Pesantren dan Kemerdekaan

Bicara pendidikan di Indonesia, tidak pernah lepas dari pesantren. Institusi yg satu ini telah merasuk dlm sendi kehidupan bangsa beratus tahun lamanya. Pesantren dengan identitas keisalamnya mewarnai perjalanan nusantara.
Sebelum mengenal sekolah, bangsa Indonesia lebih dulu kenal pesantren. Istilah sekolah baru ada setelah penjajah masuk nusantara. Sementara pesantren ada sebelum berdiri kesultanan demak. Bahkan kesultanan terbesar di indonesia tersebut tumbuh dari pesantren. Sebelum memproklamirkan Demak sebagai kerajaan, Raden Patah diperintah oleh gurunya Sunan Ampel untuk mendirikan pesantren di Demak bintaro.
Maka tidak berlebih jika Nurcholis Madjid menyatakan bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan indigenous indonesia. Pesantren dgn segala keunikannya lahir dan berkembang dari rahim bunda nusantara.
Salah satu keunikan pesantren adalah empat pilar utama yg dirangkai sebagai pedoman nilai. Pesantren di indonesia menjunjung tinggi empat pilar tersebut; keislaman, keilmuan, kemasyarakatan dan keindonesiaan.
Pilar tersebut saling terpaut. Pesantren adalah penyebar ketauhidan, corong utama dakwah mengesakan Allah. Pesantren adalah kebun ilmu. Para pencari ilmu bisa menggali, memetik dan memanen ilmu di dalamnya. Pesantren milik masyarakat, berdiri berkat semangat gotong royong maka di mana pun berada pesantren selalu memberi kontribusi nyata bagi masyarakat. Dan yg harus digarisbawahi pesantren berjuang untuk keutuhan bangsa dan negara. Pesantren berdiri sebagai benteng penjaga. Pesantren adalah paku bumi nusantara yg mengajarkan cinta tanah air sebagian dari iman.
Sejarah mencatat. Meski banyak yg terlewat. Pesantren selalu menjadi bagian penting dalam perjuangan mengerek keindonesiaan berkibar di langit nusantara.
Sebut saja perang diponogoro. Perang terbesar yg pernah terjadi di pulau jawa antara Pangeran Diponogoro dan Belanda. Bukan sekedar perang yg diakibatkan patok belanda di atas tanah waris sang pangeran. Ini adalah perang suci. Diponogoro sudah geram sejak lama atas pendudukan Belanda di tanah jawa. Terlebih Belanda mengacak2 kesultanan Mataram sebagai lambang keislaman. Belanda datang bukan hanya untuk harta dan tahta tapi juga demi injil. Maka Diponogoro mengobarkan perang suci. Melawan penjajah yang berusaha mengkafirkan Jawa.
Seruan itu didengar tokoh islam. Seorang kiyai terpanggil membantu Diponogoro. Dia kerahkan murid2nya berjihad melawan penjajah. Berkat bantuan para santri, Belanda menderita. Selama 5 tahun peperangan, antara 1825-1830 tidak kurang 15.000 tentara belanda tewas. Penjajah kafir tersebut menderita kerugian 20 juta gulden.
Siapa kiyai yg membantu perjuangan Diponogoro?
Muslim Mochammad Khalifah, atau lebih tenar disebut Kiyai Maja.
Itu satu dari sekian banyak bukti nyata perjuangan pesantren dalam merebut kemerdekaan.
Setelah merdeka pun, kiyai dan santri di pesantren tidak berpangku tangan. Agresi militer Belanda di bulan Oktober 1945 menjadi medan juang civitas pesantren. Kesewenangan tentara sekutu yg berusaha menguasai Surabaya dijawab dengan resolusi jihad.
KH. Hasyim As’ary sebagai tokoh utama pesantren berteriak lantang menentang pendudukan. Kiyai Hasyim pun mengeluarkan fatwa.
1. Kemerdekaan Indonesia yg diproklamirkan 17 agustus harus dipertahankan.
2. Republik Indonesia sebagai satu2nya pemerintahan yg sah harus dijaga dan ditolong.
3. Musuh RI adalah Belanda yg datang kembali dibantu tentara sekutu.
4. Umat islam terutama anggota NU harus mengangkat senjata melawan penjajah belanda.
5. Kewajiban ini merupakan perang suci/jihad fi sabilillah. Muslim yg tinggal dlm radius 94 km dari agresi belanda fardu ain mengangkat senjata.
Berkat resolusi jihad ribuan santri membanjiri Surabaya. Mereka datang dari Jombang, mojokerto, jember, malang, kediri, pasuruan bahkan sampai cirebon. Laskar santri pun dibentuk. Hizbullah yg sudah ada diperkuat dengan laskar Sabilillah. 10 november 1945 Belanda tidak berdaya.
Santri dari berbagai pesantren mengumandangkat takbir seiring dengan pekik merdeka.
Keislaman pun berangkulan dengan keindonesiaan.

Next Post
Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: