Pesantren Di Bogor

Guru kami, KH. Helmy Abdul Mubin, pimpinan Pesantren Modern Ummul Quro Al-Islami sering bercerita. Beliau menceritakan sejarah berdirinya pesantren. Meski cerita tersebut diulang berkali-kali, kami tidak pernah bosan.
Pesantren ini didirikan dengan modal doa. Demikian selalu beliau bilang. Saya bukan pengusaha dan bukan anak orang kaya. Saya tidak punya modal harta. Saya bukan pejabat dan bukan anak mantan pejabat. Saya tidak punya modal pengaruh apalagi ketenaran.
Saat mendirikan pesantren, guru kami hanya punya uang 250 ribu rupiah. Uang tersebut adalah tabungan selama bebarapa tahun mengajar di pesantren lain. Meski tidak punya modal harta, tekad beliau sudah bulat. Ingin mendirikan lembaga pendidikan Islam yang sesuai dengan visinya.
Suatu saat seorang utusan dari Australia datang ke pesantren tempat H. Helmy mengajar. Si utusan mencari seorang ustadz yang pandai berbahasa Inggris. Ia menawarkan pekerjaan sebagai pengajar agama di lingkungan masyarakat muslim Australia. Saat itu permintaan si utusan tidak dapat dipenuhi. Tidak ada ustadz yang memiliki kualifikasi sebagaimana diminta.
Guru kami sempat merenung. Beliau berharap suatu hari dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Caranya, harus mendirikan pesantren yang menjadikan Bahasa Inggris sebagai materi pokok. Selama itu pesantren lebih menganakemaskan Bahasa Arab.
Cita-cita mendirikan pesantren pun terus bersemayam dalam dirinya. Beberapa tahun setelah kedatangan utusan Australia, H. Helmy mantap memulai pendirian pesantren. Langkah pertama yang beliau lakukan adalah mendatangi para kiyai. Berhubung asalnya dari Madura, beliau mencari informasi kiyai di pulau tersebut.
Tujuh belas kiyai didatangi. Guru kami meminta doa dari ulama tersebut. Doa seorang yang sholeh tentu lebih didengar oleh Allah. Keyakinan itu yang membuat beliau semangat mendatangi kiyai-kiyai pimpinan pesantren di Madura.
Beberapa orang kiyai memberi oleh-oleh. Sehelai kertas putih. Di dalamnya tertulis bahasa Arab. Kumpulan doa. Oleh-oleh tersebut tidak disia-siakan. Setiap doa yang diijazahkan, beliau amalkan.
Malam-malam pun dilalui dengan tafakur. Berdoa, memohon kepada Yang Maha Kuasa. Tuhan Maha Kaya, segala yang di dunia adalah milikNya. Jika Allah berkehendak, seorang yang tidak punya modal harta bisa mendirikan pesantren.
Mendirikan pesantren bukan perkara mudah. Butuh modal banyak. Tanah yang akan dijadikan lokasi harus dibeli. Dengan apa membelinya? Uang. Asrama tempat tinggal santri harus dibangun. Dengan apa membangunnya? Uang. Akses jalan bagi wali santri harus dibuat. Dengan apa membuatnya? Uang.
Butuh banyak uang untuk mendirikan pesantren. Sedangkan guru kami tidak memilikinya. Beliau punya jalan lain. Jalan yang sudah dilalui banyak orang susah. Berdoa di samping berusaha.
Doa yang dipanjatkan setiap malam berbuah. Bukan uang yang turun dari langit. Atau sejadah yang beranak rupiah. Ide. Sebuah ide muncul di kepala. Membuat sertifikat akhirat.
Ide mahal yang dibayar dengan doa puluhan malam. Guru kami pun mulai membuat konsep. Beliau meminta kawannya mengetik.
Sertifikat Akhirat
Dengan ini saya membeli tanah seluas ……. Meter. Di kampung Banyusuci Leuwiliang Bogor.
Tanah tersebut saya hibahkan kepada Pesantren Ummul Quro Al-Islami.
Yang memberi hibah Yang menerima Hibah
Sertifikat akhirat tidak langsung mendatangkan uang. Masih butuh usaha. H. Helmy berangkat membawa sertifikat akhirat ke Jakarta. Rumah demi rumah disalami. Beliau tidak kenal malu. Mencari dana bukan untuk pribadi. Ini adalah perjuangan. Demi kepentingan masa depan anak bangsa.
Rupiah demi rupiah pun didapat. Harga tanah waktu itu 2.500 per meter. Ada sekitar 6,000 meter tanah yang harus dibebaskan. Hasil keliling mencari dana door to door belum mencukupi.
Doa lagi.
H. Helmy tidak putus berdoa. Terngiang terus firman Allah dalam Al-Qur’an yang artinya, “Mintalah kepadaKu niscaya Aku mengabulkan.” Allah Maha Kaya, semua yang ada di dunia milikNya. Saat Allah berkenan, uang pasti datang.
Doa kembali memberi hasil. Sebuah ide muncul. Orang kaya banyak di Jakarta. Diantara mereka pasti ada yang berjiwa dermawan. Kalau ada seseorang yang membawanya ke rumah orang kaya tersebut, hasilnya pasti lebih besar.
Guru kami bertanya kepada santri, ustadz, wali santri bahkan tukang masak, apakah mereka punya kenalan orang kaya. Ternyata seorang tukang masak punya kenalan orang kaya. Di samping masak, dia mengajar ngaji. Anak yang dia ajar ngaji, ayahnya juragan tanah. Orang Betawi asli.
Ustadz Helmy diantar tukang masak ke rumah kenalannya. Doa itu terkabul. Si empunya rumah bersedia memberi uang 10 juta rupiah. Pinjaman.
Meski pinjaman tidak mengapa. Dengan uang itu ditambah hasil sertifikat akhirat, tanah seluas 6,000 meter pun dapat dilunasi.
Tinggal memikirkan bangunan.
Doa lagi.
Memang itu senjata pamungkasnya. Tabungan tidak ada. Warisan pun tiada. Apalagi harta benda. Yang ada hanya sebuah motor vespa. Itupun buah dari kuliah sambil kerja di Arab Saudi.
Dan pertolongan Allah itu selalu tiba. “Minta kepadaKu, niscaya Aku kabulkan.” Seorang dokter memberi kabar gembira. Adiknya yang tinggal di Jakarta berencana membangun masjid.
Singkat cerita, diadakan pertemuan antara guru kami dengan calon donator. Dokter sebagai penghubung. Adik dokter yang seorang insinyur bersedia membangun masjid di lokasi pesantren. Uang muka sedekah pun diberikan.
Pembangunan masjid berjalan di lahan yang masih kosong. Saat itu ustadz Helmy masih tinggal di pesantren tempatnya mengajar. Bahan bangunan sudah berdatangan. Semuanya adalah amanah yang harus dijaga. Menelantarkan amanah bisa berakibat fatal. Kepercayaan itu mahal.
Dengan bismillah, beliau membangun tempat tinggal di dekat masjid. Bukan rumah. Sebuah bedeng berukuran 3 x 2 meter. Dindingnya triplek, atapnya asbes, lantainya tanah. Agar dapat tidur nyaman, dibuatlah bale di dalam bangunan. Fungsi bale tersebut sebagai tempat tidur.
Dua puluh satu tahun telah berlalu. Doa demi doa terus dipanjatkan. Pesantren pun berkembang. Tahun pertama, hanya ada 20 orang santri yang mukim. Asramanya terbuat dari triplek. Kelasnya pun di bawah pohon. Sekarang bangunan triplek sudah tiada ada. Berganti dengan dinding tembok yang kokoh.
Luas pesantren bertambah. Kurang lebih sudah 7 hektar tanah dimiliki. Empat hektar sudah dibangun. Asrama, kelas, ruang makan, dan masjid berdiri megah. Santri sudah tembus angka 3,850 orang.
Semua ini merupakan anugerah. Allah Maha Kaya, segala yang ada di dunia milikiNya. Saat Dia berkenan, segalanya bisa ada.
Guru kami selalu bilang,
“Pesantren ini ada berkat doa.”

Advertisements

Naik Haji

Sore kemarin waktu Saudi Arabia atau malam waktu Indonesia terjadi musibah di tanah suci. Sebuah crane jatuh menimpa bangunan masjid haram. Ratusan orang jamaah haji terluka, delapan puluh tujuh orang meninggal dunia.
Musibah yang didahului oleh badai tersebut menyisakan duka dan doa. Duka atas apa yang telah terjadi serta doa untuk kebaikan para korban, baik yang masih hidup atau yang wafat.
Meski terjadi bencana, tanah suci Mekah dan Madinah tidak akan pernah sepi peminat. Cuaca seekstrim apapun tidak bisa menghalangi niat kuat mengunjungi rumah suci. Halangan dan rintangan bukan menjadi pencegah sebaliknya menambah semangat. Apa lagi yang lebih baik dari hidup ini selain mengakhirinya dengan khusnul khotimah. Meninggal dalam keadaan beribadah merupakan salah satu contohnya.
Pernah terjadi tragedi terowongan mina yang menelan korban ribuan orang. Tahun berikutnya muslimin yang pergi haji tidak berkurang. Bahkan banyak yang rela menunggu antrian meski bertahun-tahun lamanya. Naik haji bagi umat Islam sudah menjadi cita-cita utama. Mimpi yang paling tinggi. Apapun cita-cita seorang anak, selalu naik haji terselip di dalamnya. Saya sering bertanya pada murid2. Apa cita-citamu? jawabannya ingin menjadi kiyai tentu dengan tambahan haji di belakangnya. Ada yang ingin menjadi pengusaha biar bisa pergi haji sekligus menghajikan orang tua. Ada yang ingin jadi dokter yang bergelar haji. Bahkan suatu ketika saya katakan kepada murid2. Kalau kalian diberi uang 100 juta, apa yang akan kalian lakukan? Mayoritas menjawab Naik Haji.
Diantara murid2 yang pernah saya tanya cita-citanya, ada yang serius. Dia ingin naik haji dengan uang sendiri. Jika melihat kondisi ekonomi keluarga, saya perkirakan ayahnya sanggup membiayai satu kursi baginya. Tapi tekadnya sudah bulat. Tidak ingin merepotkan orang tua.
Singkat cerita dia berusaha mengumpulkan uang. Kebetulan dia belajar cimande dan memang orang cimande ciawi. Seperti kebanyakan orang cimande, anak ini dibekali skil khusus. Pijat dan urut.
Beberapa orang menjadi langganan, termasuk saya. Setiap kali pijat dia dapat upah cape. Sekian bulan dia kumpulkan. Ternyata uang hasil memijat belum banyak. Dia pun mencari pekerjaan lain. Berhubung kuliah pagi, dia hanya punya waktu senggang sore sampai malam. Waktu kosong itu dia maksimalkan mencari tambahan. Alumni yang baru lulus tahun lalu tersebut ikut membantu orang tuanya jualan martabak. Meski sudah ada pegawai yang dipekerjakan orang tuanya, dia tetap ikut berdagang.
Setelah setahun terkumpullah uang sebesar tujuh juta rupiah. Untuk daftar haji dia sudah bisa, tapi belum mendapat jatah kursi. Untuk dapat jatah kursi, alumni tersebut harus setor sekitar dua puluh lima juta rupiah.
Berhubung tekad sudah bulat. Dia tidak mau mundur. Dan hebatnya tidak mau meminta kepada orang tua. Dia kekeh ingin naik haji dari hasil jerih payah sendiri. Alumni tersebut mulai putar otak. Mencari tambahan penghasilan lagi. Sebenarnya di kampus dia sudah mengajar cimande. Temen2 se fakultas banyak yang ingin belajar silat tradisional sunda tersebut. Tapi dia tidak mau membebani bayaran kepada murid2nya.
Sebuah ide pun muncul. Dia membeli beberapa buah loyang martabak. Tidak seperti sang ayah, Loyang yang dia beli dari pasar ukurannya lebih kecil. Dia ingin membuka stand martabak mini. Ide ini sudah bukan barang baru. Banyak yang buka martabak mini. Dia pun berkreasi. Agar jualannya memiliki nilai plus. Terlintas membuat martabak hijau.
Biasanya martabak berwarna coklat susu, dia ingin membuat image baru. Martabak hijau tentu unik dan menarik. Dia pun mulai produksi martabak hijau mini. Ternyata jualannya diterima pasar. Impian naik haji pun terus berkibar.

Pesantren dan Kemerdekaan

Bicara pendidikan di Indonesia, tidak pernah lepas dari pesantren. Institusi yg satu ini telah merasuk dlm sendi kehidupan bangsa beratus tahun lamanya. Pesantren dengan identitas keisalamnya mewarnai perjalanan nusantara.
Sebelum mengenal sekolah, bangsa Indonesia lebih dulu kenal pesantren. Istilah sekolah baru ada setelah penjajah masuk nusantara. Sementara pesantren ada sebelum berdiri kesultanan demak. Bahkan kesultanan terbesar di indonesia tersebut tumbuh dari pesantren. Sebelum memproklamirkan Demak sebagai kerajaan, Raden Patah diperintah oleh gurunya Sunan Ampel untuk mendirikan pesantren di Demak bintaro.
Maka tidak berlebih jika Nurcholis Madjid menyatakan bahwa pesantren adalah lembaga pendidikan indigenous indonesia. Pesantren dgn segala keunikannya lahir dan berkembang dari rahim bunda nusantara.
Salah satu keunikan pesantren adalah empat pilar utama yg dirangkai sebagai pedoman nilai. Pesantren di indonesia menjunjung tinggi empat pilar tersebut; keislaman, keilmuan, kemasyarakatan dan keindonesiaan.
Pilar tersebut saling terpaut. Pesantren adalah penyebar ketauhidan, corong utama dakwah mengesakan Allah. Pesantren adalah kebun ilmu. Para pencari ilmu bisa menggali, memetik dan memanen ilmu di dalamnya. Pesantren milik masyarakat, berdiri berkat semangat gotong royong maka di mana pun berada pesantren selalu memberi kontribusi nyata bagi masyarakat. Dan yg harus digarisbawahi pesantren berjuang untuk keutuhan bangsa dan negara. Pesantren berdiri sebagai benteng penjaga. Pesantren adalah paku bumi nusantara yg mengajarkan cinta tanah air sebagian dari iman.
Sejarah mencatat. Meski banyak yg terlewat. Pesantren selalu menjadi bagian penting dalam perjuangan mengerek keindonesiaan berkibar di langit nusantara.
Sebut saja perang diponogoro. Perang terbesar yg pernah terjadi di pulau jawa antara Pangeran Diponogoro dan Belanda. Bukan sekedar perang yg diakibatkan patok belanda di atas tanah waris sang pangeran. Ini adalah perang suci. Diponogoro sudah geram sejak lama atas pendudukan Belanda di tanah jawa. Terlebih Belanda mengacak2 kesultanan Mataram sebagai lambang keislaman. Belanda datang bukan hanya untuk harta dan tahta tapi juga demi injil. Maka Diponogoro mengobarkan perang suci. Melawan penjajah yang berusaha mengkafirkan Jawa.
Seruan itu didengar tokoh islam. Seorang kiyai terpanggil membantu Diponogoro. Dia kerahkan murid2nya berjihad melawan penjajah. Berkat bantuan para santri, Belanda menderita. Selama 5 tahun peperangan, antara 1825-1830 tidak kurang 15.000 tentara belanda tewas. Penjajah kafir tersebut menderita kerugian 20 juta gulden.
Siapa kiyai yg membantu perjuangan Diponogoro?
Muslim Mochammad Khalifah, atau lebih tenar disebut Kiyai Maja.
Itu satu dari sekian banyak bukti nyata perjuangan pesantren dalam merebut kemerdekaan.
Setelah merdeka pun, kiyai dan santri di pesantren tidak berpangku tangan. Agresi militer Belanda di bulan Oktober 1945 menjadi medan juang civitas pesantren. Kesewenangan tentara sekutu yg berusaha menguasai Surabaya dijawab dengan resolusi jihad.
KH. Hasyim As’ary sebagai tokoh utama pesantren berteriak lantang menentang pendudukan. Kiyai Hasyim pun mengeluarkan fatwa.
1. Kemerdekaan Indonesia yg diproklamirkan 17 agustus harus dipertahankan.
2. Republik Indonesia sebagai satu2nya pemerintahan yg sah harus dijaga dan ditolong.
3. Musuh RI adalah Belanda yg datang kembali dibantu tentara sekutu.
4. Umat islam terutama anggota NU harus mengangkat senjata melawan penjajah belanda.
5. Kewajiban ini merupakan perang suci/jihad fi sabilillah. Muslim yg tinggal dlm radius 94 km dari agresi belanda fardu ain mengangkat senjata.
Berkat resolusi jihad ribuan santri membanjiri Surabaya. Mereka datang dari Jombang, mojokerto, jember, malang, kediri, pasuruan bahkan sampai cirebon. Laskar santri pun dibentuk. Hizbullah yg sudah ada diperkuat dengan laskar Sabilillah. 10 november 1945 Belanda tidak berdaya.
Santri dari berbagai pesantren mengumandangkat takbir seiring dengan pekik merdeka.
Keislaman pun berangkulan dengan keindonesiaan.

Majapahit Rasa Madura

1292 M, tentara kediri dibawah komando Jayakatwang menyerang Singosari. Kertanagara raja singosari menjadi korban. Tahta singosari pun bergeser kembali ke kediri.
Seperti putaran roda. Ken Arok membangun Singosari di atas kuburan kediri. Kertajaya raja kediri berhasil dikalahkan tahun 1222. Wangsa Airlangga sebagai penguasa Jawa pun berakhir.
Jayakatwang berhasil mengangkat kembali nama besar wangsa Airlangga. Tapi tidak lama.
setahun kemudian raden wijaya, menantu kertanagara keturunan ken arok membalas.
Saat jayakatwang menyerang singosari, raden wijaya menyelamatkan diri. Dia menyeberangi selat madura. Mendapat suaka dari bupati sumenep Arya wiraraja. Setahun raden wijaya tinggal di madura. Menimba ilmu dari arya wiraraja seorang ahli strategi.
1293 atas saran sang mentor, raden wijaya kembali ke jawa untuk merebut tahta. Ranggalawe putra arya wiraraja ikut serta.
angin baik berhembus, pasukan kubilai khan mendarat di gresik. Ribuan prajurit mongol bersenjata lengkap siap menghantam jawa. Raden wijaya mengambil kesempatan. Tentara mongol diarahkan menyerang kediri bersama pengikutnya.
jayakatwang tidak berkutik. Pasukan kediri tdk sanggup menghadang penyerang. Rajanya gugur dalam penyerbuan.
R. Wijaya tidak rela melepas jawa untuk bangsa asing. Pasukan mongol yg kelelahan dipukul keluar. Ranggalawe putra bupati sumenep menjadi komandan. Kesatria berkuda yg ahli memainkan pedang tersebut berhasil membuat pasukan mongol kembali ke negaranya.
Perang usai, R. Wijaya membangun walayah baru. Sebuah hutan di perbatasan siduarjo disulap menjadi kota. Sebuah kota yg menjadi kerajaan terbesar sepanjang sejarah nusantara.
Wilwatikta atau Majapahit

Manusia Garam

Sumenep merupakan produsen garam terbanyak indonesia. Setiap tahun kabupaten yg berada di ujung timur pulau madura memasok garam nasional. Hamparan ladang garam bisa ditemui di jalan utama sampang -sumenep. Terlebih di daerah pesisir kalianget. Butiran2 putih berkilauan disorot matahari.
Bertani garam adalah profesi utama masyarakat pesisir sumenep. Selain melaut mencari ikan. Suhu udara yg panas ditunjang dgn curah hujan yg kecil, sangat pas untuk bertani garam. Setidaknya proses kristalisasi air laut membutuhkan suhu di atas 30 derajat celcius.
bisa dibayangkan betapa hebatnya petani garam menahan panas. Mereka berjibaku dgn suhu yg terkadang mencapai 34 derajat celcius. Mengalirkan air laut, menjaga proses kristalisasi dan memanen. Semuanya dilakukan secara tradisional. Mengandalkan tenaga manusia alias manual.
setelah panen garam dihargai 400 rupiah per kilogram. Harga garam tidak sehebat gula. Di minimarket garam dapur yg sudah dikemas 250 gram hanya dihargai rp. 2.000. Setara dengan dua permen kopiko.
mengapa garam murah? Apakah garam tdk banyak manfaatnya?
Mari sejenak kita membuka tutup saji meja makan. Di sana ada rendang daging sapi, ada pepes ikan mas, ada opor ayam, perkedel kentang, sayur asam, tempe goreng dan sambal.
rendang, pepes ikan, opor gurihnya bikin liur mengalir. Perkedel pun maknyus ditambah tempe goreng dan sambal waduh secara digoyang lidah. Demikian juga dgn sayur asem dan sayur2 lainnya.
nikmat.
Coba hilangkan garam dari semua masakan tersebut!
Bagaimana rasanya?
Hambar. Anyep. Datar
garam itu yg mbuat setiap makanan terasa nikmat. Garam itu yg menyudupkan rasa di lidah. Garam itu yg membangkitkan selera makan.
kenapa garam murah?
Sahabat, garam tdk pernah demo. Dia tidak mau boikot. Garam menerima peran. Dia sudah digariskan demikian.
Dalam hidup pun banyak diantara kita yg berperan sebagai garam. Selalu menjadi bagian dlm kegiatan. Memberi rasa pada karya. Tapi tidak mendapat harga yg tinggi.
gedung2 pencakar langit itu berdiri karena sosok2 manusia garam. Mereka menggali, memasang pondasi, kepanasan dan kehausan. Berapa rupiah yg didapat? Hanya cukup untuk mengisi perut sekeluarga. Tanpa mereka gambar digital yg didesain arsitek tdk mungkin terwujud.
Jalan2, pusat pertokoan, perkantoran, statsiun, bandara, terminal bersih berseri. Karena tangan2 yg memainkan sapu dan kain pel. Saat kebersihan tercipta yg mendapat anugerah adalah walikota. Tangan2 yg membersihkan itu dilupakan. Mereka adalah manusia garam.
manusia garam ada di mana2. Di pabrik, pusat pertokoan, perkantoran bahkan di lembaga pendidikan.
tanpa mereka hidup ini hambar. Tanpa mereka tidak ada karya tercipta. Tapi keberadaan mereka sering terlupa. Peran mereka dihargai murah. Seolah apa yg telah mereka lakukan tidak signifikan.
mereka manusia garam. Berkontribusi terus meski tidak diopeni. Karena mereka sadar, perannnya hanya memberi rasa bukan membuat karya.

Alphard Mas Mubin

Salah satu rutinitas di bulan Ramadhan adalah mudik. Entah kapan mulainya. Masyarakat Indonesia sudah menjadikan mudik menjelang lebaran sebagai kebutuhan. Setiap orang berlomba mencari tiket kereta. Hasilnya, sebulan sebelum Ramadhan tiket kereta sudah habis. Pilihan berikutnya adalah tiket bis. Hampir sama seperti kereta, tiket bis habis diborong pemudik.

Antusiasme mudik sangat besar. Antri berjam-jam demi sehelai tiket dilakoni. Meski dengan harga yang lebih mahal. Pemudik bahkan rela mencari tiket dari calo. Aroma kampung halaman begitu menggoda. Sehingga halangan dan rintangan diterabas semua. Bagi yang ingin irit, sepeda motor menjadi pilihan. Resiko kelelahan dan kecelakaan setiap pemudik motor tak dihiraukan.

Mudik. Satu kata yang tidak bisa ditawar. Gambaran masyarakat yang memiliki kelelusaan ekonomi lebih nyaman. Mereka tidka harus berdesakan mengantri tiket kereta atau bis. Mereka pun tidak perlu menantang maut dengan roda dua. Para pemudik model ini mencari tiket pesawat. Mereka bisa booking sebulan sebelum keberangkatan. Ada juga yang mudik dengan kendaraan pribadi. Meski lelah di jalan, mobil pribadi dipilih karena lebih murah dibanding ongkos pesawat.

Dan setiap akhir Ramadhan, Mas Mubin pun sudah bersiap pulang. Kampung halamannya di daerah pegunungan di selatan Jawa Timur. Ongkos bis ke sana menjelang lebaran naik dua kali lipat. Sedangkan untuk mendapat tiket kereta sulit baginya. Mas Mubin tidak pernah ambil pusing. Setiap tahun dia tidak usah sibuk mencari tiket.

Lelaki muda yang belum berkeluarga tersebut bekerja di sebuah pesantren. Dia menjadi kepala dapur. Sehari-hari berjibaku dengan dandang dan penggorengan besar. Sekali masak tiga buah karung beras dia olah menjadi nasi. Lauknya 4000 potong ikan atau tempe digoreng dengan wajan besar. Pesantren tempat dia bekerja memiliki santri banyak.

Pesantren tersebut terletak di kabupaten Bogor. Tepatnya di kampung Banyusuci tidak jauh dari kantor kecamatan Leuwiliang. Pimpinannya bukan orang pribumi. Beliau perantau dari pulau Madura. Setiap menjelang lebaran, pak kiyai dan keluarga pasti pulang kampung.

Sudah menjadi kebiasaan keluarga pimpinan pulang dengan pesawat. Meski berangkat dengan pesawat, mobil-mobil pribadi tetap diberangkatkan. Bukan pemborosan. Pimpinan pesantren suka ziarah. Rute pulang dari Jawa Timur diselingi dengan Ziarah Wali songo yang makamnya tersebar di sepanjang jalan Pantura. Mobil-mobil yang diberangkatkan dipersiapkan untuk perjalanan pulang.

Tiga mobil untuk tiga keluarga. Satu untuk pak kiyai dan istri, yang dua tersisa masing-masing keluarga anaknya. Mobil-mobil tersebut tidak ditumpangi oleh pemiliknya saat mudik. Hanya barang yang dijadikan penumpang di belakang. Didasari kebaikan hati pak kiyai, para pekerja dapur diberi keistimewaan ikut mobil tersebut.

Kurang dua bulan sebelum mudik, pak kiyai membeli mobil baru. Sebuah MPV kelas atas berwarna hitam. Mobil yang harganya tiga kali Kijang Innova seri V tersebut pas untuk perjalanan jauh. Keleluasaan dan kenyamanan menjadi fitur berharga yang ditawarkan. Kursi empuk yang bisa distel seperti kursi pesawat, air bag di setiap sisi, air conditioner yang nyaman, LCD di depan dan di kursi penumpang dan tentu saja suspensinya empuk nyaman di jalan bergelombang. Tipikal mobil yang khusus bagi orang-orang berduit.

Mas Mubin sebagai kepala dapur tentu mendapat keistimewaan. Dia mendapat jatah menaiki Alphard. Sedangkan pekerja dapur lain mendapat tumpangan di dua mobil yang diperuntukkan keluarga anak pak kiyai.

Mas Mubin pun mudik dengan Alphard. Di sepanjang jalan dia bisa membuka kaca mobil melirik ke kanan dan kiri. Saat macet orang-orang menatap takjub. Seorang anak muda mudik dengan mobil mewah. Turun di warung makan, berhenti di parkiran, mengisi BBM, selalu menjadi pusat perhatian. Tidak ada orang yang tahu. Apa yang dilihat mata itu yang dipercaya. Seorang anak muda, belum beristri, hanya ditemani sopir, membawa banyak oleh-oleh, pulang kampung dengan mobil seharga 1 milyard. Hanya dia dan sopir yang tersenyum menyadari realita.

Mas Mubin beruntung. Di saat ribuan orang berebut tiket kereta dan bis untuk pulang kampung, dia tenang menyiapkan makanan untuk santri. Ketika pemudik tersebut berjubalan di kereta dan bis dengan segala keterbatasannya, dia duduk nyaman di dalam mobil mewah. Bahkan di sepanjang jalan pun, orang-orang yang lebih berpangkat dan berduit darinya menaruh kagum. Itu karena mobil yang dinaiki Mas Mubin lebih bagus dari mobil yang mereka kendarai.

Tidak banyak orang pernah naik Alphard. Meski di bandara ada Alphard yang dijadikan taksi, tapi orang berpikir dua kali untuk menyewa. Lebih baik naik taksi avanza atau innova yang lebih murah dari pada naik taksi Alphard. Mas Mubin adalah satu dari sedikit orang tersebut. Tidak tanggung-tanggung dia mudik naik Alphard.

Sahabat

Andaikan pak kiyai membeli mobil Hammer seharga tiga Alphard, Mas Mubin pun bisa mudik dengannya. Sebuah keistimewaan yang tidak didapat oleh banyak orang. Sebuah keberuntungan yang nyata. Itu karena Mas Mubin bekerja di tempat yang tepat. Dia pun memiliki majikan yang baik hati. Andai dia tetap bekerja di kampungnya, belum tentu bisa merasakan empuknya kursi mobil mewah.

Manajemen Berbasis Sekolah

Istilah Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) berasal dari School Based Manajement, dimana sekolah menjadi pelaku utama dalam mengelola pendidikan. Pada prinsipnya MBS bertujuan untuk memberdayakan sekolah dalam menetapkan berbagai kebijakan internal sekolah yang mengarah pada peningkatan mutu dan kinerja sekolah secara keseluruhan.[1]

Sebagaimana dimuat oleh Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, Departemen Agama Republik Indonesia, tujuan Manajemen Berbasis Sekolah sebagai berikut:

Meningkatkan mutu pendidikan melalui kemandirian dan inisiatif sekolah atau madrasah dalam mengelola dan membedayakan sumber daya yang tersedia;
Meningkatkan kepedulian warga sekolah atau madrasah dan masyarakat dalam penyelenggaraan pendidikan melalui pengambilan keputusan bersama;
Meningkatkan tanggungjawab sekolah atau madrasah kepada orangtua, pemerintah tentang mutu sekolah atau madrasah;
Meningkatkan kompetisi yang sehat antar madrasah dan sekolah lain untuk pencapaian mutu pendidikan yang diharapkan.[2]

MBS memberi keleluasaan kepada sekolah untuk mengelola pendidikan sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan. Aktor utama sebagai top leader dalam pelaksanaan MBS adalah kepala sekolah. Dia menjadi penguasa di daerah otonom bernama sekolah. Kepala sekolah memiliki kekuasaan penuh terhadap pengambilan kebijakan terkait dengan pendidikan di sekolah yang dia pimpin. Tentunya kekuasaan tersebut tidak menjadikan kepala sekolah sebagai figur otoriter.

MBS telah merubah paradigma sekolah sebagai pihak yang menunggu perintah menjadi pihak yang memerintah. Perubahan ini memicu kreatifitas sekolah-sekolah yang telah melaksanakan MBS. Segala ide tentang kemajuan menjadi semarak. Sekolah berlomba menjadi yang terbaik dengan meningkatkan kualitas pendidikannya. Sehingga mutu pendidikan terangkat.

Di sisi sosial, MBS pun membuka mata masyarakat untuk terlibat secara aktif di dunia pendidikan. Pemuka masyarakat yang berdomisili dekat dengan sekolah dilibatkan dalam komite sekolah. Sebagai anggota komite tentu tokoh-tokoh masyarakat dapat memberi kekuatan ekstra kepada sekolah. Di sisi lain tokoh-tokoh tersebut pun mendapat panggung untuk terlibat di kegiatan pendidikan.

Tapia da satu hal yang terkadang menjadi kendala. MBS menuntut sekolah untuk kreatif. Sekolah berlomba meningkatkan mutu. Tentunya peningkatan kualitas tidka akan berjalan tanpa sokongan dana. Pendanaan untuk berbagai macam program unggulan pada akhirnya dibebankan kepada siswa. Maka muncul gejala baru, sekolah yang menerapkan MBS menarik iuran lebih mahal daripada sekolah yang tidak menerapkan MBS.

Biaya yang mahal tentunya tidak sia-sia. Uang yang dikeluarkan oleh wali murid mewujud sebagai prestasi siswa. Wali murid yang mengetahui dan merasakan prestasi tersebut tidak keberatan dengan jumlah iuran. Mereka suka rela mendukung program sekolah. Itu dilakukan demi kebaikan dan kemajuan putra-putrinya.

Kesepakatan antara sekolah, komite dan wali murid terkait biaya untuk pelaksanaan program unggulan membuat standar baru. Sekolah yang bagus adalah sekolah yang telah melaksankan MBS. Salah satu ciri sekolah yang bagus tersebut adalah bayarannya mahal.

Pada akhirnya peningkatan mutu pendidikan yang diolah dengan MBS menelan korban. Siapa yang menjadi korban? Masyarakat tidak mampu. Mereka yang tidak memiliki cukup biaya tidak bisa mencicipi sekolah berkualitas.

Baris Yuk

Masih ingat peristiwa di Sekolah Dasar dulu? Setiap pagi ibu guru berdiri di depan pintu. Anak-anak berseragam merah putih yang sedang bergerombol dipisah. Laki-laki berbaris di sebelah kanan. Perempuan di sebelah kiri. Tidak ada yang boleh masuk sebelum barisan dibuat rapih. Satu per satu anak maju memperlihatkan kesepuluh jari. Ibu guru memeriksa. Setiap kuku yang tumbuh melewati batas ruas jari harus dipotong.

Barisan itu dibuat setiap hari. Tidak pernah bosan ibu guru merapihkan. Anak-anak pun kadang menurut. Ada waktunya seorang anak berontak. Dengan sabar ibu menenangkan. Baris adalah ritual wajib yang harus dilakukan di sekolah dasar.

Dulu kita tidak pernah tau. Barisan yang dibuat setiap pagi itu untuk apa. Bahkan kita tidak sempat bertanya. Kita terlalu sibuk dengan kuku di ujung jari. Takut kalau sebuah kuku tumbuh kepanjangan.

Ternyata baris itu bukan pelajaran sembarangan. Setelah kita tumbuh dewasa, menjalani hidup yang lebih berwarna, ternyata baris masih ada. Di setiap kesempatan kita dihadapkan dengan momen berbaris. Membeli tiket kereta, kita harus berbaris. Menunggu pintu kereta terbuka, kita pun berbaris. Membeli tiket pertandingan sepak bola, juga berbaris. Mengantri bantuan tunai, pakai baris. Dikalungi medali saat wisuda pun berbaris. Sampai menyalami pengantin di sebuah acara pernikahan harus berbaris.

Sayang pelajaran berbaris dulu baru sekedar ikut perintah guru. Kita berbaris karena takut dimarahi ibu. Kita berbaris agar cepat bisa masuk kelas. Saat ibu guru berpaling, kita serobot posisi teman di depan. Melihat ibu kurang perhatian, kita nyelonong melewati barisan. Kebiasaan itu pun dibawa sampai besar.

Keributan sering terjadi dalam sebuah antrian. Selalu ada biang kerok pembuat kerusuhan. Lihat saja keadaan lalu lintas di setiap jalan. Saat terjadi kemacetan, kebanyakan mobil diam mengantri di belakang, tiba-tiba satu buah mobil nyelonong mencari jalan di pinggiran. Akibatnya pengendara lain ikutan. Yang di depan menjadi tidak sabar. Barisan yang harusnya satu, menjadi dua bahkan tiga. Kemacetan pun bertambah lama.

Cerita kematian dalam barisan sering juga terdengar. Antri menunggu pembagian zakat berujung maut. Saling serobot, seruduk, berujung saling sikut, tendang, dan yang lemah terjatuh. Sudah terjatuh, diabaikan pula. Sudah diabaikan masih juga diinjak-injak. Saat itu empati hilang. Rasa kasihan meluap. Kepedulian hilang. Satu terbayang, mendapatkan bungkusan secepatnya. Hanya tujuan yang tidak seberapa memenuhi kepala, selebihnya dianggap tidak ada.

Padahal kita pernah belajar berbaris. Ibu guru setiap pagi menuntun kita untuk berdiri rapih.

Pelajaran berbaris tidak hanya monopoli sekolah. Di masjid dan mushola pun kita diajari berbaris. Setiap kali sholat akan dilaksanakan, Imam menghadap ke belakang. Dia minta semua jama’ah mengatur barisan. “shafnya dirapatkan, diluruskan, karena itu menjadi bagian dari kesempurnaan sholat berjamaah” demikian imam berujar.

Pelajaran di sekolah sudah didapat. Pelajaran di mushola dan masjid pun diterima. Mengapa masih juga kita kurang rapih dalam hal berbaris?

Sejenak kita tinggalkan fakta menyedihkan tentang kebiasaan berbaris di negara ini. Mari menengok ke tetangga seberang pulau. Tiga hari saya berada di Singapura. Selama itu tidak henti-hentinya saya merasa takjub. Untuk urusan berbaris warga Singapura memiliki nilai A.

Setiap pagi warga Singapura berangkat kerja. Sama seperti kita. Bedanya, mayoritas kita menaiki kendaraan pribadi baik motor atau mobil. Mereka berjalan menelusuri trotoar. Tujuannya adalah halte bus dan statsiun kereta. Di depan pintu mereka berbaris. Tidak ada gerombolan penutup jalan. Saat pintu bus atau kereta terbuka calon penumpang tetap tenang. Dalam barisan menyerupai hurup A yang ujungnya terbuka, mereka mempersilahkan penumpang yang turun. Setelah penumpang turun, satu persatu masuk dengan tenang.

Berkali-kali saya naik taksi. Sopir taksi seperti biasanya adalah para pengejar setoran. Dari enam orang sopir yang pernah mengantarkan saya ke tujuan, tidak satu pun yang kebut-kebutan. Saat lampu merah hendak menyala, sopir perlahan menginjak rem. Suatu yang tidak biasa. Karena pengalaman saya naik taksi di Jakarta, saat melihat lampu kuning, insting pembalap yang keluar. Bukan rem yang diinjak, tapi gas yang ditekan. Menaiki taksi di Singapura tidak beda dengan naik mobil pribadi. Ketenangan, kenyamanan dan keamanan ada di dalamnya.

Di Singapura sulit mendapat masjid. Suara azan tidak pernah saya dengar. Bahkan mencari makanan halal pun harus dengan perjuangan. Mayoritas mereka etnis China. Muslim adalah umat minoritas. Itu berarti kebanyakan warga Singapura tidak pernah diajari membuat barisan sebelum shalat. Mereka tidak pernah tahu bahwa barisan terdepan saat sholat memberi kelebihan bagi orang yang menempatinya. Bagaikan antrian masuk sorga, orang yang berada di shaf pertama memiliki jatah masuk terlebih dahulu. Mereka tidak tahu itu.

Mereka hanya tahu bahwa mengantri adalah kewajiban warga sesuai aturan hukum negara. Mereka tahu bahwa sebagai warga negara yang baik harus mengikuti peraturan. Oleh karena itu mereka melaksanakan peraturan.

Satu lagi catatan menarik. Selama bepergian di Singapura, tidak satu polisi pun yang saya lihat. Apakah saya yang kurang perhatian. Apakah polisinya yang tidak mau kelihatan. Saya tidak tahu persis. Di perempatan jalan, di sepanjang lampu merah, di belokan-belokan tidak nampak seorang polisi pun.

Sebagai penutup catatan ini, saya copy paste kan tulisan yang dishare di group WhatsApp keluarga besar istri.

Guru di Indonesia panik ketika muridnya tidak pandai Matematika, tapi tenang saja saat muridnya tidak bisa antri (saya kira bukan hanya guru, kebanyakan orang tua pun demikian). Sebaliknya seorang guru di negara tetangga pernah berkata, “Kami tidak terlalu jika anak-anak Sekolah Dasar kami tidak pandai Matematika. Kami jauh lebih khawatir jika mereka tidak pandai Mengantri”. Saat ditanya mengapa, inilah jawabannya.

1. Hanya perlu waktu 3 bulan secara intensif untuk melatih anak pandai Matematika. Sementara perlu waktu 12 tahun atau lebih untuk melatih anak agar bisa mengantri dengan baik dan benar.

2. Tidak semua anak kelak berprofesi menggunakan ilmu Matematika, kecuali tambah, kali, kurang dan bagi. Sebaliknya semua murid dalam satu kelas pasti akan membutuhkan etika moral dan pelajaran berharga dari mengantri di sepanjang hidup mereka.

Apa pelajaran berharga yang didapat dari mengantri?

1. Anak belajar manajemen waktu. Jika ingin mengantri paling depan, harus datang dari awal. Dan itu perlu persiapan lebih awal.

2. Anak belajar bersabar. Menunggu giliran tiba, terutama jika ia berada di antrian paling belakang.

3. Anak belajar menghormati hak orang lain. Yang datang lebih awal dapat giliran lebih dulu. Anak tidak merasa dirinya lebih penting, sehingga menyerobot barisan di depan.

4. Anak belajar berdisiplin. Aturan mengantri adalah diam di tempat sebelum dapat giliran.

5. Anak belajar kreatif. Waktu mengantri terkadang lama, itu bisa menjadi kesempatan untuk mencari aktifitas yang bermanfaat. Seperti membaca buku, menulis atau menggambar. Asalkan sesuai dengan keadaan dan tidak mengganggu orang lain.

6. Anak belajar bersosialisasi. Sambil menunggu antrian, bisa menyapa orang yang berada tidak jauh darinya.

7. Anak belajar tabah. Dalam hidup dia selalu mengikuti proses, tidak melegalkan cara-cara kotor untuk mendapatkan tujuan.

Semoga kita bisa kembali belajar berbaris dengan rapih dan teratur. Kemudian mengajarkan cara berbaris yang baik itu kepada anak, murid, atau adik kita. Sehingga akan muncul generasi baru yang mau mengantri. Mau menunggu. Mau menjalani proses. Tidak asal masuk, asal sampai, asal dapat apa yang dimau.

Perpus Hijau

Kamis, 12 Maret 2015 pagi menjelang. Semuanya sudah beres. Tas ransel menempel di punggung. Anak dan istri selesai dandan.
Nada keluar kamar duluan. Setengah berlari dia telusuri lorong dan berhenti tepat di depan lift. Saya dan istri mengejar. Saat pintu lift terbuka, kami sudah di sisinya. Di front office, dua orang resepsionis menyapa. Senyum lebar mengembang di wajah mereka. Setelan jas hitam dan dasi mengingatkan saya pada hari kelulusan dulu. Kunci saya serahkan.
Pagi ini kami harus bergerak lebih cepat. Rombongan sudah menunggu di statsiun Aljuneid. Sebenarnya jarak hotel dengan Aljuneid tidak terlalu jauh. Fragrance Emerald berada di lorong 6 Geylang, sedang Aljuneid berada di lorong 26. Dengan taksi, tujuh menit pun sudah sampai di tempat. Tarifnya sebesar 6 dolar singapura. Kami pilih MRT. Meski agak jauh, tapi menyehatkan.
Dari hotel, saya dan keluarga berjalan ke jalan raya Gelyang. Menelusuri trotoar yang sedikit lenggang. Di depan Airport Kallang, kami menyeberang. Nada nampak senang. Tas gendong berwarna merah muda melenggak lengok di balik punggungnya. Beberapa orang pejalan kaki berpapasan. Di sebuah halte bus nampak antrian. Pagi adalah waktu sibuk.
Statsiun Kallang di depan mata. Beberapa orang perempuan berlari. Saya kasih komando anak dan istri. “siapkan kartu”. Nada sibuk mencari kartu MRT. Setelah beberapa detik, kartu berwarna putih pun digenggam.
Pemerintah Singapura memberikan pelayanan yang maksimal kepada warganya. Transportasi yang menjadi nadi kehidupan disuguhkan dengan cara yang sangat elegan. Mass Rapid Trasportation merupakan lokomotif utama. Setiap waktu masyarakat Singapura bisa mengakses kereta api cepat ini. Dari ujung Barat sampai ke Timur dilintasi. Ada juga circle line yang menghubungkan Timur dengan Utara. Dari jalur Utara di tarik lurus ke Selatan. Lintasan-lintasan itu saling terhubung. Ditambah dengan SBS Transit, bus penghubung yang siap mengantar sampai di halte persinggahan.
Semua model trasportasi massal dibuat untuk memudahkan mobilitas warga. Hanya dengan membeli kartu, warga bisa mengakses MRT dan bus. Kenyamanan itu pun dinikmati oleh pelancong. Saat turun dari Changi Airport, tour guide menyarankan untuk membeli kartu itu. Dengan 30 dolar singapura, saya mendapat kartu yang siap pakai untuk tiga hari.
Sampai di Aljuneid ternyata rombongan belum kumpul semua. Tour leader kami, mas Gol A Gong sempat meneriaki beberapa orang anggota rombongan yang masih berjalan santai. Dia menyoal tentang empati yang kurang dimiliki oleh beberapa orang tersebut. Rata-rata masih muda, mahasiswa dan laki-laki. Padahal anggota rombongan perempuan sudah standby lama.
“Kita berangkat duluan, biar mereka nyusul” demikian keputusan mas Gong. Tujuan kami kali ini adalah National Library. Dari statsiun Aljuneid kami harus melewati beberapa statsiun. Saat MRT berhenti di Bugis, kami turun. Setelah berjalan sekitar 400 meter, kami sampai di depan gedung perpustakaan.
Sesi photo bersama tidak dilewatkan. Demikian juga photo sendiri-sendiri. Setiap sudut yang menarik dijadikan ground. Lumayan untuk variasi DP BBM.
Gedung 16 tingkat dengan tinggi sekitar 103 M siap dijelajahi. Tujuan pertama kami adalah Lee Kong Chian Reference Library. Nama tersebut dipakai setelah Dr. Lee Kong Chian melalui Lee Foundation mendonasikan uang sebesar 60.000.000 dolar singapura untuk pembangunan perpustakaan. Jika dirupiahkan dengan kurs sekarang tinggal dikalikan 9.500.
Perpustakaan untuk referensi itu menempati lantai 7 sampai 13. Masing-masing lantai menampung koleksi tertentu. Lantai 7 yang kami kunjungi khusus menyediakan buku referensi bisnis, sains dan teknologi. Buku-buku tentang seni dan ilmu sosial ada di lantai 8. Di lantai 12 dan 13 terdapat buku koleksi khusus. Tidak semua pengunjung boleh masuk ke lantai ini. Hanya orang tertentu yang mendapat izin untuk mengakses koleksi buku di lantai 12 dan 13.
Setelah puas di lantai tujuh, kami bergegas turun ke basment 1. Di sini terdapat green library.
Green Library terletak di dalam perpustakaan umum. Saat kami masuk, nampak sederetan orang sedang khusuk membaca koran. Mereka duduk di depan meja baca. Lembaran koran di hamparkan di atas meja. Beberapa ada yang mengambil buku dari rak. Saat anggota rombongan kami mengeluarkan suara yang agak gaduh, seorang petugas segera memberi isyarat untuk tenang.
Deretan pembaca koran kami tinggalkan. Mengarah ke sisi kanan, sebuah gerbang menyambut dengan riang. Seekor kelinci dan anak beruang menjadi penjaga. Kelinci di kanan, anak beruang di kiri. Di sebelah mereka terdapat bunga matahari tersenyum lebar. Kumbang, kupu-kupu dan burung hantu tidak mau ketinggalan. Mereka menyambut siapa saja yang hendak masuk. Diantara sekumpulan binatang lucu, berdiri sebuah plang kayu. Di atasnya tertulis “My Tree House World 1st Green Library for Kids”
Nada nampak senang. Berjalan di depan dia usap anak beruang. Saya dan istri mengikuti. Masuk gerbang yang diapit dua batang pohon. Kedua cabangnya bertemu di atas. Konsep green nampak jelas. Di dalam ruangan terdapat banyak rak-rak buku. Setiap ujung rak dibentuk menyerupai batang pohon yang cabangnya mencakar atap. Warna hijau muda mendominasi. Di tengah ruangan berdiri tegap sebatang pohon besar. Daunnya kombinasi hijau dan kuning. Sekililingnya ditaburi rumput hijau. Di belakang pohon, melengkung sebuah jembatan kayu.
Janganan anak kecil, orang dewasa seperti saya saja merasa nyaman tinggal di dalam ruang perpustakaan model ini. Koleksi bukunya banyak. Rata-rata cerita bergambar. Varian bahasa sesuai dengan etnis yang menempati tanah Singapura. Ada China, Melayu dan India. Mayoritas buku berbahasa Inggris.
Saat kami keluar dari ruang perpustakaan, serombongan anak kecil berhamburan dari arah lift. Mereka nampak antusias. Dua orang perempuan berjalan di depan. Dua orang lagi berjalan di belakang. Beberapa anak berlomba masuk perpustakaan. Dari seragam yang dipakai. sepertinya mereka masih duduk di Taman Kanak-Kanak.
Menatap ke arah rombongan anak TK, saya membayangkan masa depan. Singapura sedang menanam benih terbaik. Mereka menyediakan lahan yang subur. Tidak hanya bersandar pada kesuburan lahan, pemerintah Singapura juga memperhatikan pupuk yang cocok bagi pertumbuhan. Semuanya dijaga dengan sistem yang terorganisir. Hingga saat panen tiba.
Teringat saya pesan Guru Besar Ilmu Pendidikan Islam, Prof. Ahmad Tafsir saat mengisi mata kuliah Filsafat Pendidikan, “Satu jenis investasi yang harus dilakukan untuk membuat negara ini maju adalah investasi manusia”. Menurut beliau masa depan hanya bisa dibeli dengan sumber daya manusia yang mumpuni. Sebanyak apapun sumber daya alam pada akhirnya akan habis. Tapi sumber daya manusia tidak pernah habis. Karena manusia hidup.
Singapura negara kecil dengan sumber daya alam yang sangat terbatas. Dibandingkan dengan Indonesia, tentu bagaikan langit dan bumi. Kita punya beragam bahan tambang, gas alam, kekayaan laut yang melimpah, jutaan hektar hutan siap tebang. Semuanya adalah sumber penghidupan. Tapi hidup mayoritas bangsa kaya ini masih terbatas. Jagankan untuk berinvestasi, makan sehari pun harus dicari dengan perasan keringat dan air mata.
Peringkat Indonesia berdasarkan Human Development Indek (HDI) ada di tangga ke 108. Singapura yang hanya berjarak 1 jam 25 menit perjalanan udara berada di tangga ke 9. Laporan UNDP tahun 2013 tersebut menulis HDI Value Singapura 0,901. Berada di jajaran top ten negara dengan predikat HDI very high. Sedangkan Indonesia masih berkutat di angka 0,684.
Singapura yang sedang berjaya masih juga menanam. Konsep Perpustakaan Hijau merupakan bagian dari investasi SDM Singapura. Pemerintah mereka menyadari bahwa ilmu merupakan bahan bakar peradaban. Seperti matahari, ilmu akan menyinari. Bangsa yang berilmu nampak lebih terang dari pada yang kurang berilmu. Mendekatkan ilmu dengan manusia berarti menjadikan manusia cinta buku. Sudah menjadi rahasia umum bahwa buku adalah gudang ilmu. Perpustakaan sebagai gudang buku tentu harus menjadi magnet yang dapat menarik orang ke dalamnya.
Di sini konsep perpustakaan hijau mendapat tempat signifikan bagi masa depan. Anak sedini mungkin diperkenalkan dengan buku. Anak sedini mungkin diajarkan untuk cinta ilmu. Mereka diarahkan untuk belajar. Tapi satu hal yang tidak boleh dilupakan mereka perlu bersenang-senang. Buku, ilmu, pelajaran akan membosankan bagi anak bila dikemas secara konvensional. Perlu kreativitas untuk mengemas buku, ilmu dan pelajaran. Green library menjawab itu.
Melihat antusiasme anak-anak masuk ke perpustakaan menjadi bukti sahih. Saatnya kita pun menanam. Tentu bukan sembarang tanam. Menanam dengan riang. Sehingga benih yang kita tebar akan tumbuh segar.

Modus di Tanah Haram

Ribuan kaki menderu. Dari pintu-pintu besar mereka berasal. Ada yg berlari. Entah mengejar apa. Ada yg berjalan santai sambil memandangi sekitar. Ada juga yg berhenti merogoh kantong. Ponsel pun ke luar. Beberapa kali mata kamera diarahkan ke berbagai sudut. Puas mendapat banyak gambar. Terakhir. Photo selfie.
Langkah kaki saya pun berbaur dengan ribuan lainnya. Pelataran maha luas menjadi padang manusia. Bergegas menuju pintu-pintu keluar. Gate 16, tujuan saya.
Sekitar seratus langkah sebelum gerbang, suara langkah di belakang menjajari saya. “Speaking english?” Seorang pria bertudung kain tipis menghapiri. Saya anggukkan kepala.
Langsung dia berbicara dgn nada memelas. “I lost my wallet, my wife … my children … sick. I need money to buy medicine…”
Pria itu mengaku dari Pakistan. Saya percaya, wajah dan penampilannya sdh mencirikan. Tanpa bilang pun semua yg melihat langsung bisa mengira dia pakistani.
Dia terus saja menjajari langkah. Saya berhenti, pun dia berhenti. Masih mengulang perkataan dan memelas. Insting saya mengarahkan mata ke matanya. Mata tidak bisa berdusta.
“Please my wife my children sick…”
Saya rogoh kantong celana. Dia nampak berbahagia. Selembar 50 real saudi muncul.
“I need fifty real”
Lembar itu saya masukan lagi. Lima puluh real untuk seorang pengangguran terlalu besar. Andai dia dapat sepuluh orang, sudah 500 real didapat. Satu real saudi senilai 3700 rupiah.
Sebenarnya naluri saya mengatakan, “tidak”.
Sedekah ada tempatnya. Itupun dengan jalan kerelaan. Ini sudah pemaksaan alias penodongan.
Tapi logika saya berkata, “biarlah”. Memberi tidak akan rugi selama pas di hati.
Maka satu lembar 10 real saudi saya keluarkan.
Laki-laki bertudung menerima. Dia tetap memaksa, 50 real. Saya semakin yakin. Ini sebuah modus. Tanpa melihat lagi saya berjalan cepat.
Di kamar saya ceritakan kepada istri. Tanggapannya luar biasa. “Tadi juga ada yg kayak gitu” ternyata rombongan istri saya pun dihampiri. Namun dengan orang berbeda. Istri dan teman-tamannya memberi masing-masing lima real.

Ternyata modus tidak hanya terjadi di terminal, pasar atau statsiun. Di tempat suci yang seharusnya dimaksimalkan untuk beribadah ada juga. Itulah manusia tidak semuanya sama. Terkadang ada saja yang senang menari kesempatan dalam segala keadaan. Di mana ada keramaian di situ dia mencari penghasilan.

Semoga oknum-oknum tersebut secepatnya mendapat hidayah. Sehingga tidak berlama-lama mengotori kesucian tanah haram.