “Kami tidak terlalu jika anak-anak Sekolah Dasar kami tidak pandai Matematika. Kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai Mengantri”. Saat ditanya mengapa, inilah jawabannya.

1. Hanya perlu waktu 3 bulan secara intensif untuk melatih anak pandai Matematika. Sementara perlu waktu 12 tahun atau lebih untuk melatih anak agar bisa mengantri dengan baik dan benar.

2. Tidak semua anak kelak berprofesi menggunakan ilmu Matematika, kecuali tambah, kali, kurang dan bagi. Sebaliknya semua murid dalam satu kelas pasti akan membutuhkan etika moral dan pelajaran berharga dari mengantri di sepanjang hidup mereka.

Apa pelajaran berharga yang didapat dari mengantri?

1. Anak belajar manajemen waktu. Jika ingin mengantri paling depan, harus datang dari awal. Dan itu perlu persiapan lebih awal.

2. Anak belajar bersabar. Menunggu giliran tiba, terutama jika ia berada di antrian paling belakang.

3. Anak belajar menghormati hak orang lain. Yang datang lebih awal dapat giliran lebih dulu. Anak tidak merasa dirinya lebih penting, sehingga menyerobot barisan di depan.

4. Anak belajar berdisiplin. Aturan mengantri adalah diam di tempat sebelum dapat giliran.

5. Anak belajar kreatif. Waktu mengantri terkadang lama, itu bisa menjadi kesempatan untuk mencari aktifitas yang bermanfaat. Seperti membaca buku, menulis atau menggambar. Asalkan sesuai dengan keadaan dan tidak mengganggu orang lain.

6. Anak belajar bersosialisasi. Sambil menunggu antrian, bisa menyapa orang yang berada tidak jauh darinya.

7. Anak belajar tabah. Dalam hidup dia selalu mengikuti proses, tidak melegalkan cara-cara kotor untuk mendapatkan tujuan.

Semoga kita bisa kembali belajar berbaris dengan rapih dan teratur. Kemudian mengajarkan cara berbaris yang baik itu kepada anak, murid, atau adik kita. Sehingga akan muncul generasi baru yang mau mengantri. Mau menunggu. Mau menjalani proses. Tidak asal masuk, asal sampai, asal dapat apa yang dimau.

Perpus Hijau

Kamis, 12 Maret 2015 pagi menjelang. Semuanya sudah beres. Tas ransel menempel di punggung. Anak dan istri selesai dandan.
Nada keluar kamar duluan. Setengah berlari dia telusuri lorong dan berhenti tepat di depan lift. Saya dan istri mengejar. Saat pintu lift terbuka, kami sudah di sisinya. Di front office, dua orang resepsionis menyapa. Senyum lebar mengembang di wajah mereka. Setelan jas hitam dan dasi mengingatkan saya pada hari kelulusan dulu. Kunci saya serahkan.
Pagi ini kami harus bergerak lebih cepat. Rombongan sudah menunggu di statsiun Aljuneid. Sebenarnya jarak hotel dengan Aljuneid tidak terlalu jauh. Fragrance Emerald berada di lorong 6 Geylang, sedang Aljuneid berada di lorong 26. Dengan taksi, tujuh menit pun sudah sampai di tempat. Tarifnya sebesar 6 dolar singapura. Kami pilih MRT. Meski agak jauh, tapi menyehatkan.
Dari hotel, saya dan keluarga berjalan ke jalan raya Gelyang. Menelusuri trotoar yang sedikit lenggang. Di depan Airport Kallang, kami menyeberang. Nada nampak senang. Tas gendong berwarna merah muda melenggak lengok di balik punggungnya. Beberapa orang pejalan kaki berpapasan. Di sebuah halte bus nampak antrian. Pagi adalah waktu sibuk.
Statsiun Kallang di depan mata. Beberapa orang perempuan berlari. Saya kasih komando anak dan istri. “siapkan kartu”. Nada sibuk mencari kartu MRT. Setelah beberapa detik, kartu berwarna putih pun digenggam.
Pemerintah Singapura memberikan pelayanan yang maksimal kepada warganya. Transportasi yang menjadi nadi kehidupan disuguhkan dengan cara yang sangat elegan. Mass Rapid Trasportation merupakan lokomotif utama. Setiap waktu masyarakat Singapura bisa mengakses kereta api cepat ini. Dari ujung Barat sampai ke Timur dilintasi. Ada juga circle line yang menghubungkan Timur dengan Utara. Dari jalur Utara di tarik lurus ke Selatan. Lintasan-lintasan itu saling terhubung. Ditambah dengan SBS Transit, bus penghubung yang siap mengantar sampai di halte persinggahan.
Semua model trasportasi massal dibuat untuk memudahkan mobilitas warga. Hanya dengan membeli kartu, warga bisa mengakses MRT dan bus. Kenyamanan itu pun dinikmati oleh pelancong. Saat turun dari Changi Airport, tour guide menyarankan untuk membeli kartu itu. Dengan 30 dolar singapura, saya mendapat kartu yang siap pakai untuk tiga hari.
Sampai di Aljuneid ternyata rombongan belum kumpul semua. Tour leader kami, mas Gol A Gong sempat meneriaki beberapa orang anggota rombongan yang masih berjalan santai. Dia menyoal tentang empati yang kurang dimiliki oleh beberapa orang tersebut. Rata-rata masih muda, mahasiswa dan laki-laki. Padahal anggota rombongan perempuan sudah standby lama.
“Kita berangkat duluan, biar mereka nyusul” demikian keputusan mas Gong. Tujuan kami kali ini adalah National Library. Dari statsiun Aljuneid kami harus melewati beberapa statsiun. Saat MRT berhenti di Bugis, kami turun. Setelah berjalan sekitar 400 meter, kami sampai di depan gedung perpustakaan.
Sesi photo bersama tidak dilewatkan. Demikian juga photo sendiri-sendiri. Setiap sudut yang menarik dijadikan ground. Lumayan untuk variasi DP BBM.
Gedung 16 tingkat dengan tinggi sekitar 103 M siap dijelajahi. Tujuan pertama kami adalah Lee Kong Chian Reference Library. Nama tersebut dipakai setelah Dr. Lee Kong Chian melalui Lee Foundation mendonasikan uang sebesar 60.000.000 dolar singapura untuk pembangunan perpustakaan. Jika dirupiahkan dengan kurs sekarang tinggal dikalikan 9.500.
Perpustakaan untuk referensi itu menempati lantai 7 sampai 13. Masing-masing lantai menampung koleksi tertentu. Lantai 7 yang kami kunjungi khusus menyediakan buku referensi bisnis, sains dan teknologi. Buku-buku tentang seni dan ilmu sosial ada di lantai 8. Di lantai 12 dan 13 terdapat buku koleksi khusus. Tidak semua pengunjung boleh masuk ke lantai ini. Hanya orang tertentu yang mendapat izin untuk mengakses koleksi buku di lantai 12 dan 13.
Setelah puas di lantai tujuh, kami bergegas turun ke basment 1. Di sini terdapat green library.
Green Library terletak di dalam perpustakaan umum. Saat kami masuk, nampak sederetan orang sedang khusuk membaca koran. Mereka duduk di depan meja baca. Lembaran koran di hamparkan di atas meja. Beberapa ada yang mengambil buku dari rak. Saat anggota rombongan kami mengeluarkan suara yang agak gaduh, seorang petugas segera memberi isyarat untuk tenang.
Deretan pembaca koran kami tinggalkan. Mengarah ke sisi kanan, sebuah gerbang menyambut dengan riang. Seekor kelinci dan anak beruang menjadi penjaga. Kelinci di kanan, anak beruang di kiri. Di sebelah mereka terdapat bunga matahari tersenyum lebar. Kumbang, kupu-kupu dan burung hantu tidak mau ketinggalan. Mereka menyambut siapa saja yang hendak masuk. Diantara sekumpulan binatang lucu, berdiri sebuah plang kayu. Di atasnya tertulis “My Tree House World 1st Green Library for Kids”
Nada nampak senang. Berjalan di depan dia usap anak beruang. Saya dan istri mengikuti. Masuk gerbang yang diapit dua batang pohon. Kedua cabangnya bertemu di atas. Konsep green nampak jelas. Di dalam ruangan terdapat banyak rak-rak buku. Setiap ujung rak dibentuk menyerupai batang pohon yang cabangnya mencakar atap. Warna hijau muda mendominasi. Di tengah ruangan berdiri tegap sebatang pohon besar. Daunnya kombinasi hijau dan kuning. Sekililingnya ditaburi rumput hijau. Di belakang pohon, melengkung sebuah jembatan kayu.
Janganan anak kecil, orang dewasa seperti saya saja merasa nyaman tinggal di dalam ruang perpustakaan model ini. Koleksi bukunya banyak. Rata-rata cerita bergambar. Varian bahasa sesuai dengan etnis yang menempati tanah Singapura. Ada China, Melayu dan India. Mayoritas buku berbahasa Inggris.
Saat kami keluar dari ruang perpustakaan, serombongan anak kecil berhamburan dari arah lift. Mereka nampak antusias. Dua orang perempuan berjalan di depan. Dua orang lagi berjalan di belakang. Beberapa anak berlomba masuk perpustakaan. Dari seragam yang dipakai. sepertinya mereka masih duduk di Taman Kanak-Kanak.
Menatap ke arah rombongan anak TK, saya membayangkan masa depan. Singapura sedang menanam benih terbaik. Mereka menyediakan lahan yang subur. Tidak hanya bersandar pada kesuburan lahan, pemerintah Singapura juga memperhatikan pupuk yang cocok bagi pertumbuhan. Semuanya dijaga dengan sistem yang terorganisir. Hingga saat panen tiba.
Teringat saya pesan Guru Besar Ilmu Pendidikan Islam, Prof. Ahmad Tafsir saat mengisi mata kuliah Filsafat Pendidikan, “Satu jenis investasi yang harus dilakukan untuk membuat negara ini maju adalah investasi manusia”. Menurut beliau masa depan hanya bisa dibeli dengan sumber daya manusia yang mumpuni. Sebanyak apapun sumber daya alam pada akhirnya akan habis. Tapi sumber daya manusia tidak pernah habis. Karena manusia hidup.
Singapura negara kecil dengan sumber daya alam yang sangat terbatas. Dibandingkan dengan Indonesia, tentu bagaikan langit dan bumi. Kita punya beragam bahan tambang, gas alam, kekayaan laut yang melimpah, jutaan hektar hutan siap tebang. Semuanya adalah sumber penghidupan. Tapi hidup mayoritas bangsa kaya ini masih terbatas. Jagankan untuk berinvestasi, makan sehari pun harus dicari dengan perasan keringat dan air mata.
Peringkat Indonesia berdasarkan Human Development Indek (HDI) ada di tangga ke 108. Singapura yang hanya berjarak 1 jam 25 menit perjalanan udara berada di tangga ke 9. Laporan UNDP tahun 2013 tersebut menulis HDI Value Singapura 0,901. Berada di jajaran top ten negara dengan predikat HDI very high. Sedangkan Indonesia masih berkutat di angka 0,684.
Singapura yang sedang berjaya masih juga menanam. Konsep Perpustakaan Hijau merupakan bagian dari investasi SDM Singapura. Pemerintah mereka menyadari bahwa ilmu merupakan bahan bakar peradaban. Seperti matahari, ilmu akan menyinari. Bangsa yang berilmu nampak lebih terang dari pada yang kurang berilmu. Mendekatkan ilmu dengan manusia berarti menjadikan manusia cinta buku. Sudah menjadi rahasia umum bahwa buku adalah gudang ilmu. Perpustakaan sebagai gudang buku tentu harus menjadi magnet yang dapat menarik orang ke dalamnya.
Di sini konsep perpustakaan hijau mendapat tempat signifikan bagi masa depan. Anak sedini mungkin diperkenalkan dengan buku. Anak sedini mungkin diajarkan untuk cinta ilmu. Mereka diarahkan untuk belajar. Tapi satu hal yang tidak boleh dilupakan mereka perlu bersenang-senang. Buku, ilmu, pelajaran akan membosankan bagi anak bila dikemas secara konvensional. Perlu kreativitas untuk mengemas buku, ilmu dan pelajaran. Green library menjawab itu.
Melihat antusiasme anak-anak masuk ke perpustakaan menjadi bukti sahih. Saatnya kita pun menanam. Tentu bukan sembarang tanam. Menanam dengan riang. Sehingga benih yang kita tebar akan tumbuh segar.