Perpus Hijau

Kamis, 12 Maret 2015 pagi menjelang. Semuanya sudah beres. Tas ransel menempel di punggung. Anak dan istri selesai dandan.
Nada keluar kamar duluan. Setengah berlari dia telusuri lorong dan berhenti tepat di depan lift. Saya dan istri mengejar. Saat pintu lift terbuka, kami sudah di sisinya. Di front office, dua orang resepsionis menyapa. Senyum lebar mengembang di wajah mereka. Setelan jas hitam dan dasi mengingatkan saya pada hari kelulusan dulu. Kunci saya serahkan.
Pagi ini kami harus bergerak lebih cepat. Rombongan sudah menunggu di statsiun Aljuneid. Sebenarnya jarak hotel dengan Aljuneid tidak terlalu jauh. Fragrance Emerald berada di lorong 6 Geylang, sedang Aljuneid berada di lorong 26. Dengan taksi, tujuh menit pun sudah sampai di tempat. Tarifnya sebesar 6 dolar singapura. Kami pilih MRT. Meski agak jauh, tapi menyehatkan.
Dari hotel, saya dan keluarga berjalan ke jalan raya Gelyang. Menelusuri trotoar yang sedikit lenggang. Di depan Airport Kallang, kami menyeberang. Nada nampak senang. Tas gendong berwarna merah muda melenggak lengok di balik punggungnya. Beberapa orang pejalan kaki berpapasan. Di sebuah halte bus nampak antrian. Pagi adalah waktu sibuk.
Statsiun Kallang di depan mata. Beberapa orang perempuan berlari. Saya kasih komando anak dan istri. “siapkan kartu”. Nada sibuk mencari kartu MRT. Setelah beberapa detik, kartu berwarna putih pun digenggam.
Pemerintah Singapura memberikan pelayanan yang maksimal kepada warganya. Transportasi yang menjadi nadi kehidupan disuguhkan dengan cara yang sangat elegan. Mass Rapid Trasportation merupakan lokomotif utama. Setiap waktu masyarakat Singapura bisa mengakses kereta api cepat ini. Dari ujung Barat sampai ke Timur dilintasi. Ada juga circle line yang menghubungkan Timur dengan Utara. Dari jalur Utara di tarik lurus ke Selatan. Lintasan-lintasan itu saling terhubung. Ditambah dengan SBS Transit, bus penghubung yang siap mengantar sampai di halte persinggahan.
Semua model trasportasi massal dibuat untuk memudahkan mobilitas warga. Hanya dengan membeli kartu, warga bisa mengakses MRT dan bus. Kenyamanan itu pun dinikmati oleh pelancong. Saat turun dari Changi Airport, tour guide menyarankan untuk membeli kartu itu. Dengan 30 dolar singapura, saya mendapat kartu yang siap pakai untuk tiga hari.
Sampai di Aljuneid ternyata rombongan belum kumpul semua. Tour leader kami, mas Gol A Gong sempat meneriaki beberapa orang anggota rombongan yang masih berjalan santai. Dia menyoal tentang empati yang kurang dimiliki oleh beberapa orang tersebut. Rata-rata masih muda, mahasiswa dan laki-laki. Padahal anggota rombongan perempuan sudah standby lama.
“Kita berangkat duluan, biar mereka nyusul” demikian keputusan mas Gong. Tujuan kami kali ini adalah National Library. Dari statsiun Aljuneid kami harus melewati beberapa statsiun. Saat MRT berhenti di Bugis, kami turun. Setelah berjalan sekitar 400 meter, kami sampai di depan gedung perpustakaan.
Sesi photo bersama tidak dilewatkan. Demikian juga photo sendiri-sendiri. Setiap sudut yang menarik dijadikan ground. Lumayan untuk variasi DP BBM.
Gedung 16 tingkat dengan tinggi sekitar 103 M siap dijelajahi. Tujuan pertama kami adalah Lee Kong Chian Reference Library. Nama tersebut dipakai setelah Dr. Lee Kong Chian melalui Lee Foundation mendonasikan uang sebesar 60.000.000 dolar singapura untuk pembangunan perpustakaan. Jika dirupiahkan dengan kurs sekarang tinggal dikalikan 9.500.
Perpustakaan untuk referensi itu menempati lantai 7 sampai 13. Masing-masing lantai menampung koleksi tertentu. Lantai 7 yang kami kunjungi khusus menyediakan buku referensi bisnis, sains dan teknologi. Buku-buku tentang seni dan ilmu sosial ada di lantai 8. Di lantai 12 dan 13 terdapat buku koleksi khusus. Tidak semua pengunjung boleh masuk ke lantai ini. Hanya orang tertentu yang mendapat izin untuk mengakses koleksi buku di lantai 12 dan 13.
Setelah puas di lantai tujuh, kami bergegas turun ke basment 1. Di sini terdapat green library.
Green Library terletak di dalam perpustakaan umum. Saat kami masuk, nampak sederetan orang sedang khusuk membaca koran. Mereka duduk di depan meja baca. Lembaran koran di hamparkan di atas meja. Beberapa ada yang mengambil buku dari rak. Saat anggota rombongan kami mengeluarkan suara yang agak gaduh, seorang petugas segera memberi isyarat untuk tenang.
Deretan pembaca koran kami tinggalkan. Mengarah ke sisi kanan, sebuah gerbang menyambut dengan riang. Seekor kelinci dan anak beruang menjadi penjaga. Kelinci di kanan, anak beruang di kiri. Di sebelah mereka terdapat bunga matahari tersenyum lebar. Kumbang, kupu-kupu dan burung hantu tidak mau ketinggalan. Mereka menyambut siapa saja yang hendak masuk. Diantara sekumpulan binatang lucu, berdiri sebuah plang kayu. Di atasnya tertulis “My Tree House World 1st Green Library for Kids”
Nada nampak senang. Berjalan di depan dia usap anak beruang. Saya dan istri mengikuti. Masuk gerbang yang diapit dua batang pohon. Kedua cabangnya bertemu di atas. Konsep green nampak jelas. Di dalam ruangan terdapat banyak rak-rak buku. Setiap ujung rak dibentuk menyerupai batang pohon yang cabangnya mencakar atap. Warna hijau muda mendominasi. Di tengah ruangan berdiri tegap sebatang pohon besar. Daunnya kombinasi hijau dan kuning. Sekililingnya ditaburi rumput hijau. Di belakang pohon, melengkung sebuah jembatan kayu.
Janganan anak kecil, orang dewasa seperti saya saja merasa nyaman tinggal di dalam ruang perpustakaan model ini. Koleksi bukunya banyak. Rata-rata cerita bergambar. Varian bahasa sesuai dengan etnis yang menempati tanah Singapura. Ada China, Melayu dan India. Mayoritas buku berbahasa Inggris.
Saat kami keluar dari ruang perpustakaan, serombongan anak kecil berhamburan dari arah lift. Mereka nampak antusias. Dua orang perempuan berjalan di depan. Dua orang lagi berjalan di belakang. Beberapa anak berlomba masuk perpustakaan. Dari seragam yang dipakai. sepertinya mereka masih duduk di Taman Kanak-Kanak.
Menatap ke arah rombongan anak TK, saya membayangkan masa depan. Singapura sedang menanam benih terbaik. Mereka menyediakan lahan yang subur. Tidak hanya bersandar pada kesuburan lahan, pemerintah Singapura juga memperhatikan pupuk yang cocok bagi pertumbuhan. Semuanya dijaga dengan sistem yang terorganisir. Hingga saat panen tiba.
Teringat saya pesan Guru Besar Ilmu Pendidikan Islam, Prof. Ahmad Tafsir saat mengisi mata kuliah Filsafat Pendidikan, “Satu jenis investasi yang harus dilakukan untuk membuat negara ini maju adalah investasi manusia”. Menurut beliau masa depan hanya bisa dibeli dengan sumber daya manusia yang mumpuni. Sebanyak apapun sumber daya alam pada akhirnya akan habis. Tapi sumber daya manusia tidak pernah habis. Karena manusia hidup.
Singapura negara kecil dengan sumber daya alam yang sangat terbatas. Dibandingkan dengan Indonesia, tentu bagaikan langit dan bumi. Kita punya beragam bahan tambang, gas alam, kekayaan laut yang melimpah, jutaan hektar hutan siap tebang. Semuanya adalah sumber penghidupan. Tapi hidup mayoritas bangsa kaya ini masih terbatas. Jagankan untuk berinvestasi, makan sehari pun harus dicari dengan perasan keringat dan air mata.
Peringkat Indonesia berdasarkan Human Development Indek (HDI) ada di tangga ke 108. Singapura yang hanya berjarak 1 jam 25 menit perjalanan udara berada di tangga ke 9. Laporan UNDP tahun 2013 tersebut menulis HDI Value Singapura 0,901. Berada di jajaran top ten negara dengan predikat HDI very high. Sedangkan Indonesia masih berkutat di angka 0,684.
Singapura yang sedang berjaya masih juga menanam. Konsep Perpustakaan Hijau merupakan bagian dari investasi SDM Singapura. Pemerintah mereka menyadari bahwa ilmu merupakan bahan bakar peradaban. Seperti matahari, ilmu akan menyinari. Bangsa yang berilmu nampak lebih terang dari pada yang kurang berilmu. Mendekatkan ilmu dengan manusia berarti menjadikan manusia cinta buku. Sudah menjadi rahasia umum bahwa buku adalah gudang ilmu. Perpustakaan sebagai gudang buku tentu harus menjadi magnet yang dapat menarik orang ke dalamnya.
Di sini konsep perpustakaan hijau mendapat tempat signifikan bagi masa depan. Anak sedini mungkin diperkenalkan dengan buku. Anak sedini mungkin diajarkan untuk cinta ilmu. Mereka diarahkan untuk belajar. Tapi satu hal yang tidak boleh dilupakan mereka perlu bersenang-senang. Buku, ilmu, pelajaran akan membosankan bagi anak bila dikemas secara konvensional. Perlu kreativitas untuk mengemas buku, ilmu dan pelajaran. Green library menjawab itu.
Melihat antusiasme anak-anak masuk ke perpustakaan menjadi bukti sahih. Saatnya kita pun menanam. Tentu bukan sembarang tanam. Menanam dengan riang. Sehingga benih yang kita tebar akan tumbuh segar.

Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: