Naik Haji

Sore kemarin waktu Saudi Arabia atau malam waktu Indonesia terjadi musibah di tanah suci. Sebuah crane jatuh menimpa bangunan masjid haram. Ratusan orang jamaah haji terluka, delapan puluh tujuh orang meninggal dunia.
Musibah yang didahului oleh badai tersebut menyisakan duka dan doa. Duka atas apa yang telah terjadi serta doa untuk kebaikan para korban, baik yang masih hidup atau yang wafat.
Meski terjadi bencana, tanah suci Mekah dan Madinah tidak akan pernah sepi peminat. Cuaca seekstrim apapun tidak bisa menghalangi niat kuat mengunjungi rumah suci. Halangan dan rintangan bukan menjadi pencegah sebaliknya menambah semangat. Apa lagi yang lebih baik dari hidup ini selain mengakhirinya dengan khusnul khotimah. Meninggal dalam keadaan beribadah merupakan salah satu contohnya.
Pernah terjadi tragedi terowongan mina yang menelan korban ribuan orang. Tahun berikutnya muslimin yang pergi haji tidak berkurang. Bahkan banyak yang rela menunggu antrian meski bertahun-tahun lamanya. Naik haji bagi umat Islam sudah menjadi cita-cita utama. Mimpi yang paling tinggi. Apapun cita-cita seorang anak, selalu naik haji terselip di dalamnya. Saya sering bertanya pada murid2. Apa cita-citamu? jawabannya ingin menjadi kiyai tentu dengan tambahan haji di belakangnya. Ada yang ingin menjadi pengusaha biar bisa pergi haji sekligus menghajikan orang tua. Ada yang ingin jadi dokter yang bergelar haji. Bahkan suatu ketika saya katakan kepada murid2. Kalau kalian diberi uang 100 juta, apa yang akan kalian lakukan? Mayoritas menjawab Naik Haji.
Diantara murid2 yang pernah saya tanya cita-citanya, ada yang serius. Dia ingin naik haji dengan uang sendiri. Jika melihat kondisi ekonomi keluarga, saya perkirakan ayahnya sanggup membiayai satu kursi baginya. Tapi tekadnya sudah bulat. Tidak ingin merepotkan orang tua.
Singkat cerita dia berusaha mengumpulkan uang. Kebetulan dia belajar cimande dan memang orang cimande ciawi. Seperti kebanyakan orang cimande, anak ini dibekali skil khusus. Pijat dan urut.
Beberapa orang menjadi langganan, termasuk saya. Setiap kali pijat dia dapat upah cape. Sekian bulan dia kumpulkan. Ternyata uang hasil memijat belum banyak. Dia pun mencari pekerjaan lain. Berhubung kuliah pagi, dia hanya punya waktu senggang sore sampai malam. Waktu kosong itu dia maksimalkan mencari tambahan. Alumni yang baru lulus tahun lalu tersebut ikut membantu orang tuanya jualan martabak. Meski sudah ada pegawai yang dipekerjakan orang tuanya, dia tetap ikut berdagang.
Setelah setahun terkumpullah uang sebesar tujuh juta rupiah. Untuk daftar haji dia sudah bisa, tapi belum mendapat jatah kursi. Untuk dapat jatah kursi, alumni tersebut harus setor sekitar dua puluh lima juta rupiah.
Berhubung tekad sudah bulat. Dia tidak mau mundur. Dan hebatnya tidak mau meminta kepada orang tua. Dia kekeh ingin naik haji dari hasil jerih payah sendiri. Alumni tersebut mulai putar otak. Mencari tambahan penghasilan lagi. Sebenarnya di kampus dia sudah mengajar cimande. Temen2 se fakultas banyak yang ingin belajar silat tradisional sunda tersebut. Tapi dia tidak mau membebani bayaran kepada murid2nya.
Sebuah ide pun muncul. Dia membeli beberapa buah loyang martabak. Tidak seperti sang ayah, Loyang yang dia beli dari pasar ukurannya lebih kecil. Dia ingin membuka stand martabak mini. Ide ini sudah bukan barang baru. Banyak yang buka martabak mini. Dia pun berkreasi. Agar jualannya memiliki nilai plus. Terlintas membuat martabak hijau.
Biasanya martabak berwarna coklat susu, dia ingin membuat image baru. Martabak hijau tentu unik dan menarik. Dia pun mulai produksi martabak hijau mini. Ternyata jualannya diterima pasar. Impian naik haji pun terus berkibar.

Advertisements

Manusia Garam

Sumenep merupakan produsen garam terbanyak indonesia. Setiap tahun kabupaten yg berada di ujung timur pulau madura memasok garam nasional. Hamparan ladang garam bisa ditemui di jalan utama sampang -sumenep. Terlebih di daerah pesisir kalianget. Butiran2 putih berkilauan disorot matahari.
Bertani garam adalah profesi utama masyarakat pesisir sumenep. Selain melaut mencari ikan. Suhu udara yg panas ditunjang dgn curah hujan yg kecil, sangat pas untuk bertani garam. Setidaknya proses kristalisasi air laut membutuhkan suhu di atas 30 derajat celcius.
bisa dibayangkan betapa hebatnya petani garam menahan panas. Mereka berjibaku dgn suhu yg terkadang mencapai 34 derajat celcius. Mengalirkan air laut, menjaga proses kristalisasi dan memanen. Semuanya dilakukan secara tradisional. Mengandalkan tenaga manusia alias manual.
setelah panen garam dihargai 400 rupiah per kilogram. Harga garam tidak sehebat gula. Di minimarket garam dapur yg sudah dikemas 250 gram hanya dihargai rp. 2.000. Setara dengan dua permen kopiko.
mengapa garam murah? Apakah garam tdk banyak manfaatnya?
Mari sejenak kita membuka tutup saji meja makan. Di sana ada rendang daging sapi, ada pepes ikan mas, ada opor ayam, perkedel kentang, sayur asam, tempe goreng dan sambal.
rendang, pepes ikan, opor gurihnya bikin liur mengalir. Perkedel pun maknyus ditambah tempe goreng dan sambal waduh secara digoyang lidah. Demikian juga dgn sayur asem dan sayur2 lainnya.
nikmat.
Coba hilangkan garam dari semua masakan tersebut!
Bagaimana rasanya?
Hambar. Anyep. Datar
garam itu yg mbuat setiap makanan terasa nikmat. Garam itu yg menyudupkan rasa di lidah. Garam itu yg membangkitkan selera makan.
kenapa garam murah?
Sahabat, garam tdk pernah demo. Dia tidak mau boikot. Garam menerima peran. Dia sudah digariskan demikian.
Dalam hidup pun banyak diantara kita yg berperan sebagai garam. Selalu menjadi bagian dlm kegiatan. Memberi rasa pada karya. Tapi tidak mendapat harga yg tinggi.
gedung2 pencakar langit itu berdiri karena sosok2 manusia garam. Mereka menggali, memasang pondasi, kepanasan dan kehausan. Berapa rupiah yg didapat? Hanya cukup untuk mengisi perut sekeluarga. Tanpa mereka gambar digital yg didesain arsitek tdk mungkin terwujud.
Jalan2, pusat pertokoan, perkantoran, statsiun, bandara, terminal bersih berseri. Karena tangan2 yg memainkan sapu dan kain pel. Saat kebersihan tercipta yg mendapat anugerah adalah walikota. Tangan2 yg membersihkan itu dilupakan. Mereka adalah manusia garam.
manusia garam ada di mana2. Di pabrik, pusat pertokoan, perkantoran bahkan di lembaga pendidikan.
tanpa mereka hidup ini hambar. Tanpa mereka tidak ada karya tercipta. Tapi keberadaan mereka sering terlupa. Peran mereka dihargai murah. Seolah apa yg telah mereka lakukan tidak signifikan.
mereka manusia garam. Berkontribusi terus meski tidak diopeni. Karena mereka sadar, perannnya hanya memberi rasa bukan membuat karya.

Alphard Mas Mubin

Salah satu rutinitas di bulan Ramadhan adalah mudik. Entah kapan mulainya. Masyarakat Indonesia sudah menjadikan mudik menjelang lebaran sebagai kebutuhan. Setiap orang berlomba mencari tiket kereta. Hasilnya, sebulan sebelum Ramadhan tiket kereta sudah habis. Pilihan berikutnya adalah tiket bis. Hampir sama seperti kereta, tiket bis habis diborong pemudik.

Antusiasme mudik sangat besar. Antri berjam-jam demi sehelai tiket dilakoni. Meski dengan harga yang lebih mahal. Pemudik bahkan rela mencari tiket dari calo. Aroma kampung halaman begitu menggoda. Sehingga halangan dan rintangan diterabas semua. Bagi yang ingin irit, sepeda motor menjadi pilihan. Resiko kelelahan dan kecelakaan setiap pemudik motor tak dihiraukan.

Mudik. Satu kata yang tidak bisa ditawar. Gambaran masyarakat yang memiliki kelelusaan ekonomi lebih nyaman. Mereka tidka harus berdesakan mengantri tiket kereta atau bis. Mereka pun tidak perlu menantang maut dengan roda dua. Para pemudik model ini mencari tiket pesawat. Mereka bisa booking sebulan sebelum keberangkatan. Ada juga yang mudik dengan kendaraan pribadi. Meski lelah di jalan, mobil pribadi dipilih karena lebih murah dibanding ongkos pesawat.

Dan setiap akhir Ramadhan, Mas Mubin pun sudah bersiap pulang. Kampung halamannya di daerah pegunungan di selatan Jawa Timur. Ongkos bis ke sana menjelang lebaran naik dua kali lipat. Sedangkan untuk mendapat tiket kereta sulit baginya. Mas Mubin tidak pernah ambil pusing. Setiap tahun dia tidak usah sibuk mencari tiket.

Lelaki muda yang belum berkeluarga tersebut bekerja di sebuah pesantren. Dia menjadi kepala dapur. Sehari-hari berjibaku dengan dandang dan penggorengan besar. Sekali masak tiga buah karung beras dia olah menjadi nasi. Lauknya 4000 potong ikan atau tempe digoreng dengan wajan besar. Pesantren tempat dia bekerja memiliki santri banyak.

Pesantren tersebut terletak di kabupaten Bogor. Tepatnya di kampung Banyusuci tidak jauh dari kantor kecamatan Leuwiliang. Pimpinannya bukan orang pribumi. Beliau perantau dari pulau Madura. Setiap menjelang lebaran, pak kiyai dan keluarga pasti pulang kampung.

Sudah menjadi kebiasaan keluarga pimpinan pulang dengan pesawat. Meski berangkat dengan pesawat, mobil-mobil pribadi tetap diberangkatkan. Bukan pemborosan. Pimpinan pesantren suka ziarah. Rute pulang dari Jawa Timur diselingi dengan Ziarah Wali songo yang makamnya tersebar di sepanjang jalan Pantura. Mobil-mobil yang diberangkatkan dipersiapkan untuk perjalanan pulang.

Tiga mobil untuk tiga keluarga. Satu untuk pak kiyai dan istri, yang dua tersisa masing-masing keluarga anaknya. Mobil-mobil tersebut tidak ditumpangi oleh pemiliknya saat mudik. Hanya barang yang dijadikan penumpang di belakang. Didasari kebaikan hati pak kiyai, para pekerja dapur diberi keistimewaan ikut mobil tersebut.

Kurang dua bulan sebelum mudik, pak kiyai membeli mobil baru. Sebuah MPV kelas atas berwarna hitam. Mobil yang harganya tiga kali Kijang Innova seri V tersebut pas untuk perjalanan jauh. Keleluasaan dan kenyamanan menjadi fitur berharga yang ditawarkan. Kursi empuk yang bisa distel seperti kursi pesawat, air bag di setiap sisi, air conditioner yang nyaman, LCD di depan dan di kursi penumpang dan tentu saja suspensinya empuk nyaman di jalan bergelombang. Tipikal mobil yang khusus bagi orang-orang berduit.

Mas Mubin sebagai kepala dapur tentu mendapat keistimewaan. Dia mendapat jatah menaiki Alphard. Sedangkan pekerja dapur lain mendapat tumpangan di dua mobil yang diperuntukkan keluarga anak pak kiyai.

Mas Mubin pun mudik dengan Alphard. Di sepanjang jalan dia bisa membuka kaca mobil melirik ke kanan dan kiri. Saat macet orang-orang menatap takjub. Seorang anak muda mudik dengan mobil mewah. Turun di warung makan, berhenti di parkiran, mengisi BBM, selalu menjadi pusat perhatian. Tidak ada orang yang tahu. Apa yang dilihat mata itu yang dipercaya. Seorang anak muda, belum beristri, hanya ditemani sopir, membawa banyak oleh-oleh, pulang kampung dengan mobil seharga 1 milyard. Hanya dia dan sopir yang tersenyum menyadari realita.

Mas Mubin beruntung. Di saat ribuan orang berebut tiket kereta dan bis untuk pulang kampung, dia tenang menyiapkan makanan untuk santri. Ketika pemudik tersebut berjubalan di kereta dan bis dengan segala keterbatasannya, dia duduk nyaman di dalam mobil mewah. Bahkan di sepanjang jalan pun, orang-orang yang lebih berpangkat dan berduit darinya menaruh kagum. Itu karena mobil yang dinaiki Mas Mubin lebih bagus dari mobil yang mereka kendarai.

Tidak banyak orang pernah naik Alphard. Meski di bandara ada Alphard yang dijadikan taksi, tapi orang berpikir dua kali untuk menyewa. Lebih baik naik taksi avanza atau innova yang lebih murah dari pada naik taksi Alphard. Mas Mubin adalah satu dari sedikit orang tersebut. Tidak tanggung-tanggung dia mudik naik Alphard.

Sahabat

Andaikan pak kiyai membeli mobil Hammer seharga tiga Alphard, Mas Mubin pun bisa mudik dengannya. Sebuah keistimewaan yang tidak didapat oleh banyak orang. Sebuah keberuntungan yang nyata. Itu karena Mas Mubin bekerja di tempat yang tepat. Dia pun memiliki majikan yang baik hati. Andai dia tetap bekerja di kampungnya, belum tentu bisa merasakan empuknya kursi mobil mewah.

Baris Yuk

Masih ingat peristiwa di Sekolah Dasar dulu? Setiap pagi ibu guru berdiri di depan pintu. Anak-anak berseragam merah putih yang sedang bergerombol dipisah. Laki-laki berbaris di sebelah kanan. Perempuan di sebelah kiri. Tidak ada yang boleh masuk sebelum barisan dibuat rapih. Satu per satu anak maju memperlihatkan kesepuluh jari. Ibu guru memeriksa. Setiap kuku yang tumbuh melewati batas ruas jari harus dipotong.

Barisan itu dibuat setiap hari. Tidak pernah bosan ibu guru merapihkan. Anak-anak pun kadang menurut. Ada waktunya seorang anak berontak. Dengan sabar ibu menenangkan. Baris adalah ritual wajib yang harus dilakukan di sekolah dasar.

Dulu kita tidak pernah tau. Barisan yang dibuat setiap pagi itu untuk apa. Bahkan kita tidak sempat bertanya. Kita terlalu sibuk dengan kuku di ujung jari. Takut kalau sebuah kuku tumbuh kepanjangan.

Ternyata baris itu bukan pelajaran sembarangan. Setelah kita tumbuh dewasa, menjalani hidup yang lebih berwarna, ternyata baris masih ada. Di setiap kesempatan kita dihadapkan dengan momen berbaris. Membeli tiket kereta, kita harus berbaris. Menunggu pintu kereta terbuka, kita pun berbaris. Membeli tiket pertandingan sepak bola, juga berbaris. Mengantri bantuan tunai, pakai baris. Dikalungi medali saat wisuda pun berbaris. Sampai menyalami pengantin di sebuah acara pernikahan harus berbaris.

Sayang pelajaran berbaris dulu baru sekedar ikut perintah guru. Kita berbaris karena takut dimarahi ibu. Kita berbaris agar cepat bisa masuk kelas. Saat ibu guru berpaling, kita serobot posisi teman di depan. Melihat ibu kurang perhatian, kita nyelonong melewati barisan. Kebiasaan itu pun dibawa sampai besar.

Keributan sering terjadi dalam sebuah antrian. Selalu ada biang kerok pembuat kerusuhan. Lihat saja keadaan lalu lintas di setiap jalan. Saat terjadi kemacetan, kebanyakan mobil diam mengantri di belakang, tiba-tiba satu buah mobil nyelonong mencari jalan di pinggiran. Akibatnya pengendara lain ikutan. Yang di depan menjadi tidak sabar. Barisan yang harusnya satu, menjadi dua bahkan tiga. Kemacetan pun bertambah lama.

Cerita kematian dalam barisan sering juga terdengar. Antri menunggu pembagian zakat berujung maut. Saling serobot, seruduk, berujung saling sikut, tendang, dan yang lemah terjatuh. Sudah terjatuh, diabaikan pula. Sudah diabaikan masih juga diinjak-injak. Saat itu empati hilang. Rasa kasihan meluap. Kepedulian hilang. Satu terbayang, mendapatkan bungkusan secepatnya. Hanya tujuan yang tidak seberapa memenuhi kepala, selebihnya dianggap tidak ada.

Padahal kita pernah belajar berbaris. Ibu guru setiap pagi menuntun kita untuk berdiri rapih.

Pelajaran berbaris tidak hanya monopoli sekolah. Di masjid dan mushola pun kita diajari berbaris. Setiap kali sholat akan dilaksanakan, Imam menghadap ke belakang. Dia minta semua jama’ah mengatur barisan. “shafnya dirapatkan, diluruskan, karena itu menjadi bagian dari kesempurnaan sholat berjamaah” demikian imam berujar.

Pelajaran di sekolah sudah didapat. Pelajaran di mushola dan masjid pun diterima. Mengapa masih juga kita kurang rapih dalam hal berbaris?

Sejenak kita tinggalkan fakta menyedihkan tentang kebiasaan berbaris di negara ini. Mari menengok ke tetangga seberang pulau. Tiga hari saya berada di Singapura. Selama itu tidak henti-hentinya saya merasa takjub. Untuk urusan berbaris warga Singapura memiliki nilai A.

Setiap pagi warga Singapura berangkat kerja. Sama seperti kita. Bedanya, mayoritas kita menaiki kendaraan pribadi baik motor atau mobil. Mereka berjalan menelusuri trotoar. Tujuannya adalah halte bus dan statsiun kereta. Di depan pintu mereka berbaris. Tidak ada gerombolan penutup jalan. Saat pintu bus atau kereta terbuka calon penumpang tetap tenang. Dalam barisan menyerupai hurup A yang ujungnya terbuka, mereka mempersilahkan penumpang yang turun. Setelah penumpang turun, satu persatu masuk dengan tenang.

Berkali-kali saya naik taksi. Sopir taksi seperti biasanya adalah para pengejar setoran. Dari enam orang sopir yang pernah mengantarkan saya ke tujuan, tidak satu pun yang kebut-kebutan. Saat lampu merah hendak menyala, sopir perlahan menginjak rem. Suatu yang tidak biasa. Karena pengalaman saya naik taksi di Jakarta, saat melihat lampu kuning, insting pembalap yang keluar. Bukan rem yang diinjak, tapi gas yang ditekan. Menaiki taksi di Singapura tidak beda dengan naik mobil pribadi. Ketenangan, kenyamanan dan keamanan ada di dalamnya.

Di Singapura sulit mendapat masjid. Suara azan tidak pernah saya dengar. Bahkan mencari makanan halal pun harus dengan perjuangan. Mayoritas mereka etnis China. Muslim adalah umat minoritas. Itu berarti kebanyakan warga Singapura tidak pernah diajari membuat barisan sebelum shalat. Mereka tidak pernah tahu bahwa barisan terdepan saat sholat memberi kelebihan bagi orang yang menempatinya. Bagaikan antrian masuk sorga, orang yang berada di shaf pertama memiliki jatah masuk terlebih dahulu. Mereka tidak tahu itu.

Mereka hanya tahu bahwa mengantri adalah kewajiban warga sesuai aturan hukum negara. Mereka tahu bahwa sebagai warga negara yang baik harus mengikuti peraturan. Oleh karena itu mereka melaksanakan peraturan.

Satu lagi catatan menarik. Selama bepergian di Singapura, tidak satu polisi pun yang saya lihat. Apakah saya yang kurang perhatian. Apakah polisinya yang tidak mau kelihatan. Saya tidak tahu persis. Di perempatan jalan, di sepanjang lampu merah, di belokan-belokan tidak nampak seorang polisi pun.

Sebagai penutup catatan ini, saya copy paste kan tulisan yang dishare di group WhatsApp keluarga besar istri.

Guru di Indonesia panik ketika muridnya tidak pandai Matematika, tapi tenang saja saat muridnya tidak bisa antri (saya kira bukan hanya guru, kebanyakan orang tua pun demikian). Sebaliknya seorang guru di negara tetangga pernah berkata, “Kami tidak terlalu jika anak-anak Sekolah Dasar kami tidak pandai Matematika. Kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai Mengantri”. Saat ditanya mengapa, inilah jawabannya.

1. Hanya perlu waktu 3 bulan secara intensif untuk melatih anak pandai Matematika. Sementara perlu waktu 12 tahun atau lebih untuk melatih anak agar bisa mengantri dengan baik dan benar.

2. Tidak semua anak kelak berprofesi menggunakan ilmu Matematika, kecuali tambah, kali, kurang dan bagi. Sebaliknya semua murid dalam satu kelas pasti akan membutuhkan etika moral dan pelajaran berharga dari mengantri di sepanjang hidup mereka.

Apa pelajaran berharga yang didapat dari mengantri?

1. Anak belajar manajemen waktu. Jika ingin mengantri paling depan, harus datang dari awal. Dan itu perlu persiapan lebih awal.

2. Anak belajar bersabar. Menunggu giliran tiba, terutama jika ia berada di antrian paling belakang.

3. Anak belajar menghormati hak orang lain. Yang datang lebih awal dapat giliran lebih dulu. Anak tidak merasa dirinya lebih penting, sehingga menyerobot barisan di depan.

4. Anak belajar berdisiplin. Aturan mengantri adalah diam di tempat sebelum dapat giliran.

5. Anak belajar kreatif. Waktu mengantri terkadang lama, itu bisa menjadi kesempatan untuk mencari aktifitas yang bermanfaat. Seperti membaca buku, menulis atau menggambar. Asalkan sesuai dengan keadaan dan tidak mengganggu orang lain.

6. Anak belajar bersosialisasi. Sambil menunggu antrian, bisa menyapa orang yang berada tidak jauh darinya.

7. Anak belajar tabah. Dalam hidup dia selalu mengikuti proses, tidak melegalkan cara-cara kotor untuk mendapatkan tujuan.

Semoga kita bisa kembali belajar berbaris dengan rapih dan teratur. Kemudian mengajarkan cara berbaris yang baik itu kepada anak, murid, atau adik kita. Sehingga akan muncul generasi baru yang mau mengantri. Mau menunggu. Mau menjalani proses. Tidak asal masuk, asal sampai, asal dapat apa yang dimau.

Tragedi Ranking

Beberapa hari lalu keluarga kami mendapat undangan dari sekolah. Undangan yang ditujukan secara khusus kepada orang tua siswa tersebut menuliskan tanggal 19 Desember 2014 sebagai hari pembagian rapor. Maka sabtu pagi, istri saya bersiap dandan serapih mungkin untuk menyambut hari besar bagi anak kami. Nada sudah selesai melewati ujian akhir semester ganjil. Anak sulung kami yang duduk di kelas dua sekolah dasar tersebut bersiap menerima hasil ujian.
Ketika bundanya sibuk merapihkan diri, Nada masih belum mau beranjak dari atas kasur. Dia tidak tidur memang. Jam lima pagi sudah bangun. Seperti biasa menunuaikan sholat subuh meski dengan segala kesulitannya. Nada terlihat kurang semangat. Bundanya bertanya, “Nada enggak ikut ke sekolah?”
Anak yang belum genap enam tahun tersebut mengangguk. Bundanya menghubungi sekolah. Ternyata di hari pembagian rapor siswa tidak diwajibkan hadir. Hari itu kehadiran siswa bersipat opsional; kalau mau hadir bagus, tidak juga enggak apa-apa. Nada pun senang.
Melihat gelagat Nada, saya teringan puluhan tahun lalu. Saat itu saya duduk di kelas tiga Sekolah Dasar. Selama enam kali ujian, tiga kali caturwulan di kelas satu dan tiga kali di kelas dua, saya selalu berada di empat besar. Kalau tidak ranking empat, pasti ranking dua. Tidak pernah rangking satu atau tiga. Saya selalu kebagian yang genap. Bagi rapor menjadi momen yang sangat mendebarkan. Kira-kira nomor berapa yang terparti di ujung rangkaian angka-angka di atas kertas.
Hari itu saya tidak ditemani orang tua. Berbalik dengan kasus Nada, orang tua harus hadir anak boleh tidak. Bagi rapor waktu itu boleh diambil langsung oleh siswa. Memang ada beberapa orang tua yang memaksakan diri hadir, tapi umumnya siswa sendiri yang mengambil rapor. Kelas pun menjadi tidak imbang. Beberapa orang ibu dikerumuni puluhan siswa.
Ruang kelas sudah penuh, wali kelas datang dengan langkah pasti. Setelah menguluk salam, menyapa wali murid dan juga murid-murid, bapak wali kelas mulai membuka pertemuan. “Ada beberapa anak yang prestasinya naik. Saya sangat bangga atasnya. Ada juga beberapa yang turun drastis”.
“dek” saya mulai merasakan pirasat buruk.
Entah mengapa di kelas tiga saya kekurangan minat belajar. Bukan karena pelajarannya yang susah, atau teman yang kurang bersahabat, atau ruang kelas yang tidak menunjang. Bukan. Pelajaran dari mulai bahasa Indonesia, IPA, IPS, juga Matematika semuanya favorit bagi saya. Teman-teman juga tambah akrab. Setelah dua tahun bersama, tahun ketiga menjadi lebih saling mengenal dan saling memahami. Meski ruang kelas kami tidak layak disebut ruang belajar, tapi itu tidak masalah. Dari awal masuk semuanya diberitahu bahwa sekolah kami adalah sekolah impres untuk daerah perkampungan. Atapnya bocor di sana-sini, sehingga banyak asbes yang jebol. Untungnya setiap pagi kami kebagian sinar ultraviolet dalam jumlah yang lebih dari cukup. Lantainya plesteran dengan lubang di mana-mana. Bagi kami itu bukan masalah. Belajar tidak banyak terkait dengan ruang. Belajar lebih mnegarah kepada interaksi dua arah antara murid dan guru, guru dan murid. Ketika interaksi itu berjalan dengan baik, maka belajar pun menjadi menarik.
Sayangnya interaksi itu yang tidak saya dapatkan. Di kelas tiga saya merasa hampa. Bapak wali kelas kurang menyenangkan. Terlebih bila dibandingkan dengan wali kelas satu atau dua. Di kelas satu saya dianugerahi wali kelas terbaik. Beliau adalah ibu kepala sekolah yang merangkap menjadi wali kelas. Sifat keibuannya membuat kami nyaman. Beliau bukan sekedar menggantikan orang tua, tapi benar-benar menjadi orang tua. Demikian juga wali kelas dua. Masih ibu-ibu, dengan kasih sayang dan perhatian yang besar. Meski belum bisa menyamai kebaikan wali kelas satu, ibu wali kelas dua tetap kami puja.
Saya merasa bapak wali kelas terlalu pilih kasih. Setiap ada kesempatan untuk menjawab soal, anak perempuan yang didahulukan. Menerangkan pelajaran juga lebih memperhatikan anak perempuan. Di jam istirahat pun waktunya berkumpul dengan anak perempuan. Saya hilang semangat.
Ketika nama saya dipanggil untuk menerima rapor, saya pasrah. Biasanya saya dipanggil di awal, tapi ini sudah masuk ke pertengahan. Tanpa harus membuka lembaran rapor, sudah bisa ditebak. Saya ke luar dari empat besar, bahkan sepuluh besar pun tidak. Prestasi saya terjun bebas. Di kelas dua caturwulan ketiga, ada angka dua di ujung rapor. Sekarang bukan dua singgel, tapi dua digit.
Bayangan kemarahan berkelebat dalam pikiran. Ibu pasti menunggu laporan. Saya tahu pasti bagaimana respon beliau. Tapi saya tidak bisa menyembunyikan hasil rapor. Saya harus pulang. Siap menerima resiko.
Rapor bersampul plastik merah tersebut di tangan ibu. Setelah beberapa lama menelusuri angka-angka, bentakan pun terdengar. Tidak usah lah saya tuliskan apa yang ibu utarakan. Satu sketsa yang sampai sekarang masih tergambar jelas di memori. Tangan ibu meremas buku rapor, seperti meremas kertas bungkus cabai. Benda tak berdosa itu berubah wujud seperti bola. Tepatnya bola bergelombang tidak beraturan. Belum selesai sampai di sana. Segera ibu buka jendela kamar. Rapor yang sudah menjadi bola di lempar ke luar.
Hancur. Perasaan saya sama persis seperti buku lapor. Remuk namun tidak berdaya. Dalam tangis saya berlari ke luar rumah. Kedua tangan tidak sempat mengusap air mata. Tangan kecil saya sibuk meraih buku rapor. Hasil belajar saya selama dua tahun empat bulan itu sudah tidak beraturan. Melihatnya air mata bertambah deras membasahi pipi. Rasa takut bertambah besar. “Apa yang akan saya katakan kepada bapak guru saat mengembalikan buku rapor ini?”
Peristiwa itu sudah berlalu lebih seperempat abad. Tidak ada benci di hati. Sakit memang, tapi hanya waktu itu. Setelahnya saya bisa memahami. Ibu ingin saya terus berprestasi. Sebagai anak pertama saya harus menjadi contoh adik-adik. Kalau si kakak tidak berprestasi bagaimana dengan adik-adiknya.
Bunda Nada pulang membawa secari kertas, Rapor zaman sekarang sudah jauh berbeda. Hanya dengan secarik kertas orang tua sudah bisa melihat hasil belajar anaknya. Tidak ada angka tujuh. Rata-rata nilai sembilan puluh tertulis di atas kertas tersebut. Ada tiga mata pelajaran yang nilainya delapan puluh; Bahasa sunda, keterampilan dan qiroati. Selebihnya di atas sembilan puluh.
Ada satu hal yang menarik perhatian saya. Di rapor zaman sekarang tidak ada tertulis kata “RANKING”. Padahal dulu, kata itu yang dicari pertama kali tiap menerima rapor. Dari kata itu seorang anak bisa mendapat pujian bahkan hadiah. Dari kata itu pula seorang anak bisa mendapat trauma. Ego menuntut agar di rapor anak saya tertulis ranking. Tentu dengan nilai yang demikian bagus, anak saya berada di jajaran teratas. Saya memimpikan satu angka yang tidak pernah saya dapatkan semasa di sekolah dasar dulu. Tapi setelah berpikir dan melihat sekeliling saya sadar, itu kurang bijak.
Menuliskan angka sebagai rangking kelas bagi anak-anak seusia Nada tidaklah urgen. Bahkan kalau itu dilakukan, tragedi akan terjadi. Anak-anak yang mendapat angka 30 dari tiga puluh siswa tentu tertekan jiwanya. Mereka merasa sebagai warga kelas bawah. Mereka anak sisa. Bisa jadi orang tuanya pun beranggapan demikian. Ketika anaknya berprasangka buruk ditunjang dengan prasangka buruk orang tua, bagaimana dengan masa depan.
Tidak menuliskan rangking adalah sebuah kebijakan yang sangat bijak. Anak tidak bisa dinilai hanya dari satu aspek. Kognitif saja tidak menjamin kebahagiaan di masa depan.

Pahlawan di sebelah Rumah

Usia tidak bisa ditutupi. Setiap hari yang berlalu dalam hidup selalu mengambil apa yang ada dalam tubuh. Kecantikan yang dibanggakan saat muda perlahan akan sirna. Ketampanan yang mampu menggoda banyak perempuan pun tereduksi dengan sendiri. Kekuatan hilang. Kecekatan berkurang. Pandangan mata ikut kabur. Demikian dengan pendengaran sudah tidak tajam. Usia menggerogoti setiap jengkal lekuk tubuh. Pada akhirnya usia akan melebur tubuh dengan tanah.

Tidak ada yang tersisa. Raga manusia pasti binasa. Semua yang terbaik dari bentuk fisik hanya bisa dipandangi lewat gambar. Itu pun tidak akan lama. Gambar semakin hari semakin pudar. Hanya kenangan yang tersisa. Itu pun sangat sulit dideskripsikan secara utuh. Sosok fisik manusia mudah terlupa.

Setiap kali pulang ke rumah orang tua, saya melewatinya. Sebuah bangunan yang sederhana dengan halaman di samping kanan yang dibiarkan lenggang. Sekeliling bangunan dipagari pipa yang diisi adukan pasir dan semen. Nampak beberapa pipa sudah tiada, meningalkan rongga dalam deretan pagar. Persis seperti gigi orang tua, bolong di mana-mana. Seingatku bangunan itu tetap sama seperti dua puluh tahun lalu bahkan lebih. Di depan ada serambi yang lumayan luas untuk menampung lebih dua puluh orang dewasa atau tiga puluh orang anak.

Serambi itu tidak akan pernah aku lupakan. Di sana aku pernah ada. Setiap malam menjelang, diawali kumandang azan magrib ibu selalu mengulang satu kata, ‘ngaji’. Sebuah kata yang terkadang sangat menyakitkan telinga. Aku enggan. Mencari berbagai alasan agar bisa lepas dari satu kewajiban itu. Namun ibu bukan polisi yang mudah kompromi. Ibu adalah hakim yang kalau sudah mengetuk palu maka putusan harus berlaku. Aku pun berangkat dengan enggan.

Jarak rumah dengan tempat mengaji hanya dibatasi sebuah dinding pembatas. Terkadang aku yang nekat hanya meloncat dan sampai di tempat ngaji. Meski jaraknya dekat, kemalasan tidak pernah bisa ditolak. Alasan ada saja dan mudah dibuat. Terkadang aku pura-pura ketiduran. Di saat lain aku pegang perut, merintih sakit. Jalan kebaikan memang terjal dan berliku.

Di serambi itu aku mengenal huruf hijaiyah. Di serambi itu aku tahu bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi umat. Di serambi itu aku diajari cara bersuci. Ternyata sholat itu ada syaratnya. Tidak boleh buang gas saat sholat. Bahkan aku mengenal ada sepuluh malaikat di serambi itu.

Usiaku masih delapan tahun. Aku belajar membaca Al-Qur’an. Terkadang muncul kejemuan. Aku nolak ngaji. Minta pindah ke tempat lain. Ibuku mengiyakan asal aku tetap ngaji. Beberapa orang guru di tempat yang berbeda aku datangi. Pada akhirnya aku kembali ke serambi itu.

Nini (nenek) demikian aku memanggil si empunya rumah. Beliau bukan orang lain bagiku. Nini adalah adik bungsu kakekku. Setiap magrib aku mengaji di rumah nini. Beliau mengajariku sampai bisa. Betapa bahagianya aku saat bacaan ngaji sampai di surat ‘amma yatasaalun’. Sebentar lagi aku masuk ke Al-Qur’an. Dulu belum ada metode khusus belajar Al-Qur’an seperti Iqra atau Qiroati. Setiap anak yang belum bisa membaca Al-Qur’an memulai pelajaran dari surat Al-Fatihah. Guru ngaji mengajari car abaca, anak mengikuti. Terus demikian sampai bisa melafalkan. Setelah diangap mampu, berikutnya surat an-naas. Terus berurutan sampai ‘amma yatasaalun’.

Anak yang sudah menyelesaikan juzamma pada umumnya sudah mengenal huruf hijaiyah dan mampu membaca Al-Qur’an. Maka menyelesaikan juzamma merupakan sebuah kebanggaan. Bukan hanya bagi si anak tapi juga orang tuanya. Temanku bahkan mengadakan acara syukuran tamat juzamma dengan memasak nasi kuning dan bakakak ayam kampung. Maka saat itu bagiku adalah saat teristimewa. Menyelesaikan juzamma berarti aku hebat. Sementara temanku masih membaca tuturutan (buku bacaan surat-surat dalam juzamma, disebut tuturutan karena cara pengajarannya murid mengikuti guru dalam Bahasa sunda disebut nurutan), aku sudah masuk ke Al-Qur’an.

Setiap kali membuka Al-Qur’an dan membacanya atau mendengar orang membaca Al-Qur’an memoriku mengulang peristiwa itu. Aku tamat juzamma dan mulai membaca Al-Qur’an. Dalam keberhasilanku yang dikelilingi kebanggaan serta kebahagiaan tersebut terdapat satu sosok yang luar biasa. Nini adalah pahlawanku. Tanpanya mungkin aku belum bisa membaca Al-Qur’an dalam usia remaja. Tanpanya mungkin aku belum mengerti bahwa wudhu itu wajib karena menjadi syarat untuk melaksanakan sholat. Tanpanya mungkin aku belum tahu bahwa ada 10 orang malaikat yang bertugas mengurusi hajat manusia di dunia.

Sosok nini yang sekarang sudah jauh berubah. Dulu masih sehat, sekarang sudah sering diserang sakit. Punggungnya yang lurus, sekarang sudah membungkuk. Gigi satu demi satu meninggalkan gusi. Kedua kakinya terkadang tidak mampu menopang untuk berjalan jauh. Rambutnya bukan hanya memutih tapi sudah mulai berguguran. Fisik nini tergerus seiring dengan waktu.

Meski keadaan fisik sudah berkurang drastis dibandingkan seperempat abad lalu, namun semangatnya masih tetap berkobar. Sampai detik ini nini masih setia mengajari anak-anak mengaji. Serambi tempat aku mengikuti bacaan tuturutan masih tetap terisi. Bedanya sekarang yang mengaji tidak sebanyak dulu. Aku sangat maklum. Kondisi fisik nini tidak memungkinkan mengajar puluhan anak seperti waktu aku mengaji.

Cerita nini mengajar ngaji tidak hanya bermula di masa aku kecil. Jauh sebelumnya nini sudah menjadi guru ngaji. Lebih lima puluh tahun beliau mendedikasikan diri untuk menerangi umat. Banyak anak yang bisa mengaji di tangannya. Muridnya tidak hanya orang terdekat atau tetangga, banyak juga yang berasal dari kampung lain.

Nini sudah mengajari ngaji tiga generasi. Selama itu tidak pernah sekalipun muridnya dimintai bayaran. Mengajar ngaji bagi nini adalah pangilan jiwa. Siapapun yang datang pasti diajari. Terkadang ada anak yang datang tanpa ditemani orang tua. Mungkin orang tuanya tidak tahu si anak mengaji di rumah nini, atau tidak mau tahu. Meski demikian nini tetap menerima. Kalau dia tidak membawa tuturutan, di rumah nini tersedia cukup.

Sosok nini secara fisik sudah berubah. Mungkin anak-anak generasi ketiga yang masih diajari ngaji menjadi generasi terakhir. Namun semangat mengajarnya tidak pernah sirna. Meski tanpa embel-embel penghasilan harian atau mingguan atau bulanan, nini tetap mengajar ngaji. Demikian besarnya semangat itu mengakar sehingga sosok nini sangat identik dengan guru ngaji.

Fisik manusia akan terus tergerus oleh waktu. Membayangkan sosok seorang manusia waktu dulu dengan melihatnya saat ini seperti menerawang awan dalam kabut. Memori manusia terbatas untuk mengingat bentuk fisik. Tapi memori tersebut sangat cepat merespon jasa yang pernah diterima. Seperti sumbu obor terkena percikan api, memori dengan mudah mengingat kebaikan yang pernah diberikan seseorang kepada dirinya. Seperti itu pula aku mengingat sosok nini. Aku sudah lupa atau setengah lupa bagaimana bentuk fisik nini saat dulu mengajariku. Apakah nini sudah setua sekarang. Apakah kulitnya sudah keriput. Apakah suaranya berbeda. Aku tidak ingat pasti. Tapi tentang cara nini mengajariku mengaji, menceritakan tentang para malaikat, mempraktekan wudhu yang benar aku masih ingat.

Bagiku nini adalah pahlawan. Beliau memberi tanpa menuntut diberi. Laksana matahari yang terus bersinar tanpa menghitung hari. Di tangannya ratusan orang bisa mengaji. Dari ratusan orang ada beberapa yang menjadi guru ngaji. Dari ratusan itu juga banyak yang mengajari anaknya mengaji. Jasa nini tidak berhenti. Seperti bola salju di musim dingin, semakin ke bawah semakin membesar.

Menjadi pahlawan tidak selalu membawa senapan. Pahlawan bukan hanya seseorang yang gagah berani maju ke medan tempur. Membunuh atau dibunuh demi bakti kepada ibu pertiwi bukan satu-satunya ciri pahlawan. Mengajar ngaji seperti nini juga bentuk kepahlawanan.

Memanusiakan Anak Cara Nabi Ibrahim

Ibrahim as adalah salah satu nabi yg mendapat kedudukan istimewa di sisi Allah. Beliau disebut khalilallah, atau yg terkasih. Juga termasuk ke dalam sedikit Rasul yg menerima predikat ulul azmi, golongan manusia terbaik berkat kesabarannya.
Masih panjang rentetan predikat yg dimiliki ayahanda Ismail as ini.

Hari raya Idul Adha, merupakan salah satu monumen hidup yg terus lestari untuk mengingat sepak terjang Nabi Ibrahim. Lebih dari satu milyar penduduk bumi yg memeluk Islam merayakan hari besar ini. Memotong hewan kurban menjadi bagian yg tidak terpisahkan dari perayaan Idul Adha.

Di samping sejarah kurban yg melekat dgn Nabi Ibrahim, ada banyak hal yg bisa kita timba dari Ayah para nabi tersebut. Salah satunya adalah model pendidikan keluarga. Ibrahim as tidak terbantahkan sebagai seorang ayah sukses. Keturunannya menjadi nabi yg meneruskan dakwah sampai di penghujung masa.

Mari kita lihat bagaimana nabi Ibrahim mendidik putranya. Saat beliau mendapat mimpi untuk menyembelih putra kesayangannya, suami dari Siti Sarah tersebut mendatangi putranya. Ismail yg sedang tumbuh remaja diajak berdialog. “wahai putra tersayang, aku diperintah Allah melalui mimpi untuk menyembelihmu.” Nabi Ibrahim menceritakan perihal mimpinya. Bahwa dia bermimpi benar adanya. Bahwa mimpinya itu terulang tiga kali, sebaga penguat keyakinannya. Bahwa mimpi ini bukan sekedar bunga tidur. Allah telah berfirman di dalam mimpi tersebut. Firman Allah adalah sebuah kemestian. Itu adalah perintah meski hanya lewat kilatan gambar.

Setelah memberitakan mimpinya, Nabi Ibrahim berujar, “bagaimana menurutmu anakku?”

Meskipun mimpi tersebut datangnya dari Sang Maha Kuasa. Meskipun sebagai seorang Nabi dia tidak boleh menolak perintah. Meskipun dia adalah seorang ayah yg memiliki hak atas anaknya. Nabi Ibrahim tetap menanyakan pendapat putranya. Meski putranya belum bisa dikatakan dewasa. Ismail saat itu adalah anak yg beranjak remaja.

Nabi Ibrahim bisa saja menyampaikan dogma, “putraku besok kami harus siap, ayah mendapat perintah Allah untuk menyembelihmu.” sebagai seorang ayah sekaligus rasul beliau berhak memerintah langsung. Tapi itu tidak dilakukan. Ibrahim as sangat mengerti bahwa putranya bukan boneka. Dia manusia yg diberi akal. Dan sebagai manusia berakal, Ismail meski seorang anak yg beranjak remaja berhak mengungkapkan pendapat. Apalagi pendapat tersebut terkait dengan kehidupannya.

Demikian Nabi Ibrahim as mengajari kita tentang pentingnya menjalin komunikasi dengan anak. Seorang ayah yg baik tidak akan berlaku sewenang wenang kepada anaknya. Ayah yg baik akan mendengarkan pendapat anaknya. Baginya anak adalah patner diskusi.

Apa yg telah dicontohkan nabi ibrahim menjelaskan bahwa komunikasi yg terjalin dgn baik antara orangtua dan anak akan memudahkan proses pendidikan di lingkungan keluarga. Allahu a’lam bi shawab

Ramadhan, Bulan Kemenangan Paripurna

Di penghujung abad 15 masehi, sebuah tonggak sejarah terpancang di bumi nusantara. Islam yang sudah datang ke nusantara semenjak masa kekuasaan khalifah Utsman bin Affan (644-656 M) menancapkan sumpremasi di tanah Jawa dengan berdirinya kesultanan Demak. Raden Fatah, putra maha raja Majapahit dari seorang istri yang berasal dari negri Champa adalah pendiri kerajaan Islam pertama di tanah Jawa tersebut. Hegemoni Majapahit yang berasaskan Hindu perlahan memudar. Setalah kematian maha patih Gajah Mada, kekuatan Majapahit mengalami kemunduran. Raja Hayam Wuruk yang banyak bergantung kepada snag patih dibuat frustasi. Tidak lama kemudia, sang Raja mengikuti jejak patihnya. Dua orang tokoh sejarah yang mengharumkan nama Majapahit kembali ke haribaan Ilahi.
Raden Fatah mendapat momen emas. Murid dari seorang waliyullah bernama Sunan Ampel tersebut tidak menyia-nyiakan kesempatan. Di bawah bimbingan sang guru, Raden Fatah mengembangkan kekuasaan Demak. Pusaran kekuasaan Jawa yang sebelumnya bertumpu di Timur, ditarik ke Tengah. Mojokerto sebagai pusat pemerintahan Majapahit kalah pamor dengan Demak di pantai utara Jawa Tengah. Sebuah kadipaten berubah menjadi ibu kota kerajaan. Demak berdiri sebagai kekuatan super di tanah Jawa.
Visi Sunan Ampel yang diterjemahkan oleh muridnya Raden Fatah melalui pendirian kerajaan Islam terus hidup di kalangan istana. Setalah wafat Raden Fatah, putra pertamanya Pati Unus diangkat menjadi raja. Bagi raja Islam, menyebarkan ajaran tauhid merupakan tugas utama di samping mensejahterakan rakyatnya. Ketika muncul kekuatan asing yang mengganggu proses islamisasi, maka sang raja akan berdiri tegak. Dengan kukuatan dan ketetapan hati dia menjadi tameng agama. Islam adalah sebuah jalan hidup. Seorang pemimpin kerajaan Islam akan berjuang membela agama dengan jiwa dan raganya.
Pati Unus tahu bahwa Malaka, pusat kekuasaan Islam pertama di Nusantara telah dikuasai Portugis. Kekuatan asing dari Barat tersebut membawa tiga missi; gold, glory and gospel. Mereka datang atas perintah Paus Alexander VI, pemimpin tertinggi Katolik Roma. Semua kerajaan Barat dibawah payung Katolik Roma harus menjalankan mission sacre, misi suci menghabisi umat Islam untuk kejayaan vatikan. Kerajaan Portugis yang baru saja mengalahkan kekuatan Islam di Andalusia, mengemban tugas suci kristus. Pati Unus sebagai seorang pemimpin Islam terpanggil. Dengan 100 kapal dan ribuan prajurit dari Demak dan Palembang, Sang Sultan berangkat menelusuri selat Sunda menuju Malaka.
Dua kali Pati Unus berusaha mengusir Portugis dari Nusantara. Takdir belum berpihak kepada Sang Penguasa tanah Jawa. Kekuatan armada laut Demak belum mampu menembus benteng Malaka. Meski belum berhasil, usaha sang raja tidak dipandang sebelah mata. Sejarah mencatat. Kita pun diingatkan bahwa ada seorang Raja Jawa yang berlayar ke Malaka untuk mengusir penjajah. Pati Unus mendapat gelar Pangeran Sabrang Lor. Seorang pangeran yang dengan gagah berani menyeberang selat menuju utara demi menjaga hegemoni bangsa dan agama.
Portugis semakin meraja lela. Merasa kuat dan hebat, kukuatan asing tersebut mulai memasuki Jawa. Tahun 1522 M, Portugis menguasai Sunda Kelapa. Daerah utara priangan yang menjadi salah satu pelabuhan strategis kerajaan Sunda Pajajaran tersebut direbut Portugis. Mereka mendirikan benteng yang kuat. Jelas sudah niatnya, menjarah Jawa. Pelabuhan utama di pulau Sumatra telah dikuasai. Kini Pelabuhan utama di Jawa Barat juga dikuasai. Mengapa Jawa Barat? Karena wilayah Tengah dan Timur dikuasai sebuah kerajaan besar, Demak Bintaro.
Penguasaan Sunda Kelapa oleh Portugis menjadi duri dalam daging bagi penguasa Demak. Raja Demak yang menyerang ke Malaka telah tiada. Setahun sebelum Portugis datang ke tanah Sunda. Kini Sang adik yang berkuasa. Sultan Trenggono, putra kedua Raden Patah tidak tinggal diam. Di Masjid Agung Demak yang menjadi tempat musyawarah antara raja dan penasehat dari kalangan ulama tersurat sebuah keputusan. Demak harus menyerang Sunda Kelapa. Portugis harus diusir dari tanah Sunda.
Wali Songo dan penguasa Demak sepakat menunjuk Syarif Hidayatullah sebagai penanggung jawab tugas mulia. Penunjukan Syarif Hidayatullah berdasarkan alasan keimanan, kecakapan dan juga keturunan. Keimanan Syarif Hidayatullah sudah tidak perlu diperdebatkan. Beliau adalah satu dari sembilan wali yang menjadi penasehat raja Demak. Untuk urusan perang pun, tidak diragukan. Selain seorang ulama beliau juga prajurit di medan laga. Syarif Hidayatullah berhasil menjadikan Cirebon sebagai sebuah kerajaan semi independen. Sebagai sebuah kekuatan Islam di Jawa Barat, kesultanan Cirebon memiliki pasukan yang cukup untuk membantu Demak. Alasan keturunan adalah alasan yang paling emosional. Syarif Hidayatullah adalah putra dari Nyai Lara Santang, putri sang penguasa tanah Pasundan. Di dalam tubuhnya mengalir darah biru Prabu Siliwangi, raja Pajajaran. Sunda Kelapa merupakan bagian dari wilayah Pajajaran. Mengusir Portugis dari Sunda Kelapa bagi cucu Prabu Siliwangi adalah tugas agama dan juga tugas bangsa. Sebagai pewaris tahta Pajajaran, penunjukan Syarif Hidayatullah sebagai pemimpin misi adalah sebuah keputusan yang sangat cerdas.
Syarif Hidayatullah bersiap merebut Sunda Kelapa dari tangan Portugis. Fathillah, menantunya yang berasal dari Pasai dilibatkan. Pengalaman Fathillah sebagai seorang prajurit perang sangat dibutuhkan. Ribuan prajurit disiapkan. Meraka harus belajar dari pengalaman. Kegagalan menyerang Portugis di Malaka jangan sampai terulang. Kekurangan pengalaman dalam pelayaran yang menjadi penyebab kegagalan menaklukan Malaka pada tahun 1512 harus dijadikan pelajaran.
Sebagai pemimpin pasukan sekaligus pemimpin spiritual, Syarif Hidayatullah menanamkan ruh jihad ke dalam sanubari para prajurit. Dalam Islam prajurit bukan pion yang ditakdirkan untuk membentengi raja, bergerak melindungi nyawa pemimpin dan rela mati demi rajanya. Islam mengajarkan bahwa, prajurit adalah mujahid fi sabilillah. Dia berada dalam medan pertempuran bukan semata untuk membela kepentingan raja. Dia bertarung melawan musuh tidak hanya untuk mengharumkan nama bangsa. Seorang mujahid berperang karena tugas agama. Dia berjuang untuk mendirikan kalimat tauhid. Tetesan keringatnya menjadi dzikir, tebasan pedangnya menjadi ibadah, dan matinya adalah syahid. Bagi seorang mujahid tidak ada kata kalah. Mati dalam pertempuran berarti syahid di jalan Allah. Bertahan hidup dengan menumpas musuh berarti meninggikan asma Allah.
Berbekal niat mulia, pasukan Demak beranjak dari Jawa Tengah melalui jalur laut. Pelabuhan Sunda Kelapa adalah destinasi akhir. Di sana mereka ditunggu pasukan kafir Portugis yang mengemban missi penjajahan atas pribumi. Bagi prajurit Demak yang dibantu oleh pasukan Cirebon, tidak ada pilihan pulang dengan kekalahan. Mereka harus berjuang sampai titik darah penghabisan, hidup mulia atau mati syahid. Kembali ke Demak dengan kekalahan hanya akan mendatangkan cela.
Perang berkobar. Senjata modern pasukan Portugis dilawan kilatan pedang pasukan Demak. Darah tumpah dari ke dua belah pihak. Mayat bergelimpangan. Ada yang mati syahid, ada yang mati konyol. Berbahagialah para prajurit Demak yang berjuang untuk menegakkan agama. Matinya dirindukan surga.
22 Ramadhan 933 H, Sunda Kelapa berhasil dikuasai pasukan Demak. Prajurit Portugis mengalami kekalahan. Sebagian besar lari menyelamatkan diri. Tanah Pasundan menjadi milik penguasa Muslim. Syarif Hidayatullah dan menantunya Fatahillah bersimpuh penuh syukur ke hadapan Sang Penguasa langit dan bumi. Atas pertolongan dan izin Allah Sunda Kelapa berhasil direbut dari tangan Penjajah Khatolik Portugis.
Sebagai rasa syukur, Syarif Hidayatullah mengganti nama Sunda Kelapa menjadi Jayakarta. Penamaan ini bukan sembarang. Sunan Gunung Jati teringat peristiwa ratusan tahun silam. Saat pasukan Madinah yang dipimpin Rasulullah berhasil memasuki kota Mekkah. Takbir bergemuruh. Berhala berjatuhan. Kemenangan besar yang telah dijanjikan terbukti. Allah Maha Besar. Al-Qur’an mengabadikan peristiwa bersejarah tersebut dalam surat Al-Fath ayat pertama, “Sesunggunya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang besar”. Peristiwa fathul Makkah terjadi pada bulan Ramadhan tahun ke 8 Hijriah. Tanggal 10 Ramadhan Rasul bersama pasukannya meninggalkan Madinah. Tanggal 19 Ramadhan pasukan Madinah memasuki kota Mekkah. Tanggal 20 Ramadhan terjadi pengampunan umum bagi penduduk Makkah.
Sejarah seolah terulang. Peristiwa Fathul Makkah yang terjadi di bulan Ramadhan tahun 8 Hijriah, diikuti oleh peristiwa pembebasan Sunda Kelapa dari tangan Portugis bulan Ramadhan tahun 933 Hijriah. Sunda Kelapa dirubah menjadi Jayakarta yang berarti kemenangan paripurna.

Menggurui Guru

Catatan ini ditulis dengan senyuman. Sebuah isyarat yang bisa ditafsirkan dengan sederhana pertanda senang. Tersenyum adalah ibadah karena dengan senyum kita telah berbagi kebahagiaan. Demikian ajaran yang telah disampaikan oleh Rasul yang agung. Islam adalah jalan kebahagiaan. Pemeluk Islam atau seorang musim mengemban misi sebagai agent of happiness. Di mana pun dia berada seyogyanya berusaha untuk menyebar kebahagiaan.

Sambil menulis catatan ini saya terus tersenyum. Membayangkan historical background atau bahasa Arabnya asbabu nuzul dari judul yang di atas. Teman saya sesama redaktur Teacher’s note pernah curhat. Dia bilang Teacher’s note terlalu sering terbit, seminggu dua kali. Karena keseringan ini ada teman guru yang nyeletuk, “Teacher’s note alat menggurui”. Demikian ungkapan yang bisa saya cerna dari pengaduannya. Saya katakan, “Ok, jangan terbit dua minggu sekali tapi terbit satu kali dalam seminggu” .

Si teman mengangguk setuju. Akhirnya buletin ini diterbitkan setiap hari sabtu seminggu sekali. Adapun niat yang tersirat maupun tersurat dari penerbitan ini adalah untuk berbagi. Melalui Teacher’s note semua guru berhak untuk menuliskan idenya. Seperti apapun ide tersebut asalkan disampaikan dengan bahasa tulisan yang sesuai dengan ketentuan umum maka layak dimuat. Guru bukan sekedar dijadikan objek dari program ini tapi ikut dilibatkan menjadi subjek.

Alangkah bahagiannya saya selaku redaktur ketika mendapat kiriman naskah dari seorang guru. Naskah tersebut langsung dimuat. Ada kolom khusus yang kami sediakan untuk guru-guru yang mau menulis, “kolom guru”. Karena namanya kolom guru maka siapa saja yang menyandang predikat tersebut berhak mengisinya. Saya katakan kepada teman redaktur, tidak usah diseleksi dan tidak usah dikoreksi isinya, biarkan karya guru seorisinal mungkin. Adapun proses editing hanya boleh dilakukan pada kesalahan penulisan saja.

Tentang judul ini menggurui guru sengaja saya tulis plus dengan tambahan senyuman sebagai bagian kepedulian saya terhadap profesi keguruan. Sebagai guru – meski tidak termasuk dalam keanggotaan Persatuan Guru Republik Indonesia, berarti saya bukan guru Republik Indonesia meskipun sekolah tempat saya mengajar ada di wilayah otoritas Indonesia – merasa terpanggil ikut berkontribusi . Apalagi di akhir tanggal bulan November pemerintah menyediakan satu hari khusus untuk guru.

Guru adalah profesi yang mulia. Para ulama sepakat bahwa pendidikan adalah salah satu tugas kenabian. Nabi adalah para guru yang mengajarkan ilmu. Mereka menyebarkan ilmu tanpa ragu, meski halangan dan rintangan mengganggu. Dalam proses pengajaran terkadang seorang Nabi mendapat teror. Karena memahami dan menerima tugasnya sebagai pesuruh Tuhan, maka Nabi tidak gentar. Ilmu yang diamanatkan kepadanya tetap disampaikan meski kepada orang yang menolak.

Tugas pengajaran yang diemban Nabi kemudian diestapetkan kepada para ulama. Pewaris ilmu melakukan pekerjaan yang ditugaskan oleh pendahulunya. Para ulama mengajarkan ilmu baik secara lisan maupun tulisan. Ribuan kitab tercipta. Jutaan umat manusia terbuka matanya. Mereka mendapatkan cahaya. Gelapnya kebodohan sirna dengan kehadiran ilmu. Sesungguhnya ilmu alah cahaya, demikian berkata Iman Syafi’ie berdasarkan wejangan gurunya.

Dalam proses penerangan umat, ulama juga mendapatkan cobaan. Imam Malik keluar masuk penjara karena mempertahankan ilmunya. Sayyid Kutub pun demikian, keyakinan akan ilmu menuntut pengorbanan, beliau dibui tanpa proses pengadilan oleh penguasa Mesir yang zalim. Tidak beda juga di Indonesia, Buya Hamka harus mendekam di penjara bertahun-tahun. Mereka bukan bandit yang mencuri dompet di pasar. Mereka para penerang yang ingin membawa manusia menuju cahaya kemenangan.

Menyebarkan ilmu adalah kewajiban, kadarnya sama seperti kewajiban menuntut ilmu. Rasul bahkan mengancam orang yang berilmu tapi tidak mau membagikan ilmunya dengan cambuk neraka. “Barangsiap yang ditanya tentang ilmu, kemudian dia menyembunyikannya, maka di hari kiamat Allah akan mencambuk dia dengan cambuk neraka”. Ibnu Abdil Barr menegaskan bahwa konten hadits itu bukan hanya ketika ditanya baru menyampaikan, tapi tanggung jawab orang berilmu adalah menyampaikannya meski tidak ada yang meminta.

Singgungan di atas tentang Nabi dan Ulama serta peran dan konsekwensi dari tugas mereka tidak saya tuliskan sebagai perbandingan terhadap apa yang disebut teman saya ‘menggurui guru’. Guru di Ummul Quro tentu bukan para penolak ilmu. Adapun yang merasa keberatan dengan terbitnya Teacher’s note setiap pekan dua kali, itu hanya karena faktor kejemuan. Saya menganalogikan orang yang sudah sarapan kemudian disodori bubur satu mangkuk. Meksipun dia suka bubur tapi berhubung perut sudah kenyang, maka jangan terlalu berharap akan disantap.

Guru adalah agen ilmu. Di dalam diri guru terdapat ilmu yang akan disampaikan kepada muridnya. Kalau tidak berilmu sama saja menghina profesinya. Kalau tidak mencintai ilmu sama juga dia membodohi diri sendiri, He… kesimpulan saya guru di Ummul Quro sangat cinta ilmu.

Dan Teacher’s note berdiri tegak sambil sedikit merunduk di hadapan para guru bukan untuk menggurui. Kami hadir sebagai patner kebaikan. Guru cinta ilmu dan kami pun demikian. Sesama pencinta ilmu mari kita saling mengagungkan ilmu. Banyak cara untuk merealisasikannya. Salah satunya adalah dengan menuliskan apa yang kita ketahui dengan harapan bisa sampai kepada lebih banyak orang.

Selamat hari guru, semoga kita tetap menjadi agen ilmu yang tidak pernah kehabisan stok.

Filosofi Petani Kang Abik

Ketika artikel ini ditulis, saya baru saja melepas kepulangan Kang Abik. Sosok yang selama ini hanya dapat saya nikmati karyanya, alhamdulillah berkenan datang ke pesantren. Habiburrahman El-Shirazy memenuhi undangan untuk mengadakan jumpa penulis dengan santri/wati dan guru-guru. Hujan deras yang mengiringi acara jumpa penulis seolah menjadi pertanda betapa pesantren UQI beserta penghuninya sedang didatangi keberkahan.

Ini bukan bedah buku! Kang Abik bukan hanya seorang penulis, beliau juga merupakan sastrawan, aktor, sutradara dan kiyai. Demikian pesan yang saya tangkap dari pemaparan moderator, Awod Said Grand Manager Republika Penerbit saat membuka acara. Jika Kang Abik diundang hanya untuk bedah buku sangat mubazir.

Betul, bukan bedah buku tapi bedah hidup! batin saya. Saya setuju dengan pemaparan pak Awod. Kang Abik adalah role model generasi muda Islam. Beliau terkenal sebagai penulis, berperan dalam sinetron, menjadi sutradara, rutin mengisi pengajian dan khutbah Jum’at, pimpinan pesantren, juga sebagai pengurus Majelis Ulama Indonesia yang membidangi seni dan budaya.

“Mari kita dengarkan Kang Abik membaca puisi”. Suara lantang pak Awod disambut dengan gemuruh riuh para santri. Kang Abik bangkit dari duduknya, menghampiri standing mic. “Saya akan bacakan sebuah puisi yang pernah saya baca di masjid Istiklal dan Malaysia”

Al-Qur’an Bernyawa

…………

Sungguh indah beliau melukiskan sosok Rasul sebagai Al-Qur’an hidup. Hadirin terkesima. Ternyata sebelum terkenal pun kang Abik pernah menjadi juara membaca puisi tingkat Provinsi Jawa Tengah. Prestasi itu diraih saat duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah. Bukan hanya puisi, penulis yang mulai terkenal lewat novel Ayat-Ayat Cinta juga sudah mengenal jurnalistik. Sejak kecil Habiburrahman sudah rajin menulis. Setiap kejadian yang menarik dalam hidupnya, digoreskan di atas kertas.

Ketika duduk di bangku Madrasah Aliyah, Pimpinan Pesantren Basmala Semarang tersebut juga terlibat dalam pentas seni. Bersama teman-teman sekelas, sutradara film Dalam Mihrab Cinta mementaskan lakon drama di theater budaya Semarang. Kang Abik tidak sekedar ikutan, beliau adalah sutradaranya sekaligus penulis skenario.

“Saat menanam anda harus menanam, nanti saat panen anda akan ikut panen. Saat merawat anda harus merawat, nanti saat panen anda mendapat banyak” filosofi hidup ini dilontarkan Habiburrahman El-Shirazy di hadapan para santri. Petani yang tidak menanam di musim tanam tidak mungkin ikut memanen di musim panen. Petani yang sekedar menanam tapi tidak mau merawat, tidak akan pernah mendapatkan panen yang menggembirakan. Dia hanya sekedar ikut panen.

Sebuah filosofi hidup yang sangat dalam. Berkaca pada perjalanan hidup Habiburrahman El-Shirazy, filosofi itu memberi bukti. Saat ini Kang Abik sedang berada di singgasana kehidupan. Beliau mendapatkan banyak dari hidup. Pengalaman keliling dunia, ketenaran melalui karya, keberlimpahan materi, pengakuan dari masyarakat dan banyak lagi, semuanya tidak datang seketika.

Kang Abik sedang memanen dari benih yang beliau tanam dan rawat. Kecintaan beliau terhadap tulis-menulis sejak di bangku sekolah menengah yang terus dipupuk hingga kuliah di Mesir berbuah novel mega best seller. Ketertarikan beliau dalam bidang seni peran yang dibuktikan dengan mementaskan lakon di theater budaya Semarang menjadi pusakan yang sangat berharga ketika ditantang untuk menjadi sutradara. Keseriusan beliau dalam menimba ilmu menjadikan karya-karyanya selalu penuh gizi, dan mentashihkan beliau sebagai seorang ulama muda.

Semuanya membutuhkan proses. Seperti petani, kita harus berlumpur dulu, kepanasan dulu, digigit lintah dulu, bergelut dengan tikus dan ular. Setelah segala proses kita lalui tinggal berpasrah kepada Yang Maha Kuasa teriring doa semoga panen kita berkah bagi hidup dunia dan juga akhirat kelak.