Pesantren dan Kemerdekaan

Bicara pendidikan di Indonesia, tidak pernah lepas dari pesantren. Institusi yg satu ini telah merasuk dlm sendi kehidupan bangsa beratus tahun lamanya. Pesantren dengan identitas keisalamnya mewarnai perjalanan nusantara.
Sebelum mengenal sekolah, bangsa Indonesia lebih dulu kenal pesantren. Istilah sekolah baru ada setelah penjajah masuk nusantara. Sementara pesantren ada sebelum berdiri kesultanan demak. Bahkan kesultanan terbesar di indonesia tersebut tumbuh dari pesantren. Sebelum memproklamirkan Demak sebagai kerajaan, Raden Patah diperintah oleh gurunya Sunan Ampel untuk mendirikan pesantren di Demak bintaro.
Maka tidak berlebih jika Nurcholis Madjid menyatakan bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan indigenous indonesia. Pesantren dgn segala keunikannya lahir dan berkembang dari rahim bunda nusantara.
Salah satu keunikan pesantren adalah empat pilar utama yg dirangkai sebagai pedoman nilai. Pesantren di indonesia menjunjung tinggi empat pilar tersebut; keislaman, keilmuan, kemasyarakatan dan keindonesiaan.
Pilar tersebut saling terpaut. Pesantren adalah penyebar ketauhidan, corong utama dakwah mengesakan Allah. Pesantren adalah kebun ilmu. Para pencari ilmu bisa menggali, memetik dan memanen ilmu di dalamnya. Pesantren milik masyarakat, berdiri berkat semangat gotong royong maka di mana pun berada pesantren selalu memberi kontribusi nyata bagi masyarakat. Dan yg harus digarisbawahi pesantren berjuang untuk keutuhan bangsa dan negara. Pesantren berdiri sebagai benteng penjaga. Pesantren adalah paku bumi nusantara yg mengajarkan cinta tanah air sebagian dari iman.
Sejarah mencatat. Meski banyak yg terlewat. Pesantren selalu menjadi bagian penting dalam perjuangan mengerek keindonesiaan berkibar di langit nusantara.
Sebut saja perang diponogoro. Perang terbesar yg pernah terjadi di pulau jawa antara Pangeran Diponogoro dan Belanda. Bukan sekedar perang yg diakibatkan patok belanda di atas tanah waris sang pangeran. Ini adalah perang suci. Diponogoro sudah geram sejak lama atas pendudukan Belanda di tanah jawa. Terlebih Belanda mengacak2 kesultanan Mataram sebagai lambang keislaman. Belanda datang bukan hanya untuk harta dan tahta tapi juga demi injil. Maka Diponogoro mengobarkan perang suci. Melawan penjajah yang berusaha mengkafirkan Jawa.
Seruan itu didengar tokoh islam. Seorang kiyai terpanggil membantu Diponogoro. Dia kerahkan murid2nya berjihad melawan penjajah. Berkat bantuan para santri, Belanda menderita. Selama 5 tahun peperangan, antara 1825-1830 tidak kurang 15.000 tentara belanda tewas. Penjajah kafir tersebut menderita kerugian 20 juta gulden.
Siapa kiyai yg membantu perjuangan Diponogoro?
Muslim Mochammad Khalifah, atau lebih tenar disebut Kiyai Maja.
Itu satu dari sekian banyak bukti nyata perjuangan pesantren dalam merebut kemerdekaan.
Setelah merdeka pun, kiyai dan santri di pesantren tidak berpangku tangan. Agresi militer Belanda di bulan Oktober 1945 menjadi medan juang civitas pesantren. Kesewenangan tentara sekutu yg berusaha menguasai Surabaya dijawab dengan resolusi jihad.
KH. Hasyim As’ary sebagai tokoh utama pesantren berteriak lantang menentang pendudukan. Kiyai Hasyim pun mengeluarkan fatwa.
1. Kemerdekaan Indonesia yg diproklamirkan 17 agustus harus dipertahankan.
2. Republik Indonesia sebagai satu2nya pemerintahan yg sah harus dijaga dan ditolong.
3. Musuh RI adalah Belanda yg datang kembali dibantu tentara sekutu.
4. Umat islam terutama anggota NU harus mengangkat senjata melawan penjajah belanda.
5. Kewajiban ini merupakan perang suci/jihad fi sabilillah. Muslim yg tinggal dlm radius 94 km dari agresi belanda fardu ain mengangkat senjata.
Berkat resolusi jihad ribuan santri membanjiri Surabaya. Mereka datang dari Jombang, mojokerto, jember, malang, kediri, pasuruan bahkan sampai cirebon. Laskar santri pun dibentuk. Hizbullah yg sudah ada diperkuat dengan laskar Sabilillah. 10 november 1945 Belanda tidak berdaya.
Santri dari berbagai pesantren mengumandangkat takbir seiring dengan pekik merdeka.
Keislaman pun berangkulan dengan keindonesiaan.

Majapahit Rasa Madura

1292 M, tentara kediri dibawah komando Jayakatwang menyerang Singosari. Kertanagara raja singosari menjadi korban. Tahta singosari pun bergeser kembali ke kediri.
Seperti putaran roda. Ken Arok membangun Singosari di atas kuburan kediri. Kertajaya raja kediri berhasil dikalahkan tahun 1222. Wangsa Airlangga sebagai penguasa Jawa pun berakhir.
Jayakatwang berhasil mengangkat kembali nama besar wangsa Airlangga. Tapi tidak lama.
setahun kemudian raden wijaya, menantu kertanagara keturunan ken arok membalas.
Saat jayakatwang menyerang singosari, raden wijaya menyelamatkan diri. Dia menyeberangi selat madura. Mendapat suaka dari bupati sumenep Arya wiraraja. Setahun raden wijaya tinggal di madura. Menimba ilmu dari arya wiraraja seorang ahli strategi.
1293 atas saran sang mentor, raden wijaya kembali ke jawa untuk merebut tahta. Ranggalawe putra arya wiraraja ikut serta.
angin baik berhembus, pasukan kubilai khan mendarat di gresik. Ribuan prajurit mongol bersenjata lengkap siap menghantam jawa. Raden wijaya mengambil kesempatan. Tentara mongol diarahkan menyerang kediri bersama pengikutnya.
jayakatwang tidak berkutik. Pasukan kediri tdk sanggup menghadang penyerang. Rajanya gugur dalam penyerbuan.
R. Wijaya tidak rela melepas jawa untuk bangsa asing. Pasukan mongol yg kelelahan dipukul keluar. Ranggalawe putra bupati sumenep menjadi komandan. Kesatria berkuda yg ahli memainkan pedang tersebut berhasil membuat pasukan mongol kembali ke negaranya.
Perang usai, R. Wijaya membangun walayah baru. Sebuah hutan di perbatasan siduarjo disulap menjadi kota. Sebuah kota yg menjadi kerajaan terbesar sepanjang sejarah nusantara.
Wilwatikta atau Majapahit

Firasat Seorang Sahabat

1423 tahun yang lalu. Di sebuah padang tandus. Ribuan orang berkerumun. Terik matahari menyengat. Kulit tubuh yang tidak terbungkus melelehkan peluh. Meski buliran2 asin itu membasahi tubuh, manusia ribuan itu tetap bertahan. Teguh.
Seorang pria yang dimuliakan berdiri. Semua orang diam. Menanti setiap kata yang hendak keluar dari lisannya yang bersih.
“Hari ini Allah telah menyempurnakan bagi kalian agama kalian. Dan telah dicukupkan atas kalian nikmatNya. Dan Allah ridha bagi kalian Islam sebagai agama”
Gemuruh takbir berseru2. Ribuan wajah sumringah. Terik siang tiada terasa. Sesuatu yg ditunggu tiba saatnya. Ini adalah surat kuasa ilahi. Sebuah piagam langit. Dicap oleh Sang Maha Kuasa. Tersampaikan melalui lisan kekasihnya.
Satu kalimat merefleksikan segala. Sempurna.
Tangan saling berjabatan. Pundak berangkulan. Semua terbawa dalam suka. Puji pun terus menerus diucapkan.
Seorang lelaki manarik diri. Dia terdiam. Wajahnya temaram. Bagai pagi di musim penghujan. Sisi2 matanya mulai meneteskan air.
Di tengah bahagia, ada satu yang berduka. Seseorang melihat. Dihampiri lelaki berjanggut tebal itu. ‘Sahabat mengapa ada air mata di hari bahagia?’
Masih dalam isak dia menjawab.
‘Setiap kali sempurna akan datang kekurangan setelahnya.’
Beberapa bulan setelah peristiwa itu, hadir kabar duka. Laki2 mulia yang menyampaikan keterangan Tuhan melepas nyawa. Dia pergi untuk selamanya.
Semua orang terguncang. Baru saja mengecap bahagia sudah harus menelan duka. Seorang pria besar berteriak lantang. ‘Dia tidak mati. Seperti Musa, dia memenuhi panggilan Tuhan. Dia akan kembali. Dia pasti kembali.’
Ratusan orang mengerumuninya. Membagi rasa. Seolah ingin percaya bahwa laki2 besar itu benar.
Di tengah keriuhan. Dalam harap yang entah sudah sampai di ujung mana. Dalam duka yang belum juga diresapi sepenuh dada. Laki2 berjanggut tebal menyibak kerumunan.
‘Tenang… tenang … semuanya tenang’
Penuh sungguh dia lantunkan sebait ayat.
‘Muhammad adalah seorang utusan, sebagaimana utusan2 lain yg telah lalu. Apakah bila dia meninggal atau terbunuh, kalian akan berpaling dan kembali kufur.’
Seketika tangis pecah. Lelaki besar tersadar. Dia merasa bersalah. Ribuan orang menuai kepastiaan. Dia yang mulia telah tiada. Dia kembali kepada Sang Pencipta.
Lelaki berjanggut tebal itu ikut terisak. Dia mengenang masa bersama. Berdua dalam gua. Berjalan ratusan kilo dalam ancaman pedang. Dia selalu disamping sahabat tercintanya. Ketika orang ramai menuding sahabatnya pembual. Dia berani membela ‘kalau engkau berkata, maka benar lah itu.’
Teringat kembali peristiwa arafah. Di padang pasir dia mendapat firasat. Saat perpisahan telah dekat. Dan ini adalah harinya. Sahabat sekaligus guru, pembimbing juga menantu pergi untuk selamanya.

Pemimpin Muda

Peristiwa pembebasan kota Mekkah telah berlalu. Euforia atas keberhasilan tersebut tidak membuat Rasul terlena. Pembebasan kota Mekah merupakan satu dari berbagai tugas yang harus dilakukan. Setelah tugas-tugas tersebut selesai, masih ada tugas lain di muka. Pembebasan tanah Syam.
Mengingat Syam, ada satu kota yang sangat memberi kesan kepada Rasul. Palestina, Rasul terkenang perjalanan rohani yang sungguh membahagiakan. Saat dua orang tercinta, istri dan pamannya dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, sebagai seorang manusia Muhammad bin Abdullah berduka. Kenangan bersama paman dan juga istrinya menambah luka dalam dada. Saat itu, Allah menganugerahkan hadiah terindah. Rasul di-is’ra dan di-mi’raj-kan oleh Allah. Perjalan darat dari Masjid al-Haram ke masjid al-Aqsa, berlanjut ke perjalanan udara ke sidratul muntaha. Palestina adalah wilayah di mana masjil al-Aqsa berdiri. Tempat itu menjadi titik penghubung antara perjalanan darat isra dan perjalanan udara mi’raj.
Palestina tidak mungkin terlupa. Wilayah yang terletak di utara Madinah itu seolah memangil. Islam harus datang ke sana. Tanah suci tempat kelahiran Ismail bin Ibrahim harus dipenuhi manusia yang bersujud kepada Zat Pencipta Semesta. Udaranya dihiasi kumandang azan setiap hari lima kali. Rasul pun bertekad memulai pembebasan Syam.
Misi ini dimulai dengan mempersiapkan pasukan. Pembebasan Syam bukan perkara mudah. Daerah yang sangat luas di utara Madinah tersebut dikuasai imperium besar. Berpuluh tahun Romawi bercokol di tanah itu. Prajurit mereka yang terkenal gagah berani melindungi setiap jengkal tanah Syam. Benteng-benteng penjaga berdiri kokoh mengamankan wilayah. Oleh karena itu pasukan muslim harus kuat. Mereka yang berpengalaman berjuang di segala medan laga harus diterjunkan. Para sahabat terdekat yang kuat iman pun harus bergabung demi memperkokoh keteguhan niat berjuang.
Pasukan besar sudah dipersipakan. Satu hal yang penting adalah siapa yang memimpin pasukan ini? Setelah mepertimbangkan banyak hal, pilihan Rasul jatuh kepada Usamah bin Zaid. Dia seorang anak muda yang belum sampai usia dua puluh tahun. Si anak muda memikul beban yang sangat berat. Memimpin pasukan yang terdiri dari para veteran perang Badar, Sahabat utama seperti Abu Bakr, Umar dan Abu Ubaidah juga para petinggi Anshar. Dan misi yang diemban sungguh luar biasa. Dia harus masuk ke wilayah kekuasaan imperium terbesar di dunia saat itu.
Penunjukan Usamah bin Zaid sebagai panglima perang sempat mengundang Tanya. Sahabat merasa ada keanehan. Untuk sebuah misi yang berat mengapa dipilih seorang pemimpin yang masih muda dan kurang pengalaman. Padahal diantara pasukan yang dipersiapkan banyak para senior yang telah makan asam garam pertempuran. Para senior yang telah berhasil merebuk kota Mekah, memenangi perang Ahzab, dan yang paling utama meninggikan panji Islam di perang Badar. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Badar adalah perang pertama yang menjadi tonggak keberhasilan umat Islam dalam politik mempertahankan kedaulatan dan ekspansi wilayah.
Keputusan Rasul sudah bulat. Usamah bin Zaid dipilih bukan serabutan. Rasul sangat mengenal anak muda yang satu ini. Ayahnya adalah Zaid bin Haritsah, seorang hamba sahaya yang diangkat anak oleh Rasul. Kecintaan beliau kepada Zaid sudah menjadi berita umum. Bahkan Rasul pernah menisbatkan nama Zaid kepada namanya, Zaid bin Muhammad, sebelum dikoreksi oleh Allah melalui surat Al-Ahzab 4-5.
“Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar). Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

Ibunda Usamah adalah Ummu Aiman. Rasul sangat menghormati wanita ini. Dia adalah pembantu ibuda Rasul, Sayyidah Aminah. Semasa kecil Rasul diasuh olehnya. Saat Ummu Aiman melahirkan Usamah, muslimin yang masih tingal di Mekkah bergembira. Kegembiraan mereka dilandasi oleh kebahagiaan Rasul. Bagi muslimin apa yang menjadikan junjungan bahagia, menjadi kebahagiaan mereka juga. Usamah bin Zaid pun dipanggil oleh muslimin, Al-Hibb wa ibnil Hibb (kesayangan anak kesayangan). Oleh karena itu kedudukan Usamah bin Zaid di hadapan Rasul sungguh sangat istimewa. Rasul mengenal dengan baik pribadi Usamah karena beliau berkontribusi dalam pembentukannya.
Terkait dengan kepemimpinan di medan perang, meski masih muda Usamah memiliki pengalaman yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Ketika muslimin sibuk bersiap diri menghadapi perang Uhud, Usamah yang masih belasan tahun bergegas menghadap Rasul. Dia beserta rombongan anak-anak sebayanya mendaftar sebagai mujahid. Mengingat usianya yang sangat muda, Rasul tidak mengizinkan Usamah ikut berjuang. Mendapati keputusan Rasul Usamah menangis. Tapi dia tidak patah semangat. Sebelum pasukan berangkat menyongsong kafir Quraish pada perang Khandaq, Usamah kembali mendatangi Rasul. Kali ini dia berdiri dengan tegap. Membusungkan dada sambil mengangkat leher. Tujuannya, biar terlihat tinggi sehingga diizinkan Rasul ikut berjuang. Melihat kesungguhan Usamah, Rasul pun mengizinkan dia ikut berjuang.
Perang Khandaq menjadi pengalaman perdana Usamah di medan perang. Selanjutnya anak muda ini berturut-turut ikut mengibarkan panji Islam. Peristiwa perang Hunain dapat menggambarkan keberanian dan keteguhan hati putra Zaid tersebut. Ketika pasukan muslim kocar kacir diserang musuh, Usamah tetap bertahan bersama beberapa orang sahabat termasuk diantaranya Abbas bin Abdul Muthalib. Keteguhan hati kelompok kecil muslimin berhasil menginspirasi pasukan. Kemenangan pun menjadi milik Rasul dan pengikutnya.
Perang Mu’tah tidak akan pernah dilupakan Usamah. Perang perdana menghadapi pasukan Romawi membawa luka yang sangat dalam. Ayahanda tercinta Zaid bin Haritsah yang ditunjuk sebagai panglima perang, syahid di tangan musuh. Usamah menyaksikan kematian ayahanda. Berturut-turut tiga orang panglima yang ditunjuk Rasul menempuh jalan syahid. Berkat pertolongan Allah melalui seorang Khalid bin Walid pasukan Islam berhasil pulang tanpa membawa kekalahan.
Peristiwa kematian ayahanda membekas sangat dalam di dada Usamah. Mungkin karena itu pula Rasul menunjuknya sebagai panglima perang melawan Romawi. Sebagai seorang anak, Usamah tentu ingin menuntaskan misi ayahnya. Sang ayah syahid sebelum memperoleh kemenangan. Menjadi tugas Usamah, mengalahkan Romawi.
Usamah dipilih bukan soal kedekatan hubungan kekerabatan, dia dipilih karena kompleksitas. Waktu, keadaan dan juga lawan sangat menunjang keterpilihan Usamah. Dalam aspek waktu, persiapan melawan Romawi tidak berlangsung lama. Kedua masa antara perang Mu’tah dan ekspedisi Usamah juga tidak lama. Dalam aspek keadaan, umat Islam masih bersedih atas kegagalan pasukan di Mu’tah. Syahidnya tiga orang panglima yang ditunjuk langsung oleh Rasul masih menyisakan luka. Euforia kemenangan di Fathul Makkah pun belum berlangsung lama. Sedangkan di sisi lawan yang dihadapi, tentara Romawi dalam segi teknik berperang dan perlengkapan peralatan lebih unggul dari muslimin.
Rasul saw sebagai seorang pemimpin visioner meramu ketiga aspek di atas dan memutuskan Usamah bin Zaid sebagai komandan perang. Usia muda Usamah yang dianggap sebagai kelemahan oleh sebagian sahabat karena kurangnya pengalaman, justru menjadi kekuatan. Seorang muda biasanya lebih berani mengambil resiko. Keberanian menanggung segala kemungkinan yang datang dari keputusan yang diambil adalah kebutuhan utama dalam perang melawan musuh yang lebih kuat. Kekurangan pengalaman di medan perang bisa ditutupi oleh anggota pasukan yang didominasi veteran Badar.
Faktor motivasi tambahan untuk menuntaskan perjuangan ayahnya, juga tidak kecil pengaruhnya bagi kesuksesan misi Usamah. Seorang anak yang berbakti kepada orang tua tentu sangat menginginkan membuat bangga sekaligus bahagia orang tua. Bagi Usamah satu tugas suci sebagai seorang anak adalah mengalahkan Romawi. Menyelesaikan misi ayahnya. Dia akan berjuang sampai titik darah penghabisan. Ini kekuatan dahsyat di samping keyakinannya terhadap Allah dan Rasul. Bukankah dalam Islam berbakti kepada orang tua mendapat tempat yang istimewa. Bahkan keridhaan orang tua menjadi sebab datangnya keridhaan dari Sang Pencipta.
Keputusan Rasul saw memunculkan pemimpin muda dalam diri Usamah pada waktu itu sungguh sangat bijak. Oleh karena itu, saat Abu Bakr sebagai khalifah pertama setelah wafatnya Rasul diminta mengevaluasi pemilihan Usamah langsung menolak. Meski yang datang menghadap seorang sahabat ternama, Umar bin Khattab. Alasannya sangat kuat, “Usamah dipilih oleh Muhammad bin Abdullah yang diberi wahyu oleh Allah, tidak ada hak bagi seorang Abu Bakr yang tidak mendapat wahyu menganulirnya.”
Hasilnya sudah dapat diterka. Pasukan Usamah berhasil memukul kalah musuh. Pasukan Romawi dibuat kalang kabut. Panji Islam berkibar di tangan putra Zaid yang terkasih. Usamah beserta pasukannya kembali ke Madinah dengan membawa harta rampasan perang yang berlimpah. Ini merupakan awal dari jilid baru sejarah Islam. Kemenangan pasukan Usamah di perbatasan Syam atas pasukan Romawi menginspirasi khalifah melanjutkan politik ekspansi ke wilayah kekuasaan imperium terhebat di dunia saat itu.

Raja Madura di Tanah Afrika

Sabtu, 7 November 2013 saya mengunjungi kompasiana (setelah sekian lama). Mungkin sudah jodoh, halaman awal yang saya buka menyuguhkan sebuah tulisan dari mantan mensesneg Prof. Yusril. Tanpa berpikir panjang, saya lahap tulisan beliau sampai selesai. Luar biasa saya dibuat merinding. Seorang hebat sekelas Nelson Mandela yang baru saja berpulang ke akhirat ternyata dalam perjalanan hidupnya sempat menimba inspirasi dari seorang Raja Madura.

Mendiang Nelson Mandela pernah dipenjara oleh regim apartheid Afrika Selatan selama 29 tahun. Selama dipenjara pejuang anti rasial tersebut menghadapi berbagai cobaan. Ketika dia bebas dari penjara di pulau Robin, mantan presiden Afrika selatan tersebut mengunjungi sebuah makam keramat di pulau yang sama. Sambil menunjuk ke arah makam, Mandela berkata, ““Apalah artinya saya dipenjara di pulau ini selama 29 tahun, dibanding orang ini, sambil menunjuk ke kubur keramat itu!”
“Orang ini!” kata Mandela, “saya tidak tahu dari mana asalnya. Nampaknya dia seorang pejuang di negerinya sehingga dia begitu dihormati.”
“Orang ini,” kata Mandela, “dipenjarakan penjajah sampai dia mati di pulau ini. Dia tak pernah pulang ke negerinya.”

Siapa orang yang dimaksud Mandela sehingga membuat pengorbanan yang telah dia lakukan dianggap masih kurang besar?

Makam itu disebut oleh orang Afrika Selatan sebagai Kramat, sama dengan sebutan makam versi orang Indonesia. Tidak salah karena sosok yang dimakamkan di tempat tersebut adalah ulama besar asal Indonesia. Dia dikenal masyarakat setempat sebagai Sayed Abdurrahman Moturo, salah satu Pangeran dari Pulau Madura. Demikian media online, Merdeka.com menulis tentang orang yang dimaksud Nelson Mandela. (http://www.merdeka.com/peristiwa/kisah-kramat-ulama-madura-di-penjara-nelson-mandela.html)

Siapa Sayed Abdurrahman Moturo? “the grave of Shaikh Mathura, the first man who reading the Holy Qur’an in South Africa.” Demikian tulisan berbahasa Inggris yang sempat dibaca mantan Mensesneg tersebut. Yusril menuturkan bahwa dia membaca literatur dan menemukan bahwa Sayed Maturo adalah Cakraningrat IV, seorang raja Madura yang diasingkan oleh pemerintah koloni Belanda.

Perjalanan Cakraningrat IV memang penuh liku. Dia adalah raja Madura bagian Barat. Masa kekuasaannya (1718-1746) berbarengan dengan hegemoni Mataram di tanah Jawa. Suntan Mataram saat itu adalah Amangkurat IV (1719-1726). Cakraningrat tidak memiliki hubungan baik dengan Amangkurat. Oleh karena itu dia tidak pernah berkenan mengunjungi Kertasura, pusat kekuasaan Mataram. Imbas dari ketidka harmonisan hubungan antara Raja Madura dan Sultan Mataram adalah masuknya Belanda sebagai pihak ketiga.

Ketika Sultan Amangkurat IV wapat dan digantikan oleh putranya Pakubuwana II yang baru berusia 16 Tahun, hubungan antara Madura dan Mataram mencair. Cakraningrat menikahi adik Pakubuwana. Cakraningrat pun sempat menyelamatkan keraton Kertasura dari makar para pemberontak yang beseberangan paham dengan Pakubuwana. Pasukan Cakraningrat berhasil menumpas pemberontakan di tahun 1742.

Peristiwa tersebut ternyata memicu konflik baru. Cakraningrat yang merasa berjasa menumpas pemberontakan diminta segera meninggalkan Kertasura oleh VOC. Merasa tidak dihormati, Raja Madura memboikot upeti beras dan bea pelabuhan Jawa Timur kepada VOC. Sempat akan diadakan perundingan antara VOC dan Cakraningrat di tahun 1744, namun ditolak oleh Cakraningrat. Hal ini memanaskan hubungan keduanya. Cakraningrat langsung angkat senjata, Madura Timur yang dikuasai Belanda diserang. Belanda marah dan Cakraningrat pun ditangkap berkat jasa Sultan Banjarmasin. Akhirnya Raja Madura tersebut dibuang ke Tanjung Harapan Afrika Selatan.

Fathul Makkah, Peristiwa Pembebasan Kota Mekah

Peristiwa perang Mu’tah yang terjadi antara tentara Islam dan pasukan Romawi di mata orang-orang Quraish sebagai pertanda kelemahan Islam. Melihat gejala tersebut mereka melakukan provokasi dengan cara membantu sekutu mereka Bani Bakr menyerang sekutu Islam Bani Khaza’ah di sebuah mata air yang dimiliki oleh bani Khaza’ah. Penyerangan yang menewaskan 20 orang anggota Khaza’ah dilaporkan oleh Amr bin Salam kepada Rasulullah saw yang ketika itu berada di Madinah. Mendengar laporan Amr bin Salam, Rasulullah saw berkata, “Kamu pasti akan ditolong, hai Amr bin Salim” (more…)

Umar bin Abdul Aziz, Pemimpin Kesayangan Umat

Umar bin Abdul Aziz adalah seorang khalifah Umayyah yang diangkat menjadi pemimpin bukan karena warisan dari ayahnya. Abdul Aziz bin Marwan, ayahanda Umar hanya seorang gubernur yang ditugaskan di Mesir. Umar bin Abdul Aziz diangkat menjadi khalifah berkat penunjukan yang dilakukan oleh sepupunya Sulaiman bin Marwan, khalifah ke-tujuh bani Umayyah. (more…)

Pesantren, dari Tradisional Menuju Modern

Pesantren yang telah diletakkan pondasinya oleh Walisongo dan kemudian menyebar hingga ke segala penjuru Indonesia telah menjelma menjadi institusi pendidikan yang menjadi bagian dari proses pencetakan generasi bangsa. Berdasarkan laporan pemerintah kolonial Belanda, tahun 1831 di Jawa saja terdapat tidak kurang dari 1.853 buah dengan jumlah santri tidak kurang dari 16.500 orang. Pada masa kemerdekaan berdasarkan laporan departemen Agama RI tahun 2001 jumlah pesantren di Indonesia mencapai 12.312 buah.[1] Sedangkan menurut catatan Departemen Komunikasi dan Informasi ada sekitar 63 ribu pesantren di Indonesia saat ini.[2] (more…)

Sejarah Pesantren di Indonesia

Sejarah awal berdirinya lembaga pendidikan pondok pesantren tidak lepas dari penyebaran Islam di bumi nusantara, sedangkan asal-usul sistem pendidikan pondok pesantren dikatakan Karel A. Steenberink peneliti asal Belanda berasal dari dua pendapat yang berkembang yaitu; pertama dari tradisi Hindu. Kedua, dari tradisi dunia Islam dan Arab itu sendiri.[1] (more…)

Ali bin Abi Thalib

Ali bin Abi Thalib terlahir sebagai putra pertama dari ayah dan ibu bani Hasyim. Ayahnya Abu Thalib bin Abdul Muthalib bin Hasyim sedangkan ibunya Fatimah binti Asad bin Hasyim. Asad adalah saudara seayah Abdul Muthalib. Ali bin Abi Thalib lahir pada hari Jum’at 13 Rajab 32 tahun setelah tahun Gajah dan diberi nama oleh ibunya Haidar yang berarti singa, namun oleh ayahnya dia diberi nama Ali yang berarti luhur, tinggi dan agung. (more…)