Alphard Mas Mubin

Salah satu rutinitas di bulan Ramadhan adalah mudik. Entah kapan mulainya. Masyarakat Indonesia sudah menjadikan mudik menjelang lebaran sebagai kebutuhan. Setiap orang berlomba mencari tiket kereta. Hasilnya, sebulan sebelum Ramadhan tiket kereta sudah habis. Pilihan berikutnya adalah tiket bis. Hampir sama seperti kereta, tiket bis habis diborong pemudik.

Antusiasme mudik sangat besar. Antri berjam-jam demi sehelai tiket dilakoni. Meski dengan harga yang lebih mahal. Pemudik bahkan rela mencari tiket dari calo. Aroma kampung halaman begitu menggoda. Sehingga halangan dan rintangan diterabas semua. Bagi yang ingin irit, sepeda motor menjadi pilihan. Resiko kelelahan dan kecelakaan setiap pemudik motor tak dihiraukan.

Mudik. Satu kata yang tidak bisa ditawar. Gambaran masyarakat yang memiliki kelelusaan ekonomi lebih nyaman. Mereka tidka harus berdesakan mengantri tiket kereta atau bis. Mereka pun tidak perlu menantang maut dengan roda dua. Para pemudik model ini mencari tiket pesawat. Mereka bisa booking sebulan sebelum keberangkatan. Ada juga yang mudik dengan kendaraan pribadi. Meski lelah di jalan, mobil pribadi dipilih karena lebih murah dibanding ongkos pesawat.

Dan setiap akhir Ramadhan, Mas Mubin pun sudah bersiap pulang. Kampung halamannya di daerah pegunungan di selatan Jawa Timur. Ongkos bis ke sana menjelang lebaran naik dua kali lipat. Sedangkan untuk mendapat tiket kereta sulit baginya. Mas Mubin tidak pernah ambil pusing. Setiap tahun dia tidak usah sibuk mencari tiket.

Lelaki muda yang belum berkeluarga tersebut bekerja di sebuah pesantren. Dia menjadi kepala dapur. Sehari-hari berjibaku dengan dandang dan penggorengan besar. Sekali masak tiga buah karung beras dia olah menjadi nasi. Lauknya 4000 potong ikan atau tempe digoreng dengan wajan besar. Pesantren tempat dia bekerja memiliki santri banyak.

Pesantren tersebut terletak di kabupaten Bogor. Tepatnya di kampung Banyusuci tidak jauh dari kantor kecamatan Leuwiliang. Pimpinannya bukan orang pribumi. Beliau perantau dari pulau Madura. Setiap menjelang lebaran, pak kiyai dan keluarga pasti pulang kampung.

Sudah menjadi kebiasaan keluarga pimpinan pulang dengan pesawat. Meski berangkat dengan pesawat, mobil-mobil pribadi tetap diberangkatkan. Bukan pemborosan. Pimpinan pesantren suka ziarah. Rute pulang dari Jawa Timur diselingi dengan Ziarah Wali songo yang makamnya tersebar di sepanjang jalan Pantura. Mobil-mobil yang diberangkatkan dipersiapkan untuk perjalanan pulang.

Tiga mobil untuk tiga keluarga. Satu untuk pak kiyai dan istri, yang dua tersisa masing-masing keluarga anaknya. Mobil-mobil tersebut tidak ditumpangi oleh pemiliknya saat mudik. Hanya barang yang dijadikan penumpang di belakang. Didasari kebaikan hati pak kiyai, para pekerja dapur diberi keistimewaan ikut mobil tersebut.

Kurang dua bulan sebelum mudik, pak kiyai membeli mobil baru. Sebuah MPV kelas atas berwarna hitam. Mobil yang harganya tiga kali Kijang Innova seri V tersebut pas untuk perjalanan jauh. Keleluasaan dan kenyamanan menjadi fitur berharga yang ditawarkan. Kursi empuk yang bisa distel seperti kursi pesawat, air bag di setiap sisi, air conditioner yang nyaman, LCD di depan dan di kursi penumpang dan tentu saja suspensinya empuk nyaman di jalan bergelombang. Tipikal mobil yang khusus bagi orang-orang berduit.

Mas Mubin sebagai kepala dapur tentu mendapat keistimewaan. Dia mendapat jatah menaiki Alphard. Sedangkan pekerja dapur lain mendapat tumpangan di dua mobil yang diperuntukkan keluarga anak pak kiyai.

Mas Mubin pun mudik dengan Alphard. Di sepanjang jalan dia bisa membuka kaca mobil melirik ke kanan dan kiri. Saat macet orang-orang menatap takjub. Seorang anak muda mudik dengan mobil mewah. Turun di warung makan, berhenti di parkiran, mengisi BBM, selalu menjadi pusat perhatian. Tidak ada orang yang tahu. Apa yang dilihat mata itu yang dipercaya. Seorang anak muda, belum beristri, hanya ditemani sopir, membawa banyak oleh-oleh, pulang kampung dengan mobil seharga 1 milyard. Hanya dia dan sopir yang tersenyum menyadari realita.

Mas Mubin beruntung. Di saat ribuan orang berebut tiket kereta dan bis untuk pulang kampung, dia tenang menyiapkan makanan untuk santri. Ketika pemudik tersebut berjubalan di kereta dan bis dengan segala keterbatasannya, dia duduk nyaman di dalam mobil mewah. Bahkan di sepanjang jalan pun, orang-orang yang lebih berpangkat dan berduit darinya menaruh kagum. Itu karena mobil yang dinaiki Mas Mubin lebih bagus dari mobil yang mereka kendarai.

Tidak banyak orang pernah naik Alphard. Meski di bandara ada Alphard yang dijadikan taksi, tapi orang berpikir dua kali untuk menyewa. Lebih baik naik taksi avanza atau innova yang lebih murah dari pada naik taksi Alphard. Mas Mubin adalah satu dari sedikit orang tersebut. Tidak tanggung-tanggung dia mudik naik Alphard.

Sahabat

Andaikan pak kiyai membeli mobil Hammer seharga tiga Alphard, Mas Mubin pun bisa mudik dengannya. Sebuah keistimewaan yang tidak didapat oleh banyak orang. Sebuah keberuntungan yang nyata. Itu karena Mas Mubin bekerja di tempat yang tepat. Dia pun memiliki majikan yang baik hati. Andai dia tetap bekerja di kampungnya, belum tentu bisa merasakan empuknya kursi mobil mewah.

Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: