Pesantren Di Bogor

Guru kami, KH. Helmy Abdul Mubin, pimpinan Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami sering bercerita. Beliau menceritakan sejarah berdirinya pesantren. Meski cerita tersebut diulang berkali-kali, kami tidak pernah bosan.
Pesantren ini didirikan dengan modal doa. Demikian selalu beliau bilang. Saya bukan pengusaha dan bukan anak orang kaya. Saya tidak punya modal harta. Saya bukan pejabat dan bukan anak mantan pejabat. Saya tidak punya modal pengaruh apalagi ketenaran.
Saat mendirikan pesantren, guru kami hanya punya uang 250 ribu rupiah. Uang tersebut adalah tabungan selama bebarapa tahun mengajar di pesantren lain. Meski tidak punya modal harta, tekad beliau sudah bulat. Ingin mendirikan lembaga pendidikan Islam yang sesuai dengan visinya.
Suatu saat seorang utusan dari Australia datang ke pesantren tempat H. Helmy mengajar. Si utusan mencari seorang ustadz yang pandai berbahasa Inggris. Ia menawarkan pekerjaan sebagai pengajar agama di lingkungan masyarakat muslim Australia. Saat itu permintaan si utusan tidak dapat dipenuhi. Tidak ada ustadz yang memiliki kualifikasi sebagaimana diminta.
Guru kami sempat merenung. Beliau berharap suatu hari dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Caranya, harus mendirikan pesantren yang menjadikan Bahasa Inggris sebagai materi pokok. Selama itu pesantren lebih menganakemaskan Bahasa Arab.
Cita-cita mendirikan pesantren pun terus bersemayam dalam dirinya. Beberapa tahun setelah kedatangan utusan Australia, H. Helmy mantap memulai pendirian pesantren. Langkah pertama yang beliau lakukan adalah mendatangi para kiyai. Berhubung asalnya dari Madura, beliau mencari informasi kiyai di pulau tersebut.
Tujuh belas kiyai didatangi. Guru kami meminta doa dari ulama tersebut. Doa seorang yang sholeh tentu lebih didengar oleh Allah. Keyakinan itu yang membuat beliau semangat mendatangi kiyai-kiyai pimpinan pesantren di Madura.
Beberapa orang kiyai memberi oleh-oleh. Sehelai kertas putih. Di dalamnya tertulis bahasa Arab. Kumpulan doa. Oleh-oleh tersebut tidak disia-siakan. Setiap doa yang diijazahkan, beliau amalkan.
Malam-malam pun dilalui dengan tafakur. Berdoa, memohon kepada Yang Maha Kuasa. Tuhan Maha Kaya, segala yang di dunia adalah milikNya. Jika Allah berkehendak, seorang yang tidak punya modal harta bisa mendirikan pesantren.
Mendirikan pesantren bukan perkara mudah. Butuh modal banyak. Tanah yang akan dijadikan lokasi harus dibeli. Dengan apa membelinya? Uang. Asrama tempat tinggal santri harus dibangun. Dengan apa membangunnya? Uang. Akses jalan bagi wali santri harus dibuat. Dengan apa membuatnya? Uang.
Butuh banyak uang untuk mendirikan pesantren. Sedangkan guru kami tidak memilikinya. Beliau punya jalan lain. Jalan yang sudah dilalui banyak orang susah. Berdoa di samping berusaha.
Doa yang dipanjatkan setiap malam berbuah. Bukan uang yang turun dari langit. Atau sejadah yang beranak rupiah. Ide. Sebuah ide muncul di kepala. Membuat sertifikat akhirat.
Ide mahal yang dibayar dengan doa puluhan malam. Guru kami pun mulai membuat konsep. Beliau meminta kawannya mengetik.
Sertifikat Akhirat
Dengan ini saya membeli tanah seluas ……. Meter. Di kampung Banyusuci Leuwiliang Bogor.
Tanah tersebut saya hibahkan kepada Pesantren Ummul Quro Al-Islami.
Yang memberi hibah Yang menerima Hibah
Sertifikat akhirat tidak langsung mendatangkan uang. Masih butuh usaha. H. Helmy berangkat membawa sertifikat akhirat ke Jakarta. Rumah demi rumah disalami. Beliau tidak kenal malu. Mencari dana bukan untuk pribadi. Ini adalah perjuangan. Demi kepentingan masa depan anak bangsa.
Rupiah demi rupiah pun didapat. Harga tanah waktu itu 2.500 per meter. Ada sekitar 6,000 meter tanah yang harus dibebaskan. Hasil keliling mencari dana door to door belum mencukupi.
Doa lagi.
H. Helmy tidak putus berdoa. Terngiang terus firman Allah dalam Al-Qur’an yang artinya, “Mintalah kepadaKu niscaya Aku mengabulkan.” Allah Maha Kaya, semua yang ada di dunia milikNya. Saat Allah berkenan, uang pasti datang.
Doa kembali memberi hasil. Sebuah ide muncul. Orang kaya banyak di Jakarta. Diantara mereka pasti ada yang berjiwa dermawan. Kalau ada seseorang yang membawanya ke rumah orang kaya tersebut, hasilnya pasti lebih besar.
Guru kami bertanya kepada santri, ustadz, wali santri bahkan tukang masak, apakah mereka punya kenalan orang kaya. Ternyata seorang tukang masak punya kenalan orang kaya. Di samping masak, dia mengajar ngaji. Anak yang dia ajar ngaji, ayahnya juragan tanah. Orang Betawi asli.
Ustadz Helmy diantar tukang masak ke rumah kenalannya. Doa itu terkabul. Si empunya rumah bersedia memberi uang 10 juta rupiah. Pinjaman.
Meski pinjaman tidak mengapa. Dengan uang itu ditambah hasil sertifikat akhirat, tanah seluas 6,000 meter pun dapat dilunasi.
Tinggal memikirkan bangunan.
Doa lagi.
Memang itu senjata pamungkasnya. Tabungan tidak ada. Warisan pun tiada. Apalagi harta benda. Yang ada hanya sebuah motor vespa. Itupun buah dari kuliah sambil kerja di Arab Saudi.
Dan pertolongan Allah itu selalu tiba. “Minta kepadaKu, niscaya Aku kabulkan.” Seorang dokter memberi kabar gembira. Adiknya yang tinggal di Jakarta berencana membangun masjid.
Singkat cerita, diadakan pertemuan antara guru kami dengan calon donator. Dokter sebagai penghubung. Adik dokter yang seorang insinyur bersedia membangun masjid di lokasi pesantren. Uang muka sedekah pun diberikan.
Pembangunan masjid berjalan di lahan yang masih kosong. Saat itu ustadz Helmy masih tinggal di pesantren tempatnya mengajar. Bahan bangunan sudah berdatangan. Semuanya adalah amanah yang harus dijaga. Menelantarkan amanah bisa berakibat fatal. Kepercayaan itu mahal.
Dengan bismillah, beliau membangun tempat tinggal di dekat masjid. Bukan rumah. Sebuah bedeng berukuran 3 x 2 meter. Dindingnya triplek, atapnya asbes, lantainya tanah. Agar dapat tidur nyaman, dibuatlah bale di dalam bangunan. Fungsi bale tersebut sebagai tempat tidur.
Dua puluh satu tahun telah berlalu. Doa demi doa terus dipanjatkan. Pesantren pun berkembang. Tahun pertama, hanya ada 20 orang santri yang mukim. Asramanya terbuat dari triplek. Kelasnya pun di bawah pohon. Sekarang bangunan triplek sudah tiada ada. Berganti dengan dinding tembok yang kokoh.
Luas pesantren bertambah. Kurang lebih sudah 7 hektar tanah dimiliki. Empat hektar sudah dibangun. Asrama, kelas, ruang makan, dan masjid berdiri megah. Santri sudah tembus angka 3,850 orang.
Semua ini merupakan anugerah. Allah Maha Kaya, segala yang ada di dunia milikiNya. Saat Dia berkenan, segalanya bisa ada.
Guru kami selalu bilang,
“Pesantren ini ada berkat doa.”

Advertisements

Perpus Hijau

Kamis, 12 Maret 2015 pagi menjelang. Semuanya sudah beres. Tas ransel menempel di punggung. Anak dan istri selesai dandan.
Nada keluar kamar duluan. Setengah berlari dia telusuri lorong dan berhenti tepat di depan lift. Saya dan istri mengejar. Saat pintu lift terbuka, kami sudah di sisinya. Di front office, dua orang resepsionis menyapa. Senyum lebar mengembang di wajah mereka. Setelan jas hitam dan dasi mengingatkan saya pada hari kelulusan dulu. Kunci saya serahkan.
Pagi ini kami harus bergerak lebih cepat. Rombongan sudah menunggu di statsiun Aljuneid. Sebenarnya jarak hotel dengan Aljuneid tidak terlalu jauh. Fragrance Emerald berada di lorong 6 Geylang, sedang Aljuneid berada di lorong 26. Dengan taksi, tujuh menit pun sudah sampai di tempat. Tarifnya sebesar 6 dolar singapura. Kami pilih MRT. Meski agak jauh, tapi menyehatkan.
Dari hotel, saya dan keluarga berjalan ke jalan raya Gelyang. Menelusuri trotoar yang sedikit lenggang. Di depan Airport Kallang, kami menyeberang. Nada nampak senang. Tas gendong berwarna merah muda melenggak lengok di balik punggungnya. Beberapa orang pejalan kaki berpapasan. Di sebuah halte bus nampak antrian. Pagi adalah waktu sibuk.
Statsiun Kallang di depan mata. Beberapa orang perempuan berlari. Saya kasih komando anak dan istri. “siapkan kartu”. Nada sibuk mencari kartu MRT. Setelah beberapa detik, kartu berwarna putih pun digenggam.
Pemerintah Singapura memberikan pelayanan yang maksimal kepada warganya. Transportasi yang menjadi nadi kehidupan disuguhkan dengan cara yang sangat elegan. Mass Rapid Trasportation merupakan lokomotif utama. Setiap waktu masyarakat Singapura bisa mengakses kereta api cepat ini. Dari ujung Barat sampai ke Timur dilintasi. Ada juga circle line yang menghubungkan Timur dengan Utara. Dari jalur Utara di tarik lurus ke Selatan. Lintasan-lintasan itu saling terhubung. Ditambah dengan SBS Transit, bus penghubung yang siap mengantar sampai di halte persinggahan.
Semua model trasportasi massal dibuat untuk memudahkan mobilitas warga. Hanya dengan membeli kartu, warga bisa mengakses MRT dan bus. Kenyamanan itu pun dinikmati oleh pelancong. Saat turun dari Changi Airport, tour guide menyarankan untuk membeli kartu itu. Dengan 30 dolar singapura, saya mendapat kartu yang siap pakai untuk tiga hari.
Sampai di Aljuneid ternyata rombongan belum kumpul semua. Tour leader kami, mas Gol A Gong sempat meneriaki beberapa orang anggota rombongan yang masih berjalan santai. Dia menyoal tentang empati yang kurang dimiliki oleh beberapa orang tersebut. Rata-rata masih muda, mahasiswa dan laki-laki. Padahal anggota rombongan perempuan sudah standby lama.
“Kita berangkat duluan, biar mereka nyusul” demikian keputusan mas Gong. Tujuan kami kali ini adalah National Library. Dari statsiun Aljuneid kami harus melewati beberapa statsiun. Saat MRT berhenti di Bugis, kami turun. Setelah berjalan sekitar 400 meter, kami sampai di depan gedung perpustakaan.
Sesi photo bersama tidak dilewatkan. Demikian juga photo sendiri-sendiri. Setiap sudut yang menarik dijadikan ground. Lumayan untuk variasi DP BBM.
Gedung 16 tingkat dengan tinggi sekitar 103 M siap dijelajahi. Tujuan pertama kami adalah Lee Kong Chian Reference Library. Nama tersebut dipakai setelah Dr. Lee Kong Chian melalui Lee Foundation mendonasikan uang sebesar 60.000.000 dolar singapura untuk pembangunan perpustakaan. Jika dirupiahkan dengan kurs sekarang tinggal dikalikan 9.500.
Perpustakaan untuk referensi itu menempati lantai 7 sampai 13. Masing-masing lantai menampung koleksi tertentu. Lantai 7 yang kami kunjungi khusus menyediakan buku referensi bisnis, sains dan teknologi. Buku-buku tentang seni dan ilmu sosial ada di lantai 8. Di lantai 12 dan 13 terdapat buku koleksi khusus. Tidak semua pengunjung boleh masuk ke lantai ini. Hanya orang tertentu yang mendapat izin untuk mengakses koleksi buku di lantai 12 dan 13.
Setelah puas di lantai tujuh, kami bergegas turun ke basment 1. Di sini terdapat green library.
Green Library terletak di dalam perpustakaan umum. Saat kami masuk, nampak sederetan orang sedang khusuk membaca koran. Mereka duduk di depan meja baca. Lembaran koran di hamparkan di atas meja. Beberapa ada yang mengambil buku dari rak. Saat anggota rombongan kami mengeluarkan suara yang agak gaduh, seorang petugas segera memberi isyarat untuk tenang.
Deretan pembaca koran kami tinggalkan. Mengarah ke sisi kanan, sebuah gerbang menyambut dengan riang. Seekor kelinci dan anak beruang menjadi penjaga. Kelinci di kanan, anak beruang di kiri. Di sebelah mereka terdapat bunga matahari tersenyum lebar. Kumbang, kupu-kupu dan burung hantu tidak mau ketinggalan. Mereka menyambut siapa saja yang hendak masuk. Diantara sekumpulan binatang lucu, berdiri sebuah plang kayu. Di atasnya tertulis “My Tree House World 1st Green Library for Kids”
Nada nampak senang. Berjalan di depan dia usap anak beruang. Saya dan istri mengikuti. Masuk gerbang yang diapit dua batang pohon. Kedua cabangnya bertemu di atas. Konsep green nampak jelas. Di dalam ruangan terdapat banyak rak-rak buku. Setiap ujung rak dibentuk menyerupai batang pohon yang cabangnya mencakar atap. Warna hijau muda mendominasi. Di tengah ruangan berdiri tegap sebatang pohon besar. Daunnya kombinasi hijau dan kuning. Sekililingnya ditaburi rumput hijau. Di belakang pohon, melengkung sebuah jembatan kayu.
Janganan anak kecil, orang dewasa seperti saya saja merasa nyaman tinggal di dalam ruang perpustakaan model ini. Koleksi bukunya banyak. Rata-rata cerita bergambar. Varian bahasa sesuai dengan etnis yang menempati tanah Singapura. Ada China, Melayu dan India. Mayoritas buku berbahasa Inggris.
Saat kami keluar dari ruang perpustakaan, serombongan anak kecil berhamburan dari arah lift. Mereka nampak antusias. Dua orang perempuan berjalan di depan. Dua orang lagi berjalan di belakang. Beberapa anak berlomba masuk perpustakaan. Dari seragam yang dipakai. sepertinya mereka masih duduk di Taman Kanak-Kanak.
Menatap ke arah rombongan anak TK, saya membayangkan masa depan. Singapura sedang menanam benih terbaik. Mereka menyediakan lahan yang subur. Tidak hanya bersandar pada kesuburan lahan, pemerintah Singapura juga memperhatikan pupuk yang cocok bagi pertumbuhan. Semuanya dijaga dengan sistem yang terorganisir. Hingga saat panen tiba.
Teringat saya pesan Guru Besar Ilmu Pendidikan Islam, Prof. Ahmad Tafsir saat mengisi mata kuliah Filsafat Pendidikan, “Satu jenis investasi yang harus dilakukan untuk membuat negara ini maju adalah investasi manusia”. Menurut beliau masa depan hanya bisa dibeli dengan sumber daya manusia yang mumpuni. Sebanyak apapun sumber daya alam pada akhirnya akan habis. Tapi sumber daya manusia tidak pernah habis. Karena manusia hidup.
Singapura negara kecil dengan sumber daya alam yang sangat terbatas. Dibandingkan dengan Indonesia, tentu bagaikan langit dan bumi. Kita punya beragam bahan tambang, gas alam, kekayaan laut yang melimpah, jutaan hektar hutan siap tebang. Semuanya adalah sumber penghidupan. Tapi hidup mayoritas bangsa kaya ini masih terbatas. Jagankan untuk berinvestasi, makan sehari pun harus dicari dengan perasan keringat dan air mata.
Peringkat Indonesia berdasarkan Human Development Indek (HDI) ada di tangga ke 108. Singapura yang hanya berjarak 1 jam 25 menit perjalanan udara berada di tangga ke 9. Laporan UNDP tahun 2013 tersebut menulis HDI Value Singapura 0,901. Berada di jajaran top ten negara dengan predikat HDI very high. Sedangkan Indonesia masih berkutat di angka 0,684.
Singapura yang sedang berjaya masih juga menanam. Konsep Perpustakaan Hijau merupakan bagian dari investasi SDM Singapura. Pemerintah mereka menyadari bahwa ilmu merupakan bahan bakar peradaban. Seperti matahari, ilmu akan menyinari. Bangsa yang berilmu nampak lebih terang dari pada yang kurang berilmu. Mendekatkan ilmu dengan manusia berarti menjadikan manusia cinta buku. Sudah menjadi rahasia umum bahwa buku adalah gudang ilmu. Perpustakaan sebagai gudang buku tentu harus menjadi magnet yang dapat menarik orang ke dalamnya.
Di sini konsep perpustakaan hijau mendapat tempat signifikan bagi masa depan. Anak sedini mungkin diperkenalkan dengan buku. Anak sedini mungkin diajarkan untuk cinta ilmu. Mereka diarahkan untuk belajar. Tapi satu hal yang tidak boleh dilupakan mereka perlu bersenang-senang. Buku, ilmu, pelajaran akan membosankan bagi anak bila dikemas secara konvensional. Perlu kreativitas untuk mengemas buku, ilmu dan pelajaran. Green library menjawab itu.
Melihat antusiasme anak-anak masuk ke perpustakaan menjadi bukti sahih. Saatnya kita pun menanam. Tentu bukan sembarang tanam. Menanam dengan riang. Sehingga benih yang kita tebar akan tumbuh segar.

Modus di Tanah Haram

Ribuan kaki menderu. Dari pintu-pintu besar mereka berasal. Ada yg berlari. Entah mengejar apa. Ada yg berjalan santai sambil memandangi sekitar. Ada juga yg berhenti merogoh kantong. Ponsel pun ke luar. Beberapa kali mata kamera diarahkan ke berbagai sudut. Puas mendapat banyak gambar. Terakhir. Photo selfie.
Langkah kaki saya pun berbaur dengan ribuan lainnya. Pelataran maha luas menjadi padang manusia. Bergegas menuju pintu-pintu keluar. Gate 16, tujuan saya.
Sekitar seratus langkah sebelum gerbang, suara langkah di belakang menjajari saya. “Speaking english?” Seorang pria bertudung kain tipis menghapiri. Saya anggukkan kepala.
Langsung dia berbicara dgn nada memelas. “I lost my wallet, my wife … my children … sick. I need money to buy medicine…”
Pria itu mengaku dari Pakistan. Saya percaya, wajah dan penampilannya sdh mencirikan. Tanpa bilang pun semua yg melihat langsung bisa mengira dia pakistani.
Dia terus saja menjajari langkah. Saya berhenti, pun dia berhenti. Masih mengulang perkataan dan memelas. Insting saya mengarahkan mata ke matanya. Mata tidak bisa berdusta.
“Please my wife my children sick…”
Saya rogoh kantong celana. Dia nampak berbahagia. Selembar 50 real saudi muncul.
“I need fifty real”
Lembar itu saya masukan lagi. Lima puluh real untuk seorang pengangguran terlalu besar. Andai dia dapat sepuluh orang, sudah 500 real didapat. Satu real saudi senilai 3700 rupiah.
Sebenarnya naluri saya mengatakan, “tidak”.
Sedekah ada tempatnya. Itupun dengan jalan kerelaan. Ini sudah pemaksaan alias penodongan.
Tapi logika saya berkata, “biarlah”. Memberi tidak akan rugi selama pas di hati.
Maka satu lembar 10 real saudi saya keluarkan.
Laki-laki bertudung menerima. Dia tetap memaksa, 50 real. Saya semakin yakin. Ini sebuah modus. Tanpa melihat lagi saya berjalan cepat.
Di kamar saya ceritakan kepada istri. Tanggapannya luar biasa. “Tadi juga ada yg kayak gitu” ternyata rombongan istri saya pun dihampiri. Namun dengan orang berbeda. Istri dan teman-tamannya memberi masing-masing lima real.

Ternyata modus tidak hanya terjadi di terminal, pasar atau statsiun. Di tempat suci yang seharusnya dimaksimalkan untuk beribadah ada juga. Itulah manusia tidak semuanya sama. Terkadang ada saja yang senang menari kesempatan dalam segala keadaan. Di mana ada keramaian di situ dia mencari penghasilan.

Semoga oknum-oknum tersebut secepatnya mendapat hidayah. Sehingga tidak berlama-lama mengotori kesucian tanah haram.

Dari Buenos Aires sampai Pasar Singosari

Udara Singosari selalu spesial. Duduk di teras depan rumah, menjadi pilihan menarik saat matahari mulai beranjak naik. Meski gendang telinga terus menerus diteror suara bising knalpot, hati tetap adem. Sebising apapun polusi suara tertutupi oleh semilir angin yang menyenggol dedaunan. Sejuk. Setiap kali hidung menghirup, dada terasa dipenuhi kekuatan magis yang menenangkan.
Lembar berganti lembar. Mata masih setia mengikuti setiap baris kata. Tiga hari lalu, aku pergi ke toko buku. Satu hal yang tak pernah terlewatkan. Mengisi kekosongan sambil menunggu hari-hari di kota apel. Buku menjadi pelarian favoritku. Lima buah buku berhasil aku bawa pulang. Salah satunya, The Secret Letters of the Monk Who sold His Ferrari. Buku fiksi dari penulis yang sudah ku kenal sejak lama. Robin Sharma, orang Amerika keturunan India yang berhasil menyita perhatianku lewat buku terlarisnya, The Monk Who Sold His Ferrari. Kebetulan buku yang ada di tangan sekarang, sekuel dari buku laris tersebut.
Aku dibawa mengudara oleh Robin Sharma. Dari kegilaan seorang eksekutif muda di belantara kesibukan Eropa, menelusuri kota tua yang dindingnya dihiasi coretan di pinggiran Buenos Aires. Belum lama terperdaya oleh alunan musik Amerika Latin dan tarian Tango nan eksotik, aku dibawa terbang lagi. Kali ini ke sebuah apartemen mewah berlantai tiga. Dari balkon lantai tiga, terlihat dua sisi dunia. Eropa dan Asia. Istanbul selalu membuat aku merinding. Kisah yang pernah ku baca tentang perjuangan Sultan Muhammad Al-Fatih menaklukkan ibukota Romawi Timur tidak pernah bisa hilang dari kepala. Keelokan Hagia Sophia, Selat Tanduk Emas, Selat Bosphorus dan Hippodrome membuat anganku melayang.
“Permisi!” Sosok berbalut kaos hitam menyita pendengaranku. Wajah aku palingkan ke arah suara. Samar terlihat seorang laki-laki membawa dua dus air mineral. Bagian atas kepalanya tertutup topi hitam. Aku sering melihat topi itu di cuplikan film cowboy. Matanya tersembunyi di balik kaca mata hitam. Sempurna, topi cowboy dan kaca mata hitam saat matahari mulai naik ke tengah langit.
“Di taruh di sini?” aku mengangguk sambil menghampiri. Laki-laki itu berlalu. Tidak berapa lama, dia kembali dengan kardus yang lain. Kuat. Saat, siang menjelang, perut mulai lapar dan tenaga berkurang, laki-laki itu seolah tanpa beban memindahkan dus demi dus dari kendaraannya ke pelataran rumah.
“Becak, tunggu!” baru saja selesai membantu mengangkat dus-dus yang berserakan di depan rumah, dari dalam terdengar suara ibu berteriak. Instingku bergerak cepat. Buku yang baru saja aku pegang, setelah berjibaku dengan dus kembali diletakkan. Langkah kaki segera ku bawa ke luar. Si abang becak hampir saja berlalu.
“Tunggu, mas, eh pak”
Aku baru sadar ternyata laki-laki pembawa dus itu tidak semuda dugaanku. Garis-garis keriput di wajah bercerita banyak. Apalagi saat dia membuka mulut. Senyumnya dihiasi dua buah gigi yang sama-sama berada di gusi bawah. Gusi atasnya merah. Tidak tersisa satu pun gigi.
Laki-laki tua masih memakai topi cowboy dan kaca mata hitam. Becak yang sudah siap ditancap, dia parkir kembali. Aku bimbing dia masuk.
“Silahkan duduk”
“Ada yang tertinggal, mas?”
“Tunggu sebentar, ibu masih ada perlu”.
Waktu menunggu aku manfaatkan. Sosok yang duduk tepat di hadapanku tentu menyembunyikan cerita menarik. Sayang kesempatan seperti ini berlalu begitu saja.
“Sudah lama mas, dari tahun tujuh puluh satu”. Bapak tua menjawab pertanyaanku. Ternyata becak adalah bagian terbesar dari sejarah hidupnya. Kedua kakinya sudah akrab dengan pedal becak, semenjak muda. Dari hasil becak dia bisa melamar seorang gadis yang memberikannya empat orang anak. Dari becak dia bisa menyekolahkan anak-anaknya. Dari hasil sekolah anak-anaknya bisa kerja. Tiga orang anaknya laki-laki, satu perempuan. Anak-anak yang besar dari hasil kayuhan becak tersebut sudah berkeluarga. Tujuh orang cucu lahir ke dunia.
“Dulu saya mangkal di Pasar Besar”. Empat puluh tiga tahun yang lalu, si abang becak memulai karirnya. Pasar Besar adalah destinasi yang paling menggiurkan bagi para pembecak. Pasar yang terletak di jantung kota Malang selalu ramai pengunjung. Becak menjadi kendaraan favorit. Terlebih saat itu serangan roda dua dan empat dari Jepang belum dimulai. Menjadi tukang becak pada saat itu selevel dengan sopir taksi.
Seiring waktu, lahan pembecak mulai digerus tukang ojek dan sopir angkot. Pasar Besar meski masih memberi ruang kepada para pembecak, sudah tidak sekondusif dulu. Terlebih pertambahan usia juga menjadi faktor yang memperlemah persaingan.
“Tahun delapan puluh tiga, saya pindah ke Singosari”.
Dari tahun 83 sampai sekarang si bapak masih setia menunggu pelangan di depan pasar Singosari. Lebih empat puluh tahun tenaganya dikuras untuk mengayuh becak. Entah berapa generasi yang sudah menikmati tarikan becaknya. Entah berapa ribu kilo perjalan yang ditempuh selama itu. Entah sudah berapa ribu liter keringat yang mengucur di sepanjang perjalanan. Entah sampai kapan si bapak masih kuat mengayuh.
“Saya mangkal di bawah tangga penyeberangan jalan, sebelah kiri. Tanya saja pak …. (dia menyebutkan nama, tapi saya lupa) semua orang tau”.

Bumi Laskar Pelangi Memanggilmu Kembali

Belitung adalah sebuah pulau di Sumatra sudah banyak diketahui orang. Tapi bagaimana Belitung dengan alam beserta masyarakatnya, masih menjadi tanda tanya. Penduduk Indonesia hanya mengetahui Belitung dari pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial. Tidak banyak ahli yang meneliti Belitung. Tidak banyak penulis yang menceritakan Belitung. Pulau yang tidak seberapa jauh dari Jakarta tersebut seolah terpencil dari keramaian berita.

Itu dulu, sebelum Andrea Hirata menggoreskan pena. Kisah lama Andrea dengan ibu guru Muslimah beserta kawan-kawannya dalam Novel Laskar pelangi mengubah nasib Belitung. Pulau yang dulu masuk ke dalam wilayah Sumatra Selatan, sebelum ada pemekaran provinsi Bangka-Belitung sekarang menjadi salah satu tujuan wisata di Indonesia. Belitung menjelma gadis remaja yang memikat indra.

Libur panjang Idul Adha saya manfaatkan untuk mengunjungi Belitung. Bersama istri dan putri kecil yang baru berusia empat setengah tahun, saya menginjakkan kaki di Bandara H. A.S. Hanandjoeddin Tanjung Pandan ketika langit mulai ditutupi awan mendung. Memasuki arrival hall bandara seperti masuk ke dalam ruang keluarga. Tidak ada banyak sekat, pintu masuk dan pintu keluar hanya berjarak sepandangan mata. Saya bisa mengambil bagasi dengan leluasa dan menemukan penjemput tanpa harus mencari lama.

Mobil Avanza Veloz berwarna silver melaju perlahan meninggalkan Tanjung Pandan. Mobil sewaan tersedia bagi siapa saja yang ingin mengelilingi Belitung. Harga sewa relative terjangkau. Hanya dengan mengeluarkan uang dua ratus ribu rupiah ditambah seratus ribu untuk sopir pengunjung sudah bisa berkeliling pulau seharian. Bagi pengunjung yang baru pertama kali ke Bumi Laskar Pelangi, menyewa mobil plus sopir menjadi pilihan wajib. Di pulau ini belum tersedia angkutan umum selayaknya di kota.

Baru beberapa meter memasuki jalan Sudirman, kaca depan mobil sudah ditetesi air hujan. Langit Belitung dipenuhi awan hitam. “Alhamdulillah bapak sampai sebelum turun hujan”, suara Bang Rizal sopir sekaligus guide kami memecah keheningan. Dia bercerita tentang seringnya para penjemput gigit jari gara-gara pesawat gagal mendarat. Biasanya penerbangan ke Belitung ditunda ketika cuaca mendung. Bahkan sering kali pesawat kembali ke Jakarta karena Tanjung Pandan diguyur hujan.

Dalam hati saya bersyukur. Andaikan pesawat gagal mendarat, saya harus menunggu esok untuk menyapa alam Belitung yang katanya masih segar. Hanya ada lima kali penerbangan dari Jakarta ke Tanjung Pandan. Pagi dua kali, siang dua kali dan sore sekali. Tidak ada nama Garuda Indonesia dalam list maskapai ke Belitung. Hingga saat ini baru dua maskapai yang menyediakan layanan terbang menuju Negri Laskar Pelangi; Batavia air dengan dua kali penerbangan dan Sriwijaya air tiga kali.

Penerbangan one way ke Tanjung Pandan dengan Batavia air tidak harus merogoh saku dalam-dalam. Hanya dengan tiga ratus sampai empat ratus ribu, kita bisa diterbangkan boing ke pulau Belitung. Sementara Sriwijaya sebagai maskapai yang pertama membuka penerbangan ke Belitung mematok harga yang lebih mahal. Satu kali penerbangan Jakarta-Tanjung Pandan, penumpang dikenankan biaya antara tujuh ratus sampai sembilan ratus ribu rupiah.

Menembus jalan raya Belitung dalam guyuran hujan menjadi pengalaman pertama kami di pulau ini. Kosongnya jalan membuat mata hanya bisa menyaksikan bulir-bulir air yang berlari seiring sopir menginjak pedal gas. Sepi. Saat diguyur hujan Belitung seperti anak jangkrik terinjak sepatu. “Orang Belitung ke mana-mana pakai motor, kalau hujan begini enggak ada yang berani ke luar”. Kembali Bang Rizal menjelaskan. Ternyata orang Belitung tidak mengenal angkutan umum. Bus hanya beroperasi sampai tengah siang. Tidak ada taksi, angkot, bemo, becak atau angkutan lain. Makanya di Belitung pelancong tidak akan menemukan kemacetan. Berkendaraan di Negri Laskar Pelangi seolah memacu mobil di jalan pribadi. Meski demikian harus tetap hati-hati, para pengendara motor terkadang memacu tunggangannya secepat kilat. Mulusnya kondisi jalan ditambah dengan ketiadaan kendaraan umum membuat pengendara merasa bebas menjurus bablas. Menurut penuturan Bang Rizal sering terjadi kecelakaan gara-gara kelakuan pengendara motor yang ugal-ugalan.

Penginapan Tersedia dengan Banyak Pilihan

Dari ruas jalan Sudirman, Avanza Veloz berbelok ke arah jalan Diponogoro. Setelah beberapa kilo menembus hujan, mobil masuk ke jalan Tanjung Pendam. Sepanjang jalan yang berada di pesisir pantai itu, berderet bangunan megah. Hotel berbintang berdiri megah meninggalkan rumah penduduk yang hanya berdinding setengah tembok. Nama-nama seperti Bahamas, Grand Pelangi, Grand Satika, Biliton, Lorin dan lain-lain berlomba menawarkan akomodasi kelas bintang bagi para pengunjung.

Di hotel Bahmas tempat saya dan keluarga menginap ada beberapa tipe kamar. Bagi pengunjung yang ingin tinggal di hotel berbintang tapi dengan harga terjangkau, ada pilihan standard. Tarif permalam tipe ini hanya Rp. 695.000. Sedangkan untuk pengunjung yang menginginkan kenyamanan sekaligus keleluasaan ada tipe residen suit dengan tarif Rp. 1.900.000. Diantara kedua tipe tersebut ada tipe luxs dan suit yang harganya tidak lebih sari satu juta rupiah permalam.

Jika harga yang ditawarkan oleh hotel berbintang masih belum terjangkau, pengunjung masih memiliki alternatif lain. Di jalan Kamboja arah Gatot Subroto terdapat penginapan melati. Penginapan yang dimiliki oleh penduduk setempat menawarkan harga sangat terjangkau. Untuk biaya semalam, pengunjung hanya mengeluarkan uang antara Rp. 70,000. s/d Rp. 200,000.

Apa yang diberikan penginapan melati? Spring bed plus dengan bantal, kamar mandi tanpa shower dan kipas angin. Untuk sekedar melepas lelah setelah seharian mengelilingi Belitung, penginapan melati sudah mencukupi.

Makan Malam di Sari Laut

Mengunjungi Belitung tidak lengkap jika melewatkan sesi makan ikan. Sebagaimana daerah pesisir lain, tanah kelahiran Andrea Hirata menawarkan berbagai macam panganan laut. Para penggemar seafood bisa makan banyak juga enak di sini. Dan tentunya dengan harga terjangkau.

Di jalan Baru, Kampung Damai ada sebuah rumah makan yang menjadi tujuan wisatawan. Setiap hari deretan mobil kecil atau bus memenuhi parkir area di depan rumah makan Sari Laut. Bahkan terkadang pengunjung harus memarkirkan mobil di pinggir jalan. Makan malam di Sari Laut tanpa reservasi terlebih dahulu bisa menyulitkan. Saya dan keluarga harus mencari meja kosong yang belum dipesan. Setelah berkeliling sambil mengamati, akhirnya dapat sebuah meja bundar yang masih penuh dengan piring kotor.

Bang Rizal memesan satu paket makanan untuk empat orang. Sebakul nasi, udang goreng, baso ikan, kepiting goreng, gangan dan tumis kangkung menjadi menu kami. Masakan yang paling menarik perhatian saya adalah gangan. Menurut Bang Rizal, ini makanan khas orang Belitung. Ikan yang dimasak harus fresh dari jenis Ketarap atau Bulat. Kuah ikan berwarna kuning, perpadauan antara kunyit, lengkuas dan bumbu dapur lain. Rasa kuah sop ikan gangan agak pedas. Konon rasa pedas ini untuk menetralisir bau amis ikan. Sebagai penyegar, sajian gangan dihiasi potongan nanas muda.

Saya hanya membayar Rp. 265.000. untuk satu paket makanan tadi. Harga yang terjangkau untuk kualitas makanan yang mantap.

Selain rumah makan yang tertutup, pulau timah juga menyediakan warung kaki lima. Di sepanjang pesisir Tanjung Pendam berderet warung makan. Ada yang berbentuk semi kafe dengan hiburan live music atau nonton bareng. Ada juga yang hanya bermodal gerobak dan kursi meja. Pengunjung bebas memilih tempat makan malam.

Menu yang ditawarkan beragam, lebih variatif dari rumah makan. Dari mulai nasi goreng, bakso, sop iga, sampai otak-otak, tersedia di warung kaki lima. Harganya sangat terjangkau. Satu porsi nasi goreng Rp. 12.000. Nasi dan sop iga Rp. 25.000. Goreng otak-otak perbiji Rp. 2.000.

Sarapan Mie Belitung

Bangun pagi, mandi kemudian sarapan pagi di resto hotel bukan pilihan baik di Belitung. Sarapan roti atau nasi yang menjadi rutinitas di rumah harus dihentikan sementara. Pulau Laskar Pelangi menawarkan sesuatu yang berbeda. Sarapan mie Belitung.

Mobil sewaan meluncur dari lobi hotel menuju jalan Sriwijaya. Di antara deretan toko di jalan Sriwijaya 27, ada sebuah warung sederhana. Dari plang yang terpampang di depan warung tertulis nama ‘Warung Atep’. Bukan Asep orang Sunda, tapi Atep. Pemilik warung yang spesialisasinya Mie ini adalah warga Belitung keturunan Tionghoa.

Setelah mobil parkir, saya dan rombongan segera menyerbu warung. Tidak ada kursi kosong. Jam 7.00 s/d 9.00 adalah waktu tersibuk Warung Atep. Warung yang lebarnya hanya sekitar 4 meter itu penuh disesaki pelanggan. Terpaksa saya dan keluarga harus menerobos keramaian. Berjalan masuk ke bagian dalam warung. Di dalam ada empat meja yang masing-masing dikelilingi empat kursi. Tiga meja sudah berpenghuni. Saya kebagian di tengah.

Bang rizal datang membawa minuman. “Enggak usah repot-repot, bang. Biar pelayan yang bawain”, saya berusaha mencegah Bang Rizal. Sambil tersenyum, guide yang masih jomblo itu membuka mulut “Di sini kalau tidak ambil sendiri, bisa enggak kebagian”. Tiga buah piring dan tiga gelas tersusun rapi di meja berkat servis bang Rizal.

Mie Belitung adalah sarapan khas di pulau timah. Mie kuning diberi kuah kaldu sapi. Sebagai tambahan, irisan kentang, tahu dan bakwan bersatu padu dengan udang di dalam piring. Emping melinjo menjadi penutup serasi bagi makanan yang didominasi warna kuning tersebut. Untuk mendapatkan satu porsi mie Belitung, pengunjung hanya dikanai tarif delapan ribu rupiah.

Wisata Pulau

Setelah perut kenyang, saatnya jalan-jalan. Tujuan utama adalah pulau-pulau kecil yang tersebar di sekeliling Belitung. Dari jalan Sriwijaya, mobil melaju menyusuri jalan batu itam. Tidak ada traffic jam. Jalanan halus dan lurus. Tikungan kecil sesekali menyelingi. Tanpa ada pegunungan. Hanya deretan batang-batang pohon. Tanah tanpa bangunan terhampar luas disamping rumah sederhana penduduk. Dari kaca mobil, hanya ada langit yang membatasi pandangan. Menikmati perjalanan menuju Tanjung Kelayang seperti berpacu mencapai kaki langit.

Tanjung Kelayang adalah dermaga kecil tempat beberapa perahu bermesin berlabuh. Wisatawan tidak diminta bayaran masuk, hanya uang parkir yang dibayar saat mobil memasuki wilayah dermaga. Untuk berkeliling pulau atau biasanya disebut tour pulau, saya hanya membayar sewa perahu Rp. 450,000.

Tujuan pertama dari tour pulau adalah Lengkuas. Pulau kecil yang pernah digunakan Belanda untuk mengintai perairan Belitung tersebut berjarak 30 menit perjalan dari Tanjung Kelayang. Sepanjang perjalanan, saya bisa menikmati keindahan bawah laut perairan Belitung. Air yang jernih kehijauan membuat mata bisa menembus terumbu karang. Tiupan angin menambah indah permukaan laut. Seolah milayaran kubik air berwarna kehijauan itu berlomba merenggangkan tubuh mengikuti alunan musik alam. Sebuah harmoni yang membuat saya tambah mensyukuri karunia yang telah diberi oleh Sang Pencipta.

Perahu bermesin berlabuh dipinggir pantai. Saya dan keluarga turun melalui tangga kayu lusuh. Di dasar, hamparan pasir putih mengajak bercengkrama. Tanpa harus menyelam, mata dimanjakan oleh pemandangan bawah laut yang sangat indah. Dengan mata telanjang saya bisa melihat sekelompok ikan bermain di celah-celah karang. Kalau merasa belum puas, pengunjung bisa berenang sambil menyelam.

Selain menjadi tempat berenang atau menyelam, Tanjung Kelayang juga menyajikan wisata naik menara. Di pulau yang tidak terlalu luas tersebut, masih berdiri tegak sebuah mercusuar peninggalan Belanda. Di bagian depan mercusuar tertulis tahun pembangunan 1882. Hingga sekarang mercusuar tersebut masih digunakan untuk navigasi.

Putri saya yang baru berusia 4 tahun 4 bulan mengajak naik. Dengan modal membayar lima ribu rupiah kepada penjaga, kami menaiki mercusuar. Sebelum naik, pengunjung diminta untuk mencuci kaki. Ritual ini dilakukan untuk menjaga kelangsungan Mercusuar. Karena air laut bisa merusak konstruksi bangunan yang terbuat dari baja.

Satu demi satu anak tangga kami lalui. Cucuran keringat tidak begitu saya hiraukan. Nada tidak mengeluh capek. Dia terus melangkah naik. Setelah melewati 17 lantai, akhirnya saya dan Nada sampai di ujung menara. Memandang perairan Belitung dari atas mercusuar seperti melihat sorga sebelum mati. Saya hanya bisa berucap, Maha Suci Allah yang telah menciptakan segala sesuatu dengan hikmah.

Pulau berikutnya yang kita kunjungi adalah Pulau Burung. Di pulau yang dimiliki pribadi ini, pengunjung bisa menikmati kelapa hijau. Hanya dengan empat ribu rupiah, sebuah kelapa hijau muda bisa menjadi pelepas dahaga. Tidak banyak pengunjung yang berenang di pantai pulau burung. Kebanyakan hanya turun untuk menikmati pemandangan sambil mengabadikannya dengan kamera.

Dalam perjalanan pulang, kami melewati Pulau Batu Belayar. Pulau yang tidak begitu jauh dari Tanjung Kelayang itu sangat unik. Daratan yang tercipta adalah hasil perpaduan batu-batu granit raksasa yang tersusun rapi. Susunan batu tersebut jika diamati lebih seksama menampakkan gambar perahu. Sebuah perahu yang baru saja meninggalkan dermaga. Maka tidak salah jika pulau ini diberi nama Batu Belayar.

Tanjung Tinggi

Sebenarnya tidak ada aturan tertulis yang mewajibkan wisatawan berkunjung ke Tanjung Tinggi. Tapi menginjakkan kaki di Pulau Belitung tanpa sempat ke Tanjung Tinggi sama saja belum berziarah ke negri Laskar Pelangi. Pantai Tanjung Tinggi adalah salah satu lokasi shoting film Laskar Pelangi.

Riri Reza tidak salah memilih pantai ini sebagai lokasi shoting. Tanjung Tinggi berbentuk cerukan. Airnya tenang. Pasirnya putih bersih. Tidak ada gulungan ombak yang bisa membahayakan nyawa. Anak-anak bisa berenang di tepi pantai dengan leluasa. Dan kalau ingin lebih ke tengah, pengunjung bisa menyewa perahu karet.

Sajian utama dari pantai Tanjung Tinggi adalah hamparan batu granit raksasa. Masuk ke arena pantai, seolah menelusuri lorong goa. Batu-batu besar berdiri seperti penjaga. Diantara celah batu terhampar jalan berlantai pasir. Sepanjang bibir pantai, saya bisa melihat jutaan kubik batu berdiri tegak menantang angin. Berphoto di depan batu yang menjulang seolah kembali ke zaman purba. Sungguh unik dan eksotik.

Ingin Kembali

Dua hari, dua malam saya habiskan waktu di negri laskar pelangi. Saat matahari minggu masuk melalui celah jendela yang terbuka, saya harus berkemas. Pakaian kotor berpasir ditempatkan dalam plastik. Sisa pakaian yang masih bersih tetap dibiarkan dalam koper. Satu plastik berisi kaos Belitung masuk menemani pakaian tersisa.

Masih ada satu dus sedang oleh-oleh. Makanan dan cinderamata yang harus dibawa ke rumah. Jalan-jalan tidak beli oleh-oleh seperti pagi tanpa matahari. Dalam dus tersebut bertumpuk makanan khas Belitung. Dua kantong terasi udang, orang melayu menyebutnya Belacan di barisan bawah. Delapan plastik ukuran sedang kerupuk ikan di deret atas. Pernak-pernik dari cangkang kerang bertumpuk di tengah.

Mendapatkan oleh-oleh khas Belitung sangat mudah. Di beberapa titik jalan Sriwijaya ada took yang secara khusus menawarkan oleh-oleh Belitung. Pengunjung tinggal memilih dan langsung meminta dibungkus. Agar tidak repot saat pulang, pengunjung bisa meminta pelayan toko mengikat dengan tali presser. Jadi saat masuk bandara, kardus oleh-oleh bisa langsung masuk bagasi.

Mobil sewa sudah siap di depan lobby hotel. Semua barang bawaan masuk ke dalam bagasi. Nada masih enggan beranjak dari tempat dia berdiri. Putri pertama saya tersebut mengisyaratkan sesuatu. Dia masih betah di Belitung. Alam yang masih segar membuat naluri anak berusia empat tahun tersebut terpaut. Keramahan penduduk, kenyamanan lingkungan yang dia alami selama dua hari member kesan yang dalam. Maka sayapun berkata, “Nada, sekarang pulang. Insaallah liburan akhir tahun kita ke sini lagi”

Nada pun tersenyum. Sebuah senyuman yang sangat indah di pagi nan cerah. Bundanya juga tersenyum. Semoga Tuhan masih memperkenankan kami ke Negri Laskar Pelangi akhir tahun nanti. bangka belitung

Jalan

Sabtu pagi baru saja dimulai, selintas keinginan bersemayam di kepala. Rutinitas menonton tv setelah sholat subuh segera diakhiri. Saya ganti kostum. Sebuah training plus kaos oblong menempel di tubuh. Pandangan mata tertuju ke kunci motor. Pagi ini saya ingin sarapan bubur.

Dua kaki melangkah mantap. Tidak ada deru suara knalpot hasil pembakaran mesin motor. Saya putuskan berjalan. Mumpung masih pagi. Jam di tangan belum juga menunjukkan angka enam. Matahari masih malu-malu menunjukkan wajahnya. Hanya seberkas cahaya jingga melukisi langit di tepi Barat. Beberapa orang santri yang baru ke luar kelas menatap sekilas. Saya balas dengan senyum. Gerbang bawah masih belum berpenghuni. Satpam malam sudah pulang, yang bertugas pagi belum sampai tempat. MUngkin sedang sibuk dengan urusan perutnya.

Terus melangkah melewati deretan kelas yang baru selesai dibangun, saya ditodong dua pilihan; terus menaiki jembatan atau turun ke kebun. Jika memilih menaiki jembatan baru berarti saya berjalan mengikuti arus mobil dan motor, pilihan kedua saya harus turun menyusuri batang-batang sengon kemudian berjalan searus aliran sungai cigatet. Saya pilih yang kedua.

Entah sudah berapa tahun kaki ini tidak diajak berjalan jauh. Sudah terlalu lama saya dimanja teknologi. Motor menjadi primadona. Kembali menikmati perjalanan di atas telapak kaki menghadirkan sensasi yang luar biasa. Meski peluh terus mengalir, namun suasana hati diteduni awan kenyamanan. Sepanjang jalan di pinggir kali cigatet sepuasnya saya menikmati pemandangan. Beberapa orang ibu tengah sibuk mencuci. Bukan hanya pakaian, beraspun mereka cuci di pinggir kali. Sungguh peninggalan kompeni Belanda yang satu ini sangat bermanfaat. Kanal yang dibuat menembus pemukiman penduduk sejatinya dibuat Belanda untuk saluran irigasi. Irisan tanah yang dialiri air dari sungai besar tersebut menjadi bagian yang tidak tarpisahkan dari kehidupan masyarakat sekitar. Mandi, mencuci dan juga buang hajat dilakukan di sana. Meski zaman terus melangkah, tapi tradisi masyarakat pinggir kali masih tetap sama.

Tidak terasa sudah hampir dua puluh menit saya berjalan. Di depan sudah terbentang jalan raya leuwiliang. Sebuah papan reklame berwarna putih-hijau menyita mata. Papan yang sudah sangat lama tergantung itu tampak lusuh. Selusuh bangunan yang menjadi muara dari papan tersebut. Bisnis perphotoan memang sudah hampir gulung tikar. Studio photo yang dulu paling terkenal tersebut kini sudah hampir sekarat. Fuji Film nama yang sempat mengakar di kepala masyarakat, nampak kelelehan mengejar kemajuan zaman. Masyarakat sudah jarang datang ke studio untuk diphoto. Mereka sudah memiliki kamera sendiri. Berbagai merek handphone yang dilengkapi fitur kamera sudah bisa mencukupi kebutuhan akan photo. Untuk urusan cetak, mereka juga bisa mem-print sendiri.

Rute perjalanan saya tidak bermuara di lapangan leuwiliang. Saya mengambil arah kanan. Tukang bubur yang menjadi destinasi mangkal di pasar bawah, jadi pilihan ke kiri merupakan yang terbaik.

Menyeberang jalan di pagi hari sangat mudah. Mobilitas kendaraan masih minim. Ketika sampai di muka jalan, hanya ada beberapa sepeda motor yang melintas. Angkutan umum yang biasa memenuhi jalan leuwiliang tidak nampak satu pun. Mungkin masih ngetem di tepi pasar atau di pertigaan karacak, menanti penumpang sampai penuh. Dari fuji film saya masih harus berjalan sekitar 100 meter. Di samping polsek leuwiliang, saya menepi. Tukang bubur yang dicari berada di deretan ruko.

Entah sudah seberapa banyak peluh menetes. Bagian punggung sudah terasa basah. Wajahpun tidak bebas dari seranagn peluh. Dengan kaos yang dipakai, saya usap butiran peluh. Menarik napas dalam sambil menanti tukang bubur menyiapkan pesanan, terasa melegakan. Masih belum banyak pembeli datang ke tempat tersebut. Hanya ada seorang lelaki yang sedang menyantap bubur di dalam ruko. Biasanya saya harus mengantri untuk mendapat seporsi bubur. Mungkin hari masih terlalu pagi.

Dengan tiga bungkus bubur di tangan saya melangkah pulang. Ide naik ojek sempat melintas. Secepat kilat saya hempaskan. hari ini tidak ada motor. saya harus jalan. Meski terasa pegal, saya lanjutkan perjalanan. Rute pulang saya ubah. Tidak masuk ke gang depan fuji film. saya memilih gang samping rumah Haji Taufik, direktur bank amanah umah. jalan yang menjadi saksi mobilitas saya bebapa tahun lalu. Melalui jalan ini saya pulang pergi ke membawa dagangan. Tidak banyak orang tahu. Karena memang tidak perlu diketahui.

Jalan kenangan saya lalui perlahan. Tanpa uang cukup saya pilih berjalan. Sebenarnya dulu sudah ada tukang ojek, tapi saya lebih sering jalan kaki. Melintasi rumah besar orang terkaya di leuwiliang saya terkejut. Tepat di belakang rumahnya ada komplek kuburan tiongkok. Sekarang kuburan-kuburan tersebut tidak nampak. Kuburan sudah ditutup rapat. Pagar tembok mengelilingi komplek kuburan. Di atas pagar berdiri seram pecahan kaca dan botol. Pintu pagar berwarna hitam. Terkunci rapat. Tidak ada celah untuk mengintip keadaan di dalam.

Saya terus berjalan. Berpapasan dengan beberapa orang anak yang baru bangun tidur. Seorang lelaki nampak serius memandikan motor. Kendaraannya dibersihkan tapi dirinya sendiri masih belepotan sisa belek tadi malam. saya tersenyum. Seorang ibu menyapa. ternyata dia kenal saya. saya jawab pertanyaannya. Dia masih bengong. Enatah apa yang ada di dalam kepalanya. Biarlah dia menebak sendiri.

Rumah ust. abdul muthi sudah nampak. seratus meter arah barat dari rumah tersebut nampak barisan bangunan kokoh. bangunan yang berdiri di bekas sawah tersebut kini menjadi hiasan kampung banyuresmi. Setiap hari mereka menatap sepuasnya. bangunan yang juga menjadi bagian dari kehidupan mereka. Semakin banyak bangunan yang berdiri, semakin besar pula harapan mereka. Sudah menjadi fakta bahwa sebagian besar penduduk kampung banyuresmi menjadi buruh cuci di pesantren. Dengan bertambahnya santri berarti bertambah pula penghasilan mencuci mereka. Sebuah jalinan yang sama-sama menguntungkan.

Akhirnya sampai juga di komplek pesantren. Ratusan tetes peluh sebanding dengan kebahagiaan yang bersemayam dalam hati. terlebih di tangan saya ada tiga plastik bubur. Saya satu, bunda dan nada sorang satu. This is breakfast time.

Kota Bunga itu Bernama Doha

Jarum jam menunjukan pukul 6.45 waktu Qatar atau 10.45 WIB ketika kaki saya melangkah keluar dari airport internasional Doha. Sebenarnya sebagai penumpang pesawat transit saya dan rombongan tidak bisa keluar dari area airport, namun berhubung pengelola travel berhasil melobi pihak manajemen penerbangan Qatar akhirnya kami bisa menengok Negara teluk yang sedang naik daun ini. (more…)