Manajemen Berbasis Sekolah

Istilah Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) berasal dari School Based Manajement, dimana sekolah menjadi pelaku utama dalam mengelola pendidikan. Pada prinsipnya MBS bertujuan untuk memberdayakan sekolah dalam menetapkan berbagai kebijakan internal sekolah yang mengarah pada peningkatan mutu dan kinerja sekolah secara keseluruhan.[1]

Sebagaimana dimuat oleh Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, Departemen Agama Republik Indonesia, tujuan Manajemen Berbasis Sekolah sebagai berikut:

Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah atau madrasah dalam mengelola dan membedayakan sumber daya yang tersedia;
Meningkatkan kepedulian warga sekolah atau madrasah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama;
Meningkatkan tanggungjawab sekolah atau madrasah kepada orangtua, pemerintah tentang mutu sekolah atau madrasah;
Meningkatkan kompetisi yang sehat antar madrasah dan sekolah lain untuk pencapaian mutu pendidikan yang diharapkan.[2]

MBS memberi keleluasaan kepada sekolah untuk mengelola pendidikan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan. Aktor utama sebagai top leader dalam pelaksanaan MBS adalah kepala sekolah. Dia menjadi penguasa di daerah otonom bernama sekolah. Kepala sekolah memiliki kekuasaan penuh terhadap pengambilan kebijakan terkait dengan pendidikan di sekolah yang dia pimpin. Tentunya kekuasaan tersebut tidak menjadikan kepala sekolah sebagai figur otoriter.

MBS telah merubah paradigma sekolah sebagai pihak yang menunggu perintah menjadi pihak yang memerintah. Perubahan ini memicu kreatifitas sekolah-sekolah yang telah melaksanakan MBS. Segala ide tentang kemajuan menjadi semarak. Sekolah berlomba menjadi yang terbaik dengan meningkatkan kualitas pendidikannya. Sehingga mutu pendidikan terangkat.

Di sisi sosial, MBS pun membuka mata masyarakat untuk terlibat secara aktif di dunia pendidikan. Pemuka masyarakat yang berdomisili dekat dengan sekolah dilibatkan dalam komite sekolah. Sebagai anggota komite tentu tokoh-tokoh masyarakat dapat memberi kekuatan ekstra kepada sekolah. Di sisi lain tokoh-tokoh tersebut pun mendapat panggung untuk terlibat di kegiatan pendidikan.

Tapia da satu hal yang terkadang menjadi kendala. MBS menuntut sekolah untuk kreatif. Sekolah berlomba meningkatkan mutu. Tentunya peningkatan kualitas tidka akan berjalan tanpa sokongan dana. Pendanaan untuk berbagai macam program unggulan pada akhirnya dibebankan kepada siswa. Maka muncul gejala baru, sekolah yang menerapkan MBS menarik iuran lebih mahal daripada sekolah yang tidak menerapkan MBS.

Biaya yang mahal tentunya tidak sia-sia. Uang yang dikeluarkan oleh wali murid mewujud sebagai prestasi siswa. Wali murid yang mengetahui dan merasakan prestasi tersebut tidak keberatan dengan jumlah iuran. Mereka suka rela mendukung program sekolah. Itu dilakukan demi kebaikan dan kemajuan putra-putrinya.

Kesepakatan antara sekolah, komite dan wali murid terkait biaya untuk pelaksanaan program unggulan membuat standar baru. Sekolah yang bagus adalah sekolah yang telah melaksankan MBS. Salah satu ciri sekolah yang bagus tersebut adalah bayarannya mahal.

Pada akhirnya peningkatan mutu pendidikan yang diolah dengan MBS menelan korban. Siapa yang menjadi korban? Masyarakat tidak mampu. Mereka yang tidak memiliki cukup biaya tidak bisa mencicipi sekolah berkualitas.

Titik Temu Wahabi dan NU

Selama ini masyarakat diracuni oleh pertentangan antara wahabi dan nu. Pertentangan itu terasa begitu deras bukan di puncaknya, justru di akar rumputnya. Masyarakat nu dibuat benci terhadap wahabi. Demikian sebaliknya orang wahabi dibuat alergi terhadap nu.
Pertentangan ini terjadi bukan karena masing2 tahu tentang ajaran yg dianut, tapi karena setengah tahu. Wahabi yg alergi nu setengah tahu ajarannya. Demikian juga nu yg benci wahabi setengah tahu ajarannya. Jangan tanya kpd mereka sejauh mana mengetahui ajaran kelompok yg dibenci.
Keselahan informasi yg diperoleh, ditambah bumbu antipati membuat masalah semakin rumit. Terlebih faktor eksternal yg tdk terdeteksi. Bahwa dlm protokol zeonisme no 7 bahwa kaum zeonisme akan berupaya menciptakan konflik dan kekacauan dgn mengobarkan permusuhan dan pertentangan. Umat islam yg wahabi dan nu terjepit dlm perang tanpa musuh.
Sebenarnya tdk ada perbedaan yg mengharuskan wahabi dan nu bermusuhan. Wahabi bermadzhab kepada imam hambali. Selama ini mayoritas orang nu bermadzhab syafii. Imam hambali adalah murid terbaik imam syafii. Kedua ulama ini diakui sebagai bagian dari imam empat, selain maliki dan hanafi.
Banyak kesamaan yg dimiliki oleh kedua kelompok. Pertama sumber syariat islam baik menurut wahabi pun nu adalah al-Qur’an, hadits, ijma dan qiyas. Hadits yg digunakan keduanya adalh hadits shohih meskipun ahad. Wahabi dan nu percaya akan adanya siksa kubur, syafaat nabi dan orang sholeh di hari kiamat.
Kedua, sebagai konsekwensi menjlnkan ijma, wahabi dan nu melaksankn shalat jum’at dgn dua azan serta shalat tarawih 20 rakaat.
Ketiga, orang nu setiap waktu pergi ke makkah dan madinah. Mereka sholat jamaah dgn imam wahabi. Mereka tdk kunut saat sholat shubuh. Apakah orang nu mengulang sholat subuh? Tidak.
Memang ada perbedaan antara nu dan wahabi tapi itu biasa. Jangankan antar dua golongan adik dan kakak saja bisa berbeda.
Jadi tidak ada alasan saling benci antara nu dan wahabi. Polemik yg tercipta pastilah diciptakan oleh yg suka perpecahan. Tipe yahudi dlm al-Qur’an sudah dinyatakan TIDAK AKAN PERNAH RELA DGN UMAT ISLAM.
(Disarikan dari kolom opini KH. Ali Mustafa Ya’kub, imam besar masjid istiklal yg dimuat republika, jum’at 13 feb 2015) semoga bermanfaat

Manajemen Berbasis Sekolah; Tugas Administrasi yang Mengalahkan Pembelajaran

Pendahuluan
Sudah sejak lama para pakar sepakat bahwa kemajuan akan didapat dari pendidikan yang baik dan benar. Oleh sebab itu mereka berusaha merumuskan teori-teori pendidikan yang ideal. Tujuannya agar menjadi rujukan untuk menciptakan pendidikan yang baik dan benar. Sehingga keinginan membentuk peradaban manusia sejahtera dapat direalisasikan.
Salah satu usaha para pakar dalam memajukan pendidikan adalah memasukan unsur manajemen modern ke dalamnya. Manajemen bukan barang baru. Manajemen telah menjadi ramuan jitu bagi dunia usaha. Bisnis akan berjalan dengan baik dan mendapatkan banyak keuntungan dengan dikelola oleh manajemen. Perusahaan yang telah menerapkan manajemen menjadi lebih maju dibandingkan dengan yang tidak menerapkan. Manajemen menjadi ruh dalam perusahaan. Maka pakar berpendapat bahwa sekolah pun akan maju jika disentuh oleh manajemen.
Lahirlah yang disebut dengan SMB, School Based Management atau di Bahasa Indonesia MBS, Manajemen Berbasis Sekolah. Sasaran dari MBS adalah seluruh aspek dalam pendidikan di tingkat satuan. Aktor utamanya adalahtop leader di sana. Maka berbicara tentang MBS, kita akan menemui sosok sentral yang bernama kepala sekolah. Sebagai top leader di satuan pendidikan, Kepala sekolah memegang peran yang amat penting. Manajemen adalah instrument atau alat yang bersifat pasif. Dibutuhkan seorang actor yang bisa menjalankan manajemen tersebut, Aktornya adalah manajer. Di satuan pendidikan kepala sekolah adalah actor utama sebagai seorang menejer.
Jika diibaratkan senjata, manajemen adalah senapan. Dia memiliki potensi ledak. Potensi mencapai sasaran. Potensi menaklukan objek. Potensi-potensi tersebut masih tersimpan rapih di dalam diri senapan. Dia tidak kuasa melakukan pekerjaan sendiri. Dia benda mati. Bisa berguna jika dimanfaatkan oleh seorang ahli. Maka penentu kemanfaatan senapan adalah seseorang yang memegangnya. Sejauh mana kemampuan dia menggali potensi yang berada dalam senapan sejauh itu pula dia mendapat manfaat. A man behind the gun adalah kunci keberhasilan.
MBS sudah lama diterapkan oleh sekolah-sekolah di Eropa dan Amerika. Sebagai trend-setter peradaban barat menularkan teori kepada dunia luas. Definisi MBS sendiri dirumuskan oleh ahli mereka. MBS dijabarkan sebagai “School management that focus on making the mission of the school clear, defining the goals, running and managing the instructional program and promoting a positive learning climate” (Hallinger, 2001) Menurut Hallinger ada empat pokok yang menjadi focus MBS. Pertama, menjelaskan misi sekolah, menentukan tujuan, menjalankan dan mengatur program pengajaran dan mempromosikan iklim belajar yang positif.
Untuk mencapai keempat focus di atas, seorang kepala sekolah harus bekerja keras. Dia adalah manajer di sekolahnya sebagaimana seorang professional menjadi manajer di sebuah perusahaan. Dia harus bekerja di belakang meja terlebih dahulu sebelum terjun ke lapangan. Ini menjadi berat. Karena di luar fungsinya sebagai manajer, kepala sekolah juga harus menjadi pendidik. Bagaimana dia bisa menjalankan dua misi sekaligus, sebagai manajer dan pendidik.
Makalah yang ditulis oleh Erik Lindberg dan Vladimir Vanyushyn mencoba menganalisa efektifitas MBS dengan cara mewawancara ratusan kepala sekolah di Swedia. Judul yang dibuat sudah dapat menggambarkan, SBM with or without Instructional Leadership, MBS dengan atau tanpa kepemimpinan pengajaran.

Pembahasan
Sebelum mengulas hasil penelitian yang dilakukan dua orang ahli di sekolah-sekolah menengah atas Swedia, ada baiknya saya tulis beberapa literature terkait dengan MBS. Manajemen Berbasis Sekolah sudah ada sejak 30 tahun silam. Di akhir tahun 70-an MBS telah menjadi agenda kebijakan dan menyebarkan makna (De Grauwe, 2005). Setelah diterapkan di Eropa dan Amerika, negara-negara berkembang mulai mengadopsi. Model pengembangan MBS mereka mirip dengan negara di Amerika Utara. Negara berkembang yang menjadi pioneer penerapan MBS adalah negara-negara yang menggunakan Bahasa Inggris sebagai speaking language. Untuk mengevaluasi MBS di Negara-negara tersebut sangat sulit. Hal ini terkait dengan model pendekatan yang berbeda yang mereka terapkan di negara masing-masing. (Khattri et al. 2010; Moos, 2003; De Grauwe, 2005).
MBS bertumpu pada asumsi bahwa otonomi dan desentralisasi akan memungkinkan para pengambil keputusan untuk lebih memenuhi harapan beragam pemangku kepentingan (Cheng & Mok, 2007). Sedangkan arah semua reformasi MBS adalah sama – yaitu, menuju desentralisasi – tingkatan mereka dan penekanan dapat bervariasi (Moos, 2008). Ada berbagai macam strategi MBS, dari memberi sekolah otonomi dan kewenangan penuh atas semua pendidikan, masalah keuangan dan personil, untuk memungkinkan sekolah untuk menjalankan otonomi atas isu-isu tertentu (Gertler et al., 2007). Menurut Briggs & Wohlstetter (2003), MBS telah diperkenalkan dalam rangka meningkatkan akuntabilitas sekolah, prestasi siswa, dan efisiensi administrasi, serta untuk memberdayakan para guru. (De Grauwe 2005)
Smith et al. (2006) melaporkan bahwa kepala sekolah menghabiskan lebih banyak waktu pada isu-isu manajemen seperti bertemu dengan orang tua atau berurusan dengan disiplin dan kegiatan penyelesaian masalah dari kegiatan pembelajaran, dan Uline & Tschannen-Moran (2007) melaporkan bagaimana kegiatan menyangkut peningkatan prestasi siswa juga termasuk meningkatkan kualitas-gedung sekolah. Whitty et al. (1998) membahas implikasi apa yang mereka sebut sebagai pandangan masyarakat terhadap perbaikan siswa, yang menyatakan bahwa persaingan antara dan di antara sekolah-sekolah akan meningkatkan prestasi siswa. Pendekatan ini telah memperluas tanggung jawab kepala sekolah untuk tidak hanya mencakup manajemen dan kepemimpinan instruksional, tetapi untuk menjadi sukses dalam lingkungan yang kompetitif juga pemasaran (Lingard dkk, 2000;. Ball, 1994). Dinham et al. (2011) telah membuat kajian sejarah peran kepala sekolah dan melaporkan bahwa itu berubah dengan cepat dan menjadi semakin kompleks dan bahwa mereka telah mendapat beban kegiatan yang mereka tidak pernah dapatkan sebelumnya.
Leithwood & Menzies (1998) membuat review MBS di negara-negara berbahasa Inggris dan semua kepala sekolah melaporkan bahwa setelah melaksanakan MBS mereka mengabdikan lebih banyak waktu untuk manajemen. Mereka tidak banyak memiliki waktu untuk mengajar dan kegiatan pedagogi. Beban kerja untuk kepala sekolah di negara-negara ini telah menjadi lebih kompleks, beragam dan memakan waktu, dengan beberapa kepala sekolah melaporkan bahwa mereka bekerja hingga 60 jam atau lebih per minggu (Macbeth, 2009). Kepala sekolah menggunakan ungkapan-ungkapan seperti “sedang terjepit” untuk menggambarkan situasi mereka. Menurut Phillips et al. (2007), peran kepala sekolah di Inggris telah berubah secara radikal, dan beban kerja dan waktu kerja yang panjang telah menyebabkan dua kali stres dan ketidakseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi. Secara khusus, beban kerja administratif yang meningkat paling signifikan (Harvey & Sheridan, 1995; Wylie, 1999;. Harold et al, 2001; Cranston, 2000, Cranston et al, 2003;.. Fitzgerald et al, 2006). Di Inggris, tahun 2005 laporan tindak lanjut Research into the State of School Leadership and the Australian Government Department of Education, Country Background Report (2007) keduanya menyimpulkan bahwa tekanan akuntabilitas meningkat, dan bahwa mereka frustrasi dengan tuntutan administratif dan manajerial.
Instructional leadership atau kepemimpinan pembelajaran menjadi model ideal yang ditawarkan dalam manajemen berbasis sekolah. Kepala sekolah bukanlah seorang manajer yang berorientasi kepada hasil yang berupa materi sebagaimana manajer perusahaan. Kepala sekolah lebih kepada manajer yang bertugas meningkatkan mutu manusia. Dalam hal ini adalah seluruh masyarakat sekolah yang terdiri dari tenaga pendidik, tenaga non pendidik dan siswa sebagai peserta didik.
Ada banyak definisi yang menjelaskan tentang instructional leadership. Daresh dan Playco (1995) mendefinikan kepemimpinan pembelajaran sebagai upaya memimpin para guru agar mengajar lebih baik, yang pada gilirannya dapat memperbaiki prestasi belajar siswanya. Ahli lain, Petterson (1993), mendefinisikan kepemimpinan pembelajaran yang efektif sebagai berikut: 1) Kepala sekolah merumuskan, mensosialisasikan, dan menamkan isi dan makna visi sekolah melalui berbagi pendapat atau urun rembug dengan warga sekolah serta mengupayakan agar visi dan misi sekolah tersebut hidup subur dalam implementasinya; 2) Kepala sekolah melibatkan para pemangku kepentingan dalam pengelolaan sekolah (manajemen partisipatif). 3) Kepala sekolah memberikan dukungan terhadap pembelajaran. 4) Kepala sekolah melakukan pemantauan terhadap proses belajar mengajar untuk memahami lebih mendalam dan menyadari apa yang sedang berlangsung di dalam sekolah. 5) Kepala sekolah berperan sebagai fasilitator sehingga dengan berbagai cara dia dapat mengetahui kesulitan pembelajaran dan dapat membantu guru dalam mengatasi kesulitan belajar tersebut.
Harapan dari diterapkannya instructional leadership di sekolah adalah munculnya budaya kerja professional yang mengarah kepada hasil maksimal. Kepala sekolah sebagai to leader menjadi dirigen dari orkesta. Setiap gerak dan ucap kepala sekolah menjadi panduan yang membuat semua elemen sekolah bergerak secara dinamis.
Namun pada kenyataanya, beban tugas yang menumpuk membuat kepala sekolah stress. Ini yang tercermin dari Macbeth, 2009. Tugas yang menumpuk ditambah dengan jam kerja yang cukup panjang menjadi tantangan yang teramat sulit didaki seorang kepala sekolah.
Penelitian yang dilakukan oleh Erik dan Vladimir berusaha untuk mengupas akar masalah dan berusaha memetakannya sehingga bisa dicarikan solusi. Mereka melakukan survey terhadap 234 kepala sekolah menengah atas di Swedia.
Metode
Metode yang digunakan adalah pengambilan sampel dan koleksi data. Mereka menyebar pertanyaan kepada seluruh kepala sekolah menengah atas di Swedia. Alamat mereka dapatkan dari Badan Pendidikan Nasional Swedia. Setiap kepala sekolah mendapat tiga kuesioner dengan waktu yang berbeda. Kuesioner pertama dikirim di awal bulan Juni 2008. Setelah menerima jawaban dari responden, kuesioner kedua dikirim di minggu terakhir bulan Juni. Sedangkan kuesioner ketiga dikirim di pertengahan bulan Agustus.
Sebanyak 780 orang kepala sekolah dikirimi kuesioner. Hanya ada 311 yang memberi jawaban. Sedangkan data yang bisa diolah hanya 234. Persentase data yang diolah mencapai 30 % dari seluruh responden yang dikirimi kuesioner.
Ada tiga variable utama yang menjadi focus penelitian ini. Pertama, tugas-tugas administrative kepala sekolah termasuk di dalamnya pengelolaan keuangan. Kedua, tugas sebagai pemecah masalah, atau solving problem. Ketiga, tugas pedagogis yang diartikan sebagai mengelola kepemimpinan pembelajaran.
Variabel administrative menelurkan lima pertanyaan. Dalam tabel pertanyaan 1-5. Variabel pemecah masalah menelurkan empat pertanyaan. Dalam tabel pertanyaan 6-9. Dan terakhir tentang instructional leadership ada sebelas pertanyaan. Dalam tabel pertanyaan 10-21.
Berikut adalah tabel pertanyaan dan jawaban yang didapat dari responden.

Table 1. Assessment of Perceived Importance and Performance of School Principals’ Tasks
Tasks Type* Imp Perf p Mean Diff Direction
1. To establish and monitor budgets and meetings on budget. A 3.56 3.28 0.00 0.274 I>P
2. Taking care of other finance-related tasks and meetings related to economic issues. A 3.42 3.10 0.00 0.329 I>P
3. To report the results and meet “top management” on governance monitoring of operations. A 3.15 3.46 0.00 -0.304 P>I
4. To manage questions about the school’s facilities. A 3.36 3.74 0.00 -0.387 P>I
5. To manage questions about the school’s IT. A 3.14 3.30 0.03 -0.175 P>I
6. To manage contacts/relationships with parents. F 3.81 2.84 0.00 0.949 I>P
7. To manage student disciplinary matters. F 3.25 3.69 0.00 -0.442 P>I
8. To manage personnel matters. F 3.50 3.67 0.00 -0.159 P>I
9. To manage unions issues. F 3.78 3.59 0.00 0.202 I>P
10. Writing target document (school goals) in consultation with school stakeholders. IL 3.24 3.18 0.33 0.059 ns
11. To make teachers aware of and committed to the school’s goals. IL 3.74 3.08 0.00 0.716 I>P
12. To create a reward system that reflects the school’s goals IL 2.97 3.15 0.01 -0.198 P>I
13. To visit the teachers in the classrooms. IL 2.92 2.94 0.75 -0.036 ns
14. Being in and appear in operations (“mingle” among pupils / staff). IL 3.24 3.32 0.15 -0.081 ns
15. To promote teachers use of effective teaching and learning methods. IL 3.37 3.08 0.06 0.292 I>P
16. To create continuous improvement through planned and regular activities. IL 2.77 3.04 0.00 -0.241 P>I
17. To create a school culture that emphasizes innovation and improvement in teaching. IL 2.18 2.08 0.39 0.111 ns
18. To prepare, implement and monitor individual performance. IL 2.89 2.90 0.99 -0.005 ns
19. To plan and monitor training. IL 2.84 2.93 0.11 -0.086 ns
20. To give teachers advice on and suggestions to improve their teaching. IL 3.04 2.55 0.00 0.484 I>P
21. To develop / maintain well-functioning team of teachers. IL 2.39 3.00 0.00 -0.619 P>I
Note. A-adminstrative task, F-firefighting task, IL-Instructional leadership task. Importance ranges from 1-unimportant to 4-very important; Performance ranges from 1-poor performance, 4- excellent performance
Analisa Data
Tabel di atas menunjukkan beberapa hal. Tabel Imp menunjukkan pendapat responden tentang urgensi terkait pertanyaan yang diutarakan. Tebel Perf menunjukkan implementasi dari poin pertanyaan yang diutarakan. Selanjutnya data tentang urgensi dibandingkan dengan performa di lapangan. Hasilnya nampak di tabel direction.
Ketika persepsi responden lebih tinggi dari pada performanya ditandai dengan I>P, sebaliknya ketika performa lebih baik dari persepsi P>I. Sedangkan ketika terjadi persamaan atau perbedaan yang tidak signifikan diberi tanda NS.
Dari tabel di atas didapati bahwa mayoritas kepala sekolah memandang tugas administrative sangat penting. Mereka juga melaksanakan tugas tersebut dengan sebaik-baiknya. Pertanyaan 1-5 rata-rata dijawab dengan range lebih dari 3. Bahkan ditataran implementasi lebih tinggi. Dari lima pertanyaan dua di awal persepsi lebih tinggi dari performa, sedangkan tiga diakhir performa lebih tinggi dari persepsi.
Demikian juga variable tentang pemecahan masalah. Para kepala sekolah sepakat bahwa point tersebut sangat penting. Tercermin dari range yang rata-rata di atas 3. Di tingkat implementasi pun tidka jauh berbeda. Mereka melaksanakan persepsinya. Sebagai kepala sekolah mereka bertanggung jawab menyelesaikan segala persoalan yang terjadi di lingkungan sekolah.
Sedangkan pada variable terakhir, tentang kepemimpinan pembelajaran terjadi perbedaan. Kepala sekolah menganggap hal tersebut penting, bukan sangat penting. Pertanyaan ke 10 s/d 21 banyak menghasilkan angka dua dalam range. Ini menjadi cermin betapa kepala sekolah terutama di Swedia tidak mengangap kepemimpinan pembelajaran sebagai elemen utama dalam Manajemen Berbasis Sekolah MBS.
Jika menilik pada hasil penelitian sebelumnya yang dicatat dalam buku bahwa kepala sekolah yang melaksanakan MBS terlalu disibukkan dengan tugas administrative benar adanya. Mereka menganggap tugas administrative dan penyelesaian masalah sebagai pokok utama. Ini berdampak pada tugas ketiga yang tersisihkan, yaitu sebagai pemimpim pembelajaran.
Kepala sekolah yang terlanjur disibukkan dengan tugas administrative tidak memiliki waktu luang untuk mengurusi pembelajaran. Baginya pembelajaran bisa ditangani oleh guru. Sehingga kepemimpinan pembelajaran didelegasikan oleh kepala sekolah kepada guru-guru. Ini tentu harus dikaji ulang. Apakah pendelegasian tersebut berdampak baik atau buruk.
Perlu dicatat bahwa sekolah adalah lembaga pendidikan yang sebagian waktunya harus dituangkan untuk kegiatan pembelajaran. Semua elemen sekolah dituntut serius melaksanakan kegiatan pembelajaran. Kegiatan inti ini menjadi ruh sekolah. Sekolah yang tidak memiliki kegiatan pembelajaran yang baik tidak mungkin dapat menghasilkan siswa yang terdidik dan terampil.
Mengingat pentingnya kegiatan pembelajaran, maka kepala sekolah sebagai top leader harus mengangap pembelajaran sebagai focus utama. MBS seharusnya diarahkan kepada hal yang principal seperti ini.
Administrasi memang penting, tapi jangan sampai perhatian terhadapnya membuat kepala sekolah menomor duakan pembelajaran. Harus ada evaluasi yang menyeluruh terkait dengan efektifitas MBS di sekolah-sekolah. Jangan sampai MBS membuat sekolah lebih teratur dan rapih secara administrasi tapi tidak bisa mencetak peserta didik yang terdidik dan terampil karena melupakan pembelajaran.

Review Jurnal Manajemen Berbasis Sekolah
School-Based Management with or without Instructional Leadership: Experience from Sweden
Erik Lindberg and Vladimir Vanyushyn
Journal of Education and Learning; Vol. 2, No. 3; 2013
ISSN 1927-5250 E-ISSN 1927-5269
Published by Canadian Center of Science and Education

Guru Penjaga Tradisi Akademik

Kata guru berasal dari Bahasa Sansekerta yang secara harfiah artinya adalah berat. Dalam kamus Bahasa Indonesia, guru diartikan sebagai orang yang pekerjaannya atau profesinya mengajar . Dalam Undang-Undang No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen disebut definisi guru pada Bab I Ketentuan Umum pasal 1, poin pertama. Guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
Imam Al-Ghazali berpendapat bahwa profesi guru merupakan profesi yang sangat mulia berdasarkan acuan tekstual maupun rasional. Diantara dalil tekstualnya adalah sabda Nabi Muhammad saw yang artinya “Saya ini sesungguhnya diutus sebagai seorang guru”. Jadi profesi guru merupakan warisan dari misi kerasulan. Adapun dalil rasional yang dikemukakan Al-Ghazali, bahwa kemulaian profesi itu antara lain dapat dilihat dari tempat dimana profesi itu dilaksanakan, seperti keunggulan profesi tukang emas lebih tinggi dari tukang kulit, karena tempat kerja dan barang yang dikerjakan berbeda derajatnya. Kemudian Al-Ghazali berkata: “Barang yang wujud di permukaan bumi ini yang paling mulia adalah manusia, dan bagian yang paling mulia dari manusia adalah jiwanya, sedangkan tugas seorang guru adalah mengembangkan/menyempurnakan, menghiasi, mensucikan dan membimbingnya untuk dapat mendekat kepada Allah Yang Maha Agung dan Maha Mulia.”
Guru adalah pengajar sekaligus pendidik. Sebagai pengajar guru berperan sebagai agent of knowledge. Guru mengetahui dan memahami sebuah ilmu kemudian melakukan sebuah usaha yang disebut pengajaran untuk menjadikan muridnya tahu dan mengerti ilmu yang dia sampaikan. Guru sebagai pendidik berperan sebagai agent of value. Di sini tugas guru teramat berat. Guru dituntut untuk menanamkan segala nilai kebaikan kepada anak murid. Pendidikan yang dilakukan oleh guru harus menyentuh sisi rohani disamping jasmani dan akal.
Sebagai agent of knowledge dan sekaligus agent of value guru harus memiliki bekal cukup. Seorang guru sebagaimana pepatah lama menyebutnya yang digugu dan ditiru, dituntut menjadi sosok teladan dari segala aspek. Guru harus menjadi teladan di bidang ilmu pengetahuan. Juga menjadi teladan di bidang keterampilan, sikap dan budi pekerti. Seorang guru akan menjadi gambaran terbaik bagi muridnya. Murid selalu menjadikan guru sebagai rujukan. Guru yang baik menginspirasi muridnya menjadi lebih baik. Demikian juga guru yang buruk menjadikan muridnya lebih buruk. Pepatah lama mengatakan, ‘guru kencing berdiri, murid kencing berlari’.
Guru Sebagai Penjaga Tradisi Akademik
Kata akademik berasal dari bahasa Yunani yakni academos yang berarti sebuah taman umum (plasa) di sebelah barat laut kota Athena. Academos adalah nama seorang pahlawan yang terbunuh pada saat perang legendaris Troya. Pada plasa inilah filsuf Socrates berpidato dan membuka arena perdebatan tentang berbagai hal. Tempat ini juga menjadi tempat Plato melakukan dialog dan mengajarkan pikiran-pikiran filosofisnya kepada orang-orang yang datang. Sesudah itu, kata acadomos berubah menjadi akademik, yaitu semacam tempat perguruan. Para pengikut perguruan tersebut disebut academist, sedangkan perguruan semacam itu disebut academia (Fajar, 2002)
Akademi dalam Bahasa Indonesia diartikan lembaga perguruan tinggi. Sedangkan kata akademisi diartikan orang yang berpendidikan tinggi. Dapat disimpulkan bahwa akademik segala hal yang terkait dengan pendidikan, dari mulai lembaga, manusia, system dan prosesnya. Ketika merujuk ke sejarah penamaan akademi yang berasal dari academos, akademik bisa dipahami sebagai segala hal atau usaha yang terkait dengan kegiatan mencari, memahami dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
Budaya Akademik adalah “Budaya atau sikap hidup yang selalu mencari kebenaran ilmiah melalui kegiatan akademik dalam masyarakat akademik, yang mengembangkan kebebasan berpikir, keterbukaan, pikiran kritis-analitis; rasional dan obyektif oleh warga masyarakat akademik” Konsep dan pengertian tentang Budaya Akademik tersebut didukung perumusan karakteristik perkembangannya yang disebut “Ciri-Ciri Perkembangan Budaya Akademik” yang meliputi berkembangnya:
1. Penghargaan terhadap pendapat orang lain secara obyektif;
2. Pemikiran rasional dan kritis-analitis dengan tanggungjawab moral;
3. Kebiasaan membaca;
4. Penambahan ilmu dan wawasan;
5. Kebiasaan meneliti dan mengabdi kepada masyarakat;
6. Penulisan artikel, makalah, buku;
7. Diskusi ilmiah;
8. Proses belajar-mengajar, dan
9. Manajemen perguruan tinggi yang baik.
Peran guru sebagai agent of knowledge tidak sekedar seorang pemilik ilmu yang memberikan ilmu kepada murid. Guru harus menjadi figur ilmu yang segala tindak tanduknya berlandaskan ilmu. Guru berbicara berlandaskan ilmu. Guru bertindak pun berlandaskan ilmu. Sehingga sosok guru sangat identik dengan sosok ilmuwan.
Mengembangkan budaya akademik menjadi bagian dari peran guru sebagai seorang ilmuwan. Tidak perlu terlalu risau dengan tugas sebagai penjaga budaya akademik. Guru tidak diharuskan meneliti setiap waktu. Sebagai penjaga budaya akademik setidaknya guru memperlihatkan sifat seorang akademisi. Bagaimana sifat seorang akademisi bisa ditampakkan dalam keseharian guru? Dengan membaca guru telah menjaga budaya akademik.
Membaca adalah salah satu ciri masyarakat akademis. Al-Qur’an sebagai kitab suci yang memiliki muatan ilmiah, baik itu rasional atau supra rasional mulai diturunkan dengan kalimat ‘bacalah’. Ini menjadi pertanda bahwa Allah mencintai para ilmuan. Allah sangat suka kepada orang-orang yang suka membaca. Mengapa demikian? Karena membaca adalah jendela ilmu pengetahuan. Dengan membaca sesuatu yang tidak diketahui bisa diketahui, sesuatu yang tidak dipahami bisa dipahami. Bahkan dengan membaca seseorang bisa mendapatkan kebenaran.
Surat Al-Alaq ayat 1-5 yang menjadi pembuka wahyu menyuguhkan sebuah kebenaran yang hak. Dengan membaca, manusia bisa mengetahui bahwa dia diciptakan. Pengetahuan tersebut membimbing manusia kepada Sang Pencipta. Manusia pun sadar bahwa mereka berasal dari tanah. Mereka bisa bertahan hidup di atas tanah karena diberi pengetahuan. Sang Pencipta mengajari manusia dengan pelantara al-qolam.
Kebenaran yang terkandung dalam Al-Alaq 1-5 merupakan bentuk dari kebenaran yang berkaitan. Filsuf bisa menyebut kebenaran korespondensi. Fakta manusia diciptakan mengarahkan manusia kepada Sang Pencipta karena tidak mungkin ada sebuah ciptaan tanpa yang menciptakan. Sang Pencipta tidak begitu saja menciptakan kemudian meninggalkan tanpa bekal. Tuhan mengajari ilmu agar manusia bisa eksis di muka bumi. Ini menjadi pembenaran yang absolut dan eternal. Ilmu yang benar pasti akan mengarahkan manusia kepada Tuhan.
Kebenaran bahwa Tuhan menciptakan manusia bukan kebenaran pragmatis. Meskipun anak dihasilkan dari hubungan biologis antara ayah dan ibu, sari patinya tetap buatan Tuhan. Maka segala asusmsi yang mengatakan bahwa manusia berasal dari proses evolusi primata terbukti dusta. Kera dari zaman dahulu sampai sekarang tetap kera. Apabila kera berevolusi menjadi manusia, logikanya setelah manusia menyebar maka kera binasa. Pada kenyataanya di seluruh penjuru dunia masih terdapat banyak kera dengan berbagai jenis pula.
Al-Alaq 1-5 juga bisa menjadi jembatan manusia berpikir filosofis. Sebagaimana diketahui bahwa filsafat adalah pemikiran teoritis tentang susunan kenyataan sebagai keseluruhan. Manusia adalah sebuah kenyataan. Manusia disebut mahluk sempurna karena memiliki akal. Dengan akal manusia bisa menaklukkan dunia dan segala isinya. Daratan, lautan dan udara ditaklukkan menjadi jalan raya yang menghubungkan pulau, negara bahkan benua. Flora dan fauna dibudidaya sehingga dapat mencukupi kebutuhan manusia.
Akal bisa menjelma sebagai instrument sakti tidak terjadi sendiri. Sang Pencipta mengajari ilmu kepada manusia sehingga akalnya dapat merespon segala pengetahuan. Peristiwa pengajaran yang diberikan oleh Sang Pencipta kepada manusia asal muasal ilmu pengetahuan. Di sini dapat dipahami bahwa pada hakekatnya ilmu adalah pemberian Tuhan. Ini merupakan kajian ontologi. Tuhan mengajarkan manusia dengan pelantara al-qolam merupakan bentuk cara mendapatkan ilmu. Epistemologi terdapat di sini. Kemudian ada pertanya kenapa Tuhan mengajarkan ilmu? Apa kegunaan ilmu bagi manusia? Ini merupakan ranah aksiologi.
Membaca selalu menjadi titik start kegiatan ilmiah. Dimulai dengan membaca, otak kemudian berpikir tentang data dan informasi yang didapat. Respon tersebut berlanjut kepada hipotesis. Dan hebatnya lagi sebuah hipotesis akan mengarah kepada hipotesis yang lain. Sehingga dengan membaca akan muncul banyak hipotesis. Biasanya hipotesis yang diperoleh dari satu bahan bacaan akan dibuktikan kebenarannya dengan mencari bahan bacaan lain. Dari sana kemudian muncul dua kemungkinan; keraguan atau keyakinan. Keraguan mengarah kepada bertanya dan berdiskusi dengan ahli sedangkan keyakinan bermuara pada kesimpulan yang bisa menjadi sebuah karya tulis ilmiah.
Dengan membaca saja seorang guru sudah bisa mengggabungkan banyak elemen budaya akademik. Karena membaca merupakan titik start kegiatan ilmiah. Maka membaca harus menjadi bagian integral yang tidak terpisahkan dari sosok seorang guru. Guru harus identik dengan membaca. Karena tanpa membaca seorang guru sudah kehilangan satu mahkota paling berharga.

Menyoal Negara Islam

Belakangan ini dunia dihebohkan dengan ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria). Pemberitaan media internasional tentang sepak terjang ISIS menembus sampai ke obrolan warung kopi. Warga Indonesia yang mayoritas Muslim terpanggil untuk ikut berwacana seputar Negara Islam. Terjadi pro dan kontra dalam obrolan warga, ada yang merasa ini merupakan babak baru dari sejarah Islam dunia. Sedangkan yang lain memilih untuk antipati. ISIS bagi mereka dianggap sebagai terror internasional yang membahayakan hajat makhluk di muka bumi.
Bagi kelompok yang pro, ISIS dianggap angin segar. Umat Islam yang berakar kuat di Timur Tengah, sepuluh tahun terakhir ini pasca kejadian 11 September menjadi pesakitan. Negara Islam yang dipimpin oleh presiden kuat dianggap sebagai rezim otoriter. Barat yang memberi putusan langsung mengambil tindakan. Hasilnya Iraq dibumi hanguskan, hanya untuk meruntuhkan kekuatan Sadam Husain. Tidak lama kemudian, Libia diluluh lantakkan. Anwar Khadafi dianggap penjahat HAM dan patut dihukum mati. Setelah penyerangan tersebut keadaan Iraq dan Libia tidak pernah kembali tenang.
Belum lagi ditambah dengan kejadian yang oleh ornag Barat disebut The Arab Spring. Banyak pemerintahan Arab yang tumbang di tangan rakyat. Atas nama demokrasi, pemimpin Tunisia dan Mesir tumbang. Sedangkan Syiria sampai sekarang masih dalam konplik. Kekacauan yang terjadi selalu saja melibatkan Barat, dalam hal ini Amerika dan Eropa. Rakyat yang berberak melawan pemerintah didukung baik moril maupul materil. Bahkan tidak canggung kelompok yang mengatasnamakan HAM dunia, mengirim senjata.
Hasilnya, dunia Islam diobok-obok. Setiap ada Negara Islam yang kuat dianggap sebagai ancaman bagi Amerika dan sekutunya. Iran dalam hal ini juga sempat akan diserang. Beruntung mereka memiliki pertahanan yang kuat dan juga dukungan dari sahabat sejatinya di utara. Amerika tidak berani menyerang Iran. Hanya dengan tangan PBB mereka melakukan boikot.
Keberadaan ISIS adalah jawaban dari kegelisahan para mujahid di medan laga Timur Tengah. Islam yang selalu menjadi objek kebijakan pilih kasih Amerika dan sekutunya, harus tegak. Sekat-sekat Negara yang merupakan imbas dari perang dunia harus dihapuskan. Selama masih ada batas antar Negara terutama di Timur Tenang sebagai basis, Islam tidak akan pernah menang. Islam lemah karena masing-masing pemimpin Negara Islam berorienatsi pada kesejahteraan pribadi dan golongan. Islam sebagai landasan hidup sudah tidak dihiraukan. Segala sesuatu yang menguntungkan diri dan kroni akan diperjuangkan meski harus mengorbankan Islam sebagai asas hidup.
Dalam hal ini Khilafah adalah jawaban tunggal. Daulah Islamiyah harus kembali ditegakkan. Kekuatan Islam yang terkotak-kotak dalam sekat Negara harus segera dihapus. Islam harus bersatu, setidkanya di Timur Tengah. Dengan persatuan di bawah bendera Islamic State yang dipimpin oleh seorang Khalifah, wibawa Islam akan kembali hadir. Islam tidak akan mudah dipermainkan. Islam tidak akan tunduk pada panji matrealisme Barat.
ISIS berdiri tegak untuk menutupi segala kekurangan umat. Dengan ditunjuknya Abu Bakar Al-Bhagdadi sebagai khalifah, ISIS berkata kepada dunia, ‘Islam belum akan mati’. Negara Islam akan kembali berkibar. Dimulai dari Iraq dan Syiria, ISIS menyeru kepada seluruh umat Islam di dunia untuk berjihad melawan imperialisme materilaisme.
Mengapa harus Iraq dan Syiria? Keadaan sekarang melahirkan kekacauan di dua Negara. Iraq pasca keruntuhan rezim Sadam Husain belum mampu bangkit. Syiria sebagai korban terakhir the Arab Spring masih terus saja bergejolak. ISIS melihat ini sebagai peluang. Para pejuangnya berjihad untuk merebut kekuasaan di dua bagian Negara yang sedang terlibat konplik horizontal. Ini dilihat dari kacamata factual. Dari sejarah dapat digambarkan sesuatu yang lebih besar. Dunia sempat menyaksikan kehebatan para pemimpin Muslim di masa dua dynasti besar Umayyah dan Abasiyah. Umayyah sebagai dinasti pasca Khulafa al-Rasyidin berhasil menguasai Timur Tengah, Afrika bahkan menyeberang ke Andalusia. Kehebatan dynasti yang dibangun oleh Muawwiyah tersebut memiliki dapur utama di Damaskus, Syiria. Lepas dari Umayyah, dynasti kedua muncul dengan tidak kalah hebat. Abasiyah menjelma kekuatan utama dunia di abad pertengahan ketika Eropa masih dalam kegelapan dan Amerika belum ditemukan. Ilmu pengetahuan berkembnag pesat seiirng dengan kekuatan maritime yang dahsyat. Dapur dari Negara adi kuasa di abad pertengahan ini terletak di Baghdad, Iraq.
Laksana de javu, ISIS berdiri ditempat yang sangat bersejarah. Negara Islam yang melegenda berpusat di dua wilayah yang sekarang dikuasai. Maka kelompok pertama menyambut dengan suka cita keberadaan ISIS.
Berbeda dengan kelompok kedua, ISIS dianggap musuh bersama. Pandangan ini muncul karena memilhat pergerakan ISIS yang mengerikan. Mereka melihat ISIS dari kacamata terror. Peninggalan bersejarah di Iraq dan Syam dimusnahkan oleh tangan-tangan prajurit ISIS. Belum lama ini terdapat sebuah video di dunia maya yang memperlihatkan kekejaman. Seorang berdiri dengan senjata di samping orang yang ditutupi kepalanya. Menurut berita si pesakitan adalah wartawan Inggris yang akan dieksekusi. Eksekutor yang dengan gagah berani memegang senjata dalah seornag pejuang ISIS.
Bagi kelompok kedua, ISIS hanya memperburuk citra Islam. Tayangan terror yang selalu menyertai langkah ISIS merupakan sebuah batu besar yang menghantam kepala umat. Islam yang dibawa oleh Rasul sebagai jalan keselamatan, berubah di tangan ISIS. Citra Islam menjadi pekat dan berlumuran darah. Belum lama masyarakat dunia dihebohkan dengan gerakan Boko Haram di Afrika. Kelompok prajurit yang mengatas namakan Islam tersebut banyak melakukan pembunuhan di tanah Afrika. Islam dibuah malu. Dengan keberadaan ISIS di Timur Tengah, maka sempurna citra buruk yang disematkan kepada agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.
Oleh karena itu ISIS harus ditentang. Tidak ada sejengkal harapan pun bagi ISIS untuk eksis di Indonesia. Negri ini adalah negri damai. Rakyatnya terkenal sopan dan santun terhadap sesama. Asaa Negara adalah Pancasila. Negara Islam tidak boleh dikembangkan di Nusantara. Cukup sudah pemberotakan yang dilakukan oleh Karto Suwiryo. Darul Islam harus menjadi sejarah masa lalu di sini.
Kelompok mana yang benar atau setidaknya lebih baik pendapatnya?
Mari kita ulas sejarah. Kembali meninjau masa lalu untuk membuka tabir misteri yang bisa jadi merupakan bagian dari solusi. Istilah Daulah Islamiyah atau Negara Islam secara spesifik tidak pernah ada dalam Al-Qur’an atau sunnah. Untuk merujuk kepada kepemimpinan di dunia, Al-Qur’an menggunakan istilah khalifah. Manusia diciptakan untuk menjadi pengelola bumi (QS. Al-Baqarah: 30). Meskipun mendapat penolakan dari malaikat yang notabene pelayan Allah yang paling setia, manusia tetap diciptakan. Allah memiliki sebuah rahasia yang hanya diketahui olehNya.
Sebagai seorang khalifah di muka bumi manusia diberi ilmu. Fungsi ilmu untuk menjadi alat mengenal Tuhan Yang Menciptakan dan juga memanfaatkan segala ciptaan untuk kemaslahatan sesuai dengan petunjuk Tuhan. Manusia yang berilmu akan mengakui bahwa tiada Tuhan yang patut disembah melainkan Allah (QS. Ali Imran: 18). Manusia yang berilmu akan diangkat derajatnya (QS. Al-Mujaadilah: 11)
Sebagai makhluk yang diberi wewenang oleh Sang Pencipta untuk menjadi khalifah di muka bumi, manusia dikarunia sebuah pedoman. Allah mengutus para Rasul sebagai pembawa risalah ilahiyah. Dari lisan Rasul-Rasul tersebut keluar berbagai hikmah. Dan hikmah yang menjadi hukum pijakan bagi umat manusia adalah wahyu yang kemudian disebut sebagai kitab. Kitabullah adalah guideline kehidupan manusia. Sebagai makhluk yang diciptakan manusia tidak banyak mengetahui rahasia dirinya, lingkungannya dan juga penciptanya. Untuk itu manusia harus mengikuti petunjuk yang diberikan oleh Tuhannya.
Kemaslahatan hidup bagi manusia akan terjadi ketika mereka mengikuti petunjuk. Ketika manusia mengingkari petunjuk maka kerusakan yang akan terjadi. Bahkan mengambil sebagian hukum dan mengingkari sebagian hanya akan mendatangkan kenistaan dalam kehidupan dunia dan siksa di akhirat (QS. Al-Baqarah: 85). Oleh karena itu, manusia diharuskan mengikuti hukum yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta. Manusia tidak boleh menentukan hukum atas kehendak sendiri (QS. Al-Maaidah: 49).
Apabila manusia mengingkari hukum Allah yang telah termaktub dalam kitabNya dan disampaikan melalui lisan nabiNya, manusia dicap sebagai pembangkang atau kafir dalam bahasa agama.
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
“Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” [QS. Al-Maaidah: 44].
Di ayat lain Allah memberi cap yang lebih ringan bagi yang tidak mengikuti hukum Allah sebagai orang dhalim.
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang dhalim” [QS. Al-Maaidah: 45].
Setelah predikat dhalim bagi yang inkar terhadap hukum Allah, ada predikat fasik.
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik” [QS. Al-Maaidah: 47].

Al-Qur’an tidak pernah menetapakan bahwa umat Islam harus membangun sebuah Negara yang spesifik dengan sebuatan Daulah Islamiyah. Al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat hanya memberi peringatan bahwa hukum Allah harus diikuti. Segala usaha yang dilakukan untuk membuat hukum sendiri hanya akan berbuah kerusakan dan kehancuran bagi umat manusia.
Sebagai sebuah gambaran menarik tentang sebuah keadaan yang sempurna bagi umat manusia, diterangkan Al-Qur’an. Negri Saba merupakan perumpamaan sebuah masyarakat yang gemah ripah repeh rapih. Saba memiliki sumber daya alam berupa dua kebuh yang memenuhi segala keperluan hidup. Negri yang sejahtera berkat rezeki dari Allah. Negri yang aman dan damai berkat perlindungan Allah. Negri yang tertib dan tenang berkat rahmat Allah.
“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun” (QS. Saba: 15)
Istilah Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur menjadi brandmark sebuah negri impian. Rasulullah saw sebagai nabi terakhir telah dicatat oleh sejarah sebagai salah satu pemimpin yang mampu menciptakan keadaan masyakarat yang ideal. Beliau datang ke Madinah sebagai seorang tamu yang diundang. Menjadi pemimpin karena kehendak masyarakat. Memulai misi kenegaraan dengan jalan perdamaian. Piagam Madinah menjadi bukti otentik sikap negarawan Rasul. Setelah terjalin persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar.
Rasulullah saw wafat meninggalkan wilayah kekuasaan yang cukup luas. Umat Islam bukan hanya di Madinah dan Mekkah, tapi sudah menjalar ke Yaman dan sekitarnya. Wilayah kekuasaan yang luas tersebut tidak menjadikan beliau risau. Rasul saw hanya menyebut “Umatku, umatku, umatku”. Beliau tidak menunjuk seorang pemimpin untuk menggantikan kedudukannya. Permasalahan kepemimpinan di serahkan sepenuhnya kepada umat.
Kembali sejarah mencatat sebuah proses pemilihan pemimpin yang belum pernah terjadi. Abu Bakr ra dipilih menjadi pengganti Rasul oleh majlis yang terdiri dari sebagian kaum Anshar dan tiga orang utusan Muhajirin. Ahlul Bait yang sedang dirundung pilu atas wafatnya junjungan ra, meski merasa dilangkahi tetap mengikuti kehendak umat. Fatimah ra beserta suaminya Ali ra mengakui Abu Bakr ra sebagai pemimpin.
Selepas kepemimpinan Abu Bakr ra, Umar bin Khattab tegak berdiri sebagai Amirul mukminin. Tidak ada pemilihan secara bersama, sang khalifah Abu Bakr ra hanya berkonsultasi kepada beberapa orang sahabat inti untuk memilih pengganti. Setelah berdiskusi, menjelang azalnya Abu Bakr ra memilih Umar bin Khattab ra sebagai pemimpin umat.
Sepuluh tahun masa kepemimpinan Umar penuh dengan kemenangan. Wilayah kekuasaan Islam sudah terbentang dari Madinah sampai ke Syam. Kekuasaan Imperium Persia dan Romawi dapat digerus. Amirul Mukminin meninggalkan enam orang sahabat untuk bermusyawarah mengenai suksesi kepemimpinan. Mereka adalah Utsman bin Affan ra., Ali bin Abi Thalib ra., Thalhah bin ‘Ubaidillah ra, Az-Zubair bin Awwam ra, Sa’ad bin Abi Waqqash ra. Dan Abdur Rahman bin ‘Auf ra. Sebagai tambahan karena usulan dari para sahabat, nama Abdullah bin Umar di masukkan. Meski demikian Khalifah kedua yang terkenal tegas tersebut menyatakan bahwa putranya berada dalam majlis hanya sebagai conselor. Abdullah bin Umar ra tidak memiliki hak suara dan tidak berhak untuk menjadi kandidat pemimpin umat.
Proses pemilihan terjadi sangat ketat, dua calon mencuat menggunggil lainnya; Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Setelah bermusyawarah dengan internal majlis syura, bahkan sampai mewawancarai masyarakat Abdur Rahman bin Auf sebagai ketua tim memilih Utsman bin Affan sebagai khalifah ketiga.
Keunikan terjadi pada pemilihan khalifah keempat. Ali bin Abi Thalib ra dipilih setelah terjadi kekacauan. Khalifah ketiga Utsman bin Affan terbunuh dalam sebuah peristiwa makar. Khalifah yang sudha tua tersebut belum sempat menentukan penggantinya. Kekacauan sempat mendatangkan ketidak pastian. Dalam suasana yang penuh dengan curiga tersebut perwakilan dari kufah mendatangi menantu Rasul untuk membaiat. Ali bin Abi Thalib yang dikenal sebagai seorang alim menolak. Tapi desakan yang dating bertubi-tubi dan pertimbangan akan stabilitas umat meluluhkan hati beliau. Ali bin Abi Thalib dibaiat menjadi khalifah keempat.
Masa kepemimpinan Ali bin Abi Thalib penuh dengan fitnah. Perang saudara terjadi dua kali. Pertama perang Jamal yang melibatkan Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakr. Selesai mengatasi perselisihan dengan Aisyah, Khalifah keempat harus langsung head to head dengan pasukan Muawiyah bin Abu Sofyan. Perang Shiffin merupakan peperangan yang paling banyak menguras tenaga umat Islam. Dampak perang Shiffin sangat besar. Darinya umat terpecah belah baik secara politis maupun aqidah. Secara politis ada dua kutub yang sama kuat, kelompok Kuffah dan kelompok Damaskus. Secara aqidah muncul sekte baru bernama Khawarij yang disusul dengan kemunculan kaum Syiah.
Wafatnya Ali bin Abi Thalib menandai berakhirnya masa khufala al-rasyidin. Setelah itu umat Islam berada dibawah komando dynasty Ummayyah yang dibentuk oleh Muawiyah bin Abi Sofyan. Sistem kepemimpinan tidak lagi berada di bawah wewenang majlis syuro atau umat islam. Kepemimpinan diturunkan dari orang tua ke anak atau dari saudara yang lebih tua kepada saudara yang muda. Sostem tersebut masih berlanjut ketika kekuasaan umat berada di tangan dynasty Abbasiyah. Kedua dynasty yang menyebut sebagai daulah islamiyah tersebut memberlakukan sistim waris kekuasaan.
Melihat fakta sejarah umat dari masa Rasul sampai ke zaman dynasty, terdapat banyak versi pola kepemimpinan. Rasul saw tidak mewariskan tahta dan jabatan. Padahal beliau memiliki seorang menantu yang pantas untuk menjadi penerus. Beliau memasrahkan sepenuhnya urusan kepemimpinan kepada umat. Para khalifah yang empat telah melakukan ijtihad terkait urusan kepemimpinan. Abu Bakr ra memilih langsung pengganti setelah bermusyawarah dengan beberapa orang sahabat. Umar bin Khattab ra menyerahkan urusan suksesi kepada majlis syuro yang berisikan enam orang sahabat utama. Utsman bin Affan tidak sempat memutuskan penggantinya. Keterpilihan Ali bin Abu Thalib karena permintaan dari sebagian umat yang kemudian diikuti oleh mayoritas. Sedangkan Muawwiyah bin Abu Sofyan menjadi pelopor system kerajaan dalam Islam. Dia mewariskan tahta kepada anaknya Yazid bin Muawiyah selayaknya raja Romawi atau Persia menyerahkan tahta kepada keturunannya.
Tidak ada system baku dalam urusan kepemimpinan. Daulah Islamiyah bukan merupakan tuntutan Al-Qur’an. Rasul saw belum pernah mewajibakan umat untuk membentuk system pemerintahan semacam itu. Adapun keberadaan Daulah Islamiyah di tengah umat merupakan produk sejarah.
Satu hal yang patut di garis bawahi dari permasalahan ini adalah esensi dari keberadaan sebuah daulah. Untuk apa dibentuk sebuah daulah? Apabila daulah dibentuk untuk menciptakan umat yang sejahtera di bawah bendera agama, maka harus dicari jalan yang aman untuk mewujudkannya. Tidaklah elok apabila sebuah harapan mensejahterakan umat, mengangkat harkat dan martabat agama, meninggikan asma Allah apabila dilakukan dengan cara yang kurang beradab. Pertumpahan darah, apalagi darah kawan seiman tentu tidak bisa ditolelir meski dengan dalih untuk kemaslahatan.
Kembali menyoal esensi, Al-Qur’an telah memberi petunjuk. Bahwa umat islam adalah umat terbaik adalah betul. Bahwa balasan bagi umat terbaik adalah keridhaan Sang Pencipta. Dan saat Sang Pencipta ridha maka yang terjadi adalah limpahan berkah baik berupa rezeki lahir maupun batin sehingga akan tercipta sebuah cita-cita luruh yang bernama Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur.
Bagaimana petunjuk Al-Qur’an tentang umat terbaik itu?

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…” (QS. Ali Imran: 110)

Hanya ada tiga syarat untuk merealisasikan janji Al-Qur’an agar umat islam menjadi umat terbaik dari berbagai segi; Pertama, menyeru kepada kebaikan. Hal ini bukan berarti hanya pintar memerintah orang untuk berbuat baik sedangkan dia lupa diri. Menyeru merupakan tingkatan kedua dari sebuah pencapaian kebaikan. Orang yang dianggap sebagai penyeru oleh Al-Qur’an adalah orang yang selalu berbuat baik dan berupaya memperbaiki diri kemudian mengajak orang lain untuk berbuat baik bersama-sama. Orang jenis ini disebut sebagai orang yang beruntung (QS: Al-Asr: 1-3) Kedua, mencegah dari yang munkar. Sama halnya dengan menyeru kebaikan, mencegah dari yang munkar dimulai dari diri sendiri. Setelah menjadi sebuah kebiasaan maka ditularkan kepada orang lain sehingga terjadi penyebaran alarm bagi perbuatan buruk. Dan ketiga, beriman kepada Allah. Dewasa ini banyak yang membuat propaganda kesalehan sosial lebih utama dari pada kesalehan ritual. Keimanan dianggap kurang perlu. Lebih hebat orang yang baik kepada tetangga dari pada yang berimanan kepada Tuhan. Propaganda ini sangat menyesatkan. Iman adalah factor utama yang menjadikan manusia baik atau buruk. Iman yang mengajarkan manusia untuk gemar berbuat baik dan selalu berusaha menjauhi keburukan.
Apabila ketiga syarat ini dipenuhi umat Islam, tidak lah perlu kita bersibuk diri mencari khalifah. Tidak usah bersimbah darah untuk mendirikan daulah islamiyah. Dengan menjadi umat yang gemar melakukan kebaikan, suka menyebar kebaikan, menularkan kebaikan kepada lingkungan sambil selalu berhati-hati agar tidak tergelincir pada lembah keburukan dan berusaha menjaga orang lain dari kerburukan, maka harapan menciptakan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur dengan sendirinya akan tercapai. Allahu a’lam

The Prince dan Fenomena Suksesi Kepemimpinan Nasional

Niccolo Machiavelli (1469-1527) adalah sejarawan, negarawan dan filsuf politik Italia di zaman renaissance, yang karya-karyanya dianggap mendasari pemikiran sebuah bentuk negara politik sekuler masa kini. Karyanya yang paling terkenal adalah The Prince. Naskah The Prince sendiri diselesaikannya di pedesaan Florentine dan baru diterbitkan pada tahun 1532. Buku tersebut menjelaskan berbagai metode yang dilakukan seorang penguasa untuk mendapatkan dan mempertahankan kekuasaannya serta bagaimana cara ia memerintah dalam kerangka relasi dengan rakyatnya
Machiavelli mengalami tiga periode sejarah penting Florence. Dia melewati masa mudanya dalam kejayaan Florence yang menjelma sebagai pusat kekuasaan Italia dibawah komando Lorenzo de’ Medici atau Il Magnifico. Ketika mulai bekerja di pemerintahan, Machiavelli mengalami sejarah runtuhnya kekuasaan Medici pada tahun 1494. Pada akhir masa hidup Machiavelli yang dicurahkan untuk sastra, dia menyaksikan kembalinya Madici tahun 1512, kemudian kejatuhan dan pengusiran Medici kedua kalinya pada tahun 1527.

Status Kepangeranan, Cara Memperoleh dan Mempertahankannya
Machiavelli membagi status kepangeranan berdasarkan cara memperolehnya ke dalam dua bentuk; diperoleh secara turun-temurun, dimana keluarga kerajaan telah hadir dalam periode waktu yang cukup lama, atau diperoleh dengan jalan usaha tanpa ada kaitan keturunan.
Pangeran baru yang berkuasa bukan berdasarkan keturunan harus berjuang mendapatkan kekuasaan. Ada dua cara familiar yang biasa dilakukan seorang pangeran baru untuk mendapatkan kekuasaan; jalan militer dan jalan simpati.
Jalan militer sering dilakukan oleh seorang panglima untuk mengkudeta. Sejarah telah mencatat banyak kasus kudeta yang dilakukan oleh petinggi militer untuk meraih kekuasaan. Machevialli mencontohkan seorang Agathocles, si orang Sicilia, menjadi Raja Syracusa dengan cara kudeta. Dia berhasil menjadi raja berkat kecermerlangannya di militer dan juga kecerdikannya memanfaatkan peluang. Dengan modal keberanian serta kekejaman, Agathocles berhasil menguasi Syracusa.
Cara kedua adalah kebalikan dari yang pertama. Seorang pangeran baru bisa mendapatkan kekuasaan dengan jalan mendapat simpati dari rakyat. Machiavelli menjelaskan cara kedua ini didapat oleh seorang warga teladan. Dia berkuasa bukan karena keculasan, kelicikan atau kekerasan, tapi karena simpati dari rakyat. Simpati dia dapat berkat kebaikan hati dan kecerdasan pikiran. Model kekuasaan seperti ini disebut negara kepangeranan sipil.
Dalam kekuasaan model sipil yang pemimpinnya diangkat atas dasar simpati rakyat, kukuasaan tertinggi ada pada rakyat. Machiavelli menganggap pemimpin yang mendapat simpati rakyat, mampu menggalang pasukan yang memadai untuk melawan siapapun yang datang menyerang. Simpati didapat seorang pangeran dengan cara memberi pekerjaan kepada masyarakatnya. Rakyat hidup dengan layak dan cenderung sejahtera. Pemimpin juga harus memperhatikan militer dan memiliki undang-undang serta hukum yang jelas.

Suksesi Kepemimpinan Nasional
Risalah politik yang ditulis oleh Machiavelli mengandung banyak pelajaran. Dia menggambarkan secara gamblang proses suksesi kekuasaan di sebuah negara atau kota. Meskipun ditulis di akhir abad ke limabelas, risalah ini masih revelan dengan keadaan sekarang. Terutama di bagian model kepangeranan yang diraih dari simpati rakyat.
Geliat politik di Indonesia yang hanya memunculkan dua orang calon presiden menjadi bukti betapa simpati rakyat sangat sakti. Meskipun sebelum pemilihan legislatif banyak tokoh nasional yang digadang-gadang bakan menjadi calon presiden, pada akhirnya mereka gugur sebelum pertarungan. Rakyat telah menentukan kriteria. Siapapun yang tidak memenuhi kriteria tersebut tersingkir dengan sendirinya.
Kriteria yang ditetapkan rakyat sangat sederhana. Mereka menginginkan pemimpin yang akan datang lebih baik dari yang sekarang. Oleh karena itu kekurangan yang dimiliki pemimpin sekarang harus ditutupi oleh kelebihan bakal calon pemimpin. Maka hanya dua orang yang memenuhi kriteria. Rakyat menentukan melalui mekanisme survey. Dua orang tersebut memiliki elektabilitas tertinggi jauh meninggalkan tokoh lain.
Simpati yang diberikan rakyat secara sukarela kepada tokoh pertama karena faktor kesederhanaan dan kedekatan. Tokoh yang masih menjabat sebagai Gubernur di ibu kota tersebut mencerminkan seorang pemimpin yang mau bekerja dan siap meladeni rakyatnya. Sebuah model kepemimpinan yang tidak dimiliki oleh pemimpin saat ini. Terkait dengan kerja, bukan berarti pemimpin sekarang tidak bekerja, tapi rakyat memiliki harapan agar pemimpinnya terlihat bekerja seperti layaknya mereka bekerja. Pemimpin sekarang dengan model kerjanya mencerminkan sisi kerakyatan. Blusukan telah menjadi brand mark tokoh ini.
Tokoh kedua mendapat simpati rakyat lagi-lagi karena faktor kekurangan yang dimiliki oleh pemimpin saat ini. Rakyat sudah membuat sebuah kesimpulan bahwa pemimpin mereka cenderung lambat dan tidak tegas. Rakyat mengharapkan seorang pemimpin yang berani mengambil resiko. Sosok yang tegap secara fisik dan juga kuat secara mental. Dia berani mengambil keputusan dengan cepat. Dia berani menentukan sebuah kebijakan dengan jelas. Rakyat berharap memiliki pemimpin yang memiliki karisma bukan hanya di dalam negeri tapi juga menular ke luar negri. Dengan karismanya pemimpin tersebut bisa menjadikan bangsa ini berdiri sama tinggi dengan bangsa lain. Kebetulan kriteria yang diminta rakyat dimiliki oleh mantan Danjen Kopasus orde baru. Jenderal bintang tiga yang sempat tinggal di Timur Tengah pasca reformasi tersebut dengan sendirinya mendapat simpati masyarakat.
Maka hari-hari ini dan ke depan sebelum tanggal 9 Juli 2014 bangsa Indonesia terbelah dua. Satu kutub mendukung Gubernur Jakarta dan kutub lain mendukung mantan Danjen Kopasus. Dua orang ini mau tidak mau, suka tidak suka telah mendapat restu rakyat untuk bertarung di pemilihan presiden. Sudah dapat dipastikan bahwa salah satu dari keduanya akan menjadi pemimpin Indonesia lima tahun ke depan.
Siapapun yang terpilih dia adalah presiden seluruh rakyat. Keduanya mentas di panggung pilpres karena simpati rakyat. Sebagai pemimpin yang terlahir dari simpati rakyat, presiden terpilih harus memperhatikan beberapa hal yang diungkap oleh Machiavelli.

1. Menomorsatukan Rakyat
Machiavelli menyebut model kekuasaan yang berasal dari simpati rakyat sebagai model kepangeranan sipil. Pendapat dia tentang kekuasaan tertinggi yang berada di tangan rakyat sangat tepat. Dalam kekuasaan sipil, seorang pemimpin tidak bisa berbuat semaunya. Dia dipilih oleh rakyat, mendapat kekuasaan berkat simpati mereka, maka dia harus menempatkan kepentingan rakyat di atas kepentingan pribadi dan golongan.
Kebijakan yang diambil harus selalu pro rakyat. Pemimpin yang terpilih harus segera merealisasikan tiga pilar kemakmuran; pendidikan bermutu yang bisa diakses oleh semua kalangan, pelayanan kesehatan terbaik bagi rakyat, dan model ekonomi yang menunjang kesejahteraan rakyat. Dengan melaksanakan tiga pilar kemakmuran, pemimpin akan terus mendapat simpati rakyat. Dia telah menjadikan rakyat sebagai prioritas, maka rakyat pun akan mencintainya dengan tulus.
Apabila pemimpin yang terpilih tidak bisa menjadikan rakyat sebagai prioritas. Dia terganggu dengan agenda politik partainya atau partai pendukungnya, bisa dipastikan rakyat kecewa. Kekecewaan rakyat mampu menggoyang kekuasaan. Pemimpin yang gagal menjaga simpati rakyat karena tidak mampu menjadikan rakyat sebagai prioritas, tidak mungkin bisa mempertahankan kekuasaannya.

2. Memperkuat Supremasi Hukum
Pondasi sebuah negara sipil adalah hukum. Penegakan hukum harus menjadi agenda utama dari pemimpin terpilih. Rakyat butuh kepastian hukum. Mereka tidak mungkin bisa hidup tenang tanpa ditopang oleh peraturan formal yang mengikat dalam segala hal. Ibarat jalanan, hukum adalah rambu-rambu lalu lintas. Ketika jalan tidak dilengkapi dengan rambu, maka kesemrautan dan juga kecelakaan berpeluang terjadi. Bahkan peluangnya sangat tinggi.
Penegakan hukum harus dibarengi dengan keadilan. Semua warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama di mata hukum. Siapapun yang melakukan pelanggaran harus mendapat hukuman yang sesuai. Hukum tidak boleh pandang bulu. Hukum juga tidak boleh seperti pisau yang tajam hanya di satu sisi. Penegakan hukum harus menyentuh semua komponen bangsa baik itu pejabat, konglomerat atau rakyat.

3. Pertahanan Nasional
Ketika berbicara tentang pertahanan nasional maka mengkecurut pada satu hal, militer. Sebagai mana Machiavelli berkhotbah dalam bukunya tentang pentingnya kedudukan militer di sebuah negara, maka pemimpin Indonesia yang kelak terpilih harus memperhatikan faktor ini. Militer adalah tembok raksasa yang menjadi benteng negara. Penegakan Negara Kesatuan Republik Indonesia tidak mungkin bisa dilakukan tanpa ditopang oleh militer yang kuat.
Pertahanan Nasional selalu terkait dengan keamanan. Menciptakan negara yang aman tentu tidak gratis. Prajurit Indonesia tidak kalah hebat dengan prajurit bangsa lain. Mereka hanya butuh didukung dengan anggaran yang cukup sehingga selalu bisa meng-upgrade kekuatan.

4. Menjaga Integritas
Sebagai penutup tulisan ini, saya akan menukil pendapat Machiavelli tentang pentingnya menjadi integritas bagi seorang pemimpin.
”Setiap orang pasti setuju betapa terpujinya bagi seseorang pangeran yang mengakui untuk mempertahankan keimanannya. Dan untuk hidup dalam integritas dan bukannya pada percakapan belaka.”
Di titik ini kita bisa menyimpulkan bahwa di balik kekejaman yang sering didengungkan tentang The Prince sebagai provokator dari munculnya para diktator dunia, terselip sebuah nilai agung. Pemimpin harus selalu mempertahankan keimanannya. Dia harus menjunjung tinggi nilai-nilai keimanan bukan sebagai mantra yang hanya dibaca tapi menjadi prilaku yang terlihat nyata.

Tulisan Kedua

Menurut Prof. Wan kelemahan umat salah satunya disebabkan oleh politik penjajahan yang dilakukan bangsa Eropa. Ini dimulai sejak Portugis dan Spanyol melakukan proyek pelayaran menjelajah dunia. Abad ke 15 tercatat sebagai momen kebangkitan Barat dengan keberhasilan Raja Ferdinand dan Ratu Issabella mengalahkan dinasti Umayyah di Andalusia. Keberhasilan tersebut menghasilkan kepercayaan diri bagi Barat untuk menguasai dunia.
Abad ke 17, separuh dunia dikuasai Eropa. Mereka datang ke Asia, Amerika dan Afrika untuk menaklukan pribumi dan mengambil sumber daya alam bagi kepentingan mereka. Imperialisme merajalela diiringi dengan kolonisasi. Di Amerika, Asia dan Afrika Bangsa Eropa membentuk komunitas imigran di wilayah jajahan. Mereka membuat standar khusus yang tentunya sesuai dengan budaya Eropa. Sehingga terjadi Eropasentris di wilayah jajahan. Segala yang berbau pribumi dianggap kolot, norak dan ketinggalan zaman. Nilai-nilai yang dibawa dari Eropa menjadi nilai utama yang identik dengan modernitas serta kemajuan.

“Globalisasi saat ini, terutama jika dikaitkan pada kerangka pengetahuan, telah melampaui proses-proses sosio-geografis, budaya, dan ekonomi. Neokolonialisme – melalui hegemoni proyek modernitasnya – memperdalam mitos keunggulan Barat dalam semua dimensi, aturan budaya, ilmiah, dan social politik ekonomi. Hegemoni ini bahkan memasuki wilayah interpretasi agama masyarakat non-Barat, dimana sifat atau batas toleransi beragama, moderasi, pluralism, dan Hak Asasi Manusia ditentukan secara signifikan dari perspektif Barat dan Sekuler; diartikulasikan dan ditanamkan terutama di lembaga-lembaga Pendidikan Tinggi.

Akibat yang ditimbulkan oleh politik penjajahan serta kolonisasi sangat terasa di negara bekas jajahan. Meskipun penjajahan sudah terhapus, bangsa non-Eropa masih saja dikungkung nilai-nilai Eropa. Mereka tidak bisa berdiri tegap membanggakan budaya lokal. Mereka tidak bisa menjadikan pandangan hidup bangsanya sebagai nilai universal. Hal ini terjadi karena Eropa telah mematenkan budaya mereka sebagai budaya global. Segala yang bertentangan dengan budaya global berarti partikular.
Setia bangsa yang ingin dianggap maju dan berkembang harus mengikuti konsep Barat. Tidak ada jalan lain. Barat telah berhasil menguasai dunia. Jalan ynag telah dibentangkan Barat adalah satu-satunya jalan resmi menuju bangsa yang beradab. Maka demokrasi menjadi kata kunci di setiap negara. Hanya negara yang menerapkan sistem demokrasi yang dianggap hebat. Hak asasi manusia juga dijadikan corong keberadaban suatu bangsa. Demikian juga sistem ekonomi kapitalis yang berasal dari paham liberalisme Barat menjadi satu-satunya sistem yang diterima oleh dunia.

“Konsep linier dan evolusi dari sejarah dan kemajuan manusia dari pusat Barat ini tidak mentolelir adanya perbedaan pemikiran atau gagasan dari pihak lain yang bertentangan dengannya. Gagasan-gagasan yang berbeda ini akan dianggap sebagai reaksioner, anti-modern, anakronistik, tradisional, tidak wajar, radikal, anti kemanusiaan; atau akan dikemas ke dalam idiom dan kategori yang dapat diterima oleh pandangan yang dominan dan kepentingan pusat (Barat). Pandangan non-Barat tentang kebenaran dan realitas, dan bentuk serta perspektif pengetahuan dan pembangunan mereka tentang manusia dianggap sebagai bersifat local dan particular, dan karenanya tidak bersifat universal. Maka, kemanusiaan dianggap tidak akan memiliki masa depan kecuali apa yang telah dipahami dalam kerangka ilmiah dan worldview demokrasi dan liberal Eropa.”

Dengan itu, bahasa, masyarakat, kebudayaan, ekonomi, dan teknologi China dan Timur Jauh, India dan Benua Asia, Negara-negara Melayu dan Pasifik, Amerika Latin, Timur Tengah, dan Afrika telah berubah secara signifikan, yang bahkan dalam beberapa kasus tidak dapat dikembalikan lagi. Untuk menjadi modern dan beradab dan agar diterima sejajar dengan Barat, pada dasarnya suatu negara akan menjadi ke-barat-baratan, sebuah persyaratan yang sebenarnya diragukan, namun banyak negara non-Barat dan negara muslim yang nampaknya menerima pandangan itu.
Prof. Wan menyeru kepada bangsa-bangsa yang pernah dijajah dan sampai sekarang masih terjajah secara ideologis agar secepatnya sadar. Untuk bangkit manusia perlu disadarkan. Barat tidak sepenuhnya benar. Nilai-nilai yang mereka sebarkan dan dipaksakan menjadi nilai universal tidak harus diterima begitu saja. Setiap bangsa memiliki kearipan lokal. Dengan modal kearipan lokal, setiap bangsa harus mengkritisi universalitas nilai Eropa.
Pemahaman akan pentingnya budaya pribumi, bisa menjadi modal kebangkitan bagi bangsa yang pernah dijajah. Kebanggaan terhadap nilai lokal setidaknya dapat membendung kegandrungan terhadap budaya Eropa. Sehingga akan muncul nilai pembanding. Eropa dengan budayanya tidak bisa semena-mena mengangkangi dunia.

Islamisasi Ilmu Kontemporer
Menurut Prof. Wan, salah satu bentuk usaha dewesternisasi dan dekolonisasi yang telah dilakukan oleh umat Islam adalah proyek intelektual islamisasi pengetahuan kontemporer. Syed Muhammad Naquib Al-Attas sebagai pionir proyek ini telah meletakan dasar perbedaan antara pengetahuan Barat dan Islam. Barat yang maju mengadopsi sistem ilmu tanpa nilai, sehingga ilmu menjadi senjata pamungkas untuk menentukan segala hal dalam kehidupan. Science sentris kemudian melahirkan manusia arogan yang anti Tuhan. Slogan Descartes, Cogito Ergo Sum, aku berpikir maka aku ada, menjadi landasan logis Barat. Mereka mengedepankan logika dan fakta emprik. Sehingga Tuhan yang tidak terlihat secara kasat mata dianggap tiada.
Konseptualisasi intelektual formal dalam proses Islamisasi, dimana umat Islam dapat melakukan kritik secara tepat dan memperoleh manfaat dari budaya dan peradaban lain, belum pernah dilakukan sampai abad ini. Tampaknya, kesadaran bahwa sains Barat modern adalah ateis secara alami dan oleh karena itu perlu diislamkan, pertama kali terdengar di awal tahun 1930-an, melalui Dr. Sir Muhammad Iqbal yang tidak menjelaskan atau mendefinisikan gagasannya. Syed Hosen Nasr, pada tahun 1960 secara implisit menunjukkan metode Islamisasi Sains modern dengan menyarankan bahwa yang terakhir harus ditafsirkan dan diterapkan dalam konsepsi Islam tentang kosmos.
Islamisasi pengetahuan kontemporer dalam kaca mata Prof. Wan dilandasi oleh keyakinan tentang adanya Tuhan zat metafisik yang mengatur alam. Agama harus dijadikan landasan ilmu pengetahuan.

“Jadi, dewesternisasi dan Islamisasi pengetahuan masa kini mengacu pada proses ganda dengan mengisolasi dan menghapus hal-hal yang tidak islami, hampir sebagian unsur-unsur dan konsep Barat, dan sekaligus menanamkan unsur-unsur dan konsep-konsep Islam ke dalam unsur-unsur dan konsep-konsep baru atau asing. Sebagian unsur-unsur dan konsep-konsep Islam ada yang berkaitan dengan agama (din), manusia (insan), pengetahuan (‘ilm dan ma’rifah), kebijaksanaan (hikmah), keadilan (‘adl), dan tindakan yang tepat (‘amal sebagai adab), di mana pada gilirannya didasarkan pada, dan berhubungan erat dengan konsep Tuhan, Dzat dan sifat-Nya (tauhid), makna dan pesan Al-Qur’an, Sunnah, serta Syariah.”

Konsep Universitas dalam Islam
Sebagai tindak lanjut dari konsep Islamisasi pengetahuan kontemporer, Prof. Wan menawarkan konsep universitas dalam Islam. Bagi Prof. Wan, sebuah lembaga pendidikan tinggi harus mencerminkan sosok manusia paripurna yang matang dalam bidang akedemik, sosial dan tentunya spiritual. Ada dua hal yang perlu disiapkan untuk membentuk universitas model ini;
Pertama, harus dipimpin oleh seorang pemimpin akademik yang memiliki kemampuan dan pengetahuan yang disyaratkan dari, dan berkomitmen untuk, pendidikan berdimensi religious-filosofis dan sosial-budaya, selain memiliki integritas etika dan pengalaman kepemimpinan. Keberhasilan kepemimpinannya harus ditentukan oleh etos lembaga, pengajaran, dan penelitian dan publikasinya dalam ilmu-ilmu fardhu ain dan fardhu kifayah, yang memberikan sumbangan pada pengembangan holistic siswa, bangsa mereka dan masyarakat dunia.
Kedua, program akademik harus dibuat berdasarkan skema hirarki namun pada saat yang sama juga menekankan kesatuan ilmu (knowledge). Pendidikan Islam juga tidak mengakui gagasan dualistic kontemporer yang membedakan penelitian dengan pengajaran, seolah penelitian dianggap lebih berharga dan lebih bergengsi daripada pengajaran. Pendekatan intelektual dalam Islam harus mengintegrasikan keharmonian antara tradisionalitas atau tekstualitas (naqli), rasionalitas (aqli), dan empiritas (tajribi) yang sesuai dengan kebutuhan objek pengkajian.

Sebagai penutup dari gagasan besar Prof. Wan adalah output yang berupa man of adab. Seorang manusia yang berpendidikan merupakan seseorang yang baik/shaleh . Kata ‘baik’ di sini menunjukkan bahwa pria tersebut memiliki adab dalam pengertian sepenuhnya inklusif. Seorang manusia yang beradab adalah orang yang secara ikhlas memiliki tanggung jawab terhadap Allah, yang memahami dan memenuhi kewajiban untuk dirinya dan orang lain di dalam masyarakat melalui keadilan, serta terus berusaha memperbaiki setiap aspek dari dirinya agar mencapai kesempurnaan sebagai seseorang yang beradab (insan adabi). Pendidikan adalah ta’dib yang menanamkan adab dalam diri manusia.
Menurut ulama generasi awal, isi (maudhu) dari ta’dib adalah akhlak (etika dan moralitas). Sejak zaman permulaan Islam, adab secara konseptual telah menyatu dengan ilmu yang benar (ilm) dan tindakan yang tepat serta tulus (‘amal) serta signifikan terlibat dalam peniruan intelektual (intelligent emulation) dalam Sunnah Rasulullah saw.

Islamisasi Pengetahuan Menurut Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud (tulisan pertama)

Prof. Dr. Wan Mohd Nor Wan Daud merupakan cendikiawan muslim melayu yang lahir di Tanah Merah, Kelantan Malaysia. Beliau mencurahkan hidupnya bagi perkembangan sumber daya umat Islam terutama civitas akademia di perguruan-perguruan tinggi Islam. Prof. Wan memulai karirnya sebagai dosen di Fakultas Pengajian Islam Universiti Kebangsaan Malaysia tahun 1979-1987.
Selepas dari UKM, Prof. Wan membantu Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib Al-Attas mendirikan ISTAC, International Institut of Islamic Thought and Civilization. Beliau diangkat menjadi wakil direktur ISTAC. Selain itu putra Kelantan ini terlibat aktif dalam kegiatan penerbitan serta perpustakaan.
Islamisasi Ilmu-Ilmu Kontemporer dan Pearn Universitas Islam dalam Konteks Dewesternisasi dan Dekolonisasi merupakan naskah pidato Prof. Wan saat pengukuhan gelar guru besar di Universiti Teknologi Malaysia, 29 Juni 2013. Prosesi ini dihadiri oleh lebih dari 550 akademisi dari berbagai universitas di dunia. Pidato ini dianggap sebagai manifestasi dari gerakan islamisasi ilmu kontemporer yang sudah didengungkan sejak tahun 70-an oleh Syed Naquib Al-Attas.
Dalam pandangan Prof. Wan, westernisasi dan kolonisasi dalam berbagai bentuknya masih berpengaruh dalam konteks globalisasi saat ini. Berbagai upaya yang dilakukan oleh sejumlah ilmuwan Muslim untuk melakukan Islamisasi ilmu pengetahuan kontemporer, dan keterkaitannya dengan diskursus tentang pendidikan dan universitas Islam, bukan hanya usaha yang sah untuk mempertahankan identitas agama dan budaya, tetapi juga menawarkan alternatif yang lebih baik dari modernitas Barat.
De-westernisasi dan Islamisasi ilmu kontemporer adalah salah satu usaha dari usaha-usaha ini. Dibandingkan dengan gerakan sejenis, Islamisasi ilmu kontemporer, lebih bersifat spiritual, komprehensif, universal dan lebih kuat pengaruhnya. Dengan islamiasi ilmu, pengaruh buruk budaya serta pemikiran Barat yang tersimpan dalam muatan science dapat dianulir.
Arkiteknotik dan Kepentingan Strategis Pendidikan Tinggi
Prof. Wan sebagai seorang akademisi yang terlahir dari kampus menyatakan bahwa pendidikan memiliki peran teramat vital dalam rangka mendapat supremasi di dunia internasional. Beliau menekankan betapa pentingnya pendidikan bagi umat.

“Pendidikan merupakan wahana terpenting bagi individu dan masyarakat untuk meraih kesejahteraan dan kemajuan. Tujuan pendidikan, sebagaimana sebagian besar aktivitas manusia yang fundamental, adalah satu refleksi dari pandangan alam (worldview) tertentu yang pada gilirannya akan dimasukkan ke dalam materi, metodologi ddan evaluasi pendidikan. Suatu worldview pada umumnya terbentuk oleh agama dan atau orientasi filsafat ditambah dengan lingkungan sosio-historisnya dalam berbagai derajat interaksi yang sangat kompleks.”

Umat sudah mulai memahami arti pendidikan bagi kehidupan. Hal ini tercermin dari tingginya perhatian mereka terhadap pedidikan dasar. Bahkan pemerintah di negara yang mayoritas penduduknya muslim sudah lama mencanangkan wajib belajar. Anak-anak digiring masuk ke lembaga pendidikan dengan berbagai kemudahan. Pemerintah menyiapkan dana khusus untuk menggratiskan sekolah.
Menurut Prof. Wan kecenderungan ini sangat positif. Tapi tidak boleh berhenti pada level pendidikan dasar. Umat harus terus didorong untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Universitas merupakan lembaga pendidikan formal tertinggi yang bisa membentuk karakteristik umat yang madani.

“Arkiteknotik dan kepentingan strategis dari institusi Pendidikan Tinggi belum lama mendapatkan pengakuan dan posisinya semakin menguat seiring dengan proses globalisasi dan ekonomi berbasis pengetahuan. Beberapa ilmuwan dengan tepat telah mengakui bahwa institusi Pendidikan Tinggi telah memainkan sebuah peran dalam perjuangan meraih supremasi internasional. Sejumlah akademisi terkemuka, lebih dari setengah abad lalu telah menekankan bahwa bangsa-bangsa yang bercita-cita mendapat pengaruh internasional seyogyanya mendirikan pusat-pusat studi yang unggul (excellent)pada level tertinggi.”

Ketika seorang akademisi sekelas Prof. Wan dihadapkan pada dua pilihan; pendidikan dasar atau perguruan tinggi, beliau menganggap keduanya sangat penting. Pendidikan dasar merupakan asas utama dari pembentukan manusia. Tapi pendidikan tinggi memiliki peran yang lebih penting lagi. Anak adalah hasil didikan orang tua. Kualitas pendidikan yang diberikan orang tua kepada anak terkait dengan kualitas pendidikan yang dimiliki oleh orang tua. Pada kasus orang tua yang kurang berpendidikan, anak hanya mendapatkan sedikit dibanding orang tua yang berpendidikan tinggi.

“Hal yang tidak ditekankan dalam tradisi yang sering diturunkan ini adalah bahwa orang dewasanya, terutama orang tua dan guru, adalah yang paling berperan dalam proses ini. Nabi diutus di semua tingkatan masyarakat, namun langsung pada pemikiran orang dewasa yang matang (bulugh) yang bisa bertanggungjawab. Hal ini menunjukkan bahwa pendidikan efektif terjadi di tingkat dewasa. Lebih jauh lagi, kesuksesan tingkat dasar dan menengah tergantung sekali pada kesuksesan terdahulu dan keefektivan dari institusi Pendidikan Tinggi, di mana, pembuat kebijakan, perancang kurikulum, guru-guru, administrator senior, dan bahkan orang tua sendiri, dididik dan dilatih. Lalu, sejumlah besar orang-orang di bidang pendidikan non-formal seperti media massa elektronik, institusi kegamaan dan politik adalah produk-produk dari institusi Pendidikan Tinggi. Semua individu ini, secara langsung maupun tidak, mempengaruhi isi dan metode dari pendidikan formal dan non-formal pada tingkat yang lebih rendah.”

Menimbang urgensi Pendidikan Tinggi secara arkiteknotik dan strategis, negara-negara yang mayoritas penduduknya muslim harus mendirikan universitas berkelas internasional. Pendidikan terbaik yang dikelola secara profesional tentu akan menghasilkan sumber daya manusia yang paripurna.

Pengaruh Nafkah Haram Terhadap Anak

Di pesantren tempat saya mengajar, ada seorang santri perempuan yang sangat nakal. Seluruh pengurus dibuat pusing. Guru juga kewalahan menanganinya. Dia selalu melanggar disiplin yang diberlakukan pesantren. Sering tidak masuk kelas dengan alasan yang tidak jelas. Jarang melaksanakan shalat wajib. Suka keluar komplek pesantren tanpa izin.
Berhubung semua guru termasuk wali kelasnya tidak sanggup mengurusi, anak tersebut dibawa ke pimpinan pesantren. Pimpinan meminta agar orang tua si anak datang menghadap. Hal ini dilakukan agar orang tua terlibat langsung dalam penanganan anak. Sehingga terjadi kerjasama antara pihak lembaga dan juga orang tua.
Ketika menghadap pimpinan pesantren, si ibu bercerita tentang kehidupannya. Ternyata dia seorang single parent, suaminya pergi entah kemana. Sebagai seorang wanita yang tidak memiliki banyak pilihan perkerjaan, dia terpaksa melakukan sebuah pekerjaan yang tidak biasa. Si ibu yang masih muda tersebut bekerja di bar. Setiap malam dia menemani laki-laki hidung belang. Meskipun terjun di dunia malam, dia sebatas menemani tamu minum.
Anaknya dimasukan pesantren agar tidak terkontaminasi dengan kehidupannya. Dia berharap memiliki anak baik yang kelak akan menolongnya. Baginya kerja di tempat tersebut hanya sementara. Dia tidak ingin anaknya tahu. Sampai detik itu pekerjaanya masih rahasia. Anaknya hanya tahu, sang ibu bekerja. Uang hasil kerja dikirimkan untuk biaya sekolah dan asrama.
Ini sebuah fakta yang terjadi di tengah masyarakat. Anak nakal ternyata bisa juga diakibatkan dari kualitas nafkah yang diberikan orang tua kepadanya. Uang yang dihasilkan dari pekerjaan yang tidak diridhai Allah tentu akan meracuni anak yang menggunakannya. Anak sebagaimana contoh di atas menjadi liar dan sulit dikendalikan. Mungkin darah dari hasil makanan haram yang mengalir di tubuhnya membuat dia gelisah. Kegelisahan tersebut berujung dengan pelampiasan yang merusak.
Bisa dibayangkan sebuah kolam jernih dialiri belerang. Maka yang terjadi adalah keracunan. Airnya menjadi keruh dan penghuninya mati semua. Seorang anak manusia yang diberi makan dari hasil haram, dialiri nutrisi haram. Nutrisi tersebut diserap oleh tubuh, sebagian menjadi daging dan sebagian menjadi darah. Seiring dengan waktu darah dan daging tersebut tersebut bercampur dengan daging dan darah yang baik. Pencemaran terhadap tubuh berlangsung dalam waktu lama. Hasil akhir sudah tidak bisa dibedakan lagi mana yang halal dan mana yang haram.
Terkait makan makanan yang diperoleh dengan jalan haram, Rasulullah saw bersabda, “Tidak akan masuk surga badan yang diberi makan haram.” (HR: Al-Baihaki). Badan yang diberi makan haram tidak bisa masuk surga. Apabila badannya sudah dinyatakan tidak bisa masuk surga, maka setiap kebaikan yang akan mendekatkan dia ke surga secara otomatis akan tertolak. Badan tersebut tidak bisa menerima nasehat. Badan tersebut tidak bisa diajak beramal shaleh. Kecenderungannya mengajak kepada keburukan. Karena keburukan adalah jalan lapang menuju neraka.
Sayyidina Abu Bakar terkenal sebagai seorang yang sangat hati-hati dalam mengisi perutnya. Beliau tidak ingin tubuhnya tercemar oleh barang yang mendekati kaharaman. Suatu hari khalifah pertama tersebut mendapat sebuah jamuan makan dari seorang beriman. Beliau dalam keadaan lapar. Makanan yang dihidangkan langsung disantap. Ketika sudah menyuap, sayyidina Abu Bakar teringat sesuatu. Beliau bertanya asal makanan tersebut kepada orang yang menghidangkan. Jawaban yang didapatkan ternyata meragukan. Tanpa berpikir panjang, Ayahnada siti Aisyah tersebut langsung memasukkan jari tangan ke mulutnya hingga muntah.
Saat beliau memuntahkan dan membersihkan mulutnya, orang yg melihat bertanya, “Apakah tuan lakukan ini semua karena hanya satu suapan saja?” Beliau menjawab, “Demi Allah, jika makanan tadi tidak mau keluar melainkan dengan nafasku, niscaya akan keluar juga. Aku telah mendengar Rosulullah saw bersabda;

“Setiap daging yang tumbuh dari sumber yang haram, api neraka lebih berhak baginya” (HR. Ahmad)

Guru saya H. Helmy Abdul Mubin, Lc menceritakan sebuah kisah dari kitab Al-Fauzu wa An-Najah karangan Sayyid at-Tijani. Dikisahkan bahwa Abu Yazid Al-Bustomi seorang ulama sufi merasakan kegelisahan. Beliau merasa belum mendapatkan kenikmatan dalam ibadah. Segala upaya sudah dilakukan, tapi kenikmatan tersebut tidak kunjung hadir. Abu Yazid pun bergegas pulang ke rumah ibunya. Beliau mengadu tentang keadaan yang dialaminya.
Mendapat curahan hati putra yang sangat disayang tersebut, si ibu mengingat-ingat sesuatu. Terlintas sebuah peristiwa di masa lampau. Ibu yang sedang mengandung Abu Yazid melihat keju yang dijemur tetangganya. Keinginan untuk menyicipi keju tersebut membuatnya lupa. Tanpa seizing yang punya, beliau menyuil keju. “Mungkin itu yang menghalangimu dari kenikmatan beribadah.” Suara sang ibu. Beliau pun langsung mendatangi tetangga pemilik keju untuk meminta maaf. Setelah peristiwa itu, Abu Yazid Al-Bustomi mulai merasakan nikmatnya beribadah kepada Allah.
Satu cuil keju yang dimakan seorang ibu saat hamil mempengaruhi kualitas ibadah anaknya. Padahal itu terjadi setelah puluhan tahun. Padahal selama puluhan tahun Abu Yazid menjaga diri dari makanan haram. Apabila satu cuil keju saja sudah memiliki dampak yang sedemikian bagaimana dengan satu piring nasi haram?
Orang tua harus benar-benar menjamin bahwa makanan yang dia berikan kepada anaknya 100 % halal. Sedikit saja tercampur dengan yang haram maka anak akan merasakan akibat buruknya. Darahnya terkontaminasi haram, dagingnya tersusun dari zat haram maka hatinya akan tertutup dari rahmat Allah. Doanya tidak akan didengar oleh Allah swt.
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda;
“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Sesungguhnya Allah memerintahkan kaum mukminin dengan perintah yang juga Dia tujukan kepada para rasul, “Hai rasul-rasul, makanlah dari makanan yang baik-baik, dan kerjakanlah amal yang saleh. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” dan Dia juga berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, makanlah diantara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar kepada-Nya kamu menyembah.” Kemudian beliau menyebutkan seseorang yang letih dalam perjalanannya, rambutnya berantakan, dan kakinya berpasir, seraya dia menengadahkan kedua tanganya ke langit dan berkata, “Wahai Rabbku, wahai Rabbku.” Padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan dia diberi makan dari yang haram, maka bagaimana mungkin doanya akan dikabulkan.” (HR. Muslim)

India Menatap Dunia

Tahun sembilan puluhan sampai awal dua ribu masyarakat tanah air di terpa badai India. Televisi swasta gencar menayangkan film produksi Bollywood. Artis semacam Amitabh Bachchan, Mithun Chakraborty, Govinda, Sri Devi, sampai ke Shahrukh Khan dan Aishwarya Rai menghiasi hari-hari keluarga Indonesia. Demam India berkurang setelah ekspansi produk drama Jepang dan Korea memasuki tanah air.

Selama masa jaya film India di tanah air, kita disuguhi fakta yang sangat unik. Bernyanyi di setiap kesempatan baik sedih pun senang, bahkan ada yang mengatakan orang India kalau melihat pohon pasti akan bernyanyi dan menari. Akting pukul-pukulan yang sangat jelas tidak kena. Polisi berwajah garang, kulit hitam, kumis tebal, tapi bercelana pendek dan sering telat datang. Alur cerita yang mudah ditebak, seorang jagoan tumbuh dari keluarga yang pas-pasan kemudian bertemu dengan wanita dari keluarga berada, cinta mereka terintangi oleh orang tua, mereka berusaha untuk menghalau segala rintangan, meski harus berhadapan dengan para penjahat yang disewa oleh ornag tua si gadis, sang jagoan tetap bertahan dan akhirnya cinta mereka tak terpisahkan. Mereka berdua pun menyanyi, seiring dengan munculnya tulisan yang menerangkan tentang sipa pemain filmnya, siapa juru kameranya, siapa produsernya dan siapa sutradaranya.

Demikian sejarah film India yang bagi sebagian kalangan dianggap kurang mengesankan. Ketika seorang anak muda ditanya tentang film India, yang ada suara tawa membahana. Film India lebih cocok ditonton oleh orang yang berhati pualam. Sendu dan mudah terharu. Bagi para pecinta aksi, tentu film Indoa bukan pilihan setidkanya fakta tersebut ada di masa tahun sembilan puluhan dan dua ribu awal.

Berbicara tentang India sekarang, tentu berbeda. Film India sudah mulai menguntit industri film Hollywood, bahkan dari segi kuantitas India jauh mengungguli Amerika. Film eksyen India sudah ditunjang oleh special effect yang canggih dan up to date. Genrenya pun sudah beragam. Meski tidka menghilangkan identitas aslinya, lagu dan tari dalam film tapi kualitas film sudah jauh berkembang.

Stop! kita berhenti dulu membicarakan film. Tulisan ini dibuat bukan untuk cinema review. Saya tertarik mengulas India karena belum lama ini ada seorang pria India yang mengguncang dunia. Satya Nadella namanya.

Bagi saya nama itu sangat asing, mungkin demikian pula bagi para pembaca sekalian. Telinga kita tidak pernah disuguhi kabar tentang orang ini. Tapi begitu muncul, semua orang terbelalak. Heran mendengar nama yang asing menjadi orang nomor satu di perusahaan teknologi terbesar dan terkaya di dunia. Ya, Satya Nadella pria India kelahiran Hyderabad 46 tahun lalu ditunjuki menjadi Chief Executive Office (CEO) Microsoft. Bill Gates pemilik Micrasoft mengumumkan penunjukan CEO baru pada tanggal 4 Februari 2014. Satya pun resmi menggantikan posisi Steve Ballmer, CEO Microsoft terdahulu.

Penduduk dunia heran, tapi tidak dengan orang-orang di Microsoft. Satya Nadella bukan orang baru di perusahaan teknologi terkaya tersebut. Dia sudah bekerja lebih dari 20 tahun. Loyalitas Satya selama mengabdikan diri kepada Microsoft sudah tidak diragukan lagi. Sebelum ditunjuk menjadi orang nomor satu, Satya adalah kepala komputasi awan Micrasoft, yang menjalankan landasan perusahaan dan pengembangan peralatan.

Reputasi pria India yang bekerja di Microsoft sejak 1992 tersebut diakui oleh CEO sebelumnya. “Setelah merasakan bekerja sama dengan Satya selama lebih dari 20 tahun, saya tahu ia adalah pemimpin yang tepat pada waktu yang tepat untuk Microsoft,” ungkap Ballmer dalam sebuah pernyataan Selasa. Demikan juga sang pemilik Bill Gates menyanjung, “Nadella adalah pemimpin yang terbukti memiliki keterampilan hard-core engineering, visi bisnis dan kemampuan untuk membawa orang bersama-sama,” katanya dilansir dari USA today, Rabu (5/2).

Kualitas pribadi orang India ini bis adilihat dari visi yang dia miliki. Ketika ditanya wartawan terkait target masa depan, Satya Nadella menyatakan.

“Sementara kita telah melihat sukses besar, kita masih merasa “lapar” untuk terus berbuat lebih banyak,” tulis dia. “Kita sedang menuju ke tempat lebih besar — seiring evolusi besar di bidang teknologi, kita akan berkembang bersamanya dan mendahuluinya.”

Ternyata satya Nadella bukan satu-satunya orang India yang menguasai perusahan raksasa dunia. Ada banyak profesional India yang menjadi eksekutif di perusahaan global.

Anshuman Jain adalah seorang eksekutif bisnis India yang mengambil alih sebagai Co-CEO Deutsche Bank, pada Juni 2012. Jain memiliki sejumlah tanggungjawab atas jabatannya itu. Di antaranya mewenangi manajemen grup strategis, alokasi sumber daya, akuntansi dan pelaporan keuangan, manajemen risiko, serta pengendalian perusahaan.

Indra Krishnamurthy Nooyi, wanita ini adalah ketua dan CEO Pepsi Co. Pepsi Co merupakan salah satu perusahaan terbesar dunia, yang bergerak dalam bisnis makanan dan minuman. Dibawah kepemimpinannya, Pepsi berhasil mengakuisi Tropicana, Quaker Oats an Gatorade. Ketiganya merupakan perusahaan terkemuka di dunia.

Sanjay Kumar Jha. Jha sukses diangkat sebagai CEO dari GLOBALFOUNDRIES, pada Januari 2014. Sebelum menjabat posisi tertinggi di GLOBALFOUNDRIES itu, Jha adalah CEO dari bisnis perangkat mobile Motorola. Sebelum itu juga, Jha pernah memainkan perannya sebagai CEO di Qualcomm.

Selain ke empat orang India yang mencuat tersebut masih banyak ratusan eksekutif asal India yang sedang menapaki karier puncak. Mereka merupakan bagian dari prediksi GOLDMAN SACHS. Dalam sebuah papernya di Global Economic Power No. 99 (2001) telah meramalkan kemunculan poros ekonomi baru dalam 50 tahun ke depan. Keempat negara itu antara lain Brazil, Rusia, India, dan China.