Manajemen Berbasis Sekolah

Istilah Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) berasal dari School Based Manajement, dimana sekolah menjadi pelaku utama dalam mengelola pendidikan. Pada prinsipnya MBS bertujuan untuk memberdayakan sekolah dalam menetapkan berbagai kebijakan internal sekolah yang mengarah pada peningkatan mutu dan kinerja sekolah secara keseluruhan.[1]

Sebagaimana dimuat oleh Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, Departemen Agama Republik Indonesia, tujuan Manajemen Berbasis Sekolah sebagai berikut:

Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah atau madrasah dalam mengelola dan membedayakan sumber daya yang tersedia;
Meningkatkan kepedulian warga sekolah atau madrasah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama;
Meningkatkan tanggungjawab sekolah atau madrasah kepada orangtua, pemerintah tentang mutu sekolah atau madrasah;
Meningkatkan kompetisi yang sehat antar madrasah dan sekolah lain untuk pencapaian mutu pendidikan yang diharapkan.[2]

MBS memberi keleluasaan kepada sekolah untuk mengelola pendidikan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan. Aktor utama sebagai top leader dalam pelaksanaan MBS adalah kepala sekolah. Dia menjadi penguasa di daerah otonom bernama sekolah. Kepala sekolah memiliki kekuasaan penuh terhadap pengambilan kebijakan terkait dengan pendidikan di sekolah yang dia pimpin. Tentunya kekuasaan tersebut tidak menjadikan kepala sekolah sebagai figur otoriter.

MBS telah merubah paradigma sekolah sebagai pihak yang menunggu perintah menjadi pihak yang memerintah. Perubahan ini memicu kreatifitas sekolah-sekolah yang telah melaksanakan MBS. Segala ide tentang kemajuan menjadi semarak. Sekolah berlomba menjadi yang terbaik dengan meningkatkan kualitas pendidikannya. Sehingga mutu pendidikan terangkat.

Di sisi sosial, MBS pun membuka mata masyarakat untuk terlibat secara aktif di dunia pendidikan. Pemuka masyarakat yang berdomisili dekat dengan sekolah dilibatkan dalam komite sekolah. Sebagai anggota komite tentu tokoh-tokoh masyarakat dapat memberi kekuatan ekstra kepada sekolah. Di sisi lain tokoh-tokoh tersebut pun mendapat panggung untuk terlibat di kegiatan pendidikan.

Tapia da satu hal yang terkadang menjadi kendala. MBS menuntut sekolah untuk kreatif. Sekolah berlomba meningkatkan mutu. Tentunya peningkatan kualitas tidka akan berjalan tanpa sokongan dana. Pendanaan untuk berbagai macam program unggulan pada akhirnya dibebankan kepada siswa. Maka muncul gejala baru, sekolah yang menerapkan MBS menarik iuran lebih mahal daripada sekolah yang tidak menerapkan MBS.

Biaya yang mahal tentunya tidak sia-sia. Uang yang dikeluarkan oleh wali murid mewujud sebagai prestasi siswa. Wali murid yang mengetahui dan merasakan prestasi tersebut tidak keberatan dengan jumlah iuran. Mereka suka rela mendukung program sekolah. Itu dilakukan demi kebaikan dan kemajuan putra-putrinya.

Kesepakatan antara sekolah, komite dan wali murid terkait biaya untuk pelaksanaan program unggulan membuat standar baru. Sekolah yang bagus adalah sekolah yang telah melaksankan MBS. Salah satu ciri sekolah yang bagus tersebut adalah bayarannya mahal.

Pada akhirnya peningkatan mutu pendidikan yang diolah dengan MBS menelan korban. Siapa yang menjadi korban? Masyarakat tidak mampu. Mereka yang tidak memiliki cukup biaya tidak bisa mencicipi sekolah berkualitas.

Previous Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: