Malaikat tanpa Sayap

Malam sepi menjadi saksi

Saat penghuni rumah hangat dipeluk mimpi

Dia tepis selimut ke tepi

 

Dingin dilawan api

Sepi dihalau bakti

Sendiri…

 

Minyak menggoreng lauk

Air menanak nasi

Penggorengan pun penuh bumbu

Panci sibuk menahan panas

 

Piring-piring tersaji

Gelas pun berisi

 

Masih dia melangkahkan kaki

Lembut tangannya mengusap

Bangun… hidangan sahur sudah siap

 

Dia bukan bidadari

Setiap hari menyisir tanah dengan kaki

Dia bukan peri

Setia hari menampakkan diri

 

Kau bangun sambil mengucek mata

Bibirmu bergetar tapi bukan berdoa

Bukan juga balas jasa

Kau melenguh sambil mengeluh

“aku masih ngantuk”

 

Dia bukan bidadari

Setiap hari memastikan perutmu terisi

Dia bukan peri

Setiap hari melayanimu bak putri

 

Dia tidak berhenti

Meski peluh dan lelah dibalas keluh

Dia terus berbakti

Meski jasanya tanpa diberi pamrih

 

Dia malaikat tanpa sayap

merayap dalam gelap

menerangi meski senyap

 

Dia malaikat tanpa sayap

terus berbuat tanpa harap

Membeli Surga dengan Uang

Tentu kita pernah mendengar atau membaca ungkapan berikut; money can buy woman but not love, money can buy bed but not rest, money can buy house but not comfort…
Uang bisa membeli kesenangan tapi tidak kebahagiaan.
Memang tidak salah ungkapan tersebut. Tapi tidak bisa dikatakan benar total. Uang bisa membeli kebahagiaan. Bahkan uang bisa menyegel satu tempat di alam keabadian lengkap dengan segala kesenangannya.
Hilangkan terlebih dahulu fobia terhadap Korun. Ketakutan akan terjerumus seperti tokoh antagonis di zaman nabi Musa harus diimbangi dengan keinginan berkontribusi seperti sahabat Nabi, Utsman bin Affan. Sehingga cara pandang kita terhadap harta menjadi adil.
Memang benar Korun celaka karena hartanya. Tapi jangan lupa bahwa sayyidina Utsman menjadi tokoh idola karena harta juga. Korun berjalan di atas bumi dengan mengangkat kepala, tangan terkepal dan dada membusung. Utsman berjalan dengan sedikit merunduk, tangannya terbentang, dadanya terbuka. Siapa saja siap dirangkulnya.
Jika telinga kita sering dijejali kata ‘jetset’ oleh media yg ditujukan kepada kelompok manusia dengan limpahan harta, Utsman bin Affan adalah pemuka kaum jetset Makkah. Di usia muda beliau sudah menjadi saudagar. Urusan jual-beli sudah mendarah daging. Ayahnya, Affan adalah saudagar terkemuka. sejazirah Arab mengenal keluarga Affan sebagai enterpreneur handal.
Tumbuh di keluarga saudagar, dialiri darah enterpreneurship menjadi modal Utsman bergaul di kalangan bangsawan. Maka ketika khadijah binti khawalid menikahi seorang pemuda bernama Muhammad, Utsman langsung menjadi karib. Hal itu terjadi karena keluarga Khawalid termasuk ke dalam jajaran elit pengusaha di mekkah.
Sejarah mencatat Utsman bin Affan berani mengeluarkan harta demi perjuangan sahabat dekatnya. Saat Nabi menyeru muslimin untuk memberi bekal bagi pasukan yg akan berangkat ke medan perang, Utsman maju paling depan dengan donasi yang hampir mencukupi seluruh kebutuhan pasukan. 
Jangan pula dilupakan peristiwa paceklik yang sempat menimpa Madinah. Orang banyak kelaparan karena gandum didapat. Ketika satu kabilah dagang datang membawa ratusan karung gandum, Utsman bin Affan memborong seluruh barang dagangan. Para pedagang Mekkah berebut ingin membeli untuk dijual kembali kepada masyarakat. Dengan tegas Utsman menolak, ‘aku telah berniaga dengan Allah, seluruh gandum akan aku bagikan kepada muslimin’
Ingat juga peristiwa sumur bermata air jernih milik Yahudi. Sumur yg terkenal dengan kejernihan serta kesegaran airnya tersebut menjadi komoditas komersil. Yahudi si pemilik sumur menjual air dengan harga tinggi. Umat islam di Madinah sangat tertekan. Di satu sisi mereka membutuhkan air sumur itu, di sisi lain mereka kesulitan memenuhi harga yg dipatok si Yahudi.
Utsman bin Affan yg mengetahui perihal sumur tersebut datang kepada si Yahudi. Negosiasi berjalan alot karena Yahudi tidak mau kehilangan aset terbaiknya. Dengan kecerdasannya Utsman berhasil melakukan deal dengan Yahudi. Utsman membayar sejumlah uang kepada Yahudi untuk mengambil manfaat dari sumur tersebut selama tiga hari. Empat hari berikutnya, Yahudi boleh menjual air sumur kepada umat islam.
Masa tiga hari dimaksimalkan oleh muslimin. Air ditimba untuk memenuhi kebutuhan selama satu minggu. Yahudi gigit jari. Haknya yg empat hari tidak berbuah sepi. Yahudi tidak bisa mencegah muslimin menimba dari sumurnya karena Utsman telah membayar sesuai kesepakatan. Maka keputusan akhir diambil si Yahudi. Dia jual seluruh haknya akan sumur tersebut kepada Utsman. Muslimin pun bersuka cita. Mereka bersyukur kepada Allah yang telah menjadikan hati seorang hamba sebaik Utsman bin Affan.
Dengan uangnya Utsman telah mendapat kesenangan. Berkat uangnya pula beliau berlimpah kebahagiaan. Dan uang tersebut juga berkontribusi pada satu tempat di surga. (more…)

Asa dari Kubangan Dosa

Aku dilahirkan di tengah kebisingan dentuman suara musik dari salon sebesar drum. Tangisanku pecah mengikuti irama naik-turun penyanyi yang entah dari mana asalnya. Hanya ada ibuku dan seorang bidan yang dipanggil menunggui hari pertamaku di dunia. Keramaian atau lebih tepatnya kebisingan yang menyertai kelahiran itu persis di samping telinga. Meski demikian kami hanya bertiga. Ibu menangis menahan sakit, bidan cemas menanti kepala bayi keluar.

Demikian proses kelahiranku. Di tengah bangunan berdinding triplek yang disekat aku hidup. Hanya ada satu jendela tempat menerawang dunia luar. Dan tentunya satu pintu untuk aktivitas keluar-masuk. Tidak ada ruang tamu, dapur atau kamar mandi. Hanya ada satu springbed berwarna biru tua, lemari dua pintu, meja rias, dua bantal dan satu guling. Aku habiskan waktu bergumul di dalam ruang 3 X 3 meter selama dua tahun.

Menginjak tahun ketiga, aku sudah mulai menghirup udara segar. Meski ibuku sangat hati-hati, aku selalu bisa meloloskan diri. Bermain tanpa teman hanya menyaksikan puluhan orang dewasa hilir mudik. Gelak tawa menjadi menu utama. Terkadang ibu menggondol aku masuk ke dalam kamar. Kata ibu aku tidak boleh keluar. “Nanti kamu diculik, dibawa kabur, dijadikan kuah sop untuk makanan…”. Kalimat itu berulang kali keluar dari bibir ibu yang merah bergincu.

Aku hanya pasrah. Menghabiskan waktu bergumul dengan si Rabbit. Boneka kain berwarna merah jambu itu satu-satunya teman hidupku. Aku memanggilnya Rabbit karena demikian ibu memperkenalkannya. Rabbit sering aku ajak ngobrol, meski dia diam terus. Aku ajak dia becanda, tertawa, meski sampai aku menangis dia tetap diam. Aku pun sering bicara sendiri. Hingga terbiasa dan merasa bahagia.

“Ibu pergi kerja, hati-hati di rumah”, entah sudah berapa ribu kali aku mendengar kalimat itu. Ibuku pergi setelah matahari mulai redup. Tidak kembali hingga menjelang suara ayam jantan berbunyi. Aku tidak pernah bertanya apa pekerjaanya. Selama ibu pulang membawa uang, aku senang. Ibu membeli tv saat aku ulang tahun ke lima. Si Rabbit selalu aku ajak nonton. Kami berdua tidak terpisahkan.

Sesekali ibu mengajak ke pasar. Aku mau ikut dengan satu syarat, Si Rabbit ikut serta. Kami belanja, melihat-lihat barang baru, menyewa mainan, dan pulang dengan membawa kelelahan. Ada kesenangan baru setiap kali ibu mengajak ke luar. Udara yang dihembuskan dahan-dahan pohon membuat aku terkesan. Ada kelembutan di sana. Sentuhan lembut di atas kepala mengurai rambut menyelusup ke dalam sanubari. Si Rabbit juga senang. Dia pasti senang, karena aku senang.

Tidak terasa usiaku sudah menginjak tiga belas. Aku sudah bukan anak kecil lagi. Rambutku hitam tergerai. Tinggiku hampir menyamai ibu. Sudah jelas lekukan kewanitaan terbentuk dalam diriku. Ibu bilang aku cantik, Aku mengiyakan. “Secantik ibu”.

Ibuku meski sudah memasuki kepala tiga masih terlihat cantik. Kulitnya kuning langsat, perawakannya sedang dan masih kencang untuk ukuran usianya. Badannya dirawat. Aku baru tahu setiap minggu ibu pergi ke salon. Segala macam perawatan dia ikuti. Siapapun yang baru bertemu ibu, tidak akan menyangka wanita cantik itu sudah memiliki anak gadis.

Aku cantik sudah bukan rahasia karena ibuku cantik. Kecantikan sangat menggoda, membuat banyak orang terperdaya. Ibuku yang cantik termasuk di dalamnya. Ibu jadikan kecantikan sebagai alat untuk mendapatkan uang. Parasnya yang ayu sangat mudah menarik perhatian laki-laki. Tua atau muda pasti akan jatuh hati memandang indahnya ciptaan Tuhan yang berwujud ibuku. Ratusan ribu keluar dari kantong laki-laki yang ingin menikmati kecantikan itu.

Dentuman kecewa yang berbaur dengan duka menghantam dada saat pertama aku mendengar kata lonte. Sekitar tiga tahun lalu, waktu aku masih duduk di kelas tiga sekolah dasar. Seorang teman lelaki memangilku anak lonte. Aku marah. Rambutnya yang kriting ku jambaki. Dia menjerit kesakitan. Kegaduhan di dalam kelas mengundang perhatian. Guru kelas kami datang setengah berlari. Melihat aku sedang menjambaki si kriting, bapak guru berteriak marah. “Berhenti, dasar anak Lon**” Bagi disambar petir tepat di kepala, aku tersungkur ke lantai. Seluruh persendian tercerabut dari tempatnya. Aku hanya seonggok daging tidak berdaya. Tinggal diangkat dengan sekop, kemudian dibuang ke tempat sampah.

Ibu menjadi objek kemarahan. Aku meraung setiba di rumah. Segala isi kamar aku keluarkan. Ibu berteriak menenangkan. Aku sudah kemasukan setan. Tidak peduli dengan kerumunan orang yang datang melihat. Aku masih meraung. Batinku terluka. Sayatan yang tepat di ulu hati. Kalau bisa aku mati saja.

Setelah peristiwa itu entah sudah berapa ratus kali aku mendengar kata lon**. Teramat sering kata itu mengisi lubang telinga. Sehingga tidak ada bedanya dia dan kentut yang identik dengan pantat, atau upil dengan hidung. Karena sering didengar maka kata itu sudah tidak lagi menusuk ke dalam dada. Cukup bermuara di kuping. Kalau orang bertanya seberapa sering aku korek kuping, aku jawab sesering kata itu keluar dari mulut orang usil.

Aku sudah kebal. Menjadi anak dari seorang wanita penghibur bukan sebuah pilihan. Aku tidak pernah memilih untuk terlahir dari rahim ibuku. Kenistaan yang orang sematkan kepadaku dengan mengatakan aku anak haram tidak akan mengurangi kecintaanku kepada ibu. Aku tahu ibuku bukan wanita suci. Ibu bergelimang dosa. Akibat perbuatan dosa itulah aku terlahir. jadi ketika orang mengatakan aku anak lon** aku tidak akan marah. Kenapa? karena itu fakta.

Ibu pernah berpesan suatu malam, “Eliza, kamu harta berharga yang ibu punya. Tidak ada yang lain. Ibu tidak ingin kamu pergi dari pangkuan, tapi ibu juga takut kalau kamu terus di sini. Sebenarnya ibu ingin meningalkan tempat ini, tapi itu tidak mungkin. Masih banyak urusan ibu yang belum selesai. Ibu hanya berharap kamu bisa jaga diri.”

Tempat hidup kami tidak seperti perkampungan teman sekolah dasar yang lain. Mereka hidup di rumah lengkap dengan keluarga, diapit para tetangga yang saling mengenal baik. Ada ketua RT dan juga RW. Aku tidak mengenal itu. Di tempat aku tinggal hanya ada Mamih dan beberapa orang lelaki kekar. Mereka adalah panutan sekaligus sumber keamanan. Siapa saja yang mengganggu kami akan berhadapan dengan para lelaki kekar bertato. Sebaliknya jika kami melanggar aturan Mami akan berhadapan dengan lelaki bertato tersebut.

Perempuan yang dipanggil Mami berusia diawal lima puluh. Meski sudah setengah abad umurnya, dandanannya tetap menor. Bedak dan gincu tebal menutupi kulit mami yang mulai mengendur. Mami baik kepadaku. Tiap kali aku berpapasan dengannya Mami selalu menyapa. “Bidadari kecil mau kemana?”. beberapa kali Mami memberi aku uang. “Buat jajan di sekolah” demikian pesan wanita yang sangat berkuasa di komplek kami.

Ketika aku cerita tentang kebaikan Mami, ibu hanya tersenyum. Wanita yang telah melahirkan aku ke dunia itu mengelus kepalaku. “Ingat pesan ibu, kamu harus jaga diri”

Entah apa maksud perkataan ibu, aku hanya mengangguk.

***

Ujian Akhir Nasional baru saja berakhir. Anak-anak seragam putih-merah kelas akhir berharap lulus. Teman-teman di sekolah sudah menyusun rencana. Kebanyakan ingin masuk ke SMP Negri. Katanya di sekolah negri tidak ada bayaran alias gratis. Meski demikian ada juga yang mau masuk ke sekolah swasta. Si Aldi bahkan sudah didaftarkan ke sekolah berasrama. Katanya sekolah yang akan dimasukinya itu sekolah elit. Uang masuknya saja puluhan juta. Hanya anak-anak orang kaya yang bisa sekolah di sana.

Aku berharap bisa melanjutkan ke SMP. Sebelum ujian nasional, aku sempat meminta kepada ibu untuk itu. Ibu mengangguk. Perempuan cantik yang setiap malam bergumul melawan perasaan bersalah itu mengajukan syarat. “Asal dapat sekolah negri, kamu boleh lanjut ke SMP”. Dari sejak itu, aku belajar serius. Setiap malam aku sumpal kuping dengan kapas agar suara musik dari ruangan di depan kamar tidak menganggu. Buku pelajaran akau baca berulang kali. Catatan berupa ringkasan pelajaran pun aku buat sendiri. Aku ingin lulus dengan nilai bagus. Aku ingin terus sekolah. Hanya dengan nilai bagus aku bisa masuk SMP negri.

SMP adalah gerbang untuk sebuah asa. Aku sudah tiga belas, sudah cukup pandai untuk menentukan cita-cita. Diantara teman sekelas, aku paling besar. temanku kebanyakan baru sebelas atau dua belas tahun. Mereka masuk sekolah umur enam atau tujuh. Sedangkan aku masuk sekolah saat berumur depalan tahun. Meski sering menjadi objek penghinaan, aku tetap mantap menatap masa depan. Aku ingin menjadi guru.

Hari yang dinanti telah tiba. Di papan pengumuman terpampang namaku di deretan atas. Meski bukan paling atas, tapi sudah cukup untuk masuk ke sekolah negri. Ibu kepala sekolah menyalami anak-anak yang mendapat nilai tinggi. Aku sangat senang. Ada genangan air yang hendak jatuh dari kelopak mata. Ibu kepala sekolah mengelus rambutku. Beliau tahu siapa aku. Wanita yang sudah lebih tiga puluh tahun mengabdikan diri untuk mendidik anak-anak bangsa itu sudah seperti nenekku. Di pangkuannya aku tumpahkan tangis saat teman-teman menghina. Di dekapannya aku merasakan ketenangan. Dari beliau aku banyak belajar tentang kesabaran. Sosok wanita sempurna yang menjadi idola. Aku ingin menjadi guru karena ingin meneruskan perjuangan beliau.

Siang itu matahari terasa sangat menyengat. Aku setengah berlari pulang. Di sepanjang jalan tidak banyak orang terlihat. Mungkin mereka bersembunyi di ruang tengah rumah dikipasi mesin yang berputar oleh arus listrik. Pintu kamar tidak dikunci. Pasti ibu ada di dalam. Aku tidak sabar menyampaikan kabar gembira. Ibu akan bangga. Putrinya masuk tiga besar. Rata-rata sembilan sudah lebih dari cukup untuk mendaftar ke sekolah negri.

Kedua kaki melangkah masuk ke ruangan 3 x 3 yang sudah menyimpan kisah hidup selama tiga belas tahun. Di atas kasur sesosok tubuh dibalut selimut. Ibu mungkin sedang tidak enak badan. Tanganku menyingkap bagian atas selimut. Tiba-tiba sebuah tangan kekar mencengkeram. Tanganku ditarik kencang, aku terjatuh tepat dipelukannya. Aku meronta, dia semakin kencang mendekap tubuhku. Sebelum aku berteriak tangan kirinya sudah menutup mulutku…

Sementara itu di gang sempit menuju bendungan seorang wanita tigapuluhan berjalan lunglai. Kesedihan yang coba dia lipat tidak kuasa ditahannya. Air mata terus saja mengaliri pipinya. Di ujung gang sebelum pintu air, dia berlari seperti sedang kerasukan. Suara benturan benda dengan air terdengar seketika. Air membuncah, membuat riak besar kemudian perlahan pudar.

Bogor, 10 Juni 2013

Tak Bosan Kah

bayi menangis
Saat kecil kau sering teriak-teriak memanggil ibumu,

setelah besar kau masih juga melakukannya

Tak bosan kah…

Saat kecil kau sering menangis di pangkuan ibumu,

setelah besar kau masih juga melakukannya

Tak bosan kah…

Saat kecil kau sering terlena bermain, membuat ibumu khawatir

setelah besar kau masih melakukannya

Tak bosan kah…

Saat kecil kau buat isi rumah berantakan, membiarkan ibumu merapihkan

setelah besar kau masih melakukannya

Tak bosan kah…

Saat kecil kau suka minta ini-itu, segalanya ingin dilayani ibu

setelah besar kau masih melakukannya

Tak bosan kah…

Saat kecil kau suka membantah ibumu, tidak bisa dilarang jika ada mau

setelah besar kau masih melakukannya

Tak bosan kah…

Sejak kecil kau banyak menyusahkan ibumu

setelah besar kau masih melakukannya

Tak bosan kah…

“Hidup ini indah karena …

“Hidup ini indah karena Tuhan mencintai keindahan”

Ilmu, Definisi dan Sejarah Eksistensinya

Orang-orang yang mempelajari bahasa Arab mengalami sedikit kebingungan tatkala menghadapi kata “ilmu”. Dalam bahasa Arab kata al-‘ilm berarti pengetahuan (knowledge), sedangkan kata “ilmu” dalam bahasa Indonesia biasanya merupakan terjemahan science. Ilmu dalam arti science itu hanya sebagian dari al-‘ilm dalam bahasa Arab.[1] (more…)

Tidak ingin apa-apa, bera…

Tidak ingin apa-apa, berarti mensyukuri apa yang ada?