Titik Temu Wahabi dan NU

Selama ini masyarakat diracuni oleh pertentangan antara wahabi dan nu. Pertentangan itu terasa begitu deras bukan di puncaknya, justru di akar rumputnya. Masyarakat nu dibuat benci terhadap wahabi. Demikian sebaliknya orang wahabi dibuat alergi terhadap nu.
Pertentangan ini terjadi bukan karena masing2 tahu tentang ajaran yg dianut, tapi karena setengah tahu. Wahabi yg alergi nu setengah tahu ajarannya. Demikian juga nu yg benci wahabi setengah tahu ajarannya. Jangan tanya kpd mereka sejauh mana mengetahui ajaran kelompok yg dibenci.
Keselahan informasi yg diperoleh, ditambah bumbu antipati membuat masalah semakin rumit. Terlebih faktor eksternal yg tdk terdeteksi. Bahwa dlm protokol zeonisme no 7 bahwa kaum zeonisme akan berupaya menciptakan konflik dan kekacauan dgn mengobarkan permusuhan dan pertentangan. Umat islam yg wahabi dan nu terjepit dlm perang tanpa musuh.
Sebenarnya tdk ada perbedaan yg mengharuskan wahabi dan nu bermusuhan. Wahabi bermadzhab kepada imam hambali. Selama ini mayoritas orang nu bermadzhab syafii. Imam hambali adalah murid terbaik imam syafii. Kedua ulama ini diakui sebagai bagian dari imam empat, selain maliki dan hanafi.
Banyak kesamaan yg dimiliki oleh kedua kelompok. Pertama sumber syariat islam baik menurut wahabi pun nu adalah al-Qur’an, hadits, ijma dan qiyas. Hadits yg digunakan keduanya adalh hadits shohih meskipun ahad. Wahabi dan nu percaya akan adanya siksa kubur, syafaat nabi dan orang sholeh di hari kiamat.
Kedua, sebagai konsekwensi menjlnkan ijma, wahabi dan nu melaksankn shalat jum’at dgn dua azan serta shalat tarawih 20 rakaat.
Ketiga, orang nu setiap waktu pergi ke makkah dan madinah. Mereka sholat jamaah dgn imam wahabi. Mereka tdk kunut saat sholat shubuh. Apakah orang nu mengulang sholat subuh? Tidak.
Memang ada perbedaan antara nu dan wahabi tapi itu biasa. Jangankan antar dua golongan adik dan kakak saja bisa berbeda.
Jadi tidak ada alasan saling benci antara nu dan wahabi. Polemik yg tercipta pastilah diciptakan oleh yg suka perpecahan. Tipe yahudi dlm al-Qur’an sudah dinyatakan TIDAK AKAN PERNAH RELA DGN UMAT ISLAM.
(Disarikan dari kolom opini KH. Ali Mustafa Ya’kub, imam besar masjid istiklal yg dimuat republika, jum’at 13 feb 2015) semoga bermanfaat

Advertisements

Firasat Seorang Sahabat

1423 tahun yang lalu. Di sebuah padang tandus. Ribuan orang berkerumun. Terik matahari menyengat. Kulit tubuh yang tidak terbungkus melelehkan peluh. Meski buliran2 asin itu membasahi tubuh, manusia ribuan itu tetap bertahan. Teguh.
Seorang pria yang dimuliakan berdiri. Semua orang diam. Menanti setiap kata yang hendak keluar dari lisannya yang bersih.
“Hari ini Allah telah menyempurnakan bagi kalian agama kalian. Dan telah dicukupkan atas kalian nikmatNya. Dan Allah ridha bagi kalian Islam sebagai agama”
Gemuruh takbir berseru2. Ribuan wajah sumringah. Terik siang tiada terasa. Sesuatu yg ditunggu tiba saatnya. Ini adalah surat kuasa ilahi. Sebuah piagam langit. Dicap oleh Sang Maha Kuasa. Tersampaikan melalui lisan kekasihnya.
Satu kalimat merefleksikan segala. Sempurna.
Tangan saling berjabatan. Pundak berangkulan. Semua terbawa dalam suka. Puji pun terus menerus diucapkan.
Seorang lelaki manarik diri. Dia terdiam. Wajahnya temaram. Bagai pagi di musim penghujan. Sisi2 matanya mulai meneteskan air.
Di tengah bahagia, ada satu yang berduka. Seseorang melihat. Dihampiri lelaki berjanggut tebal itu. ‘Sahabat mengapa ada air mata di hari bahagia?’
Masih dalam isak dia menjawab.
‘Setiap kali sempurna akan datang kekurangan setelahnya.’
Beberapa bulan setelah peristiwa itu, hadir kabar duka. Laki2 mulia yang menyampaikan keterangan Tuhan melepas nyawa. Dia pergi untuk selamanya.
Semua orang terguncang. Baru saja mengecap bahagia sudah harus menelan duka. Seorang pria besar berteriak lantang. ‘Dia tidak mati. Seperti Musa, dia memenuhi panggilan Tuhan. Dia akan kembali. Dia pasti kembali.’
Ratusan orang mengerumuninya. Membagi rasa. Seolah ingin percaya bahwa laki2 besar itu benar.
Di tengah keriuhan. Dalam harap yang entah sudah sampai di ujung mana. Dalam duka yang belum juga diresapi sepenuh dada. Laki2 berjanggut tebal menyibak kerumunan.
‘Tenang… tenang … semuanya tenang’
Penuh sungguh dia lantunkan sebait ayat.
‘Muhammad adalah seorang utusan, sebagaimana utusan2 lain yg telah lalu. Apakah bila dia meninggal atau terbunuh, kalian akan berpaling dan kembali kufur.’
Seketika tangis pecah. Lelaki besar tersadar. Dia merasa bersalah. Ribuan orang menuai kepastiaan. Dia yang mulia telah tiada. Dia kembali kepada Sang Pencipta.
Lelaki berjanggut tebal itu ikut terisak. Dia mengenang masa bersama. Berdua dalam gua. Berjalan ratusan kilo dalam ancaman pedang. Dia selalu disamping sahabat tercintanya. Ketika orang ramai menuding sahabatnya pembual. Dia berani membela ‘kalau engkau berkata, maka benar lah itu.’
Teringat kembali peristiwa arafah. Di padang pasir dia mendapat firasat. Saat perpisahan telah dekat. Dan ini adalah harinya. Sahabat sekaligus guru, pembimbing juga menantu pergi untuk selamanya.

Manajemen Berbasis Sekolah; Tugas Administrasi yang Mengalahkan Pembelajaran

Pendahuluan
Sudah sejak lama para pakar sepakat bahwa kemajuan akan didapat dari pendidikan yang baik dan benar. Oleh sebab itu mereka berusaha merumuskan teori-teori pendidikan yang ideal. Tujuannya agar menjadi rujukan untuk menciptakan pendidikan yang baik dan benar. Sehingga keinginan membentuk peradaban manusia sejahtera dapat direalisasikan.
Salah satu usaha para pakar dalam memajukan pendidikan adalah memasukan unsur manajemen modern ke dalamnya. Manajemen bukan barang baru. Manajemen telah menjadi ramuan jitu bagi dunia usaha. Bisnis akan berjalan dengan baik dan mendapatkan banyak keuntungan dengan dikelola oleh manajemen. Perusahaan yang telah menerapkan manajemen menjadi lebih maju dibandingkan dengan yang tidak menerapkan. Manajemen menjadi ruh dalam perusahaan. Maka pakar berpendapat bahwa sekolah pun akan maju jika disentuh oleh manajemen.
Lahirlah yang disebut dengan SMB, School Based Management atau di Bahasa Indonesia MBS, Manajemen Berbasis Sekolah. Sasaran dari MBS adalah seluruh aspek dalam pendidikan di tingkat satuan. Aktor utamanya adalahtop leader di sana. Maka berbicara tentang MBS, kita akan menemui sosok sentral yang bernama kepala sekolah. Sebagai top leader di satuan pendidikan, Kepala sekolah memegang peran yang amat penting. Manajemen adalah instrument atau alat yang bersifat pasif. Dibutuhkan seorang actor yang bisa menjalankan manajemen tersebut, Aktornya adalah manajer. Di satuan pendidikan kepala sekolah adalah actor utama sebagai seorang menejer.
Jika diibaratkan senjata, manajemen adalah senapan. Dia memiliki potensi ledak. Potensi mencapai sasaran. Potensi menaklukan objek. Potensi-potensi tersebut masih tersimpan rapih di dalam diri senapan. Dia tidak kuasa melakukan pekerjaan sendiri. Dia benda mati. Bisa berguna jika dimanfaatkan oleh seorang ahli. Maka penentu kemanfaatan senapan adalah seseorang yang memegangnya. Sejauh mana kemampuan dia menggali potensi yang berada dalam senapan sejauh itu pula dia mendapat manfaat. A man behind the gun adalah kunci keberhasilan.
MBS sudah lama diterapkan oleh sekolah-sekolah di Eropa dan Amerika. Sebagai trend-setter peradaban barat menularkan teori kepada dunia luas. Definisi MBS sendiri dirumuskan oleh ahli mereka. MBS dijabarkan sebagai “School management that focus on making the mission of the school clear, defining the goals, running and managing the instructional program and promoting a positive learning climate” (Hallinger, 2001) Menurut Hallinger ada empat pokok yang menjadi focus MBS. Pertama, menjelaskan misi sekolah, menentukan tujuan, menjalankan dan mengatur program pengajaran dan mempromosikan iklim belajar yang positif.
Untuk mencapai keempat focus di atas, seorang kepala sekolah harus bekerja keras. Dia adalah manajer di sekolahnya sebagaimana seorang professional menjadi manajer di sebuah perusahaan. Dia harus bekerja di belakang meja terlebih dahulu sebelum terjun ke lapangan. Ini menjadi berat. Karena di luar fungsinya sebagai manajer, kepala sekolah juga harus menjadi pendidik. Bagaimana dia bisa menjalankan dua misi sekaligus, sebagai manajer dan pendidik.
Makalah yang ditulis oleh Erik Lindberg dan Vladimir Vanyushyn mencoba menganalisa efektifitas MBS dengan cara mewawancara ratusan kepala sekolah di Swedia. Judul yang dibuat sudah dapat menggambarkan, SBM with or without Instructional Leadership, MBS dengan atau tanpa kepemimpinan pengajaran.

Pembahasan
Sebelum mengulas hasil penelitian yang dilakukan dua orang ahli di sekolah-sekolah menengah atas Swedia, ada baiknya saya tulis beberapa literature terkait dengan MBS. Manajemen Berbasis Sekolah sudah ada sejak 30 tahun silam. Di akhir tahun 70-an MBS telah menjadi agenda kebijakan dan menyebarkan makna (De Grauwe, 2005). Setelah diterapkan di Eropa dan Amerika, negara-negara berkembang mulai mengadopsi. Model pengembangan MBS mereka mirip dengan negara di Amerika Utara. Negara berkembang yang menjadi pioneer penerapan MBS adalah negara-negara yang menggunakan Bahasa Inggris sebagai speaking language. Untuk mengevaluasi MBS di Negara-negara tersebut sangat sulit. Hal ini terkait dengan model pendekatan yang berbeda yang mereka terapkan di negara masing-masing. (Khattri et al. 2010; Moos, 2003; De Grauwe, 2005).
MBS bertumpu pada asumsi bahwa otonomi dan desentralisasi akan memungkinkan para pengambil keputusan untuk lebih memenuhi harapan beragam pemangku kepentingan (Cheng & Mok, 2007). Sedangkan arah semua reformasi MBS adalah sama – yaitu, menuju desentralisasi – tingkatan mereka dan penekanan dapat bervariasi (Moos, 2008). Ada berbagai macam strategi MBS, dari memberi sekolah otonomi dan kewenangan penuh atas semua pendidikan, masalah keuangan dan personil, untuk memungkinkan sekolah untuk menjalankan otonomi atas isu-isu tertentu (Gertler et al., 2007). Menurut Briggs & Wohlstetter (2003), MBS telah diperkenalkan dalam rangka meningkatkan akuntabilitas sekolah, prestasi siswa, dan efisiensi administrasi, serta untuk memberdayakan para guru. (De Grauwe 2005)
Smith et al. (2006) melaporkan bahwa kepala sekolah menghabiskan lebih banyak waktu pada isu-isu manajemen seperti bertemu dengan orang tua atau berurusan dengan disiplin dan kegiatan penyelesaian masalah dari kegiatan pembelajaran, dan Uline & Tschannen-Moran (2007) melaporkan bagaimana kegiatan menyangkut peningkatan prestasi siswa juga termasuk meningkatkan kualitas-gedung sekolah. Whitty et al. (1998) membahas implikasi apa yang mereka sebut sebagai pandangan masyarakat terhadap perbaikan siswa, yang menyatakan bahwa persaingan antara dan di antara sekolah-sekolah akan meningkatkan prestasi siswa. Pendekatan ini telah memperluas tanggung jawab kepala sekolah untuk tidak hanya mencakup manajemen dan kepemimpinan instruksional, tetapi untuk menjadi sukses dalam lingkungan yang kompetitif juga pemasaran (Lingard dkk, 2000;. Ball, 1994). Dinham et al. (2011) telah membuat kajian sejarah peran kepala sekolah dan melaporkan bahwa itu berubah dengan cepat dan menjadi semakin kompleks dan bahwa mereka telah mendapat beban kegiatan yang mereka tidak pernah dapatkan sebelumnya.
Leithwood & Menzies (1998) membuat review MBS di negara-negara berbahasa Inggris dan semua kepala sekolah melaporkan bahwa setelah melaksanakan MBS mereka mengabdikan lebih banyak waktu untuk manajemen. Mereka tidak banyak memiliki waktu untuk mengajar dan kegiatan pedagogi. Beban kerja untuk kepala sekolah di negara-negara ini telah menjadi lebih kompleks, beragam dan memakan waktu, dengan beberapa kepala sekolah melaporkan bahwa mereka bekerja hingga 60 jam atau lebih per minggu (Macbeth, 2009). Kepala sekolah menggunakan ungkapan-ungkapan seperti “sedang terjepit” untuk menggambarkan situasi mereka. Menurut Phillips et al. (2007), peran kepala sekolah di Inggris telah berubah secara radikal, dan beban kerja dan waktu kerja yang panjang telah menyebabkan dua kali stres dan ketidakseimbangan antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi. Secara khusus, beban kerja administratif yang meningkat paling signifikan (Harvey & Sheridan, 1995; Wylie, 1999;. Harold et al, 2001; Cranston, 2000, Cranston et al, 2003;.. Fitzgerald et al, 2006). Di Inggris, tahun 2005 laporan tindak lanjut Research into the State of School Leadership and the Australian Government Department of Education, Country Background Report (2007) keduanya menyimpulkan bahwa tekanan akuntabilitas meningkat, dan bahwa mereka frustrasi dengan tuntutan administratif dan manajerial.
Instructional leadership atau kepemimpinan pembelajaran menjadi model ideal yang ditawarkan dalam manajemen berbasis sekolah. Kepala sekolah bukanlah seorang manajer yang berorientasi kepada hasil yang berupa materi sebagaimana manajer perusahaan. Kepala sekolah lebih kepada manajer yang bertugas meningkatkan mutu manusia. Dalam hal ini adalah seluruh masyarakat sekolah yang terdiri dari tenaga pendidik, tenaga non pendidik dan siswa sebagai peserta didik.
Ada banyak definisi yang menjelaskan tentang instructional leadership. Daresh dan Playco (1995) mendefinikan kepemimpinan pembelajaran sebagai upaya memimpin para guru agar mengajar lebih baik, yang pada gilirannya dapat memperbaiki prestasi belajar siswanya. Ahli lain, Petterson (1993), mendefinisikan kepemimpinan pembelajaran yang efektif sebagai berikut: 1) Kepala sekolah merumuskan, mensosialisasikan, dan menamkan isi dan makna visi sekolah melalui berbagi pendapat atau urun rembug dengan warga sekolah serta mengupayakan agar visi dan misi sekolah tersebut hidup subur dalam implementasinya; 2) Kepala sekolah melibatkan para pemangku kepentingan dalam pengelolaan sekolah (manajemen partisipatif). 3) Kepala sekolah memberikan dukungan terhadap pembelajaran. 4) Kepala sekolah melakukan pemantauan terhadap proses belajar mengajar untuk memahami lebih mendalam dan menyadari apa yang sedang berlangsung di dalam sekolah. 5) Kepala sekolah berperan sebagai fasilitator sehingga dengan berbagai cara dia dapat mengetahui kesulitan pembelajaran dan dapat membantu guru dalam mengatasi kesulitan belajar tersebut.
Harapan dari diterapkannya instructional leadership di sekolah adalah munculnya budaya kerja professional yang mengarah kepada hasil maksimal. Kepala sekolah sebagai to leader menjadi dirigen dari orkesta. Setiap gerak dan ucap kepala sekolah menjadi panduan yang membuat semua elemen sekolah bergerak secara dinamis.
Namun pada kenyataanya, beban tugas yang menumpuk membuat kepala sekolah stress. Ini yang tercermin dari Macbeth, 2009. Tugas yang menumpuk ditambah dengan jam kerja yang cukup panjang menjadi tantangan yang teramat sulit didaki seorang kepala sekolah.
Penelitian yang dilakukan oleh Erik dan Vladimir berusaha untuk mengupas akar masalah dan berusaha memetakannya sehingga bisa dicarikan solusi. Mereka melakukan survey terhadap 234 kepala sekolah menengah atas di Swedia.
Metode
Metode yang digunakan adalah pengambilan sampel dan koleksi data. Mereka menyebar pertanyaan kepada seluruh kepala sekolah menengah atas di Swedia. Alamat mereka dapatkan dari Badan Pendidikan Nasional Swedia. Setiap kepala sekolah mendapat tiga kuesioner dengan waktu yang berbeda. Kuesioner pertama dikirim di awal bulan Juni 2008. Setelah menerima jawaban dari responden, kuesioner kedua dikirim di minggu terakhir bulan Juni. Sedangkan kuesioner ketiga dikirim di pertengahan bulan Agustus.
Sebanyak 780 orang kepala sekolah dikirimi kuesioner. Hanya ada 311 yang memberi jawaban. Sedangkan data yang bisa diolah hanya 234. Persentase data yang diolah mencapai 30 % dari seluruh responden yang dikirimi kuesioner.
Ada tiga variable utama yang menjadi focus penelitian ini. Pertama, tugas-tugas administrative kepala sekolah termasuk di dalamnya pengelolaan keuangan. Kedua, tugas sebagai pemecah masalah, atau solving problem. Ketiga, tugas pedagogis yang diartikan sebagai mengelola kepemimpinan pembelajaran.
Variabel administrative menelurkan lima pertanyaan. Dalam tabel pertanyaan 1-5. Variabel pemecah masalah menelurkan empat pertanyaan. Dalam tabel pertanyaan 6-9. Dan terakhir tentang instructional leadership ada sebelas pertanyaan. Dalam tabel pertanyaan 10-21.
Berikut adalah tabel pertanyaan dan jawaban yang didapat dari responden.

Table 1. Assessment of Perceived Importance and Performance of School Principals’ Tasks
Tasks Type* Imp Perf p Mean Diff Direction
1. To establish and monitor budgets and meetings on budget. A 3.56 3.28 0.00 0.274 I>P
2. Taking care of other finance-related tasks and meetings related to economic issues. A 3.42 3.10 0.00 0.329 I>P
3. To report the results and meet “top management” on governance monitoring of operations. A 3.15 3.46 0.00 -0.304 P>I
4. To manage questions about the school’s facilities. A 3.36 3.74 0.00 -0.387 P>I
5. To manage questions about the school’s IT. A 3.14 3.30 0.03 -0.175 P>I
6. To manage contacts/relationships with parents. F 3.81 2.84 0.00 0.949 I>P
7. To manage student disciplinary matters. F 3.25 3.69 0.00 -0.442 P>I
8. To manage personnel matters. F 3.50 3.67 0.00 -0.159 P>I
9. To manage unions issues. F 3.78 3.59 0.00 0.202 I>P
10. Writing target document (school goals) in consultation with school stakeholders. IL 3.24 3.18 0.33 0.059 ns
11. To make teachers aware of and committed to the school’s goals. IL 3.74 3.08 0.00 0.716 I>P
12. To create a reward system that reflects the school’s goals IL 2.97 3.15 0.01 -0.198 P>I
13. To visit the teachers in the classrooms. IL 2.92 2.94 0.75 -0.036 ns
14. Being in and appear in operations (“mingle” among pupils / staff). IL 3.24 3.32 0.15 -0.081 ns
15. To promote teachers use of effective teaching and learning methods. IL 3.37 3.08 0.06 0.292 I>P
16. To create continuous improvement through planned and regular activities. IL 2.77 3.04 0.00 -0.241 P>I
17. To create a school culture that emphasizes innovation and improvement in teaching. IL 2.18 2.08 0.39 0.111 ns
18. To prepare, implement and monitor individual performance. IL 2.89 2.90 0.99 -0.005 ns
19. To plan and monitor training. IL 2.84 2.93 0.11 -0.086 ns
20. To give teachers advice on and suggestions to improve their teaching. IL 3.04 2.55 0.00 0.484 I>P
21. To develop / maintain well-functioning team of teachers. IL 2.39 3.00 0.00 -0.619 P>I
Note. A-adminstrative task, F-firefighting task, IL-Instructional leadership task. Importance ranges from 1-unimportant to 4-very important; Performance ranges from 1-poor performance, 4- excellent performance
Analisa Data
Tabel di atas menunjukkan beberapa hal. Tabel Imp menunjukkan pendapat responden tentang urgensi terkait pertanyaan yang diutarakan. Tebel Perf menunjukkan implementasi dari poin pertanyaan yang diutarakan. Selanjutnya data tentang urgensi dibandingkan dengan performa di lapangan. Hasilnya nampak di tabel direction.
Ketika persepsi responden lebih tinggi dari pada performanya ditandai dengan I>P, sebaliknya ketika performa lebih baik dari persepsi P>I. Sedangkan ketika terjadi persamaan atau perbedaan yang tidak signifikan diberi tanda NS.
Dari tabel di atas didapati bahwa mayoritas kepala sekolah memandang tugas administrative sangat penting. Mereka juga melaksanakan tugas tersebut dengan sebaik-baiknya. Pertanyaan 1-5 rata-rata dijawab dengan range lebih dari 3. Bahkan ditataran implementasi lebih tinggi. Dari lima pertanyaan dua di awal persepsi lebih tinggi dari performa, sedangkan tiga diakhir performa lebih tinggi dari persepsi.
Demikian juga variable tentang pemecahan masalah. Para kepala sekolah sepakat bahwa point tersebut sangat penting. Tercermin dari range yang rata-rata di atas 3. Di tingkat implementasi pun tidka jauh berbeda. Mereka melaksanakan persepsinya. Sebagai kepala sekolah mereka bertanggung jawab menyelesaikan segala persoalan yang terjadi di lingkungan sekolah.
Sedangkan pada variable terakhir, tentang kepemimpinan pembelajaran terjadi perbedaan. Kepala sekolah menganggap hal tersebut penting, bukan sangat penting. Pertanyaan ke 10 s/d 21 banyak menghasilkan angka dua dalam range. Ini menjadi cermin betapa kepala sekolah terutama di Swedia tidak mengangap kepemimpinan pembelajaran sebagai elemen utama dalam Manajemen Berbasis Sekolah MBS.
Jika menilik pada hasil penelitian sebelumnya yang dicatat dalam buku bahwa kepala sekolah yang melaksanakan MBS terlalu disibukkan dengan tugas administrative benar adanya. Mereka menganggap tugas administrative dan penyelesaian masalah sebagai pokok utama. Ini berdampak pada tugas ketiga yang tersisihkan, yaitu sebagai pemimpim pembelajaran.
Kepala sekolah yang terlanjur disibukkan dengan tugas administrative tidak memiliki waktu luang untuk mengurusi pembelajaran. Baginya pembelajaran bisa ditangani oleh guru. Sehingga kepemimpinan pembelajaran didelegasikan oleh kepala sekolah kepada guru-guru. Ini tentu harus dikaji ulang. Apakah pendelegasian tersebut berdampak baik atau buruk.
Perlu dicatat bahwa sekolah adalah lembaga pendidikan yang sebagian waktunya harus dituangkan untuk kegiatan pembelajaran. Semua elemen sekolah dituntut serius melaksanakan kegiatan pembelajaran. Kegiatan inti ini menjadi ruh sekolah. Sekolah yang tidak memiliki kegiatan pembelajaran yang baik tidak mungkin dapat menghasilkan siswa yang terdidik dan terampil.
Mengingat pentingnya kegiatan pembelajaran, maka kepala sekolah sebagai top leader harus mengangap pembelajaran sebagai focus utama. MBS seharusnya diarahkan kepada hal yang principal seperti ini.
Administrasi memang penting, tapi jangan sampai perhatian terhadapnya membuat kepala sekolah menomor duakan pembelajaran. Harus ada evaluasi yang menyeluruh terkait dengan efektifitas MBS di sekolah-sekolah. Jangan sampai MBS membuat sekolah lebih teratur dan rapih secara administrasi tapi tidak bisa mencetak peserta didik yang terdidik dan terampil karena melupakan pembelajaran.

Review Jurnal Manajemen Berbasis Sekolah
School-Based Management with or without Instructional Leadership: Experience from Sweden
Erik Lindberg and Vladimir Vanyushyn
Journal of Education and Learning; Vol. 2, No. 3; 2013
ISSN 1927-5250 E-ISSN 1927-5269
Published by Canadian Center of Science and Education

Pemimpin Muda

Peristiwa pembebasan kota Mekkah telah berlalu. Euforia atas keberhasilan tersebut tidak membuat Rasul terlena. Pembebasan kota Mekah merupakan satu dari berbagai tugas yang harus dilakukan. Setelah tugas-tugas tersebut selesai, masih ada tugas lain di muka. Pembebasan tanah Syam.
Mengingat Syam, ada satu kota yang sangat memberi kesan kepada Rasul. Palestina, Rasul terkenang perjalanan rohani yang sungguh membahagiakan. Saat dua orang tercinta, istri dan pamannya dipanggil oleh Yang Maha Kuasa, sebagai seorang manusia Muhammad bin Abdullah berduka. Kenangan bersama paman dan juga istrinya menambah luka dalam dada. Saat itu, Allah menganugerahkan hadiah terindah. Rasul di-is’ra dan di-mi’raj-kan oleh Allah. Perjalan darat dari Masjid al-Haram ke masjid al-Aqsa, berlanjut ke perjalanan udara ke sidratul muntaha. Palestina adalah wilayah di mana masjil al-Aqsa berdiri. Tempat itu menjadi titik penghubung antara perjalanan darat isra dan perjalanan udara mi’raj.
Palestina tidak mungkin terlupa. Wilayah yang terletak di utara Madinah itu seolah memangil. Islam harus datang ke sana. Tanah suci tempat kelahiran Ismail bin Ibrahim harus dipenuhi manusia yang bersujud kepada Zat Pencipta Semesta. Udaranya dihiasi kumandang azan setiap hari lima kali. Rasul pun bertekad memulai pembebasan Syam.
Misi ini dimulai dengan mempersiapkan pasukan. Pembebasan Syam bukan perkara mudah. Daerah yang sangat luas di utara Madinah tersebut dikuasai imperium besar. Berpuluh tahun Romawi bercokol di tanah itu. Prajurit mereka yang terkenal gagah berani melindungi setiap jengkal tanah Syam. Benteng-benteng penjaga berdiri kokoh mengamankan wilayah. Oleh karena itu pasukan muslim harus kuat. Mereka yang berpengalaman berjuang di segala medan laga harus diterjunkan. Para sahabat terdekat yang kuat iman pun harus bergabung demi memperkokoh keteguhan niat berjuang.
Pasukan besar sudah dipersipakan. Satu hal yang penting adalah siapa yang memimpin pasukan ini? Setelah mepertimbangkan banyak hal, pilihan Rasul jatuh kepada Usamah bin Zaid. Dia seorang anak muda yang belum sampai usia dua puluh tahun. Si anak muda memikul beban yang sangat berat. Memimpin pasukan yang terdiri dari para veteran perang Badar, Sahabat utama seperti Abu Bakr, Umar dan Abu Ubaidah juga para petinggi Anshar. Dan misi yang diemban sungguh luar biasa. Dia harus masuk ke wilayah kekuasaan imperium terbesar di dunia saat itu.
Penunjukan Usamah bin Zaid sebagai panglima perang sempat mengundang Tanya. Sahabat merasa ada keanehan. Untuk sebuah misi yang berat mengapa dipilih seorang pemimpin yang masih muda dan kurang pengalaman. Padahal diantara pasukan yang dipersiapkan banyak para senior yang telah makan asam garam pertempuran. Para senior yang telah berhasil merebuk kota Mekah, memenangi perang Ahzab, dan yang paling utama meninggikan panji Islam di perang Badar. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Badar adalah perang pertama yang menjadi tonggak keberhasilan umat Islam dalam politik mempertahankan kedaulatan dan ekspansi wilayah.
Keputusan Rasul sudah bulat. Usamah bin Zaid dipilih bukan serabutan. Rasul sangat mengenal anak muda yang satu ini. Ayahnya adalah Zaid bin Haritsah, seorang hamba sahaya yang diangkat anak oleh Rasul. Kecintaan beliau kepada Zaid sudah menjadi berita umum. Bahkan Rasul pernah menisbatkan nama Zaid kepada namanya, Zaid bin Muhammad, sebelum dikoreksi oleh Allah melalui surat Al-Ahzab 4-5.
“Allah sekali-kali tidak menjadikan bagi seseorang dua buah hati dalam rongganya; dan Dia tidak menjadikan istri-istrimu yang kamu zhihar itu sebagai ibumu, dan Dia tidak menjadikan anak-anak angkatmu sebagai anak kandungmu (sendiri). Yang demikian itu hanyalah perkataanmu di mulutmu saja. Dan Allah mengatakan yang sebenarnya dan Dia menunjukkan jalan (yang benar). Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. Dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”

Ibunda Usamah adalah Ummu Aiman. Rasul sangat menghormati wanita ini. Dia adalah pembantu ibuda Rasul, Sayyidah Aminah. Semasa kecil Rasul diasuh olehnya. Saat Ummu Aiman melahirkan Usamah, muslimin yang masih tingal di Mekkah bergembira. Kegembiraan mereka dilandasi oleh kebahagiaan Rasul. Bagi muslimin apa yang menjadikan junjungan bahagia, menjadi kebahagiaan mereka juga. Usamah bin Zaid pun dipanggil oleh muslimin, Al-Hibb wa ibnil Hibb (kesayangan anak kesayangan). Oleh karena itu kedudukan Usamah bin Zaid di hadapan Rasul sungguh sangat istimewa. Rasul mengenal dengan baik pribadi Usamah karena beliau berkontribusi dalam pembentukannya.
Terkait dengan kepemimpinan di medan perang, meski masih muda Usamah memiliki pengalaman yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Ketika muslimin sibuk bersiap diri menghadapi perang Uhud, Usamah yang masih belasan tahun bergegas menghadap Rasul. Dia beserta rombongan anak-anak sebayanya mendaftar sebagai mujahid. Mengingat usianya yang sangat muda, Rasul tidak mengizinkan Usamah ikut berjuang. Mendapati keputusan Rasul Usamah menangis. Tapi dia tidak patah semangat. Sebelum pasukan berangkat menyongsong kafir Quraish pada perang Khandaq, Usamah kembali mendatangi Rasul. Kali ini dia berdiri dengan tegap. Membusungkan dada sambil mengangkat leher. Tujuannya, biar terlihat tinggi sehingga diizinkan Rasul ikut berjuang. Melihat kesungguhan Usamah, Rasul pun mengizinkan dia ikut berjuang.
Perang Khandaq menjadi pengalaman perdana Usamah di medan perang. Selanjutnya anak muda ini berturut-turut ikut mengibarkan panji Islam. Peristiwa perang Hunain dapat menggambarkan keberanian dan keteguhan hati putra Zaid tersebut. Ketika pasukan muslim kocar kacir diserang musuh, Usamah tetap bertahan bersama beberapa orang sahabat termasuk diantaranya Abbas bin Abdul Muthalib. Keteguhan hati kelompok kecil muslimin berhasil menginspirasi pasukan. Kemenangan pun menjadi milik Rasul dan pengikutnya.
Perang Mu’tah tidak akan pernah dilupakan Usamah. Perang perdana menghadapi pasukan Romawi membawa luka yang sangat dalam. Ayahanda tercinta Zaid bin Haritsah yang ditunjuk sebagai panglima perang, syahid di tangan musuh. Usamah menyaksikan kematian ayahanda. Berturut-turut tiga orang panglima yang ditunjuk Rasul menempuh jalan syahid. Berkat pertolongan Allah melalui seorang Khalid bin Walid pasukan Islam berhasil pulang tanpa membawa kekalahan.
Peristiwa kematian ayahanda membekas sangat dalam di dada Usamah. Mungkin karena itu pula Rasul menunjuknya sebagai panglima perang melawan Romawi. Sebagai seorang anak, Usamah tentu ingin menuntaskan misi ayahnya. Sang ayah syahid sebelum memperoleh kemenangan. Menjadi tugas Usamah, mengalahkan Romawi.
Usamah dipilih bukan soal kedekatan hubungan kekerabatan, dia dipilih karena kompleksitas. Waktu, keadaan dan juga lawan sangat menunjang keterpilihan Usamah. Dalam aspek waktu, persiapan melawan Romawi tidak berlangsung lama. Kedua masa antara perang Mu’tah dan ekspedisi Usamah juga tidak lama. Dalam aspek keadaan, umat Islam masih bersedih atas kegagalan pasukan di Mu’tah. Syahidnya tiga orang panglima yang ditunjuk langsung oleh Rasul masih menyisakan luka. Euforia kemenangan di Fathul Makkah pun belum berlangsung lama. Sedangkan di sisi lawan yang dihadapi, tentara Romawi dalam segi teknik berperang dan perlengkapan peralatan lebih unggul dari muslimin.
Rasul saw sebagai seorang pemimpin visioner meramu ketiga aspek di atas dan memutuskan Usamah bin Zaid sebagai komandan perang. Usia muda Usamah yang dianggap sebagai kelemahan oleh sebagian sahabat karena kurangnya pengalaman, justru menjadi kekuatan. Seorang muda biasanya lebih berani mengambil resiko. Keberanian menanggung segala kemungkinan yang datang dari keputusan yang diambil adalah kebutuhan utama dalam perang melawan musuh yang lebih kuat. Kekurangan pengalaman di medan perang bisa ditutupi oleh anggota pasukan yang didominasi veteran Badar.
Faktor motivasi tambahan untuk menuntaskan perjuangan ayahnya, juga tidak kecil pengaruhnya bagi kesuksesan misi Usamah. Seorang anak yang berbakti kepada orang tua tentu sangat menginginkan membuat bangga sekaligus bahagia orang tua. Bagi Usamah satu tugas suci sebagai seorang anak adalah mengalahkan Romawi. Menyelesaikan misi ayahnya. Dia akan berjuang sampai titik darah penghabisan. Ini kekuatan dahsyat di samping keyakinannya terhadap Allah dan Rasul. Bukankah dalam Islam berbakti kepada orang tua mendapat tempat yang istimewa. Bahkan keridhaan orang tua menjadi sebab datangnya keridhaan dari Sang Pencipta.
Keputusan Rasul saw memunculkan pemimpin muda dalam diri Usamah pada waktu itu sungguh sangat bijak. Oleh karena itu, saat Abu Bakr sebagai khalifah pertama setelah wafatnya Rasul diminta mengevaluasi pemilihan Usamah langsung menolak. Meski yang datang menghadap seorang sahabat ternama, Umar bin Khattab. Alasannya sangat kuat, “Usamah dipilih oleh Muhammad bin Abdullah yang diberi wahyu oleh Allah, tidak ada hak bagi seorang Abu Bakr yang tidak mendapat wahyu menganulirnya.”
Hasilnya sudah dapat diterka. Pasukan Usamah berhasil memukul kalah musuh. Pasukan Romawi dibuat kalang kabut. Panji Islam berkibar di tangan putra Zaid yang terkasih. Usamah beserta pasukannya kembali ke Madinah dengan membawa harta rampasan perang yang berlimpah. Ini merupakan awal dari jilid baru sejarah Islam. Kemenangan pasukan Usamah di perbatasan Syam atas pasukan Romawi menginspirasi khalifah melanjutkan politik ekspansi ke wilayah kekuasaan imperium terhebat di dunia saat itu.

Tragedi Ranking

Beberapa hari lalu keluarga kami mendapat undangan dari sekolah. Undangan yang ditujukan secara khusus kepada orang tua siswa tersebut menuliskan tanggal 19 Desember 2014 sebagai hari pembagian rapor. Maka sabtu pagi, istri saya bersiap dandan serapih mungkin untuk menyambut hari besar bagi anak kami. Nada sudah selesai melewati ujian akhir semester ganjil. Anak sulung kami yang duduk di kelas dua sekolah dasar tersebut bersiap menerima hasil ujian.
Ketika bundanya sibuk merapihkan diri, Nada masih belum mau beranjak dari atas kasur. Dia tidak tidur memang. Jam lima pagi sudah bangun. Seperti biasa menunuaikan sholat subuh meski dengan segala kesulitannya. Nada terlihat kurang semangat. Bundanya bertanya, “Nada enggak ikut ke sekolah?”
Anak yang belum genap enam tahun tersebut mengangguk. Bundanya menghubungi sekolah. Ternyata di hari pembagian rapor siswa tidak diwajibkan hadir. Hari itu kehadiran siswa bersipat opsional; kalau mau hadir bagus, tidak juga enggak apa-apa. Nada pun senang.
Melihat gelagat Nada, saya teringan puluhan tahun lalu. Saat itu saya duduk di kelas tiga Sekolah Dasar. Selama enam kali ujian, tiga kali caturwulan di kelas satu dan tiga kali di kelas dua, saya selalu berada di empat besar. Kalau tidak ranking empat, pasti ranking dua. Tidak pernah rangking satu atau tiga. Saya selalu kebagian yang genap. Bagi rapor menjadi momen yang sangat mendebarkan. Kira-kira nomor berapa yang terparti di ujung rangkaian angka-angka di atas kertas.
Hari itu saya tidak ditemani orang tua. Berbalik dengan kasus Nada, orang tua harus hadir anak boleh tidak. Bagi rapor waktu itu boleh diambil langsung oleh siswa. Memang ada beberapa orang tua yang memaksakan diri hadir, tapi umumnya siswa sendiri yang mengambil rapor. Kelas pun menjadi tidak imbang. Beberapa orang ibu dikerumuni puluhan siswa.
Ruang kelas sudah penuh, wali kelas datang dengan langkah pasti. Setelah menguluk salam, menyapa wali murid dan juga murid-murid, bapak wali kelas mulai membuka pertemuan. “Ada beberapa anak yang prestasinya naik. Saya sangat bangga atasnya. Ada juga beberapa yang turun drastis”.
“dek” saya mulai merasakan pirasat buruk.
Entah mengapa di kelas tiga saya kekurangan minat belajar. Bukan karena pelajarannya yang susah, atau teman yang kurang bersahabat, atau ruang kelas yang tidak menunjang. Bukan. Pelajaran dari mulai bahasa Indonesia, IPA, IPS, juga Matematika semuanya favorit bagi saya. Teman-teman juga tambah akrab. Setelah dua tahun bersama, tahun ketiga menjadi lebih saling mengenal dan saling memahami. Meski ruang kelas kami tidak layak disebut ruang belajar, tapi itu tidak masalah. Dari awal masuk semuanya diberitahu bahwa sekolah kami adalah sekolah impres untuk daerah perkampungan. Atapnya bocor di sana-sini, sehingga banyak asbes yang jebol. Untungnya setiap pagi kami kebagian sinar ultraviolet dalam jumlah yang lebih dari cukup. Lantainya plesteran dengan lubang di mana-mana. Bagi kami itu bukan masalah. Belajar tidak banyak terkait dengan ruang. Belajar lebih mnegarah kepada interaksi dua arah antara murid dan guru, guru dan murid. Ketika interaksi itu berjalan dengan baik, maka belajar pun menjadi menarik.
Sayangnya interaksi itu yang tidak saya dapatkan. Di kelas tiga saya merasa hampa. Bapak wali kelas kurang menyenangkan. Terlebih bila dibandingkan dengan wali kelas satu atau dua. Di kelas satu saya dianugerahi wali kelas terbaik. Beliau adalah ibu kepala sekolah yang merangkap menjadi wali kelas. Sifat keibuannya membuat kami nyaman. Beliau bukan sekedar menggantikan orang tua, tapi benar-benar menjadi orang tua. Demikian juga wali kelas dua. Masih ibu-ibu, dengan kasih sayang dan perhatian yang besar. Meski belum bisa menyamai kebaikan wali kelas satu, ibu wali kelas dua tetap kami puja.
Saya merasa bapak wali kelas terlalu pilih kasih. Setiap ada kesempatan untuk menjawab soal, anak perempuan yang didahulukan. Menerangkan pelajaran juga lebih memperhatikan anak perempuan. Di jam istirahat pun waktunya berkumpul dengan anak perempuan. Saya hilang semangat.
Ketika nama saya dipanggil untuk menerima rapor, saya pasrah. Biasanya saya dipanggil di awal, tapi ini sudah masuk ke pertengahan. Tanpa harus membuka lembaran rapor, sudah bisa ditebak. Saya ke luar dari empat besar, bahkan sepuluh besar pun tidak. Prestasi saya terjun bebas. Di kelas dua caturwulan ketiga, ada angka dua di ujung rapor. Sekarang bukan dua singgel, tapi dua digit.
Bayangan kemarahan berkelebat dalam pikiran. Ibu pasti menunggu laporan. Saya tahu pasti bagaimana respon beliau. Tapi saya tidak bisa menyembunyikan hasil rapor. Saya harus pulang. Siap menerima resiko.
Rapor bersampul plastik merah tersebut di tangan ibu. Setelah beberapa lama menelusuri angka-angka, bentakan pun terdengar. Tidak usah lah saya tuliskan apa yang ibu utarakan. Satu sketsa yang sampai sekarang masih tergambar jelas di memori. Tangan ibu meremas buku rapor, seperti meremas kertas bungkus cabai. Benda tak berdosa itu berubah wujud seperti bola. Tepatnya bola bergelombang tidak beraturan. Belum selesai sampai di sana. Segera ibu buka jendela kamar. Rapor yang sudah menjadi bola di lempar ke luar.
Hancur. Perasaan saya sama persis seperti buku lapor. Remuk namun tidak berdaya. Dalam tangis saya berlari ke luar rumah. Kedua tangan tidak sempat mengusap air mata. Tangan kecil saya sibuk meraih buku rapor. Hasil belajar saya selama dua tahun empat bulan itu sudah tidak beraturan. Melihatnya air mata bertambah deras membasahi pipi. Rasa takut bertambah besar. “Apa yang akan saya katakan kepada bapak guru saat mengembalikan buku rapor ini?”
Peristiwa itu sudah berlalu lebih seperempat abad. Tidak ada benci di hati. Sakit memang, tapi hanya waktu itu. Setelahnya saya bisa memahami. Ibu ingin saya terus berprestasi. Sebagai anak pertama saya harus menjadi contoh adik-adik. Kalau si kakak tidak berprestasi bagaimana dengan adik-adiknya.
Bunda Nada pulang membawa secari kertas, Rapor zaman sekarang sudah jauh berbeda. Hanya dengan secarik kertas orang tua sudah bisa melihat hasil belajar anaknya. Tidak ada angka tujuh. Rata-rata nilai sembilan puluh tertulis di atas kertas tersebut. Ada tiga mata pelajaran yang nilainya delapan puluh; Bahasa sunda, keterampilan dan qiroati. Selebihnya di atas sembilan puluh.
Ada satu hal yang menarik perhatian saya. Di rapor zaman sekarang tidak ada tertulis kata “RANKING”. Padahal dulu, kata itu yang dicari pertama kali tiap menerima rapor. Dari kata itu seorang anak bisa mendapat pujian bahkan hadiah. Dari kata itu pula seorang anak bisa mendapat trauma. Ego menuntut agar di rapor anak saya tertulis ranking. Tentu dengan nilai yang demikian bagus, anak saya berada di jajaran teratas. Saya memimpikan satu angka yang tidak pernah saya dapatkan semasa di sekolah dasar dulu. Tapi setelah berpikir dan melihat sekeliling saya sadar, itu kurang bijak.
Menuliskan angka sebagai rangking kelas bagi anak-anak seusia Nada tidaklah urgen. Bahkan kalau itu dilakukan, tragedi akan terjadi. Anak-anak yang mendapat angka 30 dari tiga puluh siswa tentu tertekan jiwanya. Mereka merasa sebagai warga kelas bawah. Mereka anak sisa. Bisa jadi orang tuanya pun beranggapan demikian. Ketika anaknya berprasangka buruk ditunjang dengan prasangka buruk orang tua, bagaimana dengan masa depan.
Tidak menuliskan rangking adalah sebuah kebijakan yang sangat bijak. Anak tidak bisa dinilai hanya dari satu aspek. Kognitif saja tidak menjamin kebahagiaan di masa depan.

Pahlawan di sebelah Rumah

Usia tidak bisa ditutupi. Setiap hari yang berlalu dalam hidup selalu mengambil apa yang ada dalam tubuh. Kecantikan yang dibanggakan saat muda perlahan akan sirna. Ketampanan yang mampu menggoda banyak perempuan pun tereduksi dengan sendiri. Kekuatan hilang. Kecekatan berkurang. Pandangan mata ikut kabur. Demikian dengan pendengaran sudah tidak tajam. Usia menggerogoti setiap jengkal lekuk tubuh. Pada akhirnya usia akan melebur tubuh dengan tanah.

Tidak ada yang tersisa. Raga manusia pasti binasa. Semua yang terbaik dari bentuk fisik hanya bisa dipandangi lewat gambar. Itu pun tidak akan lama. Gambar semakin hari semakin pudar. Hanya kenangan yang tersisa. Itu pun sangat sulit dideskripsikan secara utuh. Sosok fisik manusia mudah terlupa.

Setiap kali pulang ke rumah orang tua, saya melewatinya. Sebuah bangunan yang sederhana dengan halaman di samping kanan yang dibiarkan lenggang. Sekeliling bangunan dipagari pipa yang diisi adukan pasir dan semen. Nampak beberapa pipa sudah tiada, meningalkan rongga dalam deretan pagar. Persis seperti gigi orang tua, bolong di mana-mana. Seingatku bangunan itu tetap sama seperti dua puluh tahun lalu bahkan lebih. Di depan ada serambi yang lumayan luas untuk menampung lebih dua puluh orang dewasa atau tiga puluh orang anak.

Serambi itu tidak akan pernah aku lupakan. Di sana aku pernah ada. Setiap malam menjelang, diawali kumandang azan magrib ibu selalu mengulang satu kata, ‘ngaji’. Sebuah kata yang terkadang sangat menyakitkan telinga. Aku enggan. Mencari berbagai alasan agar bisa lepas dari satu kewajiban itu. Namun ibu bukan polisi yang mudah kompromi. Ibu adalah hakim yang kalau sudah mengetuk palu maka putusan harus berlaku. Aku pun berangkat dengan enggan.

Jarak rumah dengan tempat mengaji hanya dibatasi sebuah dinding pembatas. Terkadang aku yang nekat hanya meloncat dan sampai di tempat ngaji. Meski jaraknya dekat, kemalasan tidak pernah bisa ditolak. Alasan ada saja dan mudah dibuat. Terkadang aku pura-pura ketiduran. Di saat lain aku pegang perut, merintih sakit. Jalan kebaikan memang terjal dan berliku.

Di serambi itu aku mengenal huruf hijaiyah. Di serambi itu aku tahu bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi umat. Di serambi itu aku diajari cara bersuci. Ternyata sholat itu ada syaratnya. Tidak boleh buang gas saat sholat. Bahkan aku mengenal ada sepuluh malaikat di serambi itu.

Usiaku masih delapan tahun. Aku belajar membaca Al-Qur’an. Terkadang muncul kejemuan. Aku nolak ngaji. Minta pindah ke tempat lain. Ibuku mengiyakan asal aku tetap ngaji. Beberapa orang guru di tempat yang berbeda aku datangi. Pada akhirnya aku kembali ke serambi itu.

Nini (nenek) demikian aku memanggil si empunya rumah. Beliau bukan orang lain bagiku. Nini adalah adik bungsu kakekku. Setiap magrib aku mengaji di rumah nini. Beliau mengajariku sampai bisa. Betapa bahagianya aku saat bacaan ngaji sampai di surat ‘amma yatasaalun’. Sebentar lagi aku masuk ke Al-Qur’an. Dulu belum ada metode khusus belajar Al-Qur’an seperti Iqra atau Qiroati. Setiap anak yang belum bisa membaca Al-Qur’an memulai pelajaran dari surat Al-Fatihah. Guru ngaji mengajari car abaca, anak mengikuti. Terus demikian sampai bisa melafalkan. Setelah diangap mampu, berikutnya surat an-naas. Terus berurutan sampai ‘amma yatasaalun’.

Anak yang sudah menyelesaikan juzamma pada umumnya sudah mengenal huruf hijaiyah dan mampu membaca Al-Qur’an. Maka menyelesaikan juzamma merupakan sebuah kebanggaan. Bukan hanya bagi si anak tapi juga orang tuanya. Temanku bahkan mengadakan acara syukuran tamat juzamma dengan memasak nasi kuning dan bakakak ayam kampung. Maka saat itu bagiku adalah saat teristimewa. Menyelesaikan juzamma berarti aku hebat. Sementara temanku masih membaca tuturutan (buku bacaan surat-surat dalam juzamma, disebut tuturutan karena cara pengajarannya murid mengikuti guru dalam Bahasa sunda disebut nurutan), aku sudah masuk ke Al-Qur’an.

Setiap kali membuka Al-Qur’an dan membacanya atau mendengar orang membaca Al-Qur’an memoriku mengulang peristiwa itu. Aku tamat juzamma dan mulai membaca Al-Qur’an. Dalam keberhasilanku yang dikelilingi kebanggaan serta kebahagiaan tersebut terdapat satu sosok yang luar biasa. Nini adalah pahlawanku. Tanpanya mungkin aku belum bisa membaca Al-Qur’an dalam usia remaja. Tanpanya mungkin aku belum mengerti bahwa wudhu itu wajib karena menjadi syarat untuk melaksanakan sholat. Tanpanya mungkin aku belum tahu bahwa ada 10 orang malaikat yang bertugas mengurusi hajat manusia di dunia.

Sosok nini yang sekarang sudah jauh berubah. Dulu masih sehat, sekarang sudah sering diserang sakit. Punggungnya yang lurus, sekarang sudah membungkuk. Gigi satu demi satu meninggalkan gusi. Kedua kakinya terkadang tidak mampu menopang untuk berjalan jauh. Rambutnya bukan hanya memutih tapi sudah mulai berguguran. Fisik nini tergerus seiring dengan waktu.

Meski keadaan fisik sudah berkurang drastis dibandingkan seperempat abad lalu, namun semangatnya masih tetap berkobar. Sampai detik ini nini masih setia mengajari anak-anak mengaji. Serambi tempat aku mengikuti bacaan tuturutan masih tetap terisi. Bedanya sekarang yang mengaji tidak sebanyak dulu. Aku sangat maklum. Kondisi fisik nini tidak memungkinkan mengajar puluhan anak seperti waktu aku mengaji.

Cerita nini mengajar ngaji tidak hanya bermula di masa aku kecil. Jauh sebelumnya nini sudah menjadi guru ngaji. Lebih lima puluh tahun beliau mendedikasikan diri untuk menerangi umat. Banyak anak yang bisa mengaji di tangannya. Muridnya tidak hanya orang terdekat atau tetangga, banyak juga yang berasal dari kampung lain.

Nini sudah mengajari ngaji tiga generasi. Selama itu tidak pernah sekalipun muridnya dimintai bayaran. Mengajar ngaji bagi nini adalah pangilan jiwa. Siapapun yang datang pasti diajari. Terkadang ada anak yang datang tanpa ditemani orang tua. Mungkin orang tuanya tidak tahu si anak mengaji di rumah nini, atau tidak mau tahu. Meski demikian nini tetap menerima. Kalau dia tidak membawa tuturutan, di rumah nini tersedia cukup.

Sosok nini secara fisik sudah berubah. Mungkin anak-anak generasi ketiga yang masih diajari ngaji menjadi generasi terakhir. Namun semangat mengajarnya tidak pernah sirna. Meski tanpa embel-embel penghasilan harian atau mingguan atau bulanan, nini tetap mengajar ngaji. Demikian besarnya semangat itu mengakar sehingga sosok nini sangat identik dengan guru ngaji.

Fisik manusia akan terus tergerus oleh waktu. Membayangkan sosok seorang manusia waktu dulu dengan melihatnya saat ini seperti menerawang awan dalam kabut. Memori manusia terbatas untuk mengingat bentuk fisik. Tapi memori tersebut sangat cepat merespon jasa yang pernah diterima. Seperti sumbu obor terkena percikan api, memori dengan mudah mengingat kebaikan yang pernah diberikan seseorang kepada dirinya. Seperti itu pula aku mengingat sosok nini. Aku sudah lupa atau setengah lupa bagaimana bentuk fisik nini saat dulu mengajariku. Apakah nini sudah setua sekarang. Apakah kulitnya sudah keriput. Apakah suaranya berbeda. Aku tidak ingat pasti. Tapi tentang cara nini mengajariku mengaji, menceritakan tentang para malaikat, mempraktekan wudhu yang benar aku masih ingat.

Bagiku nini adalah pahlawan. Beliau memberi tanpa menuntut diberi. Laksana matahari yang terus bersinar tanpa menghitung hari. Di tangannya ratusan orang bisa mengaji. Dari ratusan orang ada beberapa yang menjadi guru ngaji. Dari ratusan itu juga banyak yang mengajari anaknya mengaji. Jasa nini tidak berhenti. Seperti bola salju di musim dingin, semakin ke bawah semakin membesar.

Menjadi pahlawan tidak selalu membawa senapan. Pahlawan bukan hanya seseorang yang gagah berani maju ke medan tempur. Membunuh atau dibunuh demi bakti kepada ibu pertiwi bukan satu-satunya ciri pahlawan. Mengajar ngaji seperti nini juga bentuk kepahlawanan.

Guru Penjaga Tradisi Akademik

Kata guru berasal dari Bahasa Sansekerta yang secara harfiah artinya adalah berat. Dalam kamus Bahasa Indonesia, guru diartikan sebagai orang yang pekerjaannya atau profesinya mengajar . Dalam Undang-Undang No 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen disebut definisi guru pada Bab I Ketentuan Umum pasal 1, poin pertama. Guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.
Imam Al-Ghazali berpendapat bahwa profesi guru merupakan profesi yang sangat mulia berdasarkan acuan tekstual maupun rasional. Diantara dalil tekstualnya adalah sabda Nabi Muhammad saw yang artinya “Saya ini sesungguhnya diutus sebagai seorang guru”. Jadi profesi guru merupakan warisan dari misi kerasulan. Adapun dalil rasional yang dikemukakan Al-Ghazali, bahwa kemulaian profesi itu antara lain dapat dilihat dari tempat dimana profesi itu dilaksanakan, seperti keunggulan profesi tukang emas lebih tinggi dari tukang kulit, karena tempat kerja dan barang yang dikerjakan berbeda derajatnya. Kemudian Al-Ghazali berkata: “Barang yang wujud di permukaan bumi ini yang paling mulia adalah manusia, dan bagian yang paling mulia dari manusia adalah jiwanya, sedangkan tugas seorang guru adalah mengembangkan/menyempurnakan, menghiasi, mensucikan dan membimbingnya untuk dapat mendekat kepada Allah Yang Maha Agung dan Maha Mulia.”
Guru adalah pengajar sekaligus pendidik. Sebagai pengajar guru berperan sebagai agent of knowledge. Guru mengetahui dan memahami sebuah ilmu kemudian melakukan sebuah usaha yang disebut pengajaran untuk menjadikan muridnya tahu dan mengerti ilmu yang dia sampaikan. Guru sebagai pendidik berperan sebagai agent of value. Di sini tugas guru teramat berat. Guru dituntut untuk menanamkan segala nilai kebaikan kepada anak murid. Pendidikan yang dilakukan oleh guru harus menyentuh sisi rohani disamping jasmani dan akal.
Sebagai agent of knowledge dan sekaligus agent of value guru harus memiliki bekal cukup. Seorang guru sebagaimana pepatah lama menyebutnya yang digugu dan ditiru, dituntut menjadi sosok teladan dari segala aspek. Guru harus menjadi teladan di bidang ilmu pengetahuan. Juga menjadi teladan di bidang keterampilan, sikap dan budi pekerti. Seorang guru akan menjadi gambaran terbaik bagi muridnya. Murid selalu menjadikan guru sebagai rujukan. Guru yang baik menginspirasi muridnya menjadi lebih baik. Demikian juga guru yang buruk menjadikan muridnya lebih buruk. Pepatah lama mengatakan, ‘guru kencing berdiri, murid kencing berlari’.
Guru Sebagai Penjaga Tradisi Akademik
Kata akademik berasal dari bahasa Yunani yakni academos yang berarti sebuah taman umum (plasa) di sebelah barat laut kota Athena. Academos adalah nama seorang pahlawan yang terbunuh pada saat perang legendaris Troya. Pada plasa inilah filsuf Socrates berpidato dan membuka arena perdebatan tentang berbagai hal. Tempat ini juga menjadi tempat Plato melakukan dialog dan mengajarkan pikiran-pikiran filosofisnya kepada orang-orang yang datang. Sesudah itu, kata acadomos berubah menjadi akademik, yaitu semacam tempat perguruan. Para pengikut perguruan tersebut disebut academist, sedangkan perguruan semacam itu disebut academia (Fajar, 2002)
Akademi dalam Bahasa Indonesia diartikan lembaga perguruan tinggi. Sedangkan kata akademisi diartikan orang yang berpendidikan tinggi. Dapat disimpulkan bahwa akademik segala hal yang terkait dengan pendidikan, dari mulai lembaga, manusia, system dan prosesnya. Ketika merujuk ke sejarah penamaan akademi yang berasal dari academos, akademik bisa dipahami sebagai segala hal atau usaha yang terkait dengan kegiatan mencari, memahami dan mengembangkan ilmu pengetahuan.
Budaya Akademik adalah “Budaya atau sikap hidup yang selalu mencari kebenaran ilmiah melalui kegiatan akademik dalam masyarakat akademik, yang mengembangkan kebebasan berpikir, keterbukaan, pikiran kritis-analitis; rasional dan obyektif oleh warga masyarakat akademik” Konsep dan pengertian tentang Budaya Akademik tersebut didukung perumusan karakteristik perkembangannya yang disebut “Ciri-Ciri Perkembangan Budaya Akademik” yang meliputi berkembangnya:
1. Penghargaan terhadap pendapat orang lain secara obyektif;
2. Pemikiran rasional dan kritis-analitis dengan tanggungjawab moral;
3. Kebiasaan membaca;
4. Penambahan ilmu dan wawasan;
5. Kebiasaan meneliti dan mengabdi kepada masyarakat;
6. Penulisan artikel, makalah, buku;
7. Diskusi ilmiah;
8. Proses belajar-mengajar, dan
9. Manajemen perguruan tinggi yang baik.
Peran guru sebagai agent of knowledge tidak sekedar seorang pemilik ilmu yang memberikan ilmu kepada murid. Guru harus menjadi figur ilmu yang segala tindak tanduknya berlandaskan ilmu. Guru berbicara berlandaskan ilmu. Guru bertindak pun berlandaskan ilmu. Sehingga sosok guru sangat identik dengan sosok ilmuwan.
Mengembangkan budaya akademik menjadi bagian dari peran guru sebagai seorang ilmuwan. Tidak perlu terlalu risau dengan tugas sebagai penjaga budaya akademik. Guru tidak diharuskan meneliti setiap waktu. Sebagai penjaga budaya akademik setidaknya guru memperlihatkan sifat seorang akademisi. Bagaimana sifat seorang akademisi bisa ditampakkan dalam keseharian guru? Dengan membaca guru telah menjaga budaya akademik.
Membaca adalah salah satu ciri masyarakat akademis. Al-Qur’an sebagai kitab suci yang memiliki muatan ilmiah, baik itu rasional atau supra rasional mulai diturunkan dengan kalimat ‘bacalah’. Ini menjadi pertanda bahwa Allah mencintai para ilmuan. Allah sangat suka kepada orang-orang yang suka membaca. Mengapa demikian? Karena membaca adalah jendela ilmu pengetahuan. Dengan membaca sesuatu yang tidak diketahui bisa diketahui, sesuatu yang tidak dipahami bisa dipahami. Bahkan dengan membaca seseorang bisa mendapatkan kebenaran.
Surat Al-Alaq ayat 1-5 yang menjadi pembuka wahyu menyuguhkan sebuah kebenaran yang hak. Dengan membaca, manusia bisa mengetahui bahwa dia diciptakan. Pengetahuan tersebut membimbing manusia kepada Sang Pencipta. Manusia pun sadar bahwa mereka berasal dari tanah. Mereka bisa bertahan hidup di atas tanah karena diberi pengetahuan. Sang Pencipta mengajari manusia dengan pelantara al-qolam.
Kebenaran yang terkandung dalam Al-Alaq 1-5 merupakan bentuk dari kebenaran yang berkaitan. Filsuf bisa menyebut kebenaran korespondensi. Fakta manusia diciptakan mengarahkan manusia kepada Sang Pencipta karena tidak mungkin ada sebuah ciptaan tanpa yang menciptakan. Sang Pencipta tidak begitu saja menciptakan kemudian meninggalkan tanpa bekal. Tuhan mengajari ilmu agar manusia bisa eksis di muka bumi. Ini menjadi pembenaran yang absolut dan eternal. Ilmu yang benar pasti akan mengarahkan manusia kepada Tuhan.
Kebenaran bahwa Tuhan menciptakan manusia bukan kebenaran pragmatis. Meskipun anak dihasilkan dari hubungan biologis antara ayah dan ibu, sari patinya tetap buatan Tuhan. Maka segala asusmsi yang mengatakan bahwa manusia berasal dari proses evolusi primata terbukti dusta. Kera dari zaman dahulu sampai sekarang tetap kera. Apabila kera berevolusi menjadi manusia, logikanya setelah manusia menyebar maka kera binasa. Pada kenyataanya di seluruh penjuru dunia masih terdapat banyak kera dengan berbagai jenis pula.
Al-Alaq 1-5 juga bisa menjadi jembatan manusia berpikir filosofis. Sebagaimana diketahui bahwa filsafat adalah pemikiran teoritis tentang susunan kenyataan sebagai keseluruhan. Manusia adalah sebuah kenyataan. Manusia disebut mahluk sempurna karena memiliki akal. Dengan akal manusia bisa menaklukkan dunia dan segala isinya. Daratan, lautan dan udara ditaklukkan menjadi jalan raya yang menghubungkan pulau, negara bahkan benua. Flora dan fauna dibudidaya sehingga dapat mencukupi kebutuhan manusia.
Akal bisa menjelma sebagai instrument sakti tidak terjadi sendiri. Sang Pencipta mengajari ilmu kepada manusia sehingga akalnya dapat merespon segala pengetahuan. Peristiwa pengajaran yang diberikan oleh Sang Pencipta kepada manusia asal muasal ilmu pengetahuan. Di sini dapat dipahami bahwa pada hakekatnya ilmu adalah pemberian Tuhan. Ini merupakan kajian ontologi. Tuhan mengajarkan manusia dengan pelantara al-qolam merupakan bentuk cara mendapatkan ilmu. Epistemologi terdapat di sini. Kemudian ada pertanya kenapa Tuhan mengajarkan ilmu? Apa kegunaan ilmu bagi manusia? Ini merupakan ranah aksiologi.
Membaca selalu menjadi titik start kegiatan ilmiah. Dimulai dengan membaca, otak kemudian berpikir tentang data dan informasi yang didapat. Respon tersebut berlanjut kepada hipotesis. Dan hebatnya lagi sebuah hipotesis akan mengarah kepada hipotesis yang lain. Sehingga dengan membaca akan muncul banyak hipotesis. Biasanya hipotesis yang diperoleh dari satu bahan bacaan akan dibuktikan kebenarannya dengan mencari bahan bacaan lain. Dari sana kemudian muncul dua kemungkinan; keraguan atau keyakinan. Keraguan mengarah kepada bertanya dan berdiskusi dengan ahli sedangkan keyakinan bermuara pada kesimpulan yang bisa menjadi sebuah karya tulis ilmiah.
Dengan membaca saja seorang guru sudah bisa mengggabungkan banyak elemen budaya akademik. Karena membaca merupakan titik start kegiatan ilmiah. Maka membaca harus menjadi bagian integral yang tidak terpisahkan dari sosok seorang guru. Guru harus identik dengan membaca. Karena tanpa membaca seorang guru sudah kehilangan satu mahkota paling berharga.

Menyoal Negara Islam

Belakangan ini dunia dihebohkan dengan ISIS (Islamic State of Iraq and Syiria). Pemberitaan media internasional tentang sepak terjang ISIS menembus sampai ke obrolan warung kopi. Warga Indonesia yang mayoritas Muslim terpanggil untuk ikut berwacana seputar Negara Islam. Terjadi pro dan kontra dalam obrolan warga, ada yang merasa ini merupakan babak baru dari sejarah Islam dunia. Sedangkan yang lain memilih untuk antipati. ISIS bagi mereka dianggap sebagai terror internasional yang membahayakan hajat makhluk di muka bumi.
Bagi kelompok yang pro, ISIS dianggap angin segar. Umat Islam yang berakar kuat di Timur Tengah, sepuluh tahun terakhir ini pasca kejadian 11 September menjadi pesakitan. Negara Islam yang dipimpin oleh presiden kuat dianggap sebagai rezim otoriter. Barat yang memberi putusan langsung mengambil tindakan. Hasilnya Iraq dibumi hanguskan, hanya untuk meruntuhkan kekuatan Sadam Husain. Tidak lama kemudian, Libia diluluh lantakkan. Anwar Khadafi dianggap penjahat HAM dan patut dihukum mati. Setelah penyerangan tersebut keadaan Iraq dan Libia tidak pernah kembali tenang.
Belum lagi ditambah dengan kejadian yang oleh ornag Barat disebut The Arab Spring. Banyak pemerintahan Arab yang tumbang di tangan rakyat. Atas nama demokrasi, pemimpin Tunisia dan Mesir tumbang. Sedangkan Syiria sampai sekarang masih dalam konplik. Kekacauan yang terjadi selalu saja melibatkan Barat, dalam hal ini Amerika dan Eropa. Rakyat yang berberak melawan pemerintah didukung baik moril maupul materil. Bahkan tidak canggung kelompok yang mengatasnamakan HAM dunia, mengirim senjata.
Hasilnya, dunia Islam diobok-obok. Setiap ada Negara Islam yang kuat dianggap sebagai ancaman bagi Amerika dan sekutunya. Iran dalam hal ini juga sempat akan diserang. Beruntung mereka memiliki pertahanan yang kuat dan juga dukungan dari sahabat sejatinya di utara. Amerika tidak berani menyerang Iran. Hanya dengan tangan PBB mereka melakukan boikot.
Keberadaan ISIS adalah jawaban dari kegelisahan para mujahid di medan laga Timur Tengah. Islam yang selalu menjadi objek kebijakan pilih kasih Amerika dan sekutunya, harus tegak. Sekat-sekat Negara yang merupakan imbas dari perang dunia harus dihapuskan. Selama masih ada batas antar Negara terutama di Timur Tenang sebagai basis, Islam tidak akan pernah menang. Islam lemah karena masing-masing pemimpin Negara Islam berorienatsi pada kesejahteraan pribadi dan golongan. Islam sebagai landasan hidup sudah tidak dihiraukan. Segala sesuatu yang menguntungkan diri dan kroni akan diperjuangkan meski harus mengorbankan Islam sebagai asas hidup.
Dalam hal ini Khilafah adalah jawaban tunggal. Daulah Islamiyah harus kembali ditegakkan. Kekuatan Islam yang terkotak-kotak dalam sekat Negara harus segera dihapus. Islam harus bersatu, setidkanya di Timur Tengah. Dengan persatuan di bawah bendera Islamic State yang dipimpin oleh seorang Khalifah, wibawa Islam akan kembali hadir. Islam tidak akan mudah dipermainkan. Islam tidak akan tunduk pada panji matrealisme Barat.
ISIS berdiri tegak untuk menutupi segala kekurangan umat. Dengan ditunjuknya Abu Bakar Al-Bhagdadi sebagai khalifah, ISIS berkata kepada dunia, ‘Islam belum akan mati’. Negara Islam akan kembali berkibar. Dimulai dari Iraq dan Syiria, ISIS menyeru kepada seluruh umat Islam di dunia untuk berjihad melawan imperialisme materilaisme.
Mengapa harus Iraq dan Syiria? Keadaan sekarang melahirkan kekacauan di dua Negara. Iraq pasca keruntuhan rezim Sadam Husain belum mampu bangkit. Syiria sebagai korban terakhir the Arab Spring masih terus saja bergejolak. ISIS melihat ini sebagai peluang. Para pejuangnya berjihad untuk merebut kekuasaan di dua bagian Negara yang sedang terlibat konplik horizontal. Ini dilihat dari kacamata factual. Dari sejarah dapat digambarkan sesuatu yang lebih besar. Dunia sempat menyaksikan kehebatan para pemimpin Muslim di masa dua dynasti besar Umayyah dan Abasiyah. Umayyah sebagai dinasti pasca Khulafa al-Rasyidin berhasil menguasai Timur Tengah, Afrika bahkan menyeberang ke Andalusia. Kehebatan dynasti yang dibangun oleh Muawwiyah tersebut memiliki dapur utama di Damaskus, Syiria. Lepas dari Umayyah, dynasti kedua muncul dengan tidak kalah hebat. Abasiyah menjelma kekuatan utama dunia di abad pertengahan ketika Eropa masih dalam kegelapan dan Amerika belum ditemukan. Ilmu pengetahuan berkembnag pesat seiirng dengan kekuatan maritime yang dahsyat. Dapur dari Negara adi kuasa di abad pertengahan ini terletak di Baghdad, Iraq.
Laksana de javu, ISIS berdiri ditempat yang sangat bersejarah. Negara Islam yang melegenda berpusat di dua wilayah yang sekarang dikuasai. Maka kelompok pertama menyambut dengan suka cita keberadaan ISIS.
Berbeda dengan kelompok kedua, ISIS dianggap musuh bersama. Pandangan ini muncul karena memilhat pergerakan ISIS yang mengerikan. Mereka melihat ISIS dari kacamata terror. Peninggalan bersejarah di Iraq dan Syam dimusnahkan oleh tangan-tangan prajurit ISIS. Belum lama ini terdapat sebuah video di dunia maya yang memperlihatkan kekejaman. Seorang berdiri dengan senjata di samping orang yang ditutupi kepalanya. Menurut berita si pesakitan adalah wartawan Inggris yang akan dieksekusi. Eksekutor yang dengan gagah berani memegang senjata dalah seornag pejuang ISIS.
Bagi kelompok kedua, ISIS hanya memperburuk citra Islam. Tayangan terror yang selalu menyertai langkah ISIS merupakan sebuah batu besar yang menghantam kepala umat. Islam yang dibawa oleh Rasul sebagai jalan keselamatan, berubah di tangan ISIS. Citra Islam menjadi pekat dan berlumuran darah. Belum lama masyarakat dunia dihebohkan dengan gerakan Boko Haram di Afrika. Kelompok prajurit yang mengatas namakan Islam tersebut banyak melakukan pembunuhan di tanah Afrika. Islam dibuah malu. Dengan keberadaan ISIS di Timur Tengah, maka sempurna citra buruk yang disematkan kepada agama yang diturunkan kepada Nabi Muhammad.
Oleh karena itu ISIS harus ditentang. Tidak ada sejengkal harapan pun bagi ISIS untuk eksis di Indonesia. Negri ini adalah negri damai. Rakyatnya terkenal sopan dan santun terhadap sesama. Asaa Negara adalah Pancasila. Negara Islam tidak boleh dikembangkan di Nusantara. Cukup sudah pemberotakan yang dilakukan oleh Karto Suwiryo. Darul Islam harus menjadi sejarah masa lalu di sini.
Kelompok mana yang benar atau setidaknya lebih baik pendapatnya?
Mari kita ulas sejarah. Kembali meninjau masa lalu untuk membuka tabir misteri yang bisa jadi merupakan bagian dari solusi. Istilah Daulah Islamiyah atau Negara Islam secara spesifik tidak pernah ada dalam Al-Qur’an atau sunnah. Untuk merujuk kepada kepemimpinan di dunia, Al-Qur’an menggunakan istilah khalifah. Manusia diciptakan untuk menjadi pengelola bumi (QS. Al-Baqarah: 30). Meskipun mendapat penolakan dari malaikat yang notabene pelayan Allah yang paling setia, manusia tetap diciptakan. Allah memiliki sebuah rahasia yang hanya diketahui olehNya.
Sebagai seorang khalifah di muka bumi manusia diberi ilmu. Fungsi ilmu untuk menjadi alat mengenal Tuhan Yang Menciptakan dan juga memanfaatkan segala ciptaan untuk kemaslahatan sesuai dengan petunjuk Tuhan. Manusia yang berilmu akan mengakui bahwa tiada Tuhan yang patut disembah melainkan Allah (QS. Ali Imran: 18). Manusia yang berilmu akan diangkat derajatnya (QS. Al-Mujaadilah: 11)
Sebagai makhluk yang diberi wewenang oleh Sang Pencipta untuk menjadi khalifah di muka bumi, manusia dikarunia sebuah pedoman. Allah mengutus para Rasul sebagai pembawa risalah ilahiyah. Dari lisan Rasul-Rasul tersebut keluar berbagai hikmah. Dan hikmah yang menjadi hukum pijakan bagi umat manusia adalah wahyu yang kemudian disebut sebagai kitab. Kitabullah adalah guideline kehidupan manusia. Sebagai makhluk yang diciptakan manusia tidak banyak mengetahui rahasia dirinya, lingkungannya dan juga penciptanya. Untuk itu manusia harus mengikuti petunjuk yang diberikan oleh Tuhannya.
Kemaslahatan hidup bagi manusia akan terjadi ketika mereka mengikuti petunjuk. Ketika manusia mengingkari petunjuk maka kerusakan yang akan terjadi. Bahkan mengambil sebagian hukum dan mengingkari sebagian hanya akan mendatangkan kenistaan dalam kehidupan dunia dan siksa di akhirat (QS. Al-Baqarah: 85). Oleh karena itu, manusia diharuskan mengikuti hukum yang telah ditetapkan oleh Sang Pencipta. Manusia tidak boleh menentukan hukum atas kehendak sendiri (QS. Al-Maaidah: 49).
Apabila manusia mengingkari hukum Allah yang telah termaktub dalam kitabNya dan disampaikan melalui lisan nabiNya, manusia dicap sebagai pembangkang atau kafir dalam bahasa agama.
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْكَافِرُونَ
“Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang kafir” [QS. Al-Maaidah: 44].
Di ayat lain Allah memberi cap yang lebih ringan bagi yang tidak mengikuti hukum Allah sebagai orang dhalim.
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ
“Barang siapa yang tidak memutuskan menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang dhalim” [QS. Al-Maaidah: 45].
Setelah predikat dhalim bagi yang inkar terhadap hukum Allah, ada predikat fasik.
وَمَنْ لَمْ يَحْكُمْ بِمَا أَنْزَلَ اللَّهُ فَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ
“Barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itu adalah orang-orang yang fasik” [QS. Al-Maaidah: 47].

Al-Qur’an tidak pernah menetapakan bahwa umat Islam harus membangun sebuah Negara yang spesifik dengan sebuatan Daulah Islamiyah. Al-Qur’an sebagai pedoman hidup umat hanya memberi peringatan bahwa hukum Allah harus diikuti. Segala usaha yang dilakukan untuk membuat hukum sendiri hanya akan berbuah kerusakan dan kehancuran bagi umat manusia.
Sebagai sebuah gambaran menarik tentang sebuah keadaan yang sempurna bagi umat manusia, diterangkan Al-Qur’an. Negri Saba merupakan perumpamaan sebuah masyarakat yang gemah ripah repeh rapih. Saba memiliki sumber daya alam berupa dua kebuh yang memenuhi segala keperluan hidup. Negri yang sejahtera berkat rezeki dari Allah. Negri yang aman dan damai berkat perlindungan Allah. Negri yang tertib dan tenang berkat rahmat Allah.
“Sesungguhnya bagi kaum Saba’ ada tanda (kekuasaan Tuhan) di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri. (kepada mereka dikatakan): “Makanlah olehmu dari rezki yang (dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kamu kepada-Nya. (Negerimu) adalah negeri yang baik dan (Tuhanmu) adalah Tuhan Yang Maha Pengampun” (QS. Saba: 15)
Istilah Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur menjadi brandmark sebuah negri impian. Rasulullah saw sebagai nabi terakhir telah dicatat oleh sejarah sebagai salah satu pemimpin yang mampu menciptakan keadaan masyakarat yang ideal. Beliau datang ke Madinah sebagai seorang tamu yang diundang. Menjadi pemimpin karena kehendak masyarakat. Memulai misi kenegaraan dengan jalan perdamaian. Piagam Madinah menjadi bukti otentik sikap negarawan Rasul. Setelah terjalin persaudaraan antara Muhajirin dan Anshar.
Rasulullah saw wafat meninggalkan wilayah kekuasaan yang cukup luas. Umat Islam bukan hanya di Madinah dan Mekkah, tapi sudah menjalar ke Yaman dan sekitarnya. Wilayah kekuasaan yang luas tersebut tidak menjadikan beliau risau. Rasul saw hanya menyebut “Umatku, umatku, umatku”. Beliau tidak menunjuk seorang pemimpin untuk menggantikan kedudukannya. Permasalahan kepemimpinan di serahkan sepenuhnya kepada umat.
Kembali sejarah mencatat sebuah proses pemilihan pemimpin yang belum pernah terjadi. Abu Bakr ra dipilih menjadi pengganti Rasul oleh majlis yang terdiri dari sebagian kaum Anshar dan tiga orang utusan Muhajirin. Ahlul Bait yang sedang dirundung pilu atas wafatnya junjungan ra, meski merasa dilangkahi tetap mengikuti kehendak umat. Fatimah ra beserta suaminya Ali ra mengakui Abu Bakr ra sebagai pemimpin.
Selepas kepemimpinan Abu Bakr ra, Umar bin Khattab tegak berdiri sebagai Amirul mukminin. Tidak ada pemilihan secara bersama, sang khalifah Abu Bakr ra hanya berkonsultasi kepada beberapa orang sahabat inti untuk memilih pengganti. Setelah berdiskusi, menjelang azalnya Abu Bakr ra memilih Umar bin Khattab ra sebagai pemimpin umat.
Sepuluh tahun masa kepemimpinan Umar penuh dengan kemenangan. Wilayah kekuasaan Islam sudah terbentang dari Madinah sampai ke Syam. Kekuasaan Imperium Persia dan Romawi dapat digerus. Amirul Mukminin meninggalkan enam orang sahabat untuk bermusyawarah mengenai suksesi kepemimpinan. Mereka adalah Utsman bin Affan ra., Ali bin Abi Thalib ra., Thalhah bin ‘Ubaidillah ra, Az-Zubair bin Awwam ra, Sa’ad bin Abi Waqqash ra. Dan Abdur Rahman bin ‘Auf ra. Sebagai tambahan karena usulan dari para sahabat, nama Abdullah bin Umar di masukkan. Meski demikian Khalifah kedua yang terkenal tegas tersebut menyatakan bahwa putranya berada dalam majlis hanya sebagai conselor. Abdullah bin Umar ra tidak memiliki hak suara dan tidak berhak untuk menjadi kandidat pemimpin umat.
Proses pemilihan terjadi sangat ketat, dua calon mencuat menggunggil lainnya; Utsman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib. Setelah bermusyawarah dengan internal majlis syura, bahkan sampai mewawancarai masyarakat Abdur Rahman bin Auf sebagai ketua tim memilih Utsman bin Affan sebagai khalifah ketiga.
Keunikan terjadi pada pemilihan khalifah keempat. Ali bin Abi Thalib ra dipilih setelah terjadi kekacauan. Khalifah ketiga Utsman bin Affan terbunuh dalam sebuah peristiwa makar. Khalifah yang sudha tua tersebut belum sempat menentukan penggantinya. Kekacauan sempat mendatangkan ketidak pastian. Dalam suasana yang penuh dengan curiga tersebut perwakilan dari kufah mendatangi menantu Rasul untuk membaiat. Ali bin Abi Thalib yang dikenal sebagai seorang alim menolak. Tapi desakan yang dating bertubi-tubi dan pertimbangan akan stabilitas umat meluluhkan hati beliau. Ali bin Abi Thalib dibaiat menjadi khalifah keempat.
Masa kepemimpinan Ali bin Abi Thalib penuh dengan fitnah. Perang saudara terjadi dua kali. Pertama perang Jamal yang melibatkan Ummul Mukminin Aisyah binti Abu Bakr. Selesai mengatasi perselisihan dengan Aisyah, Khalifah keempat harus langsung head to head dengan pasukan Muawiyah bin Abu Sofyan. Perang Shiffin merupakan peperangan yang paling banyak menguras tenaga umat Islam. Dampak perang Shiffin sangat besar. Darinya umat terpecah belah baik secara politis maupun aqidah. Secara politis ada dua kutub yang sama kuat, kelompok Kuffah dan kelompok Damaskus. Secara aqidah muncul sekte baru bernama Khawarij yang disusul dengan kemunculan kaum Syiah.
Wafatnya Ali bin Abi Thalib menandai berakhirnya masa khufala al-rasyidin. Setelah itu umat Islam berada dibawah komando dynasty Ummayyah yang dibentuk oleh Muawiyah bin Abi Sofyan. Sistem kepemimpinan tidak lagi berada di bawah wewenang majlis syuro atau umat islam. Kepemimpinan diturunkan dari orang tua ke anak atau dari saudara yang lebih tua kepada saudara yang muda. Sostem tersebut masih berlanjut ketika kekuasaan umat berada di tangan dynasty Abbasiyah. Kedua dynasty yang menyebut sebagai daulah islamiyah tersebut memberlakukan sistim waris kekuasaan.
Melihat fakta sejarah umat dari masa Rasul sampai ke zaman dynasty, terdapat banyak versi pola kepemimpinan. Rasul saw tidak mewariskan tahta dan jabatan. Padahal beliau memiliki seorang menantu yang pantas untuk menjadi penerus. Beliau memasrahkan sepenuhnya urusan kepemimpinan kepada umat. Para khalifah yang empat telah melakukan ijtihad terkait urusan kepemimpinan. Abu Bakr ra memilih langsung pengganti setelah bermusyawarah dengan beberapa orang sahabat. Umar bin Khattab ra menyerahkan urusan suksesi kepada majlis syuro yang berisikan enam orang sahabat utama. Utsman bin Affan tidak sempat memutuskan penggantinya. Keterpilihan Ali bin Abu Thalib karena permintaan dari sebagian umat yang kemudian diikuti oleh mayoritas. Sedangkan Muawwiyah bin Abu Sofyan menjadi pelopor system kerajaan dalam Islam. Dia mewariskan tahta kepada anaknya Yazid bin Muawiyah selayaknya raja Romawi atau Persia menyerahkan tahta kepada keturunannya.
Tidak ada system baku dalam urusan kepemimpinan. Daulah Islamiyah bukan merupakan tuntutan Al-Qur’an. Rasul saw belum pernah mewajibakan umat untuk membentuk system pemerintahan semacam itu. Adapun keberadaan Daulah Islamiyah di tengah umat merupakan produk sejarah.
Satu hal yang patut di garis bawahi dari permasalahan ini adalah esensi dari keberadaan sebuah daulah. Untuk apa dibentuk sebuah daulah? Apabila daulah dibentuk untuk menciptakan umat yang sejahtera di bawah bendera agama, maka harus dicari jalan yang aman untuk mewujudkannya. Tidaklah elok apabila sebuah harapan mensejahterakan umat, mengangkat harkat dan martabat agama, meninggikan asma Allah apabila dilakukan dengan cara yang kurang beradab. Pertumpahan darah, apalagi darah kawan seiman tentu tidak bisa ditolelir meski dengan dalih untuk kemaslahatan.
Kembali menyoal esensi, Al-Qur’an telah memberi petunjuk. Bahwa umat islam adalah umat terbaik adalah betul. Bahwa balasan bagi umat terbaik adalah keridhaan Sang Pencipta. Dan saat Sang Pencipta ridha maka yang terjadi adalah limpahan berkah baik berupa rezeki lahir maupun batin sehingga akan tercipta sebuah cita-cita luruh yang bernama Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur.
Bagaimana petunjuk Al-Qur’an tentang umat terbaik itu?

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma`ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…” (QS. Ali Imran: 110)

Hanya ada tiga syarat untuk merealisasikan janji Al-Qur’an agar umat islam menjadi umat terbaik dari berbagai segi; Pertama, menyeru kepada kebaikan. Hal ini bukan berarti hanya pintar memerintah orang untuk berbuat baik sedangkan dia lupa diri. Menyeru merupakan tingkatan kedua dari sebuah pencapaian kebaikan. Orang yang dianggap sebagai penyeru oleh Al-Qur’an adalah orang yang selalu berbuat baik dan berupaya memperbaiki diri kemudian mengajak orang lain untuk berbuat baik bersama-sama. Orang jenis ini disebut sebagai orang yang beruntung (QS: Al-Asr: 1-3) Kedua, mencegah dari yang munkar. Sama halnya dengan menyeru kebaikan, mencegah dari yang munkar dimulai dari diri sendiri. Setelah menjadi sebuah kebiasaan maka ditularkan kepada orang lain sehingga terjadi penyebaran alarm bagi perbuatan buruk. Dan ketiga, beriman kepada Allah. Dewasa ini banyak yang membuat propaganda kesalehan sosial lebih utama dari pada kesalehan ritual. Keimanan dianggap kurang perlu. Lebih hebat orang yang baik kepada tetangga dari pada yang berimanan kepada Tuhan. Propaganda ini sangat menyesatkan. Iman adalah factor utama yang menjadikan manusia baik atau buruk. Iman yang mengajarkan manusia untuk gemar berbuat baik dan selalu berusaha menjauhi keburukan.
Apabila ketiga syarat ini dipenuhi umat Islam, tidak lah perlu kita bersibuk diri mencari khalifah. Tidak usah bersimbah darah untuk mendirikan daulah islamiyah. Dengan menjadi umat yang gemar melakukan kebaikan, suka menyebar kebaikan, menularkan kebaikan kepada lingkungan sambil selalu berhati-hati agar tidak tergelincir pada lembah keburukan dan berusaha menjaga orang lain dari kerburukan, maka harapan menciptakan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur dengan sendirinya akan tercapai. Allahu a’lam

Memanusiakan Anak Cara Nabi Ibrahim

Ibrahim as adalah salah satu nabi yg mendapat kedudukan istimewa di sisi Allah. Beliau disebut khalilallah, atau yg terkasih. Juga termasuk ke dalam sedikit Rasul yg menerima predikat ulul azmi, golongan manusia terbaik berkat kesabarannya.
Masih panjang rentetan predikat yg dimiliki ayahanda Ismail as ini.

Hari raya Idul Adha, merupakan salah satu monumen hidup yg terus lestari untuk mengingat sepak terjang Nabi Ibrahim. Lebih dari satu milyar penduduk bumi yg memeluk Islam merayakan hari besar ini. Memotong hewan kurban menjadi bagian yg tidak terpisahkan dari perayaan Idul Adha.

Di samping sejarah kurban yg melekat dgn Nabi Ibrahim, ada banyak hal yg bisa kita timba dari Ayah para nabi tersebut. Salah satunya adalah model pendidikan keluarga. Ibrahim as tidak terbantahkan sebagai seorang ayah sukses. Keturunannya menjadi nabi yg meneruskan dakwah sampai di penghujung masa.

Mari kita lihat bagaimana nabi Ibrahim mendidik putranya. Saat beliau mendapat mimpi untuk menyembelih putra kesayangannya, suami dari Siti Sarah tersebut mendatangi putranya. Ismail yg sedang tumbuh remaja diajak berdialog. “wahai putra tersayang, aku diperintah Allah melalui mimpi untuk menyembelihmu.” Nabi Ibrahim menceritakan perihal mimpinya. Bahwa dia bermimpi benar adanya. Bahwa mimpinya itu terulang tiga kali, sebaga penguat keyakinannya. Bahwa mimpi ini bukan sekedar bunga tidur. Allah telah berfirman di dalam mimpi tersebut. Firman Allah adalah sebuah kemestian. Itu adalah perintah meski hanya lewat kilatan gambar.

Setelah memberitakan mimpinya, Nabi Ibrahim berujar, “bagaimana menurutmu anakku?”

Meskipun mimpi tersebut datangnya dari Sang Maha Kuasa. Meskipun sebagai seorang Nabi dia tidak boleh menolak perintah. Meskipun dia adalah seorang ayah yg memiliki hak atas anaknya. Nabi Ibrahim tetap menanyakan pendapat putranya. Meski putranya belum bisa dikatakan dewasa. Ismail saat itu adalah anak yg beranjak remaja.

Nabi Ibrahim bisa saja menyampaikan dogma, “putraku besok kami harus siap, ayah mendapat perintah Allah untuk menyembelihmu.” sebagai seorang ayah sekaligus rasul beliau berhak memerintah langsung. Tapi itu tidak dilakukan. Ibrahim as sangat mengerti bahwa putranya bukan boneka. Dia manusia yg diberi akal. Dan sebagai manusia berakal, Ismail meski seorang anak yg beranjak remaja berhak mengungkapkan pendapat. Apalagi pendapat tersebut terkait dengan kehidupannya.

Demikian Nabi Ibrahim as mengajari kita tentang pentingnya menjalin komunikasi dengan anak. Seorang ayah yg baik tidak akan berlaku sewenang wenang kepada anaknya. Ayah yg baik akan mendengarkan pendapat anaknya. Baginya anak adalah patner diskusi.

Apa yg telah dicontohkan nabi ibrahim menjelaskan bahwa komunikasi yg terjalin dgn baik antara orangtua dan anak akan memudahkan proses pendidikan di lingkungan keluarga. Allahu a’lam bi shawab

Dari Buenos Aires sampai Pasar Singosari

Udara Singosari selalu spesial. Duduk di teras depan rumah, menjadi pilihan menarik saat matahari mulai beranjak naik. Meski gendang telinga terus menerus diteror suara bising knalpot, hati tetap adem. Sebising apapun polusi suara tertutupi oleh semilir angin yang menyenggol dedaunan. Sejuk. Setiap kali hidung menghirup, dada terasa dipenuhi kekuatan magis yang menenangkan.
Lembar berganti lembar. Mata masih setia mengikuti setiap baris kata. Tiga hari lalu, aku pergi ke toko buku. Satu hal yang tak pernah terlewatkan. Mengisi kekosongan sambil menunggu hari-hari di kota apel. Buku menjadi pelarian favoritku. Lima buah buku berhasil aku bawa pulang. Salah satunya, The Secret Letters of the Monk Who sold His Ferrari. Buku fiksi dari penulis yang sudah ku kenal sejak lama. Robin Sharma, orang Amerika keturunan India yang berhasil menyita perhatianku lewat buku terlarisnya, The Monk Who Sold His Ferrari. Kebetulan buku yang ada di tangan sekarang, sekuel dari buku laris tersebut.
Aku dibawa mengudara oleh Robin Sharma. Dari kegilaan seorang eksekutif muda di belantara kesibukan Eropa, menelusuri kota tua yang dindingnya dihiasi coretan di pinggiran Buenos Aires. Belum lama terperdaya oleh alunan musik Amerika Latin dan tarian Tango nan eksotik, aku dibawa terbang lagi. Kali ini ke sebuah apartemen mewah berlantai tiga. Dari balkon lantai tiga, terlihat dua sisi dunia. Eropa dan Asia. Istanbul selalu membuat aku merinding. Kisah yang pernah ku baca tentang perjuangan Sultan Muhammad Al-Fatih menaklukkan ibukota Romawi Timur tidak pernah bisa hilang dari kepala. Keelokan Hagia Sophia, Selat Tanduk Emas, Selat Bosphorus dan Hippodrome membuat anganku melayang.
“Permisi!” Sosok berbalut kaos hitam menyita pendengaranku. Wajah aku palingkan ke arah suara. Samar terlihat seorang laki-laki membawa dua dus air mineral. Bagian atas kepalanya tertutup topi hitam. Aku sering melihat topi itu di cuplikan film cowboy. Matanya tersembunyi di balik kaca mata hitam. Sempurna, topi cowboy dan kaca mata hitam saat matahari mulai naik ke tengah langit.
“Di taruh di sini?” aku mengangguk sambil menghampiri. Laki-laki itu berlalu. Tidak berapa lama, dia kembali dengan kardus yang lain. Kuat. Saat, siang menjelang, perut mulai lapar dan tenaga berkurang, laki-laki itu seolah tanpa beban memindahkan dus demi dus dari kendaraannya ke pelataran rumah.
“Becak, tunggu!” baru saja selesai membantu mengangkat dus-dus yang berserakan di depan rumah, dari dalam terdengar suara ibu berteriak. Instingku bergerak cepat. Buku yang baru saja aku pegang, setelah berjibaku dengan dus kembali diletakkan. Langkah kaki segera ku bawa ke luar. Si abang becak hampir saja berlalu.
“Tunggu, mas, eh pak”
Aku baru sadar ternyata laki-laki pembawa dus itu tidak semuda dugaanku. Garis-garis keriput di wajah bercerita banyak. Apalagi saat dia membuka mulut. Senyumnya dihiasi dua buah gigi yang sama-sama berada di gusi bawah. Gusi atasnya merah. Tidak tersisa satu pun gigi.
Laki-laki tua masih memakai topi cowboy dan kaca mata hitam. Becak yang sudah siap ditancap, dia parkir kembali. Aku bimbing dia masuk.
“Silahkan duduk”
“Ada yang tertinggal, mas?”
“Tunggu sebentar, ibu masih ada perlu”.
Waktu menunggu aku manfaatkan. Sosok yang duduk tepat di hadapanku tentu menyembunyikan cerita menarik. Sayang kesempatan seperti ini berlalu begitu saja.
“Sudah lama mas, dari tahun tujuh puluh satu”. Bapak tua menjawab pertanyaanku. Ternyata becak adalah bagian terbesar dari sejarah hidupnya. Kedua kakinya sudah akrab dengan pedal becak, semenjak muda. Dari hasil becak dia bisa melamar seorang gadis yang memberikannya empat orang anak. Dari becak dia bisa menyekolahkan anak-anaknya. Dari hasil sekolah anak-anaknya bisa kerja. Tiga orang anaknya laki-laki, satu perempuan. Anak-anak yang besar dari hasil kayuhan becak tersebut sudah berkeluarga. Tujuh orang cucu lahir ke dunia.
“Dulu saya mangkal di Pasar Besar”. Empat puluh tiga tahun yang lalu, si abang becak memulai karirnya. Pasar Besar adalah destinasi yang paling menggiurkan bagi para pembecak. Pasar yang terletak di jantung kota Malang selalu ramai pengunjung. Becak menjadi kendaraan favorit. Terlebih saat itu serangan roda dua dan empat dari Jepang belum dimulai. Menjadi tukang becak pada saat itu selevel dengan sopir taksi.
Seiring waktu, lahan pembecak mulai digerus tukang ojek dan sopir angkot. Pasar Besar meski masih memberi ruang kepada para pembecak, sudah tidak sekondusif dulu. Terlebih pertambahan usia juga menjadi faktor yang memperlemah persaingan.
“Tahun delapan puluh tiga, saya pindah ke Singosari”.
Dari tahun 83 sampai sekarang si bapak masih setia menunggu pelangan di depan pasar Singosari. Lebih empat puluh tahun tenaganya dikuras untuk mengayuh becak. Entah berapa generasi yang sudah menikmati tarikan becaknya. Entah berapa ribu kilo perjalan yang ditempuh selama itu. Entah sudah berapa ribu liter keringat yang mengucur di sepanjang perjalanan. Entah sampai kapan si bapak masih kuat mengayuh.
“Saya mangkal di bawah tangga penyeberangan jalan, sebelah kiri. Tanya saja pak …. (dia menyebutkan nama, tapi saya lupa) semua orang tau”.