Majapahit Rasa Madura

1292 M, tentara kediri dibawah komando Jayakatwang menyerang Singosari. Kertanagara raja singosari menjadi korban. Tahta singosari pun bergeser kembali ke kediri.
Seperti putaran roda. Ken Arok membangun Singosari di atas kuburan kediri. Kertajaya raja kediri berhasil dikalahkan tahun 1222. Wangsa Airlangga sebagai penguasa Jawa pun berakhir.
Jayakatwang berhasil mengangkat kembali nama besar wangsa Airlangga. Tapi tidak lama.
setahun kemudian raden wijaya, menantu kertanagara keturunan ken arok membalas.
Saat jayakatwang menyerang singosari, raden wijaya menyelamatkan diri. Dia menyeberangi selat madura. Mendapat suaka dari bupati sumenep Arya wiraraja. Setahun raden wijaya tinggal di madura. Menimba ilmu dari arya wiraraja seorang ahli strategi.
1293 atas saran sang mentor, raden wijaya kembali ke jawa untuk merebut tahta. Ranggalawe putra arya wiraraja ikut serta.
angin baik berhembus, pasukan kubilai khan mendarat di gresik. Ribuan prajurit mongol bersenjata lengkap siap menghantam jawa. Raden wijaya mengambil kesempatan. Tentara mongol diarahkan menyerang kediri bersama pengikutnya.
jayakatwang tidak berkutik. Pasukan kediri tdk sanggup menghadang penyerang. Rajanya gugur dalam penyerbuan.
R. Wijaya tidak rela melepas jawa untuk bangsa asing. Pasukan mongol yg kelelahan dipukul keluar. Ranggalawe putra bupati sumenep menjadi komandan. Kesatria berkuda yg ahli memainkan pedang tersebut berhasil membuat pasukan mongol kembali ke negaranya.
Perang usai, R. Wijaya membangun walayah baru. Sebuah hutan di perbatasan siduarjo disulap menjadi kota. Sebuah kota yg menjadi kerajaan terbesar sepanjang sejarah nusantara.
Wilwatikta atau Majapahit

Advertisements

Manusia Garam

Sumenep merupakan produsen garam terbanyak indonesia. Setiap tahun kabupaten yg berada di ujung timur pulau madura memasok garam nasional. Hamparan ladang garam bisa ditemui di jalan utama sampang -sumenep. Terlebih di daerah pesisir kalianget. Butiran2 putih berkilauan disorot matahari.
Bertani garam adalah profesi utama masyarakat pesisir sumenep. Selain melaut mencari ikan. Suhu udara yg panas ditunjang dgn curah hujan yg kecil, sangat pas untuk bertani garam. Setidaknya proses kristalisasi air laut membutuhkan suhu di atas 30 derajat celcius.
bisa dibayangkan betapa hebatnya petani garam menahan panas. Mereka berjibaku dgn suhu yg terkadang mencapai 34 derajat celcius. Mengalirkan air laut, menjaga proses kristalisasi dan memanen. Semuanya dilakukan secara tradisional. Mengandalkan tenaga manusia alias manual.
setelah panen garam dihargai 400 rupiah per kilogram. Harga garam tidak sehebat gula. Di minimarket garam dapur yg sudah dikemas 250 gram hanya dihargai rp. 2.000. Setara dengan dua permen kopiko.
mengapa garam murah? Apakah garam tdk banyak manfaatnya?
Mari sejenak kita membuka tutup saji meja makan. Di sana ada rendang daging sapi, ada pepes ikan mas, ada opor ayam, perkedel kentang, sayur asam, tempe goreng dan sambal.
rendang, pepes ikan, opor gurihnya bikin liur mengalir. Perkedel pun maknyus ditambah tempe goreng dan sambal waduh secara digoyang lidah. Demikian juga dgn sayur asem dan sayur2 lainnya.
nikmat.
Coba hilangkan garam dari semua masakan tersebut!
Bagaimana rasanya?
Hambar. Anyep. Datar
garam itu yg mbuat setiap makanan terasa nikmat. Garam itu yg menyudupkan rasa di lidah. Garam itu yg membangkitkan selera makan.
kenapa garam murah?
Sahabat, garam tdk pernah demo. Dia tidak mau boikot. Garam menerima peran. Dia sudah digariskan demikian.
Dalam hidup pun banyak diantara kita yg berperan sebagai garam. Selalu menjadi bagian dlm kegiatan. Memberi rasa pada karya. Tapi tidak mendapat harga yg tinggi.
gedung2 pencakar langit itu berdiri karena sosok2 manusia garam. Mereka menggali, memasang pondasi, kepanasan dan kehausan. Berapa rupiah yg didapat? Hanya cukup untuk mengisi perut sekeluarga. Tanpa mereka gambar digital yg didesain arsitek tdk mungkin terwujud.
Jalan2, pusat pertokoan, perkantoran, statsiun, bandara, terminal bersih berseri. Karena tangan2 yg memainkan sapu dan kain pel. Saat kebersihan tercipta yg mendapat anugerah adalah walikota. Tangan2 yg membersihkan itu dilupakan. Mereka adalah manusia garam.
manusia garam ada di mana2. Di pabrik, pusat pertokoan, perkantoran bahkan di lembaga pendidikan.
tanpa mereka hidup ini hambar. Tanpa mereka tidak ada karya tercipta. Tapi keberadaan mereka sering terlupa. Peran mereka dihargai murah. Seolah apa yg telah mereka lakukan tidak signifikan.
mereka manusia garam. Berkontribusi terus meski tidak diopeni. Karena mereka sadar, perannnya hanya memberi rasa bukan membuat karya.

Alphard Mas Mubin

Salah satu rutinitas di bulan Ramadhan adalah mudik. Entah kapan mulainya. Masyarakat Indonesia sudah menjadikan mudik menjelang lebaran sebagai kebutuhan. Setiap orang berlomba mencari tiket kereta. Hasilnya, sebulan sebelum Ramadhan tiket kereta sudah habis. Pilihan berikutnya adalah tiket bis. Hampir sama seperti kereta, tiket bis habis diborong pemudik.

Antusiasme mudik sangat besar. Antri berjam-jam demi sehelai tiket dilakoni. Meski dengan harga yang lebih mahal. Pemudik bahkan rela mencari tiket dari calo. Aroma kampung halaman begitu menggoda. Sehingga halangan dan rintangan diterabas semua. Bagi yang ingin irit, sepeda motor menjadi pilihan. Resiko kelelahan dan kecelakaan setiap pemudik motor tak dihiraukan.

Mudik. Satu kata yang tidak bisa ditawar. Gambaran masyarakat yang memiliki kelelusaan ekonomi lebih nyaman. Mereka tidka harus berdesakan mengantri tiket kereta atau bis. Mereka pun tidak perlu menantang maut dengan roda dua. Para pemudik model ini mencari tiket pesawat. Mereka bisa booking sebulan sebelum keberangkatan. Ada juga yang mudik dengan kendaraan pribadi. Meski lelah di jalan, mobil pribadi dipilih karena lebih murah dibanding ongkos pesawat.

Dan setiap akhir Ramadhan, Mas Mubin pun sudah bersiap pulang. Kampung halamannya di daerah pegunungan di selatan Jawa Timur. Ongkos bis ke sana menjelang lebaran naik dua kali lipat. Sedangkan untuk mendapat tiket kereta sulit baginya. Mas Mubin tidak pernah ambil pusing. Setiap tahun dia tidak usah sibuk mencari tiket.

Lelaki muda yang belum berkeluarga tersebut bekerja di sebuah pesantren. Dia menjadi kepala dapur. Sehari-hari berjibaku dengan dandang dan penggorengan besar. Sekali masak tiga buah karung beras dia olah menjadi nasi. Lauknya 4000 potong ikan atau tempe digoreng dengan wajan besar. Pesantren tempat dia bekerja memiliki santri banyak.

Pesantren tersebut terletak di kabupaten Bogor. Tepatnya di kampung Banyusuci tidak jauh dari kantor kecamatan Leuwiliang. Pimpinannya bukan orang pribumi. Beliau perantau dari pulau Madura. Setiap menjelang lebaran, pak kiyai dan keluarga pasti pulang kampung.

Sudah menjadi kebiasaan keluarga pimpinan pulang dengan pesawat. Meski berangkat dengan pesawat, mobil-mobil pribadi tetap diberangkatkan. Bukan pemborosan. Pimpinan pesantren suka ziarah. Rute pulang dari Jawa Timur diselingi dengan Ziarah Wali songo yang makamnya tersebar di sepanjang jalan Pantura. Mobil-mobil yang diberangkatkan dipersiapkan untuk perjalanan pulang.

Tiga mobil untuk tiga keluarga. Satu untuk pak kiyai dan istri, yang dua tersisa masing-masing keluarga anaknya. Mobil-mobil tersebut tidak ditumpangi oleh pemiliknya saat mudik. Hanya barang yang dijadikan penumpang di belakang. Didasari kebaikan hati pak kiyai, para pekerja dapur diberi keistimewaan ikut mobil tersebut.

Kurang dua bulan sebelum mudik, pak kiyai membeli mobil baru. Sebuah MPV kelas atas berwarna hitam. Mobil yang harganya tiga kali Kijang Innova seri V tersebut pas untuk perjalanan jauh. Keleluasaan dan kenyamanan menjadi fitur berharga yang ditawarkan. Kursi empuk yang bisa distel seperti kursi pesawat, air bag di setiap sisi, air conditioner yang nyaman, LCD di depan dan di kursi penumpang dan tentu saja suspensinya empuk nyaman di jalan bergelombang. Tipikal mobil yang khusus bagi orang-orang berduit.

Mas Mubin sebagai kepala dapur tentu mendapat keistimewaan. Dia mendapat jatah menaiki Alphard. Sedangkan pekerja dapur lain mendapat tumpangan di dua mobil yang diperuntukkan keluarga anak pak kiyai.

Mas Mubin pun mudik dengan Alphard. Di sepanjang jalan dia bisa membuka kaca mobil melirik ke kanan dan kiri. Saat macet orang-orang menatap takjub. Seorang anak muda mudik dengan mobil mewah. Turun di warung makan, berhenti di parkiran, mengisi BBM, selalu menjadi pusat perhatian. Tidak ada orang yang tahu. Apa yang dilihat mata itu yang dipercaya. Seorang anak muda, belum beristri, hanya ditemani sopir, membawa banyak oleh-oleh, pulang kampung dengan mobil seharga 1 milyard. Hanya dia dan sopir yang tersenyum menyadari realita.

Mas Mubin beruntung. Di saat ribuan orang berebut tiket kereta dan bis untuk pulang kampung, dia tenang menyiapkan makanan untuk santri. Ketika pemudik tersebut berjubalan di kereta dan bis dengan segala keterbatasannya, dia duduk nyaman di dalam mobil mewah. Bahkan di sepanjang jalan pun, orang-orang yang lebih berpangkat dan berduit darinya menaruh kagum. Itu karena mobil yang dinaiki Mas Mubin lebih bagus dari mobil yang mereka kendarai.

Tidak banyak orang pernah naik Alphard. Meski di bandara ada Alphard yang dijadikan taksi, tapi orang berpikir dua kali untuk menyewa. Lebih baik naik taksi avanza atau innova yang lebih murah dari pada naik taksi Alphard. Mas Mubin adalah satu dari sedikit orang tersebut. Tidak tanggung-tanggung dia mudik naik Alphard.

Sahabat

Andaikan pak kiyai membeli mobil Hammer seharga tiga Alphard, Mas Mubin pun bisa mudik dengannya. Sebuah keistimewaan yang tidak didapat oleh banyak orang. Sebuah keberuntungan yang nyata. Itu karena Mas Mubin bekerja di tempat yang tepat. Dia pun memiliki majikan yang baik hati. Andai dia tetap bekerja di kampungnya, belum tentu bisa merasakan empuknya kursi mobil mewah.

Manajemen Berbasis Sekolah

Istilah Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) berasal dari School Based Manajement, dimana sekolah menjadi pelaku utama dalam mengelola pendidikan. Pada prinsipnya MBS bertujuan untuk memberdayakan sekolah dalam menetapkan berbagai kebijakan internal sekolah yang mengarah pada peningkatan mutu dan kinerja sekolah secara keseluruhan.[1]

Sebagaimana dimuat oleh Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, Departemen Agama Republik Indonesia, tujuan Manajemen Berbasis Sekolah sebagai berikut:

Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah atau madrasah dalam mengelola dan membedayakan sumber daya yang tersedia;
Meningkatkan kepedulian warga sekolah atau madrasah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama;
Meningkatkan tanggungjawab sekolah atau madrasah kepada orangtua, pemerintah tentang mutu sekolah atau madrasah;
Meningkatkan kompetisi yang sehat antar madrasah dan sekolah lain untuk pencapaian mutu pendidikan yang diharapkan.[2]

MBS memberi keleluasaan kepada sekolah untuk mengelola pendidikan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan. Aktor utama sebagai top leader dalam pelaksanaan MBS adalah kepala sekolah. Dia menjadi penguasa di daerah otonom bernama sekolah. Kepala sekolah memiliki kekuasaan penuh terhadap pengambilan kebijakan terkait dengan pendidikan di sekolah yang dia pimpin. Tentunya kekuasaan tersebut tidak menjadikan kepala sekolah sebagai figur otoriter.

MBS telah merubah paradigma sekolah sebagai pihak yang menunggu perintah menjadi pihak yang memerintah. Perubahan ini memicu kreatifitas sekolah-sekolah yang telah melaksanakan MBS. Segala ide tentang kemajuan menjadi semarak. Sekolah berlomba menjadi yang terbaik dengan meningkatkan kualitas pendidikannya. Sehingga mutu pendidikan terangkat.

Di sisi sosial, MBS pun membuka mata masyarakat untuk terlibat secara aktif di dunia pendidikan. Pemuka masyarakat yang berdomisili dekat dengan sekolah dilibatkan dalam komite sekolah. Sebagai anggota komite tentu tokoh-tokoh masyarakat dapat memberi kekuatan ekstra kepada sekolah. Di sisi lain tokoh-tokoh tersebut pun mendapat panggung untuk terlibat di kegiatan pendidikan.

Tapia da satu hal yang terkadang menjadi kendala. MBS menuntut sekolah untuk kreatif. Sekolah berlomba meningkatkan mutu. Tentunya peningkatan kualitas tidka akan berjalan tanpa sokongan dana. Pendanaan untuk berbagai macam program unggulan pada akhirnya dibebankan kepada siswa. Maka muncul gejala baru, sekolah yang menerapkan MBS menarik iuran lebih mahal daripada sekolah yang tidak menerapkan MBS.

Biaya yang mahal tentunya tidak sia-sia. Uang yang dikeluarkan oleh wali murid mewujud sebagai prestasi siswa. Wali murid yang mengetahui dan merasakan prestasi tersebut tidak keberatan dengan jumlah iuran. Mereka suka rela mendukung program sekolah. Itu dilakukan demi kebaikan dan kemajuan putra-putrinya.

Kesepakatan antara sekolah, komite dan wali murid terkait biaya untuk pelaksanaan program unggulan membuat standar baru. Sekolah yang bagus adalah sekolah yang telah melaksankan MBS. Salah satu ciri sekolah yang bagus tersebut adalah bayarannya mahal.

Pada akhirnya peningkatan mutu pendidikan yang diolah dengan MBS menelan korban. Siapa yang menjadi korban? Masyarakat tidak mampu. Mereka yang tidak memiliki cukup biaya tidak bisa mencicipi sekolah berkualitas.